Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Mungkin!


__ADS_3

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


...HAPPY READING......


.


.


Sore harinya. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Namun, El belum juga pulang. Sedangkan karyawan yang lainnya termasuk Tuan Arka sendiri sudah pulang sejak tadi.


Untuk kerja di hari pertamanya, ternyata Elvino sangat banyak melakukan kesalahan. Padahal teman satu Timnya sudah berulangkali mengajarinya. Memang dasar El nya bebal.


Saat di copas data-data penjualan perusahaan mereka, ada yang salah salin. Alhasil sampai jam segini dia belum juga pulang. Tubuhnya benar-benar terasa remuk redam. Orang yang tidak pernah bekerja, sekalinya berkerja malah full tidak berhenti.


Bahkan saat makan siang pun dia tidak datang ke ruang ayahnya. Sebab Elvino lebih memilih untuk memperbaiki kesalahan yang ia buat tanpa sengaja.


"Ya Tuhan! Kenapa baru pertama kali bekerja. Aku sudah hampir mati seperti ini," keluhnya berbicara sendiri. Sebab di dalam ruangan tersebut hanya ada dirinya sendiri. Sedangkan di lantas atas gedung tersebut ada Sekertaris Demian. Tepatnya di ruangan presdir.


Tadi sebelumnya El sudah diajak untuk menyelesaikan pekerjaannya di sana saja. Agar sama-sama memiliki teman. Namun, El menolak karena tidak mau nanti dibilang oleh papanya ingin mencari tempat yang nyaman.


"Huh! Santai, santai, El. Ini sedikit lagi," ucap pemuda tampan itu berusaha untuk menguatkan matanya yang terasa mengantuk ingin tidur.

__ADS_1


Tttddd!


Ttttddd!


πŸ“± Elvino : "Huem, iya, Dra! Ada apa?" El menjawab malas karena dia sambil bekerja.


πŸ“± Hendra : "Tidak ada apa-apa. Apa kamu masih di perusahaan?" Hendra sahabatnya balik bertanya.


πŸ“±Elvino : "Iya, seharusnya bila tidak melakukan kesalahan. Sudah dari tadi pulangnya. Apa kalian mau pergi ke Club?"


πŸ“± Hendra : "Rencananya iya, jika kamu mau ikut. Tapi jika sibuk tidak usah, selesaikan saja pekerjaan mu," jawab Hendra bisa memahami kenapa sahabatnya tidak ikut berkumpul seperti biasanya.


πŸ“± Hendra : "Yasudah, kalau begitu lanjutkan saja pekerjaanmu. Jangan lupa untuk istirahat juga," pesan Hendar sebelum memutuskan sambungan telepon mereka.


Elvino yang sibuk bekerja, membiarkan saja ponselnya. Sampai setengah jam kemudian. Matanya yang terasa mengantuk, karena terlalu sunyi pun memilih untuk pulang saja


"Jam setengah enam! Aah, lebih baik pekerjaannya aku bawa pulang. Nanti malam baru aku kerjakan lagi," ucapnya sambil membereskan barang apa saja yang akan dibawa pulang.


Saat Elvino baru saja mau keluar dari sana. Sekertaris Demian datang menyusul untuk mengajaknya pulang.


"Anda sudah siap mau pulang juga, Tuan Muda," ucap si sekertaris pribadi tersebut.

__ADS_1


"Iya, aku akan mengerjakannya di rumah. Oya, ponsel mu nanti malam jangan dimatikan. Soalnya aku ingin meminta bantuan mu. Mana yang tidak bisa, aku kerjakan sendiri." jawab Elvino sambil berjalan beriringan keluar dari perusahaan.


"Ya Tuan Muda. Saya akan siap membantu," jawab sekretaris dengan sebelum masuk ke mobilnya sendiri. Hal yang sama juga dilakukan oleh Elvino. Pemuda tampan itu sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Agar bisa bertemu dengan si ibu hamilnya.


Tiiin!


Tiiiin!


Elvino membunyikan klakson mobilnya. Sebagai tanda bahwa dia akan jalan duluan daripada sekretaris ayahnya.


"Adel, kamu lama kelamaan kenapa malah jadi ngangenin," bergumam kecil karena di dalam mobil itu hanya ada dia sendiri.


"Aku rasa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Jika dalam bulan ini perasaanku masih sama padanya. Maka aku akan mengatakan pada Adel, sebelum semuanya menjadi terlambat," ucap El sambil bersenandung kecil.


Selama ini Elvino memang banyak memiliki pacar. Namun, dia belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Akan tetapi dia tahu tanda-tanda orang yang lagi jatuh cinta, yaitu seperti dirinya sekarang.


"Mungkinkah semua ini karena anakku? Karena dia tidak ingin kedua orang tuanya berpisah?" Elvino kembali bergumam. Sehingga dia tidak sadar jika mobilnya sudah sampai di kediaman keluarga Wijaya.


...


...BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2