
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Aaah!
Aaah!
Suara merdu dari pasangan suami-istri, masih terdengar saling bersahutan. Memenuhi kamar hotel bintang lima milik keluarga Wijaya. Yaitu hotel Tuan Arka, orang tua dari pengantin wanitanya.
Padahal sudah hampir dua jam Arya dan Raya belum juga selesai melakukan pergumulan panas yang membuat ranjang tempat tidur terkena gempa lokal.
Bunga mawar merah yang tadinya menghiasi indah diatas tempat tidur. Sekarang sudah bertaburan dimana-mana. Jangankan kelopak bunga. Bantal tidur dan selimut saja sudah berada diatas lantai. Barang-barang tersebut menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya pertempuran yang terjadi di dalam ruangan si pengantin baru.
Keringat sudah membanjiri pada tubuh keduanya. Padahal selain diluar sedang hujan besar. AC kamar mereka pun suhunya sudah dinaikkan oleh Arya. Namun, karena percintaan mereka yang terus saling memberikan kenikmatan satu sama lain. Masih saja terasa panas, sehingga tubuh mereka sudah dibanjiri oleh peluh.
Apalagi Arya, dia adalah yang paling banyak mengeluarkan tenaga karena paling banyak bergerak mau seperti apapun gaya percintaan mereka. Malam pasangan suami-istri itu benar-benar melepaskan masa lajang bersama orang yang dicinta.
Entah sadar atau tidak. Sambil memaju mundurkan pinggulnya. Dan juga disela merasakan sensasi dari penyatuan tubuh mereka. Arya terus mengucapkan bahwa dia sangat mencintai Raya.
Akan tetapi tidak ada yang tahu juga. Bahwa semua pengakuannya benar-benar tulus. Atau hanya refleks karena dia lagi terbawa suasana dari percintaan mereka.
Apalagi bukan hanya Raya yang mendapatkan pelepasan berulang kali. Tapi juga Arya. Pemuda tampan itu juga sudah berulangkali mendapatkan puncak kenikmatan dari rudalnya yang menyemburkan lahar panas pada goa Raya.
Sehingga lahar panas yang awalnya bercampur darah. Mengotori sepray berwarna putih. Sekarang sudah mengalir dengan normal.
Namun, Arya yang juga baru melepas perjaka malam ini, belum juga berhenti. Padahal Raya sudah meringis menahan sakit pada intinya yang memang sedikit membengkak.
Akan tetapi demi melayani suaminya. Si cantik Raya masih memaksakan untuk tetap kuat disela antara sakit dan nikmat yang telah melebur menjadi satu.
Aaaaghk!
Aaaaghk!
Suara desa han keduanya saling bersahutan. Arya yang berada di atas tubuh Raya. Terus mengerakkan pinggulnya maju mundur. Yaitu dengan durasi semakin cepat. Soalnya pemuda itu juga sudah merasakan ada sesuatu yang akan meledak dari bagian inti tubuhnya.
Aaagh!
"Arya..." lenguh Raya yang membuat Arya menatap pada muka istrinya.
Cup!
"Aku mencintaimu, sayang," ucap Arya mengecup sekilas bibir ranum istrinya. Lalu pemuda itu kembali pada posisi seperti semula dan berkata.
"Aku sudah mau keluar. Jadi keluarkan lah juga. Agar kita sama-sama merasakan nikmatnya." ucap Arya yang dianguki oleh Raya. Disela rintihan yang membuat suaminya tidak mau berhenti untuk terus melakukan.
Benar saja. Tidak sampai sepuluh menit. Tangan Raya sudah mencengkam kuat pundak suaminya. Sehingga dapat Arya tebak bahwa istrinya juga sudah mau sampai pada puncak permainan mereka.
"Arya, nikmat sekali. Aku mau... Aaaghhk!" tubuh Raya langsung terkulai lemas seperti tidak memilki tulang. Namun, bukan hanya dirinya saja, tapi juga Arya. Merasakan jepitan pada rudalnya. Arya pun semakin mempercepat gerakan pinggulnya sehingga mereka bisa mendapatkan pelepasan secara bersama.
Dengan nafas masih terengah-engah. Raya yang kelelahan langsung saja tertidur. Padahal Arya masih berada diatas tubuhnya. bahkan tubuh mereka yang dibawah sana masih menyatu dengan sempurna.
"Kamu sudah tidur." ucap Arya tersenyum yang sama nafasnya juga seperti habis berlari meraton di sore hari.
"Kasihan sekali, sampai langsung tertidur pulas seperti ini." imbuh pemuda itu karena tahu jika istrinya sudah masuk ke alam mimpi.
Lalu diapun akhirnya bangkit dari atas tubuh istrinya. Tapi tentunya dengan gerakan pelan. Arya tidak mau menganggu tidur sang istri yang sudah lelah melayaninya.
"Aaaghhk! Kenapa rasanya nikmat sekali," Arya mengerang nikmat saat menarik si Lele tunggal keluar. Sambil menyemburkan semua lahar panasnya di dalam rahim sang istri.
Setelahnya dia mengambil Bathrobe milik Raya yang tadi di lempar sembarang arah. Untuk mengelap sepray dibawah paha istrinya.
Begitu selesai Arya turun dari tempat tidur dan memunguti bantal dan selimut. Lalu menyelimuti tubuh Raya agar gadis itu tidak kedinginan. Sedangkan dia sendiri langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kedua kalinya.
Dibawah guyuran air shower. Arya membersihkan tubuhnya dan si Lele tunggal yang masih terdapat sedikit bercak darah perawan Raya yang telah dia renggut.
"Aku sudah mengambil keperawanan Raya." gumamnya yang membiarkan air shower menyirami dari atas kepalanya.
"Tidak-tidak! Aku bukannya jahat. Tapi dia memang sudah sah menjadi istriku di negara maupun agama. Tubuh Raya memang sudah menjadi milikku. Jadi mau seperti apapun niat ku menikahinya. Aku tetap berhak mengambil kehormatan istriku sendiri."
Entah apa yang Arya pikirkan. Sehingga dia kembali bergumam pada dirinya sendiri.
"Jika aku tidak menyentuhnya sama sekali. Maka Raya akan curiga padaku. Aku tidak ingin dia mengetahui semuanya. Sebelum aku berhasil menyakiti Elvino."
Sambil memakai shampoo pada rambutnya. Arya masih juga bergumam tidak jelas. Akan tetapi kegundahan hatinya tidak lama. Setelah dia mengigat kembali seperti apa kakaknya meregang nyawa dan dalam hari itu juga Tuan Yuda papinya terkena serangan jantung.
Bahkan saat pemakaman kakaknya. Sang ayah tidak bisa hadir karena beliau berada didalam ruang ICU. Begitu pula maminya yang juga langsung dirawat di rumah sakit. Jadi yang hadir hanya Arya sendiri di sela cemoohan orang-orang.
Disitulah Arya merasakan sakit. Tidak memiliki teman berkeluh kesah. Tidak ada teman untuk bertanya apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Namun, berita mengejutkan setelah pulang dari pemakaman sang kakak.
Polisi menyerahkan buku diary miliki kakaknya dan setelah Arya baca. Ternyata saudarinya bunuh diri karena tidak mau dijodohkan dengan laki-laki lain. Sebab hatinya sudah diisi oleh pemuda bernama Elvino.
Namun, dari ungkapan pada buku itu. Sang kakak juga mengatakan sangat sakit karena orang yang dicintai tidak membalas cintanya dan bahkan saat putus saja Elvino hanya mengatakan melalui ponsel.
Kleeek!
Suara pintu kamar mandi dibuka oleh Arya yang sudah selesai membersihkan tubuhnya. Lalu pemuda itu mengambil baju bersih lagi dari dalam lemari. Setelah selesai memakai baju kaos putih pendek dan celana color pendek juga. Arya ikut naik keatas tempat tidur dan berbaring disebelah kanan istrinya.
__ADS_1
"Maaf Ray, mungkin setelah kamu mengetahui semuanya nanti. Akan membenciku. Namun, ketahuilah! Kalau bukan karena kakakmu yang brengsek. Maka aku tidak akan pernah kehilangan saudariku. Keluarga kami yang bahagia hancur gara-gara kakakmu."
Gumam Arya degan mata memandang wajah istrinya yang tertidur dengan pulas. Sehingga diapun akhirnya ikut tertidur juga.
Malam ini mereka berdua masih bisa merasakan bahagia bisa tidur satu kamar dengan orang yang dicintai. Namun, tidak akan ada yang tahu bagaimana hari esok.
Raya yang belum pernah berpacaran. Saat bertemu Arya yang sangat perhatian. Tidak pernah menuntut lebih saat mereka berciuman. Semakin yakin jika pemuda itu adalah yang tepat untuknya.
*
*
Pagi harinya.
Tepatnya pukul tujuh lewat lima belas menit. Raya baru bergeliat kecil dan membuka matanya pelan. Sinar mentari pagi yang masuk lewat celah jendela kaca besar. Membuat gadis itu tidak bisa memejamkan matanya lagi.
"Huom... ini jam berapa?" gumamnya sambil meraba-raba ponselnya di atas meja kecil samping tempat. Saat ini Raya belum sadar jika dia berada di hotel dan sudah menghabiskan malam pertama bersama Arya.
"Loh, kok nggak ada? Mana ponsel ku? Perasaan tadi malam aku taruh disini." seru Raya yang telah membuka matanya lebar.
"Mencari apa?" suara Arya mengagetkan Raya.
"Arya! Kamu kenapa ada di kamarku? Ap---"
"Karena aku adalah suamimu," sela pemuda itu tersenyum tampan yang selalu membuat jantung Raya berdebar-debar.
"Astaga! Sorry! Aku lupa," imbuh Raya karena dia memang benar-benar lupa.
"Tidak apa-apa! Ayo bagunlah! Kita akan pulang setelah sarapan. Itu aku sudah memesankan makanan." tunjuk Arya kearah meja sofa.
"Apakah kamu sudah mandi?"
"Sudah! Aku sudah bangun dari satu jam lalu. Tapi... bila kamu ingin kita mandi bersama. Aku masih bisa mandi lagi," goda Arya sembari mengelus pipi Raya yang terlihat sangat cantik. Padahal baru bangun tidur dan masih terlihat jelas muka bantalnya.
"Eh, tidak-tidak! Aku bisa mandi sendiri." seru Raya yang mukanya langsung memerah karena malu. Soalnya gadis itu baru mengigat jika tadi malam mereka telah melakukan malam pertama.
Cup!
"Kenapa? Apakah kamu baru mengingatnya?" tebak Arya mengecup bibir Raya yang bertambah memerah dan terasa panas.
"Ayo cepat bangun dan mandi. Kita akan pulang kerumah orang tuamu untuk berpamitan. Baru setelahnya kita kerumah orang tuanku dan menginap di sana satu malam. Besok pagi baru pulang ke Apartemen ku,"
"I--iya, aku mau mandi sekarang," Raya bagun dari baringnya dan kedua tangannya memeluk selimut agar tidak terlepas dari tubuhnya yang polos. Arya yang mengerti jika istrinya malu tidak menggoda Raya lagi.
"Aku mandi dulu. Maaf karena aku malah bangun kesiangan." ucap Raya yang tahu kesalahannya sebagai seorang istri.
"Iya, tidak apa-apa!" Arya ikut turun dari ranjang karena Raya mau turun dari arahnya. Namun, baru saja Arya akan melangkah menuju sofa lagi. Dibuat kaget oleh suara Raya yang mengaduh kesakitan.
"Raya, kamu kenapa?" Arya bertanya kaget karena tidak tahu jika istrinya kesakitan gara-gara pertempuran mereka tadi malam.
Raya tidak langsung menjawab. Tapi dia menatap lekat suaminya. Entah apa yang dia rasakan. Namun, setelah Arya berjongkok dihadapannya. Raya langsung memeluk pemuda itu.
Sampai-sampai Arya hampir terjungkal kebelakang. Bila tidak cepat-cepat menahan dengan satu tangannya pada lantai.
"Huhu... Arya," tangis Raya yang membuat pemuda itu semakin binggung.
"Hey, ada apa? Jangan membuatku takut. Apakah ada yang saki..." Arya tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Maafkan aku, apakah bekasnya yang sakit?" tanya Arya balas memeluk sang istri yang masih menangis.
Raya mana pernah merasakan sakit karena terluka. Ataupun karena sakit hati. Adapun dia menangis karena merasa terharu, atau beberapa tahun lalu. Tepatnya saat Tuan Arka mengalami kecelakaan.
"Apakah bekas percintaan kita tadi malam yang sakit? Ayo bicaralah, jangan membuatku takut." karena tidak ada jawaban dari sang istri. Arya kembali lagi bertanya.
Namun, dengan merenggangkan pelukan mereka. Agar bisa menatap muka sang istri yang basah oleh air mata.
"Apakah tebakanku benar?" tanyanya lagi dan langsung dianguki oleh Raya.
"Haaa... ha... kenapa tidak bilang dari tadi. Huem!" tawa pemuda itu yang ikutan cemas karena Raya mengaduh dan menangis tanpa sebab.
"Kamu jahat sekali. Aku sedang merasakan sakit. Tapi malah menertawakan aku." sungut Raya kesal.
"Maaf! Aku tidak bermaksud menertawai mu. Aku hanya merasa lucu karena tadi malam kamu biasa-biasa saja." jawab Arya yang langsung menjauhkan tubuh mereka.
"Tunggu disini. Aku akan menyiapkan air untukmu mandi." ucapnya yang hanya dianguki oleh Raya.
"Apakah seperti ini rasanya dimanja oleh suami? Kenapa aku merasa sangat bahagia sekali. Pasti Kak El juga memperlakukan Kak Adelia lebih dari ini. Pantas saja mereka selalu bahagia."
Gumam Raya tersenyum menatap punggung Arya yang sudah hilang di balik pintu kamar mandi.
"Sayang, ayo biar aku bantu." ajak Arya yang sudah mengangkat tubuh sang istri dan dibawa masuk kedalam kamar mandi.
Meskipun Raya berontak minta diturunkan. Arya tetap tidak mendengarkannya karena tahu pasti inti istrinya sangat sakit. Dia juga baru menyadari hal tersebut. Sebab melihat seperti apa darah segar mengalir tadi malam. Tentu Arya ikut merasakan sakitnya.
"Ayo lepas selimutnya dan berendam saja agar rasa nyerinya berkurang." titahnya pada sang istri yang telah diturunkan di pinggir Bathtub.
"Ka--kamu keluar dulu. Aku bisa sendiri."
"Baiklah! Tapi bila butuh bantuan panggil saja. Pintunya tidak usah ditutup." jawab pemuda itu mengiyakan. Soalnya mereka tidak memiliki banyak waktu untuk lebih lama lagi berada di hotel.
Arya tidak memiliki sekertaris pribadi yang bisa membantunya di perusahaan. jadi besok hari Senin dia sudah mulai bekerja dan kuliah seperti biasanya.
__ADS_1
"Ar,"
"Iya," Arya yang sudah tiba didepan pintu kamar mandi harus berhenti melangkah dan menoleh kearah sang istri lagi.
"Terima kasih! Aku mencintaimu," seru Raya yang mengungkapkan perasaannya. Namun, Arya hanya tersenyum kecil dan tidak membalas ucapan cintanya.
"Apakah ada yang salah dengan kata-kataku?" gumam Raya melihat suaminya pergi begitu saja. Padahal dia berharap agar Arya juga mengatakan mencintainya.
Tidak ingin membuat Arya menunggu terlalu lama dan mengambil hati tentang masalah kecil hanya karena sang suami tidak balas mengucapkan cinta padanya.
Gadis Wijaya itupun langsung masuk kedalam Bathtub dan berendam di dalamnya dengan air hangat yang menyegarkan tubuh pegalnya.
Hampir lima belas menit kemudian. Arya sudah kembali masuk kedalam kamar mandi sambil membawakan Bathrobe yang baru. Soalnya dia tahu jika didalam kamar mandi tidak ada handuk.
"Aaaa! Arya! Kenapa kamu---"
"Aku membawakan Bathrobe untuk mu. Sudah dulu berendam nya karena kita tidak memiliki banyak waktu. Aku juga ada beberapa pekerjaan yang harus diperiksa." sela Arya tidak menghiraukan teriakan Raya yang malu padanya.
"Kenapa harus malu, sih. Aku ini suamimu dan sudah melihat setiap lekuk tubuhmu. Bahkan aku sudah mencicipinya. Jadi jangan malu karena kita bisa saja mengulangi percintaan kapanpun aku mau." ujar Arya membantu Raya berdiri dari Bathub.
Tidak ada pilihan meskipun masih malu. Raya hanya menurut saja karena setelah dipikir-pikir benar kata suaminya. Apa yang membuatnya malu? Arya sudah melihat semuanya. Bahkan tadi malam berbagai macam gaya percintaan telah mereka lakukan.
Dengan penuh kelembutan Arya membawa Raya untuk berdiri dibawah air Shower.. Lalu dia nyalakan degan aliran kecil untuk membilas tubuh sang istri.
"Arya sangat baik dan sangat perhatian. Bahkan kebaikannya jauh dari apa yang pernah aku impikan. Aku semakin mencintainya." Raya kembali bergumam sambil menatap Arya mengelap kering rambutnya.
Cup!
"Kamu kenapa malah bengong," Arya mengecup sekilas bibir ranum istrinya. Sebelum Raya menjawab. Arya sudah mengedong Raya ala bridal style. Kembali masuk ke dalam kamar tidur.
"Duduk disini, aku akan mengambil pakaian gantimu." ucapnya sudah menurunkan Raya di pinggir ranjang tempat tidur.
"Aaaa... Arya sangat romantis. Tuhan! Aku sangat bahagia sekali." Raya tersenyum-senyum sendiri karena merasa bahagia.
"Ayo pakai, biar aku bantu." Arya membawa pakaian istrinya termasuk juga CD dan bra untuk penutup aset berharga sang istri.
Tindakan Arya benar-benar membuat Raya semakin bahagia. Namun, juga membuat Mak Author binggung. Benarkah dia akan menyakiti Raya? Kenapa semua tindakannya tidak menunjukkan akan balas dendam? Entahlah! Hanya Arya yang tahu apa yang sedang dia rencanakan.
Setelah selesai membantu istrinya menganti pakaian. Arya juga membantu mengeringkan rambut gadis itu. Lalu mereka berdua sarapan dengan makanan yang sudah dipesankan sebelum Raya bangun.
Arya memang sudah biasa bangun pagi-pagi sekali. Mau selelah apapun, jam enam pagi pasti akan terbangun. Mungkin sudah terbiasa karena sekarang selain kuliah Arya juga harus mengurus perusahaan.
Belum lagi menjaga kesehatan ayahnya. Walaupun tidak ikut merawat, tapi Arya yang mencarikan dokter dan selalu berkonsultasi tentang kesehatan sang ayah.
Setelah jam sembilan pagi. Pasangan suami-istri itu barulah meninggalkan hotel. Meskipun dengan langkah pelan, tapi Raya sudah bisa berjalan. Setelah berendam air hangat. Rasa nyeri pada intinya memang berkurang.
"Apakah mau membeli sesuatu? Kue atau makanan yang lainnya?" tanya Arya sambil mengendarai mobil Ferrari nya meninggalkan hotel.
"Tidak! Mama sama Kak Adel sering membuat makanan sendiri. Jadi sudah tidak pernah membeli makanan lagi," jawab Raya sambil mengambil ponselnya.
"Apakah kamu juga bisa membuat makanan seperti mama dan Kak Adel?" selama ini Arya memang belum pernah bertanya apakah Raya bisa memasak atau tidak.
"Jika membuat makanan sejenis kue, jujur aku tidak bisa. Tapi kalau memasak nasi dan lauknya aku bisa. Soalnya mama, Kak Adel dan aku sering memasak bersama." jawab Raya jujur.
"Benarkah! Wah sepertinya aku harus mencicipi masakan istriku." seru Arya langsung menyatukan jari-jari tangan mereka berdua. Sedangkan tangan satunya masih memegang setir mobil.
"Tentu saja, nanti aku akan memasak setiap hari untukmu." senyum kebahagiaan semakin menghias wajah cantik si gadis Wijaya.
"Ar,"
"Huem, apa sayang!" jawab Arya yang juga tersenyum bahagia. Akan tetapi entah dihatinya? Karena tidak bisa ditebak. Benarkah lagi bahagia juga, atau lagi merencanakan pembunuhan berencana?
"Apakah di Apartemen mu ada pembantunya?"
"Tidak ada. Biasanya aku selalu memesan makanan lewat aplikasi saja. Namun, aku sudah mengatakan pada mami. Jika akan membawa pembantu di rumah untuk ikut tinggal bersama kita." Ya, Arya memang berbicara jujur bahwa dirinya sudah menyiapkan asisten rumah tangga untuk mengurus Apartemennya.
"Ada apa?" tanyanya lagi. Soalnya Raya bertanya sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Eum... bagaimana jika kita tidak usah punya asisten rumah tangga? Kalau hanya memasak buat kita berdua. Aku bisa melakukannya." tawar Raya menyimpan ponselnya lagi.
"Apakah tidak apa-apa? Sebetulnya jika kamu mau, aku memang hanya ingin kita tinggal berdua saja. Agar lebih bebas mau ngapain saja." diluar dugaan ternyata Raya sendiri yang mengusulkan mau tinggal berdua saja.
"Iya, aku serius! Nanti jika untuk pakaian kita laundry. Nah kalau membersikan Apartemen, baru kita memanggil asisten di rumah mama atau dari rumah mami. Karena mau memakai asisten manapun, itu sama saja."
"Usul yang sangat bagus. Aku setuju," Arya langsung mengelus kepala Raya karena dia merasa bahagia dengan keinginan istrinya. Ternyata Raya malah ingin memasak sendiri. Tadinya Arya kira sang istri akan meminta tiga orang pembantu sekaligus.
Meskipun Arya tidak sekaya keluarga Wijaya. Namun, dia juga tidak pernah kekurangan uang. Hanya saja dia tidak mau bila terlalu banyak orang yang ikut tinggal di Apartemen. Takutnya pergerakannya untuk menyakiti sang istri akan terbatas.
Jadi sama dengan bohong dia menikahi Raya. Bila tidak bisa balas dendam pada Elvino.
... BERSAMBUNG......
.
.
...Hai... hai... ini kisah bbg Elvino belum jadi Tamat bulan ini, ya. Jadi tolong minta dukungannya. Agar Mak Author yang nulis juga semangat. Tidak sepi seperti kuburan yang seram. ...
...Sudah beberapa hari ini yang like semakin sepi. Padahal yang baca melonjak pesat. Paling kecil setiap harinya 3000k . Jadi tolong tinggalkan jejaknya, ya😭😭🤧 Mak Author mah cuma butuh dukungan saja. Bukan minta dukung beneran. Soalnya badan Mak Author besar 😂...
...Terima kasih! Atas perhatiannya 😘 Soal si bbg Arya, tunggu Mak tanyakan dulu. Itu dia mau jadi balas dendam atau tidak. Perasaan selalu bikin laper 😭😭🤧 Eh, salah! Maksudnya selalu bikin baper 🤣🤭🤭...
__ADS_1