
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Dengan langkah malas karena harus meninggalkan ruang ICU. Arya maupun Elvino pergi juga menuju ruang VIP tempat Nyonya Risa dirawat.
Namun, yang lebih dulu pergi adalah Elvino. Jika Arya menyusul sekitar lima menit setelahnya.
Ceklek!
Suara pintu ruangan tersebut dibuka oleh Arya. Sebelum melangkah masuk dan setelah menutup pintunya lagi Arya menatap kearah ranjang ternyata ibu mertuanya sudah sadar dan lagi makan disuapi oleh Adelia kakak iparnya.
"Arya, mandilah! Setelah itu kamu sarapan dulu dan setelahnya baru selesaikan masalahmu dan Elvino," ucap Tuan Arka pada menantunya yang terlihat sangat kacau.
Siapapun orangnya pasti akan tahu bahwa Arya benar-benar sangat terpukul dengan musibah yang menimpa Raya. Meskipun Arya tidak mengatakan sudah jatuh cinta pada Raya. Namun, Tuan Arka sudah bisa menebak bahwa sang menantu mencintai putrinya. Hanya saja semua itu diniatkan dengan awal yang salah.
"Iya, Pa," jawab Arya singkat. Arya melihat tidak adanya Elvino disana. "Kemana dia? Lagi mandi kah?"
Gumam Arya didalam hatinya. Namun, pemuda itu tidak bertanya kemana pergi kakak iparnya.
"Om Alya, Onty Laya tatit?" tanya Eza berlari kearah Arya yang hendak melangkah kekamar kamar mandi.
"iya sayang. Onty Raya lagi sakit. Tolong do'akan onty agar cepat sembuh ya," jawab Arya setengah berjongkok untuk menyeimbangi tubuhnya dan tubuh Eza.
"Iya, onty tama dedek bayi na tatit. Eda dadi kakak Eda, butan bayi lagi," mendengar ucapan Eza yang menyebutkan bahwa dia akan menjadi seorang kakak dan menyebut adek bayi. Membuat Arya langsung memeluk putra dari musuhnya dan mencium kepala Eza berulang kali.
Semua tindakan Arya disaksikan oleh orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Termasuk Paman Hasan dan Tante Mona, yang sudah datang bersamaan dengan Eza.
"Maafkan Om ya, sudah membuat Onty sakit," kata Araya meminta maaf pada Eza yang tidak tahu apa-apa.
"iya," jawab Eza yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Arya.
"Ar, ini baju gantimu tadi dikirim oleh sopir keluargamu," ucap Arya Wiguna menunjuk satu paper bang tempat baju.
"Dari sopir keluargaku?" ulang Arya karena dia sudah lupa pada orang tuanya sendiri. Lalau bagaimana mungkin mami dan papinya bisa tahu. Itulah yang Arya tanyakan pada dirinya sendiri.
"Iya, mami mu menelepon kalian berdua karena tidak ada kabar dan berhubung nomor kamu dan Raya tidak bisa dihubungi. Dia menelepon nomor Tante Risa dan mereka sangat kaget karena baru mengetahui jika Raya mengalami kecelakaan," papar Arya Wiguna kerena dia tahu apa yang dipikirkan oleh iparnya.
"Lalu apakah mereka bicara sesuatu?" tanya Arya sudah kembali berdiri dengan benar karena Eza telah berlari mendekati opa dan kakek Hasan nya.
"Mungkin sekitar jam sembilan mereka akan datang. Aku juga sebentar lagi mau pulang karena hari ini ada rapat di perusahaan ku," jawab Arya Wiguna karena tidak ingin sang ipar merasa tidak nyaman.
"Oh, iya, baiklah! Terima kasih. Aku mau mandi dulu," Arya mengagguk mengerti dan mengambil paper bag yang ada diatas meja sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Kebetulan dalam ruangan tersebut ada dua kamar mandi mewah seperti mana di hotel bintang lima saja. Jadi dia bisa memakai salah satu kamar mandi tersebut karena sudah pasti saat ini Elvino juga lagi mandi.
Ceklek!
Bertepatan saat Arya mau membuka pintu kamar mandi sebelah kiri. Elvino keluar dari pintu sebelahnya. Sehingga kedua pemuda itu kembali saling tatap. Namun, hanya beberapa detik.
Setelah saling pukul tadi malam. Mereka tidak ada saling bicara lagi. Keduanya seperti mana pasangan suami-istri yang lagi bertengkar.
"Papa," suara Eza yang berlari mendekati papanya membuat Arya tersadar dan langsung masuk kedalam kamar mandi yang ada disebelah Elvino.
"Huh!" Arya menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan perlahan. "Ya Tuhan! Aku mohon tolong sembuhkan lah istriku," Do'a nya sambil melepas baju yang ia pakai dan mulai menghidupkan air shower untuk menyegarkan tubuhnya.
"Raya, tolong maafkan aku. Aku sangat menyesali semua perbuatan yang telah melukai perasaanmu," gumam Arya menahan rasa sesak didalam hatinya
"Aku tidak akan pernah membalaskan dendam pada siapapun lagi. Tapi aku mohon sadarlah dan mari kira mulai semuanya dari awal lagi. Bersama... buah hati kita," selama mandi sampai menganti pakaian. Arya terus saja bergumam didalam hatinya.
Sampai beberapa menit kemudian.
"Ar, ayo sarapan dulu. Ini sudah Tante siapkan," titah Tante Anita begitu melihat Arya sudah keluar dari kamar mandi.
"Iya, Tan, terima kasih," jawab Arya berjalan kearah ranjang untuk menyapa Nyonya Risa yang posisinya setengah berbaring. Karena ranjang tersebut sengaja dinaikan agar pasien yang baring disana terasa nyaman.
"Ma, Bagaimana keadaan, Mama?" tanya Arya menatap penuh rasa bersalah karena melihat keadaan mertuanya sampai drob. Gara-gara Raya kecelakaan dan semua itu terjadi disebabkan oleh dendam Arya pada kakak iparnya.
__ADS_1
"Apa lagi yang mau kamu rencanakan? Kenapa tidak kamu bunuh saja Saya daripada kamu harus menyakiti Raya?" hardik Nyonya Risa langsung marah setelah mendengar cerita dari suaminya. Beliau bahkan tidak menghiraukan pertanyaan sang menantu.
"Jika kamu memiliki dendam pada kakaknya. Kenapa tidak langsung kamu hadapi Elvino secara jantan dan tidak usah melibatkan Raya didalamnya?" cecar wanita itu lagi yang terus memarahi Arya.
"Mama, tenanglah. Biarkan Arya dan Elvino menyelesaikan masalah mereka berdua. Kita tidak boleh mengambil kesimpulan tanpa tahu apa sebenernya yang sudah terjadi," sela Tuan Arka yang duduk disisi ranjang sambil mengenggam tangan istrinya.
"Pa, karena dia. Putri kita mengalami kecelakaan dan sekarang keadaannya belum juga bisa melewati masa kritis," seru Nyonya Risa ikut marah pada suaminya.
"Maaf, Ma," hanya itulah yang mampu Arya ucapkan. Dia tahu salah dan menyesal sudah berniat membalas dendam pada Elvino.
"Maaf katamu? Apa degan kamu meminta maaf putri Saya bisa kembali seperti semula? Apakah dengan kamu menyesali semuanya. Kaki Raya yang patah bisa sehat seperti semula? Degan penyesalan mu ini apakah anak Saya bisa bangun hari ini juga?" teriak Nyonya Risa sambil menangis pilu karena mendengar penjelasan dari Tuan Arka seperti apa keadaan Raya.
Membuatnya sebagai seorang ibu tidak sanggup untuk menghadapi kenyataan tersebut. Belum lagi sang menantu ternyata selama ini telah membohongi putri bungsunya.
Beliau ingin segera melihat keadaan Raya. Namun, waktu jenguk sangatlah terbatas dan setelah jam delapan nanti baru boleh melihat keadaannya.
"Mama, sudahlah! Tidak baik Mama seperti ini. Raya pasti akan bersedih melihat kita semua bertengkar," cegah Tuan Arka masih tetap sabar menghadapi ujian tersebut.
"Pa, dia berniat mau membunuh putri kita. Tapi kenapa Papa masih membelanya, kalau perlu masukkan dia ke penjara sekarang juga," ujar wanita itu lagi yang sedang di kuasai oleh amarah dan rasa kecewanya pada sang menantu yang dianggap bisa menjadi pelindung untuk Raya.
Namun, nyatanya gara-gara Arya lah Raya sampai mengalami kecelakaan. Jadi sudah pasti beliau sangat kecewa dan marah begitu mendengar semuanya.
"Maka dari itu biarkan dia dan Elvino menyelesaikan masalah mereka. Kita sebagai orang tua cukup dengarkan dan membenarkan di mana letak kesalahan anak kita sendiri, yang telah membuat Kakak Arya memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri," papar Tuan Arka.
"Arya, cepat sarapan dulu. Tidak usah hiraukan ucapan mama. Dia sedang marah karena kesalahanmu sendiri," titah beliau pada Arya yang hanya menundukkan kepalanya.
"Iya, Pa," karena tidak ingin membuat ibu mertuanya bertambah marah, dan bisa menimbulkan darah tingginya kambuh.
Arya langsung di jalan ke arah sofa yang sudah disiapkan sarapan untuknya boleh Tante Anita. sedangkan Elvino duduk di sofa yang lainnya. Hari ini Arya harus menikmati sarapan pagi tanpa Raya di sisinya.
"Makanlah yang banyak, yang sudah terjadi biarlah dan kamu Tante harap tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi," ucap Tante Anita yang masih duduk disana menemani Arya sarapan.
"Iya Tan, terima kasih! Tapi apakah Tante tidak sarapan?" tanya Arya mulai menyiapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Tidak! Tante sudah sarapan sejak tadi. Malam ini Tante tidak bisa menginap karena ada urusan penting bersama Om Ari. Jadi siang ini saja Tante menemani kalian," papar beliau karena tidak mungkin harus berada di rumah sakit terus menerus.
"Iya, terima kasih karena sudah merepotkan Tante," sambil menikmati makanan Arya mengobrol bersama Tante Anita.
"Alangkah bodohnya aku, yang tidak bisa melihat seperti apa kebaikan keluarga Wijaya. Seharusnya aku tidak boleh hanya mementingkan egoku sendiri. Gara-gara mau balas dendam atas kematian kakak. Sekarang seluruh keluarga Wijaya ikut menanggung akibatnya."
"Ini airnya," Tante Anita menyerahkan satu gelas air putih yang telah ia tuang pada Arya dan langsung diterima oleh pemuda itu.
Kini Arya telah selesai menghabiskan makanan nya. Sebab dia hanya asal sarapan saja. Setidaknya dia harus menghargai Tante Anita karena sudah repot-repot menyiapkan makanan untuknya.
"Arya, bicarakan masalah kalian baik-baik, ya. Ingatlah jangan pakai emosi karena itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah kalian," pesan wanita itu sebelum pergi mendekati kakak dan iparnya.
"Iya," jawab Arya mengerti dan dengan menurunkan rasa egonya yang merasa benar untuk mendekati Elvino. Lalu duduk dihadapan iparnya itu.
"Sayang, pergilah keluar bawa Eza bermain ke Taman rumah sakit, ya," ucap El pada sang istri karena tidak mau putranya mendengarkan kata-kata kasar.
Namanya juga mau meluruskan kesalahpahaman. Tentu akan ada perselisihan dalam percakapan tersebut.
"Iya, aku akan membawa putra kita keluar. Tapi tolong kalian jangan bertengkar. Karena setiap masalah pasti bisa selesaikan secara baik-baik," pesan Adel sudah berdiri ambil nggak neng tangan sang putra.
"Adel, Tante juga ikut," seru Tante Mona memilih Adelia saja.
"Baiklah! Aku juga mau sedikit bercerita tentang resep kue pada Tante," Adelia tersenyum kearah Tante Mona dan setelahnya mereka sama-sama meninggalkan ruangan VIP tersebut.
Begitu pintunya sudah tertutup Tuan Arka dan Paman Hasan ikut menyusul kedua pemuda itu dan sama-sama duduk di sofa. Untuk penjelasan Arya.
"Arya, Papa harap kamu menceritakan apa yang telah terjadi. Kenapa kamu berasumsi bahwa kakakmu bunuh diri karena Elvino dan jangan ada yang kamu tutup-tutupi. Sebab orang-orang Papa sedang menyelidiki kasus ini," ucap Tuan Arka yang memberikan perintah pada sekretaris Demian. Agar pergi ke Australia untuk menyelidiki kematian kakak kandung Arya.
"Siapa nama kakak mu? Cica yang mana? Karena mantan kekasihku yang bernama Cica aku lupa ada berapa orang," tanya Elvino sebelum mendengar Arya berikan penjelasan.
"Cica Aurora Febri, dia pernah kuliah di negara ini selama satu tahun," jawab Arya menyebutkan nama panjang kakaknya.
"Cica Aurora Febri! Cica, Cica?" El mengulangi nama tersebut berulang kali karena dia benar-benar lupa. "Apakah kamu memiliki fotonya? mungkin jika sudah melihat wajahnya aku akan ingat,"
"Ada, tapi di ponselku," jawab Arya cepat. "Tapi... aku lupa jika tadi malam ponselnya tertinggal di mobil," lanjutnya lagi.
"Tunggu sebentar," Elvino keluarkan ponselnya untuk menelpon sekretaris Demian.
__ADS_1
Ttttddd!
Ttttddd!
📱 Sekertaris Demian : "Iya, Tuan Muda?" sapa sekretaris tersebut begitu panggilan sudah terhubung.
📱 Elvino : "Kamu ada dimana? Tolong hubungi seseorang suruh ke tempat Pak setia untuk mengambil barang-barang milik Arya maupun milik Adikku," jawab El yang sudah tahu jika barang pribadi milik adik iparnya maupun milik Raya diamankan oleh polisi bernama Pak Satya yang menghubunginya tadi malam saat Raya kecelakaan.
📱 Sekertaris Demian : "Ini Saya sudah ada di lobby rumah sakit, Tuan Muda dan barang-barang nya ada pada Saya,"
📱 Elvino : "Bagus sekali. Kalau begitu cepat bawakan ke ruangan mama sekarang juga. Tidak pakai lama," setelah berkata seperti itu Elvino langsung memutuskan panggilan telepon mereka.
"Apakah Demian sudah mau datang ke sini?" tebak Tuan Arka.
"Iya, dia sebentar lagi akan datang. Katanya sekarang lagi berada di lobby rumah sakit," Elvino menatap kembali pada adik iparnya dan berkata.
"Ceritakan lebih dulu seperti apa niatmu mau menikahi Raya? Balas dendam seperti apa sehingga kamu menikahi adikku?" ucapnya selagi menunggu kedatangan sekertaris pribadinya.
"Tadinya aku ingin Raya ikut merasakan sakit hati seperti yang dirasakan oleh kakakku. Itulah alasannya aku pacaran dengan wanita lain. Namun, setelah kami menikah. Aku malah takut dia mengetahui hubunganku dan Manda," jawab Arya jujur karena untuk menyelamatkan pernikahannya sekarang adalah kejujurannya sendiri.
Jika sampai dia masih berani berbohong. Maka sudah pasti akan dipecat menjadi menantu Wijaya. Sedangkan Arya benar-benar sangat mencintai istrinya. Apalagi sekarang walaupun keadaan Raya lagi kritis. Tapi ada buah hati mereka yang dikandung oleh gadis itu.
"Hanya seperti itu?" El menatap Arya lekat. Untuk mencari tahu apakah adik iparnya itu masih berbohong atau berbicara jujur. Akan tetapi ternyata Arya berbicara jujur.
"Iya, aku menjalin hubungan dengan Manda karena wanita itu yang menghubungiku lewat sosial media. Tepatnya seminggu sebelum pernikahan kami. Karena pada saat itu aku berpikir belum mencintai Raya dan membutuhkan senjata untuk balas dendam. Jadinya aku menerima ajakannya untuk selingkuh,"
Hari ini Arya bagaikan anak kecil yang lagi diintrogasi oleh kedua orang tuanya setelah melakukan kesalahan. Niat hati mau balas dendam. Namun, siapa sangka malah berakhir seperti ini.
"Apa! jadi sebelum menikahi putriku kamu sudah berselingkuh?" seru Nyonya Risa yang langsung marah.
"Arya Wiguna, cepat tenangkan tante mu," kata Tuan Arka pada Arya keponakannya.
"Iya, Om," jawab Pemuda itu yang telah bersiap-siap mau pulang.
"Teruskan dan jangan hiraukan ucapan mama," titah beliau pada sang menantu.
"Selama kami menikah maupun saat masih pacaran. Aku tidak pernah menyakiti Raya, karena setiap melihat mukanya bersedih. Hatiku sakit melihatnya. Maka dari itu aku memutuskan menemui Manda tadi malam, karena tidak ingin meneruskan lagi niatku untuk menyakiti Raya dengan cara menghianati pernikahan kami," Arya kembali bercerita yang membuat Paman Hasan mengelengkan kepalanya.
"Paman rasa, kamu sudah mencintai Raya dari saat kalian masih berpacaran," tebak Paman Hasan dan langsung diangguki oleh Arya.
"Sepertinya Iya Paman. Karena dari semenjak awal Saya pindah kuliah di sini. Saya bertemu Raya pertama kali di parkiran. Saat itu Saya sudah menyukainya. Namun, semua perasaan tersebut harus Saya hilangkan. Setelah mengetahui bahwa dia adalah adik Elvino. Laki-laki yang sudah membuat kakak kandung Saya lebih baik milih mati bunuh diri. Daripada menikah dengan pemuda pilihan orang tua kami,"
"Aku begitu banyak memiliki mantan kekasih. Namun, aku tidak pernah merusaknya sama sekali. Jadi atas dasar apa kakak mu mati bunuh diri. Lalu bersangkutan dengan diriku," imbuh si playboy cap kampak karena tidak mau disalahkan begitu saja.
Mau Brengsek seperti apapun Elvino saat masih menjabat sebagai Playboy cap kampak. Dia mana pernah sampai meniduri pacar-pacarnya. Jangan kan merengut mahkota seorang gadis. Berciuman saja dia tidak pernah selain bersama Adelia.
Aneh? Tapi seperti itulah kenyataanya. Sebab dia sadar memiliki adik perempuan dan juga tidak mau bila adiknya hanya dimanfaatkan oleh seorang laki-laki dan ternyata seperti apapun dia menghindar. Agar jangan sampai adiknya terkena imbas, tetap saja tidak bisa menghindarinya.
Justru Raya dinikahi dan hampir meregang nyawa atas perbuatanya dimasa lalu. Walaupun belum tahu apa penyebab pastinya, tetap saja ada hubungan dengan Elvino yang suka bergonta-ganti pasangan.
"Entahlah! Aku juga tidak tahu apa yang membuatnya memilih bunuh diri. Namun, dari buku diary nya menunjukan bahwa semua itu karena dirimu," jawab Arya sesuai petunjuk dari buku diary sang kakak.
"Lalu apakah kedua orang tuamu tahu jika kamu menikahi Raya hanya untuk balas dendam?" kali ini Tuan Arka yang bertanya karena menurutnya sang besan sangat menyayangi putrinya.
Apakah semua itu juga hanya sandiwara? Jika memang besannya terlibat. Maka Tuan Arka tidak mungkin akan tingal diam.
Namun, bila itu hanya rencana Arya sendiri mungkin beliau bisa memaklumi. Sebab jika itu adalah Elvino, mungkin juga akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan keadilan atas kematian saudarinya.
Ceklek!
Suara pintu ruangan tersebut yang dibuka dari luar oleh sekretaris Demian dari luar saat mereka masih berbicara serius.
"Selamat pagi semuanya, maaf mengaggu. Saya hanya mau mengembalikan barang-barang milik Tuan Arya," ucap sekretaris tersebut seraya menyerahkan amplop besar yang di dalamnya terdapat barang-barang penting milik Arya.
Termasuk ponsel Raya juga ada di sana. Jika barang Raya yang lain sudah hangus terbakar bersama mobil edisi terbatas tadi malam.
"Terima kasih," jawab Arya langsung membuka amplop tersebut dan mengeluarkan ponselnya untuk melihat foto Cica sang kakak.
"Ini," ucapnya menyerahkan ponselnya pada Elvino.
"Cica!" seru El kaget setelah melihat siapa gadis yang mati bunuh diri karena dirinya. "Jadi Cica ini adalah kakak kandungmu?" tanyanya dan diangguki oleh Arya.
__ADS_1
"Kenapa, El? Apakah kamu mengenal kakaknya?" ucap Tuan Arka melihat wajah terkejut putranya.
...BERSAMBUNG... ...