Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Andai Takdir Bisa Memilih.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit. Mobil mewah edisi terbatas milik Arya sudah memasuki parkiran kampus bertaraf internasional. Sama seperti hari sebelumnya. Semua mata para gadis selalu mencuri-curi pandang begitu melihat kedatangan Arya.


Namun, hanya sekedar mengagumi tidak bisa memiliki. Jangankan sekarang, sudah sah menjadi milik Raya, putri dari keluarga Wijaya. Saat Arya masih bujangan saja tidak ada yang berani untuk bersaing dengan Raya.


"Nanti pulang sama sopir ya," Arya mengelus pipi mulus istrinya. Meskipun sudah sampai kedua pasangan suami-istri itu tidak langsung keluar dari mobil.


"Iya, kamu hati-hati. Membawa mobilnya jangan kencang-kencang," jawab si cantik tersenyum kecil. Namun, tetap terlihat semakin cantik dimata orang yang memandangnya.


"Pasti! Aku tidak mau mati sekarang karena akan rugi besar," Arya yang terkena saat memandang wajah Raya. Terus saja membelai pipi istrinya.


"Rugi?" Raya mengulangi perkataan Arya dan dianguki oleh pemuda itu.


"Iya, aku tidak mau mati sekarang karena nanti malah istriku diambil orang," perkataan Arya tentu saja membuat Raya semakin tersenyum dan berkata.


"Aku juga tidak mau menjadi janda di umur yang masih muda. Jadi jangan pernah bicara seperti ini lagi. Jujur, bila takdir itu bisa memilih. Maka aku ingin mati lebih dulu, sebelum dirimu. Karena hidupku tidak ada artinya bila tidak ada dirimu bersamaku," ujar Raya masih dengan tersenyum.


Gadis itu memang selalu ceria. Jadi sangat sulit untuk ditebak oleh siapapun. Termasuk kedua orang tuanya. Apakah senyum karena merasa bahagia. Atau tersenyum menyembunyikan luka.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu, karena kita akan tetap saling berpegangan tangan seperti ini. Dimana ada aku dan disitu ada dirimu," tutur Arya mengangkat sebelas tangan mereka yang saling mengenggam.


"Huem, terima kasih," Raya ikut memandangi kearah tangan mereka berdua. Sedangkan tangan Arya yang satunya masih tetap berada di pipi gadis itu.


"Ayo kita turun. Kenapa malah diam di dalam mobil. Jika mau---"


Cup!

__ADS_1


Arya sudah menempel bibir nya pada bibir Raya yang lagi terbuka. Soalnya gadis itu sedang bicara dia malah silaturahmi bibir.


Sambil merasakan sensasi ciuman mereka. Arya sampai memejamkan matanya. Begitu pula dengan Raya. Gadis itu juga ikut menikmatinya.


Sampai hampir lima menit kemudian barulah Arya melepaskan pangutan tersebut, karena pemuda itu takut tidak bisa menahan dirinya.


Dengan nafas terengah-engah kedua pasangan halal itu saling menempelkan kening mereka berdua. Sungguh bila tidak ada pelajaran penting. Maka Arya akan memutar arah setir mobilnya untuk kembali ke Apartemen. Ataupun ke hotel untuk menyelesaikan hastranya yang terasa membuncah.


Tadinya Arya tidak berniat mencumbui istrinya. Namun, karena terbawa suasana. Dia mengecup bibir Raya lebih dulu dan begitu menempel malah menahan tengkuk gadis itu. Alhasil menjadi sebuah ciuman yang menuntut.


Padahal mereka saat ini lagi berada didalam mobil. Lebih parahnya sedang berada di parkiran kampus.


"Kita lanjutkan nanti malam. Sekarang kita kuliah dulu," Bisik Arya membuat pipi Raya langsung bersemu kemerahan. Malu! Ya, tentu saja gadis itu merasakan malu.


"Ayo, ki--kita turun," kali ini Raya yang mengajak turun karena baru menyadari tempat mereka saat ini.


"Baiklah! Ayo," Arya turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil buat istrinya. Setelah menyambut tangan Raya dan menutup pintu mobilnya. Mereka berdua berjalan masuk ke kampus dengan saling bergandengan tangan.


"Hey, apa yang kamu lihat. Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Arya. Dia itu sudah bucin akut pada Raya. Jadi tidak akan pernah berpaling pada gadis lain lagi," tegur seorang gadis memukul bahu sahabatnya.


"Sangat beruntung ya, bila menjadi Raya. Sudah kaya, cantik dan mendapatkan laki-laki tampan yang sangat mencintainya," sambung gadis lain lagi.


Para gadis itu masih berada di perkirakan kampus juga. Jadi melihat seperti apa Arya memperlakukan Raya.


"Iya, Raya memang sangat beruntung. Tapi Arya juga sangat beruntung mendapatkan istri seperti Raya. Dia bukan hanya cantik, tapi juga memiliki hati seperti malaikat," para gadis-gadis itu terus membicarakan Arya.


"Tapi aku akan merebut Arya darinya. Kalian tidak tahu saja kan jika Arya tidak sebaik yang kalian pikirkan." gumam Manda yang sejak tadi diam didalam mobilnya.


Namun, begitu melihat mobil Arya sudah datang. Gadis itu tidak jadi turun. Setelah Arya dan Raya pergi dari sana. Barulah Manda keluar dari mobilnya.


"Jika Arya adalah pemuda baik-baik. Maka mana mungkin dia mau berpacaran denganku. Sebelum pernikahannya dan Raya. Namun, aku tidak peduli Arya laki-laki baik atau bukan. Sebab aku hanya ingin menjadi istrinya." Manda terus saja bergumam di dalam hatinya dengan penuh tekad untuk merebut Arya dari istrinya.


Sementara itu. Di dalam gedung tersebut. Arya mengantar Raya sampai ke depan kelas istrinya.

__ADS_1


"Masuklah! Aku juga akan ke kelasku," ucap Arya sambil melepaskan genggaman tangan mereka.


"Iya, aku masuk dulu, ya. Terima kasih! Selamat belajar," jawab Raya tersenyum dan melambaikan tangannya sambil melangkah masuk.


"Huh!" Arya menghela nafas dalam-dalam sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut . Namun, baru saja dia menaiki tangga yang mengarah kelantai atas. Manda sudah berjalan mengikuti pemuda itu dari samping.


Jadi orang lain mengira bahwa mereka hanya kebetulan berjalan kearah dan tujuan yang sama.


"Ar, Arya! Tunggu! Kamu kenapa malah berjalan semakin cepat sih setelah mendengar suaraku. Bukannya berhenti," seru Manda mencekal pergelangan tangan Arya.


"Manda! Apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika ada anak-anak melihat kamu memegang tanganku," ucap Arya yang langsung menarik cepat tangannya.


"Habisnya kamu tidak membalas pesan ku dari kemaren siang. Mereka tidak akan tahu bila kamu terlihat biasa-biasa saja. Jangan seperti pencuri yang ketahuan." jawab gadis itu sambil berjalan beriringan dengan Arya. Meski tidak terlalu dekat. Tapi keduanya masih berjalan sambil mengobrol.


"Kamu kan tahu jika aku lagi bersama Raya. Jadi tidak bisa balas chat mu kapan saja," jawab Arya sudah memelankan jalannya.


"Nanti kita bicara lagi, saat jam makan siang. Sekarang aku mau masuk ke dalam kelasku," ucap pemuda itu menoleh kearah Manda.


"Baiklah! Aku juga mau ke kelas ku juga. Ingat nanti jangan sampai lupa," pamit Manda karena disekitar mereka banyak mahasiswa lainnya.


"Iya, nanti aku akan mengirim mu pesan," jawab Arya berjalan meninggalkan Manda. Sebab mereka memang berbeda jurusan.


"Ar," belum lagi Arya memasuki kelas. Namanya sudah kembali dipanggil. Sehingga membuat pemuda itu berhenti untuk menunggu Hanif.


Ya, yang memanggil Arya adalah Hanif. Sahabtanya sejak kecil. Namun, gara-gara Arya pindah keluar negeri. Mereka jadi jarang bertemu.


"Iya, " jawab Arya singkat.


"Apakah kamu berangkat bersama Raya" tanya Hanif yang sudah datang sejak tadi.


"Benar? kami berangkat bersama," Arya kembali menjawab seperlunya.


... BERSAMBUNG.......

__ADS_1



__ADS_2