Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Sama-sama Mengancam.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


... HAPPY READING... ...


.


.


"Diam! Jangan macam-macam karena aku paling benci pada orang yang suka membangkang," hardik Eza setelah memaksa Olivia duduk di dalam mobilnya.


"Kau ini sangat aneh, aku tidak mau ikut kau paksa-paksa. Aku---"


"Diam! Atau aku akan melakukan sesuatu padamu!" pemuda itu mengancam lewat ucapan dan sorot tajam matanya.


"Brengsek! Awas kau ya, akan aku buat dirimu menyesal sudah memaksaku."


Olivia memang diam, tapi di dalam hati menggerutu kesal pada suaminya. Selama dalam perjalanan kedua pasangan suami-istri itu larut dalam pikirannya masing-masing. Padahal begitu banyak uneg-uneg yang ingin dikeluarkan.


"Nanti jika mama atau oma ku bertanya, kau jangan mengatakan yang macam-macam. Jika tidak maka aku akan---"

__ADS_1


"Akan apa? Kau pikir aku takut padamu. Jika kau berani berbuat yang macam-macam, maka akan aku katakan pada mereka jika kau menyuruhku tidur di atas sofa." bukannya takut tapi Olivia balik mengancam.


"Olivia..." Eza hanya menghembuskan nafas kasar ke udara. "Sudahlah, ayo turun!"ajaknya keluar dari mobil lebih dulu.


"Ayo cepat! Kau pikir aku ini bodyguard mu," seru pemuda tersebut. Membuat Oliv memanyunkan bibirnya.


"Jika kau merasa bukan bodyguard ku, maka masuk saja duluan. Aku tidak meminta kau menungguku." jawab gadis itu santai.


"Kau ini istriku, apa yang akan dikatakan oleh keluargaku jika kita berjalan masing-masing. Jadi jangan banyak protes karena ini semua untuk kebaikan mu juga."


"Pengantin baru kok malah bertengkar. Apakah karena tadi malam tidak bisa belah duren," seloroh Arya Wiguna yang kebetulan baru saja datang.


"Om baru datang, ini lagi menunggu papa mu." jawab Arya menatap pada Eza dan Olivia secara bergantian.


"Za, kamu dan Oliv darimana? Kenapa pakaian kalian seperti ini? Apakah kamu sudah tidak punya uang untuk membeli pakaian buat Oliv!" tanya Elvino yang baru saja muncul dari dalam rumah.


Dia bersama anggota keluarga yang lain juga baru datang dari hotel Wijaya karena tadi malam mereka menginap di sana. Akan tetapi malah pengantin baru yang tidur di rumah.


"Eza kan tidur di rumah kita, Pa. Di sana Oliv belum punya pakaian. Lagian tidak mungkin kan pagi-pagi seperti ini sudah membeli baju. Pasti orang-orang yang mengenalku akan berprasangka buruk padaku." jawab Elza merangkul mesra pinggang ramping istrinya.

__ADS_1


"Jika begitu kenapa harus menginap di sana. Sudah bagus-bagus disiapkan kamar pengantin, tapi malah kabur dari hotel," El sedikit mencibir.


"Agh, Papa seperti tidak tahu anak muda saja," imbuh Eza tersenyum untuk menutupi kebohongan nya. "Pa, Om. Kami ke kamar dulu ya, mau mandi dulu. Nanti baru turun ikut mengobrol bersama," ucapnya lagi.


"Ya, pergilah! Mama mu sudah menyiapkan semua keperluan Olivia," Eza dan Arya saling pandang dan setelahnya sama-sama tertawa.


"Apa yang terjadi jadi pada mereka?" tanya Arya dan dijawab oleh El dengan mengedikan bahunya.


"Entahlah! Aku dan Adel dulu tidak seperti itu,"


"Ck, Kakak kan mencoblos sebelum pemilu," seloroh Arya yang langsung mendapatkan lemparan bantal sofa dari Elvino.


Sedangkan di lantai atas rumah mewah tersebut. Eza dan Olivia kembali beradu argument.


"Awas!" seru Oliv karena Eza berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Ini kamar ku, jadi aku yang akan mandi lebih dulu." jawab Eza tidak mau kalah.


"Astaga! Apakah kau mau membuatku pipis di celana? Baiklah, jika itu yang---" Olivia tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya. Karena Eza sudah lebih dulu menarik tangannya kearah kamar mandi. Akan tetapi karena Oliv ikut berpegangan pada tangannya, membuat mereka berdua tercebur ke dalam Bathtub yang sudah terisi air.

__ADS_1


... BERSAMBUNG... ...


__ADS_2