Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Sup Iga.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Tiga hari sudah berlalu. Di rumah sakit Hospital Center, Tuan Arka sedang di periksa. Keadaan beliau sudah melewati masa kritis dan sudah dipindahkan ke ruang rawat intensif sejak tadi pagi.


Selam tiga hari ini pulalah Adelia, Nyonya Risa dan Raya menginap di rumah sakit. Jika Elvino itu sudah pasti tidak akan meninggalkan papanya.


Anaknya yang tadinya tidak pernah menurut pada kedua orang tuanya. Anak yang suka bergonta-ganti pasangan dan suka mabuk-mabukan. Lebih parahnya lagi, sangat bodoh! Sampai-sampai Tuan Arka selalu di kirimkan surat cinta dari universitas tempat putranya menimba ilmu.


Akan tetapi sekarang sudah menjadi seorang pahlawan bagi sang ayah, yang bertanggung jawab pada seluruh keluarganya dan juga perusahaan Wijaya group yang sedang tidak stabil.


Hari itu, hari dimana pemilihan para pemegang saham. Untuk memilih pilihan mereka masing-masing. Jika bukan karena ide brilian Elvino. Maka dia tidak pernah akan menang.


Namun, dikarenakan dia menjelaskan permasalahan degan detiel. Tidak berbelit-belit dan sangat bersemangat bahwa dia bisa memimpin Wijaya group untuk sementara waktu. Sampai Tuan Arka ayahnya pulih kembali.


Padahal sebelum rapat tersebut di mulai. Manuel dan sekutunya sudah menemui orang-orang yang berpengaruh di perusahaan Wijaya group. Agar mendukung Manuel atau putranya.


Akan tetapi semua kembali pada diri masing-masing. Mau mempercayai Manuel, meskipun tanpa adanya bukti bahwa dia bisa menjadi pemimpin. Atau percaya pada Elvino yang tidak meminta dukungan pada siapapun. Akan tetapi langsung memberikan hasil nyata atas kerja kerasnya.


Alhasil, saat makan siang mereka merundingkan akan mendukung pada tuan muda mereka. Begitulah ceritanya, Elvino bisa menang.


"Pa... kami akan pulang dulu. Bila ada apa-apa, nanti biar mama atau Raya yang menelepon kami." ucap Elvino mau berpamitan pulang.


Bukan kemauannya dan Adelia yang ingin pulang ke rumah. Namun, Nyonya Risa dan si cantik Raya yang memaksa mereka, karena merasa kasihan pada Adelia.


Biasanya selain ibu hamil yang tidak mau pulang ke rumah. Nyonya Risa juga tidak mau meninggalkan menantunya di rumah sendirian. Apalagi saat malam hari. Padahal di rumah mereka memiliki beberapa orang para asisten rumah tangga.


Jadilah karena Tuan Arka sudah sadar dan di pindahkan ke ruang rawat intensif. Mereka semua menyuruh pasangan suami-istri itu untuk pulang.


Beberapa hari ini, Nyonya Risa binggung dan khawatir secara bersamaan. Khawatir pada keadaan suaminya yang belum juga bisa melewati masa kritisnya dan bimbang pada sang menantu yang harus menginap di rumah sakit bersama mereka. Padahal sedang hamil tujuh bulan.


Belum lagi ketika melihat Elvino putra sulungnya. Pemuda itu setiap hari bekerja sampai sore. Lalu setelah kembali ke rumah sakit, bukannya bisa beristirahat. Tapi malah menjaga ayahnya di depan ruang ICU sampai pagi


Meskipun para Dokter sudah mengatakan tidak apa-apa bila tidak di tunggu, karena sudah ada dokter terbaik yang menjaga beliau.


Namun, rasa tidak percaya El pada orang-orang yang terlihat baik. Tapi nyatanya menusuk mereka dari belakang. Dia rela begadang setiap malam hanya untuk menjaga sang ayah.


Soalnya bila siang, yang menjaga ayah mereka adalah Raya adiknya. Kalau malam bagian Elvino. Jadi adiknya bisa tidur di kamar VIP bersama mama dan istrinya.


"Iya, pulanglah! Papa sudah baik-baik saja. Kasihan istrimu bila terus-terusan berada di rumah sakit dan tidak baik untuk kesehatan dia dan anak kalian." jawab Tuan Arka degan suara lemahnya.


"Huem, iya! Makanya malam ini El akan pulang. Besok bisa bergiliran, mama atau adek yang pulang. Agar Adel ada yang menemani di rumah." si tampan yang terlihat sangat lelah masih bisa tersenyum.


Demi kebahagiaan keluargannya. Begitulah kehebatan si tampan yang sekarang. Tidak seperti dulu, suka berbohong.


"Mama, Adek, kami pulang ya," ucap El pada ibu dan adiknya lagi.


"Iya, pulanglah! Hati-hati. Membawa mobilnya jangan kencang-kencang. Ingat, kamu membawa ibu hamil." pesan Nyonya Risa memberikan pelukan hangat pada anak dan menantunya secara bergiliran.


Hal yang sama pun juga dilakukan oleh Raya. Gara-gara menjaga ayahnya, si cantik libur sekolah. Hanya saja dia ikut mengerjakan pelajaran saat malam hari. Atau sambil duduk di bangku ruang tunggu di depan ICU.


"Ayo sayang!" El mengambil alih tas kecil tempat baju kotor mereka yang akan dibawa pulang dari tangan istrinya.


Sedangkan tangan satunya dia gunakan buat merangkul bahu sang istri. Mereka berdua berjalan beriringan sampai ke lobby rumah sakit, karena mobil Elvino sudah disiapkan oleh pengawal Wijaya.


Lalu pemuda tampan yang selalu menjadi idaman para wanita. Di manapun tempatnya berada, langsung membukakan pintu mobil untuk istrinya agar masuk lebih dulu.


"Masuklah!" titahnya lagi pada sang istri. Setelah memastikan istrinya duduk dengan benar. El membuka pintu belakang untuk menaruh barang yang dia bawa. Baru setelahnya dia berjalan kearah pintu samping mobil dan masuk kedalamnya.


Braak!


Suara pintu mobil yang dia tutup.


"Sudah aku pakai sendiri," ucap Adelia karena Elvino mau memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.


Cup!


"Aku mau mencium mu, bukan mau memasang ini," Elvino tersenyum setelah berhasil mengecup bibir istrinya.

__ADS_1


"A--apa! Jadi tadi kamu hanya modus," wanita hamil itu mencebik kan bibirnya.


"Bibirmu jangan dibuat seperti itu, aku menjadi tidak tahan untuk melahapnya lagi,"


"El, astaga! Ayo cepat jalankan mobilnya. Kenapa malah menggodaku," seru Adelia yang merasa malu karena perbuatan suaminya selalu berhasil membuat kedua pipinya terasa panas dalam waktu seketika.


"Baiklah-baiklah! Berhubung kita mau pulang karena harinya sudah sore. Jadi aku akan melepas mu. Tapi tidak tahu jika sampai di rumah." jawab Elvino karena hari memang mulai gelap.


Lalu tidak banyak bicara lagi sitampan mulai menjalankan kendaraan mewahnya membelah jalanan ibukota menuju rumah kediaman keluarga Wijaya.


Namun, sambil membawa mobilnya. Elvino masih mengenggam tangan istrinya dan sesekali dia kecup. Meskipun fokus matanya pada jalanan di hadapan mereka, karena Elvino tidak mau bila mereka kenapa-kenapa.


"Apa kamu mau sesuatu?" bertanya saat mereka melewati berbagai macam makanan yang oleh pedagang kaki lima. Soalnya saat mereka masih tinggal di apartemen. Elvino sering menemani istrinya membeli makanan yang diinginkan oleh ibu hamilnya.


"Tidak! Kita langsung pulang saja, aku masih kenyang, karena makan roti yang kamu bawa tadi." tolak Adelia karena dia memang masih kenyang.


Soalnya si calon ayah idaman, setiap pulang bekerja selalu menyempatkan dirinya untuk mampir ke toko roti ataupun makanan yang lainnya. Hanya untuk membeli oleh-oleh, sebagai buah tangan saat dia pulang bekerja.


"Oke, kita langsung pulang sekarang!" Elvino menambah kecepatan laju kendaraannya karena nampak awan hitam mulai menutupi ibu kota B. Takutnya sebelum mereka tiba di rumah, malah akan turun hujan besar.


Hanya sekitar sepuluh menit kemudian. Mobil mereka sudah tiba di depan rumah kediaman keluarga Wijaya. Lalu pasangan suami istri tersebut, langsung masuk dan menuju kamar mereka, karena untuk barang-barang yang ada di dalam mobil Elvino. Akan dibawa oleh para asisten di rumah tersebut.


"Huh! akhirnya kita kembali ke rumah juga," ucap Elvino dengan helaan nafas lega. Pemuda itu langsung duduk di pinggir ranjang karena begitu masuk ke dalam rumah. Barulah El merasakan lelahnya selama beberapa hari ini yang tidak bisa beristirahat sama sekali.


"Sayang, kamu langsung mandi saja, sebentar lagi akan turun hujan. Selain tidak baik untuk kesehatan kalian, juga nanti kamu malah kedinginan, bila mandinya sudah malam." titahnya agar sang istri langsung mandi.


"Huem! iya," jawab wanita itu singkat. Selain itu apa lagi yang bisa dia katakan. Kecuali mengiyakan perkataan suaminya, karena terkadang Elvino malah lebih mengetahui larangan apa saja yang tidak dibolehkan untuk wanita hamil sepertinya.


Selama menunggu istrinya mandi, Elvino yang badannya terasa lelah. Langsung membuka dasi yang masih melilit di lehernya. Lalu dia taruh sembarang arah.


"Besok rapat untuk mengumumkan sampel. Agar minggu depan, produknya siap diluncurkan." ucapnya sambil memeriksa jadwal kerjanya dari ponsel yang sudah dikirimkan oleh Aldo.


Ya, pemuda yang selama dua bulan belakangan ini, yang bekerja sama dengannya sebagai staf pemasaran. Sekarang diminta oleh Elvino untuk membantu dirinya. Sampai Tuan Arka, ayahnya sembuh.


Soalnya Elvino bisa menilai bahwa pria itu adalah orang yang jujur dan tekun saat bekerja, hampir sama seperti dirinya.


"Semoga saja setelah ini tidak ada kendala lagi dan produknya pun bisa laku di pasaran. Agar bisa memulihkan ekonomi perusahaan terlebih dahulu. Setidaknya sampai dana pribadi papa bisa kembalikan." ucapnya lagi yang sudah mulai menguap karena merasakan kantuk.


Mungkin karena tubuh dan pikirannya sudah sangat lelah. Sehingga disaat hari baru menjelang malam seperti sekarang. pemuda tampan itu sudah tidur dengan nyenyak. Apalagi cuaca hujan besar di luar sana, membuat suasana untuk tidur sangatlah mendukung.


Sementara itu hampir lima belas menit kemudian. Adelia yang sudah selesai membersihkan tubuhnya. Langsung saja memakai Bathrobe pada tubuh polosnya.


"Lebih baik aku siapkan air hangat untuk Elvino mandi. Agar dia bisa menyegarkan tubuhnya, kasihan sekali. Suamiku tidak pernah bisa beristirahat. Selama berada di rumah sakit, belum lagi saat siang harinya dia selalu sibuk dengan pekerjaan." kata si ibu hamil yang tidak langsung keluar dari kamar mandi, karena mau sekalian menyiapkan air hangat buat suami tercintanya.


Ya, cinta! Mendapatkan ungkapan rasa cinta dan kasih sayang dari si playboy cap kampak. Membuat Adelia sering mengungkapkan rasa cintanya pada sang suami. Sebagai balasan cinta tulus Elvino padanya.


"Baiklah, kita keluar sekarang sayang! Biarkan papamu yang bergantian mandi." ajaknya pada si calon buah hati yang selalu aktif bila yang mengajak berbicara adalah Elvino.


Seakan-akan sudah tahu bahwa pria yang mengajaknya berbicara adalah ayah terhebatnya.


Malahan terkadang Adelia sering protes pada Elvino dan mengatakan agar pemuda tampan itu tidak mempengaruhi calon anak mereka, yang belum lahir saja sudah dekat dengan sang ayah.


Padahal semua itu bukanlah kesalahan Elvino, melainkan kemauan sang bayi sendiri.


Klek!


"El, itu airnya sudah aku siapkan Ayo mandi sekara..." Adelia tidak melanjutkan ucapannya, karena melihat suaminya sedang tertidur pulas.


"Kamu sudah tidur, pantas saja tidak berisik memanggilku agar tidak berlama-lama di dalam kamar mandi." gumaman kecil si ibu hamil.


Ya, apabila Adelia mandinya terlalu lama, maka Elvino akan berulang kali mengetuk pintu kamar mandi supaya istrinya cepat selesai, karena takut istrinya masuk angin.


Agh! Sepertinya di dunia halu, hanya ada Papa Elvino sajalah yang memiliki tingkat perhatiannya bisa membuat para kaum ibu-ibu rebahan menjadi baper seketika.



"Ini tidak benar! Kenapa setiap hari dia malah semakin tampan saja. Aaaaa! aku semakin mencintai suamiku." teriak kecil ibu hamil dari dalam hatinya.


Padahal sudah jelas suaminya itu belum mandi. setelah hampir seharian penuh sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan.


"Tuhan terima kasih karena sudah mengirimkan aku sosok suami seperti malaikat tidak bersayap. Elvino adalah laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarganya. Jadi tolong berikan suamiku kemudahan saat dia menghadapi masalah sebesar apapun itu, karena hanya doalah yang bisa aku berikan untuknya."


Do'a wanita itu sebelum melangkah ke arah lemari pakaian untuk mengambil baju gantinya malam ini.

__ADS_1


Saat memilih baju yang akan dia pakai, Adelia mengambil setelan baju tidur berlengan panjang dan celana panjang juga. Soalnya di luar sedang hujan besar, jadi cuaca cukup dingin.


"Selagi menunggu Elvino bangun, aku mau membuatkan sup iga. Agar nanti setelah dia bangun dan mandi. Bisa memakannya saat makan malam." ucap Adelia tersenyum begitu dia selesai mengeringkan rambut panjangnya mengunakan alat pengering rambut.


Setelah dia selesai menyisir rambutnya, si ibu hamil itu pun pergi meninggalkan kamar mereka dan menuju ke dalam dapur bersih untuk memasakkan sup iga buat dia dan suaminya.


"Selamat malam Nona, ada yang bisa kami bantu atau mau makan malamnya diantar ke kamar saja?" tanya asisten rumah tangga begitu melihat kedatangan nona muda mereka.


"Tidak Bibi, Saya hanya ingin membuatkan sop iga. Apakah bahan-bahan untuk membuatnya ada?" jawab ibu hamil ramah, karena dia memang tidak pernah sombong dengan kedudukan yang dimiliki. Yaitu sebagai menantu kesayangan di rumah tersebut.


"Ada! Kalau begitu biar Saya bantu untuk mencuci bahan-bahannya. Nona tinggal menyiapkan bumbu saja, karena Tuan El sangat menyukai masakan Nona, daripada masakan kami," ujar si Bibi tersenyum.


Soalnya apa yang dia katakan adalah benar. Apapun masakan yang di masakan oleh Adelia. Maka semuanya selalu menjadi makanan favorit Elvino, berbeda sekali jika yang membuatkan masakan tersebut para pelayan di rumah itu.


Si tampan Elvino sering mengatakan kalau dia sudah kenyang atau cukup makan dengan satu lauk saja. Cara penolakan yang halus tidak menyakiti hati siapapun.


"Agh! Bibi terlalu berlebihan! Mungkin kebetulan saja di saat Saya yang memasak, tuan muda kalian memang lagi lapar. Jadi makannya banyak," elak wanita itu tersenyum dengan hati berbunga-bunga.


Soalnya Adelia sendiri pun tidak bisa memungkiri bahwa Elvino sangat menyukai masakan dirinya.


Tidak banyak bicara lagi, Adelia pun langsung meracik bumbu untuk membuat sup tersebut, karena dia takut apabila Elvino bangun dan dia tidak ada di kamar mereka.


Setelah hampir satu jam penuh berada di dalam dapur bersih. Masakan Adeli sudah siap dan akan disiapkan oleh para asisten di atas meja makan.


"Bibi, Saya kembali ke kamar dulu, ya. Takutnya tuan mudah kalian malah mencari Saya sampai ke mana-mana." pamit si ibu hamil belum meninggalkan dapur bersih dan kembali ke dalam kamarnya.


"Iya, Nona! Terima kasih karena sudah repot-repot mengerjakan yang seharusnya bukan pekerjaan Anda," jawab para asisten rumah tangga tersebut, sambil tersenyum menatap kepergiannya.


Ceklek!


"El, Kamu sudah bangun," seru Adelia setelah menutup kembali pintu kamar mereka dan dia langsung berjalan mendekati suaminya yang masih memakai Bathrobe di depan lemari pakaian.


Soalnya pemuda tampan itu baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Jika Adelia belum kembali ke kamar, Elvino yang akan menyusul istrinya keluar.


"Huem!" Elvino menjawab singkat karena dia lagi mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


"Kamu dari mana? Kenapa perginya lama sekali?" tanya Elvino karena sudah hampir dua puluh menit dia bangun dari tidurnya.


"Aku dari dapur bersih untuk membuatkan sup iga. Ayo pakai bajunya, kita makan malam sekarang," titah si ibu hamil yang setelah itu dia menjerit karena kaget Elvino tiba-tiba menarik pinggangnya pelan. Sehingga tubuh mereka saling menempel dan hanya dibatasi oleh perut besar wanita itu.


Namun, seperti biasanya. Tangan Adelia menempel pada dada bidang suaminya yang masih tertutup oleh Bathrobe.


"Aagh! El, ka--kamu mau apa? Cepat pakai bajunya, biar kita makan malam sekarang." seru Adelia dengan suara terbata-bata, karena menahan jantungnya yang berdebar-debar.


Hal yang sudah biasa terjadi sebelum mereka menginap di rumah sakit. Yaitu kebiasaan Elvino membuat posisi mereka sangat intim seperti saat ini. Belum lagi tatapan matanya yang langsung membuat Adelia merasa gugup.


"El, pa--pakai bajunya! Ja--jangan---!"


"Jangan apa? Huem!" sela Elvino tersenyum sembari mengigit bibir bawahnya karena merasa gemas melihat wajah malu Adelia.


Entah mengapa istri polosnya itu selalu merasa malu apabila Elvino bertindak seperti sekarang. Sialnya lagi, si playboy cap kampak sangat suka menempatkan mereka berdua posisi itu.


"Ja--jangan---"


"Jangan makan sup nya, atau jangan keluar dari kamar? Huem!" Kembali memotong ucapan Adelia, karena El sangat menikmati wajah sang istri yang malu-malu.


Terpaan angin yang keluar dari mulut Elvino membuat tubuh Adelia semakin kaku. Namun, meskipun seperti itu Adel malah menatap mata, sosok malaikat tak bersayap itu. Jadi sudah pasti dia akan semakin tersihir oleh ketampanannya.


"Su--supnya sudah jadi, pa--pakai bajunya. Setelah itu ki--kita keluar untuk makan malam. Agar sup nya masih hangat." masih terbata-bata.


"Kamu memasaknya sendiri?" tanya Elvino. Padahal sebetulnya dia sudah tahu sejak tadi, jika yang memasak sup tersebut adalah istrinya. Namun, Elvino hanya ingin menggoda Adelia.


Saat ditanya Adelia tidak menjawab, tapi dia langsung menganggukkan kepalanya berulang kali. Soalnya untuk mengeluarkan satu patah kata saja, lidah wanita itu seakan kelu.


"Elvino, ja--jangan---!"


Cup!


Sebelum Adelia menyelesaikan ucapannya. Bibir wanita hamil itu, sudah disambar oleh Elvino. Sampai beberapa detik kemudian baru dilepasnya.


"Tapi aku tidak mau memakan sup, aku mau memakan mu," jawab Elvino kembali lagi bersilaturahmi bibir yang sudah beberapa hari ini tidak pernah lagi dia lakukan.


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2