
💝💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Selamat siang Tuan Muda," sapa sekertaris pribadi Tuan Arka membukakan pintu ruangan Presdir. Ya, setelah selesai mengurus surat lamaran kerjanya. Elvino dimintai oleh sang ayah datang ke ruangannya sebelum pulang ke rumah sakit.
"Iya, terima kasih! Sama... terima kasih juga sudah membantuku membuat formulir nya." ucap Elvino dengan tulus. Ketahuilah, si tampan ini meskipun dia urak-urak kan dan nakal diluar sana. Tapi dia masih memiliki sifat sopan santun pada orang-orang yang menjadi karyawan ayahnya ataupun para asisten rumah tangga di rumah mereka.
"Sama-sama Tuan, Anda tidak usah sungkan seperti ini. Bila ada yang ingin ditanyakan, telepon saja," jawab Demian yang umurnya tidak berbeda jauh dari Elvino. Hanya saja dia memiliki otak cerdas dan sangat terampil dalam mengerjakan masalah perusahaan Wijaya.
Terbukti dia sudah lulus sejak satu tahun lalu. Sedangkan Elvino masih juga kuliah yang entah kapan akan selesainya. Aneh memang, karena biasanya para tuan muda memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Namun, berbeda dengan Elvino. Dia sangat payah dan nakal.
Seharusnya sudah lulus dari dua tahun lalu, ini malah masih juga semester akhir. Dia tidak bergerak, seakan-akan hanya jalan ditempat saja.
Contohnya seperti Demian. Dia pintar seperti ayahnya yang saat ini sudah pensiun dari menjadi Sekertaris Tuan Arka. Sebab sudah memiliki penganti putranya yang hebat.
"Baiklah, nanti bila aku tidak bisa mengerjakannya aku akan menghubungimu lagi. Oya, Papa kemana?" Elvino berjalan kerah sofa dan duduk disana.
"Tuan Presdir masih berada di ruang Meeting. Tapi sebentar lagi selesai. Apakah Anda ingin kopi atau minuman yang lainnya?" jelas Demian balik bertanya.
"Tidak! Terima kasih," tolak Elvino cepat. Dia lebih memilih mengeluarkan ponselnya dan bermain game.
Lalu karena Demian memiliki pekerjaan dia berpamitan untuk kembali keruangan nya. Jadi tinggallah Elvino sendirian.
Ttttddd!
"Agh, brengsek! Ngapain nelpon saat aku baru saja mau menang," umpat Elvino karena ada salah satu nomor baru yang meneleponnya. Meskipun Elvino belum mengangkat panggilan tersebut. Namun, dia sangat yakin, bahwa itu adalah salah satu mantan pacarnya.
Ttttddd!
Tttddd!
"Astaga! Lama-kelamaan kartu ini aku pensiunkan, kenapa semakin kesini semakin banyak yang menghubungi ku," kesal pemuda tampan itu karena nomor yang menghubungi nya menelepon lagi.
__ADS_1
Ting!
💌 Cica : "Sayang, bagaimana keadaan adikmu? Apakah sudah mendingan?" belum juga telepon tersebut diangkat. Satu pesan baru dari Cica kekasihnya sudah masuk lagi.
"Ini Cica lagi, nelpon sama chat terus, dia tidak memiliki pekerjaan lain apa. Susah memang jika menjadi cowok tampan sepertiku." bila orang lain tidak ada yang memuji. Maka puji lah diri sendiri, hal itulah yang dilakukan oleh si tampan Elvino.
💌 Elvino : "Sudah mendingan, tinggal menunggu pemulihan saja, jika sudah benar-benar sembuh baru boleh dibawa pulang." bunyi balasan pesan untuk kekasihnya.
💌 Cica : "Oh, syukurlah! Aku ikut senang mendengarnya. Eum... apa aku boleh datang ke rumah sakit untuk menjenguk adikmu?" sudah dari tadi malam Cica mengatakan ingin menjenguk Adel. Namun, El selalu melarangnya.
Mana mungkin dia mengizinkan Cica melihat keadaan istrinya yang masuk rumah sakit gara-gara hampir keguguran.
Apalagi sekarang Nyonya Risa sang mama juga ada di rumah sakit. Bisa-bisa Elvino akan kena ah bukan wanita itu.
💌 Elvino : "Tidak usah dan terima kasih atas niat baikmu. Aku bukannya tidak boleh, tapi di rumah sakit ada mamaku yang menjaganya." balas Elvino cepat, takut bila gadis itu nekat datang ke rumah sakit.
💌 Cica : "Tapi aku hanya ingin menjenguk saja. Masa' mamamu juga tidak boleh, apakah dia orang yang sangat galak?"
💌 Elvino : "Cica, jika aku bilang tidak boleh, itu artinya kamu dilarang datang ke rumah sakit. Jika maksa seperti ini lebih baik kita putus saja, karena aku tidak suka dengan wanita yang pembangkang." Elvino yang kesal akhirnya langsung mengajak Cica putus hubungan mereka sebagai pasangan kekasih.
💌 Cica : "Eh, tidak, tidak! Sayang, tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan pernah bersikap seperti ini lagi," mohon habis itu karena tidak mau putus dari Elvino.
💌 Cica : "Elvino, sayang aku mohon! Balas pesan ku, aku tidak mau kita putus," bunyi pesan Cica yang sudah dihiraukan lagi oleh Elvino.
"Makanya jadi cewek tu seperti Adelia yang tidak pernah---"
Kleeek!
Sebelum Elvino menyelesaikan ucapannya. Pintu ruangan tersebut dibuka lebar oleh Sekretaris Demian, karena ayahnya sudah datang.
"Papa," seru Elvino berdiri dari tempat duduknya.
"Apakah kamu tidak mau menjadi Presdir di perusahaan ini, El?" ucapkan Arka yang terdengar seperti mengejek putranya.
"Jika otakku mampu, mungkin mau-mau saja. Tapi ini untuk membuat proposal lamaran kerja aku saja, dibantu oleh Demian," jawab Elvino jujur.
"Itu karena kamu terlalu sibuk belajar cara dugem dan berlomba-lomba siapa yang kuat menghabisi berapa lusin minuman setiap malamnya," cibir beliau duduk dihadapan Elvino.
__ADS_1
"Ck, apa Papa menyuruh aku datang ke sini hanya untuk membahas masalah? Atau ada pekerjaan lainnya?" decak Elvino malas untuk bertengkar.
"Tentu saja untuk membahas masalah pekerjaanmu. Jika tidak untuk apa juga Papa menyuruhmu datang ke sini, jawab beliau seraya memperbaiki cara duduknya.
"Huem! Demian tolong ambilkan surat yang Saya tunjukkan padamu tadi pagi," Tuan Arka berdehem terlebih dahulu sebelum menunjukkan sesuatu pada sang putra.
"Ini Tuan," dengan sigap Demian mengambil surat yang dimaksud oleh bosnya.
"Apa ini, Pa?" tanya Elvino karena Tuan Arka melempar surat tersebut ke hadapannya.
"Coba kamu buka dan baca sendiri, karena jujur Papa sudah muak mendapatkan surat cinta dari Universitas tempatmu menimba ilmu," jawab beliau lagi yang saat ini melipat tangannya di depan dada.
Lalu karena penasaran Elvino pun membuka surat tersebut, yang sudah tidak dibungkus oleh amplop lagi. Makanya dia tidak tahu itu surat apa.
"Surat dari Dosen," ucap pemuda itu setelah membaca di awal kalimat paling atas.
"Iya, itu surat cinta dari Dosen mu yang entah untuk ke berapa kalinya. Apakah kamu bangga mendapatkan surat seperti ini?"
"Papa, maaf," Elvino menunduk sambil membaca surat tersebut yang sudah pasti masalah dirinya yang tidak pernah bisa menyelesaikan skripsi.
"Papa tidak butuh maaf darimu, karena kamu berbuat salah pada dirimu sendiri. Jika kamu sampai kena DO dari sana. Maka Papa akan menarik semua fasilitas yang kamu miliki sekarang, karena semua itu dibeli menggunakan uang Papa." ungkap Tuan Arka yang benar-benar pusing dibuat putra sulungnya.
"A--apa! Tapi Papa tidak bisa melakukan itu, El putra satu-satunya di keluarga kita," seru Elvino kaget jika sang ayah akan bertindak sampai sejauh itu.
"Kenapa tidak bisa? Papa masih memiliki Raya adikmu dan juga bayi yang sedang dikandung oleh Adelia. Mau siapapun anak itu nanti, meskipun bukan darah daging mu. Akan papa buat dia menjadi pewaris Wijaya berikutnya."
"Pa... El, berjanji kali ini akan menyelesaikan skripsi itu secepatnya," seru Elvino semakin dibuat pusing oleh ketegasan sang ayah.
"Itu semua tergantung padamu, El. Jika masih ingin menikmati kemewahan yang kamu miliki sekarang. Maka segera selesaikan dalam waktu dekat ini." sekeras apapun yang dilakukan oleh Tuan Arka saat ini. Tetap saja semua itu demi kebaikan putranya.
"Iya, Elvino akan berusaha untuk mengerjakan dalam waktu dekat ini," akhirnya Elvino menyerah karena kesalahannya yang tidak pernah menganggap serius kuliahnya.
"Bagus! Papa tunggu janjimu. Sekarang kamu boleh pergi dari sini, karena Papa masih memiliki banyak pekerjaan penting," usir Tuan Arka.
"Astaga! Papa Kenapa kejam sekali! Seperti aku ini bukan anak kandung Papa saja," protes Elvino yang tetap berdiri sambil menggenggam kunci mobil dan ponselnya.
"Demian, sampai berjumpa lagi," ucap El berpamitan pada Sekretaris ayahnya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......