
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
...HAPPY READING......
.
.
"Adel, maafkan ak---"
Cup!
"A--adel!" seru Elvino karena si ibu hamil bukannya marah, tapi malah mengecup bibirnya. Ya, walaupun hanya sekilas saja.
"Huem... apa? Apakah aku tidak boleh mencium mu lebih dulu?" jawab Adelia menahan dirinya agar tidak merasa malu. Atas apa yang sudah dia lakukan.
"Tentu saja boleh! Karena itulah yang aku impikan. Apakah kamu tidak marah padaku?" satu tangannya, El gunakan untuk menarik pelan pinggang istrinya.
Sedangkan tangan satunya masih mengurus si ibu hamil pada pintu kamar mereka.
"Apa kau tidak marah padaku? dan apakah aku boleh mela---"
"Lakukanlah! A--aku tidak marah padamu," sela Adelia terbata-bata karena menahan jantungnya yang bagaikan orang meraton di sore hari.
Mendengar jawaban Adelia. Membuat El tersenyum tampan dan berkata. "Jika kamu boleh, aku ingin meminta hak ku malam ini. Namun, bila kamu belum siap, aku akan menunggu sampai kapanpun kamu siapnya," El kembali mengulangi ucapan yang tadi.
"A--aku, aku su--sudah siap memberikan pa--padamu," cicit Adel menyegir kuda. Rasanya dia ingin pergi lewat pintu Doraemon, untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas karena berkata demikian.
"Benarkah? Kamu tidak takut?" El menatap lekat wajah istrinya yang hanya berjarak beberapa senti saja. Tatapan mata El mampu mengobrak-abrik jantung Adelia.
"Huem! Aa--aku tidak takut karena akan melakukannya bersama... dirimu," jawab wanita itu yakin bahwa dia akan baik-baik saja.
Dulu dia sampai pingsan karena rasa hancur karena mahkotanya direnggut secara paksa oleh pemuda yang tidak dia kenal. Belum lagi rasa sakit karena Elvino melakukannya dalam keadaan mabuk dan dengan paksa pula.
Cup, cup!
Elvino kembali memberikan ciuman di wajah istrinya.
"Terima kasih! Tapi bila kamu merasa takut dan tidak nyaman. Maka katakan padaku, karena aku tidak ingin karena hasrat ku, kamu dan anak kita kenapa," imbuh si tampan kembali mengelus pipi istrinya dan dianguki oleh Adelia.
__ADS_1
Lalu perlahan tapi pasti, tangan El langsung mengarah ke tengkuk istrinya, karena dia ingin melakukan pemasan terlebih dahulu. Agar ibu hamilnya bisa menikmati setiap sentuhannya.
Sehingga kamar yang kedap suara itu tiba-tiba terdengar suara decapan dari bibir yang sudah bersilaturahmi.
Walaupun tidak terlalu panas, karena Adelia benar-benar tidak tahu caranya. Apabila Elvino tidak mengajari sekalian praktek.
Cup, Cup! Muuuah!
"Ayo kita ke tempat tidur, jagan disini," ajak Elvino yang hanya dalam satu detik kemudian tubuh Adelia sudah melayang di udara. Dia sudah mengendong istrinya ala bridal style.
Sehingga si ibu hamil mengalunkan kedua tangannya pada leher Elvino. Meskipun ini bukanlah yang pertama kali El menggendong tubuh istrinya. Namun, kali ini terasa begitu berbeda.
Jantung keduanya bertalu-talu karena berdegup semakin kencang. Ada rasa bahagia, malu dan juga cinta yang sangat besar.
Cup!
"Sepertinya setiap hari kadar cinta ku semakin besar saja. Apa kamu tahu, saat di perusahaan ataupun kampus. Aku ingin cepat-cepat pulang karena sudah merindukan ibu Hamilku," ucap si tampan yang sangat ahli dalam merayu perempuan.
Namun, kali ini dia melakukannya dari lubuk hatinya paling dalam. Elvino berkata benar, karena dia memang sangat mencintai istrinya.
Entah siapa yang paling dulu, sekarang kedua bibir pasangan yang hampir lima bulan menikah itu sudah saling menyatu.
Sehingga pemuda itu semakin bergairah untuk melakukan lebih dari sekedar berciuman.
Ugh!
Lenguh Adel ketika El sudah memberikan Kiss Mark pada leher jenjangnya. Pemuda itu seperti ahlinya saja. Padahal dia juga belum pernah melakukannya.
Ralat! Bukan belum pernah melakukannya. Melainkan ketika kejadian malam itu Elvino setengah sadar. Hanya saja masih bisa merasakan nikmatnya percintaan sepihak nya.
"Aagh! El," seru Adelia karena dia baru sadar bahwa mereka sudah tidak memakai sehelai benang pun.
"Huem!" hanya berdehem degan suara beratnya. "Aku mencintaimu!" lanjutnya lagi yang kembali lagi melakukan pemanasan. .
Agar si ibu hamil bisa rileks, tidak malu ataupun takut.
"Kamu bisa, Del... Elvino suamimu. Kamu jagan takut. Kamu pasti bisa melakukannya." gumam Adelia saat El ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang suami dan begitu pula sebaliknya. Adelia juga akan melayani suaminya.
Cup!
__ADS_1
"Apa kamu takut?" tanya Elvino menangkap raut aneh istrinya. Dia sampai mendiamkan si Lele tunggal yang sudah siap berpetualang kedalam habitat aslinya.
"Tidak! Aku tidak takut," jawab Adel tersenyum kecil. Meskipun dia sedang dilanda rasa takut.
"Baiklah! Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan. Maafkan aku," El yang mengerti pun kembali meminta maaf sebelum melanjutkan kegiatan panas mereka.
"Lakukanlah! Aku milikmu," ucap si ibu hamil setengah berbisik. Kali ini dia akan melawan rasa takutnya demi laki-laki yang mencintainya tanpa syarat.
Meskipun Elvino belum mengetahui bayi tersebut milik siapa. Tapi dia tetap akan menerima Adelia dan anaknya, karena dia memang sangat mencintai istrinya.
Maka dari itu Adel ingin melakukan sesuatu yang bisa membalas kebaikan Elvino.
"Aaagk!" seru Adel karena begitu mendengar ucapannya. Si playboy cap kampak langsung mendorong si Lele tunggal sampai masuk seluruhnya.
Cup!
"Maafkan aku," bisik Elvino karena melihat Adel meringis kesakitan. "Apakah sangat sakit?" bertanya khawatir karena takut istrinya tidak nyaman.
"Huem... tapi tidak terlalu," jawab Adel memeluk tubuh suaminya yang mendekapnya dari atas.
Pemuda itu masih tidak bergerak, karena ingin Adelia merasa nyaman terlebih dahulu.
"Aku mencintaimu," bisik El sebelum mulai berpacu kudanya. Dia sudah dijelaskan oleh dokter kandungan istrinya. Bahwa apa saja yang tidak dibolehkan saat berhubungan dengan wanita hamil.
Jadi sebagai calon ayah yang siaga, tentu Elvino tidak asal bercocok tanam dengan asal saja. Sehingga hampir satu jam kemudian dia dan Adelia sudah sama-sama mengerang nikmat. Pertanda jika keduanya sudah sampai pada puncak permainan yang mereka lakukan.
"Aaaaghk! Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu," ucap El sebelum menarik si Lele. Lalu dia ikut berbaring di samping Adelia.
Cup!
"Tidurlah! ini sudah malam," Elvino menarik selimut buat menutupi tubuh polos mereka berdua. Dia juga memeluk tubuh istrinya dari arah samping.
Sedangkan Adelia yang sangat lelah setelah berulang kali mendapatkan pelepasan. Langsung tertidur dengan nyenyak.
"Apakah malam itu hanya aku sendiri yang melakukannya? Kenapa rasanya tidak berbeda jauh seperti malam itu? Rasanya tidak berbeda jauh dengan pertama kali aku melakukannya." gumam Elvino sambil mengelus kapala istrinya pelan.
"Apalagi malam itu Aiden dan Hendra juga tidak ingat pernah melakukannya dan video orang yang mengancam papa juga hanya ada diriku saja. Apakah ini hanya dugaanku saja?" karena terlalu lama berselancar dengan pikiran dan dugaannya. Elvino pun akhirnya tertidur dengan sendirinya.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1