
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Sayang... kamu sudah siuman," seru Elvino berdiri dari tempat duduknya. Gara-gara asik menjahili Aiden yang mau melihat muka baby Eza, Elvino sampai tidak sadar kalau istrinya sudah siuman sejak beberapa menit lalu.
"El," lirih wanita itu tidak banyak bicara. Hanya saja dia mengenggam erat tangan suaminya yang lebih dulu mengenggam tangannya.
Cup!
Satu buah kecupan diberikan oleh Elvino pada kening istrinya.
"Tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja dan nanti setelah kamu lebih baik lagi. Aku akan menceritakan semuanya." ucap Elvino yang mengerti apa yang hendak ditanyakan oleh istrinya.
"Baiklah!" Adel yang sudah mendengar sebagian perkataan suaminya tadi tidak banyak bicara lagi. Lagian mau siapapun yang memperkosanya. Tetap saja Elvino yang sudah menjadi suaminya. Ayah dari bayinya dan juga laki-laki yang sangat mencintainya.
"Sayang, apakah ada yang sakit? Atau kamu mau sesuatu?" tanya si tampan khawatir karena suara istrinya masih lemah.
"Tidak ada yang sakit, tapi aku haus, mau minum."
"Sebentar, ya," dengan sigap Elvino langsung berdiri untuk mengambil air putih yang sudah diantar oleh perawat sejak tadi.
"El, pakai sendok, tidak boleh langsung banyak-banyak." ucap Nyonya Risa juga berdiri di sisi sang menantu.
"Mama, terima kasih. Maaf Adel jadi merepotkan kalian semua." ucap si ibu muda menoleh ke arah Ibu mertuanya.
"Apa yang kamu bicarakan, Nak. Kamu putri Mama, tidak ada kata merepotkan." imbuh wanita setengah baya itu tersenyum.
"Ini sayang, minumnya sedikit-sedikit, ya. Nanti baru minum lagi." dengan penuh kasih sayang, Elvino menyendokan air putih kedalam mulut istrinya yang masih terlihat pucat dan lemah. Begitu pula dengan suara Adelia.
"Kakak ipar, Kakak sudah sadar! Syukurlah Kakak baik-baik saja. Raya sangat menyanyangi Kakak." seru si cantik Raya berjalan mendekati keluarganya.
"Adek, terima kasih, Kakak juga sangat menyayangi mu." Adel tersenyum seraya melirik kearah tempat bayinya yang lagi tidur.
"Sebentar ya, biar Mama gendong baby Eza nya." Nyonya Risa yang mengerti langsung saja mengangkat cucunya dari box bayi dan dibawa mendekati sang menantu.
"Sayang, anak kita laki-laki dan sangat tampan. Sama seperti diriku." ucapan Elvino yang memuji dirinya sendiri.
Hal tersebut tentu membuat mereka semua menjadi tersenyum.
"Kak, dimana-mana yang memuji Kakak tampan atau tidaknya. Adalah orang lain, ini kenapa malah Kakak muji diri sendiri." cibir Raya sambil mengelus sayang pipi keponakannya.
"Kakak memang sangat tampan, jadi tidak perlu menunggu orang lain yang memujinya." jawab Elvino yang selalu percaya diri.
"Iya, kakakmu memang sangat tampan, Dek." sambung Adelia yang tidak tahu lagi cara mengungkapkan perasaan bahagianya.
Melihat si buah hati yang sangat tampan seperti suaminya, membuat Adelia semakin marasa bahagia.
"Apakah karena takut tidak diakui, makanya bayiku sangat mirip dengan Elvino?" gumam Adelia di dalam hatinya.
"Sebentar, ya, aku menekan tombol panggil dulu. Biar dokter memeriksa keadaanmu." Elvino berdiri untuk menekan tombol pada dinding kamar rumah sakit.
Tidak lama, hanya beberapa menit kemudian. Satu dokter dan dua orang perawat pun sudah datang untuk memeriksa keadaan Adelia, dokter tersebut memang sudah stand by untuk memeriksa keadaan istri dari Presdir Wijaya Group.
Ceklek!
"Selamat sore, semuanya." sapa si dokter tersenyum ramah menyapa yang ada di dalam ruangan tersebut terkecuali Tuan Arka karena beliau masih tidur. Begitu pula dengan para suster yang menemaninya juga ikut menyapa keluarga terhormat di ibu kota mereka.
__ADS_1
"Selamat sore juga Dokter, tolong periksa keadaan istri Saya." tidak berbasa-basi lagi Elvino langsung saja menyampaikan apa tujuannya meminta bantuan pada dokter agar datang keruangan tersebut.
"Baik, Saya akan langsung memeriksa keadaan Nona Adelia," kata dokter muda itu mulai mengambil alat yang dibawakan oleh perawat.
Hingga membuat Elvino bergeser ke arah kepala istrinya. Agar dokter tersebut memiliki ruang untuk memeriksa dengan nyaman.
"Bagaimana, Dok? Apakah keadaan istri Saya baik-baik saja?" Elvino langsung bertanya saat dokter sudah menyimpan lagi alat untuk dia melakukan pemeriksaan pada pasiennya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan Muda. Keadaan Nona Adelia sudah pulih seperti saat sebelum melakukan operasi tadi. Sekarang hanya tinggal pemulihan saja," jawab dokter yang bernama tag lengkap Mardiana Ependi.
"Oke, kalau begitu terima kasih banyak. Namun, sebelum kalian pergi tolong jelaskan dulu, apa saja makanan yang tidak boleh dimakan oleh istri Saya dan jam berapa dia boleh diberi makannya?" Elvino yang bertanya, karena Nyonya Risa hanya tersenyum membiarkan saja apa yang hendak diketahui oleh putranya.
Soalnya beliau sangat yakin bahwa putra sulungnya itu sudah tahu cara merawat ibu melahirkan. Hanya saja jika perihal menggendong bayi, beliau memang belum tahu bahwa Elvino sudah belajar di kelas belajar ibu hami.
"Sekarang sudah hampir setengah enam. Jadi jam tujuh nanti, Nona Adelia sudah boleh makan, tapi makan nya sedikit-sedikit dulu. Soalnya ini dioperasi, bukan melahirkan secara normal. Jadi buat berjaga-jaga saja, kita atur cara makannya juga." jelas si dokter panjang kali lebar.
"Baik, Dok, Saya akan mengatur waktunya agar istri dan anak Saya baik-baik saja." El yang pintar tentu langsung mengerti penjelasan dari dokter.
"Sus, ini tempat tidurnya dinaikkan saja seperti biasa. Agar Nona Adelia bisa menyusui bayinya dengan nyaman." titah Dokter Mardiana lagi pada dua orang perawat yang menjadi asistennya saat bertugas.
"Maaf, ya, Nona, tempatnya kami naikkan sedikit. Supaya Anda merasa lebih nyaman dengan posisi seperti ini." kata perawat tersebut mulai mengatur posisi ranjang Adelia.
"Apakah seperti ini sudah nyaman, Nona?" tanya kedua perawat itu lagi.
"Sudah Sus, ini terasa sangat nyaman." jawab Adel sudah bisa melihat putranya dengan jelas, yang lagi digendong oleh Nyonya Risa karena si baby Eza sudah bangun dari tidurnya.
"Nona, apabila Anda tidak merasakan sakit dan sudah kuat untuk menggendong bayinya. Maka tidak apa-apa bila ingin mulai memberikan ASI-nya" kata Dokter Mardiana karena sejak bayinya lahir, Adel belum mengendong anaknya.
"Sayang, Apakah kamu merasakan sakit?" El si mantan playboy cap kampak yang bertanya pada sang istri.
"Tidak! Aku tidak merasakan sakit, malahan setelah posisinya seperti ini. Aku merasa lebih nyaman." jujur Adelia yang tidak sabar untuk mengendong anaknya.
"Kalau begitu sekarang cucu Oma sama mama saja, ya, sayang." dengan sangat pelan Nyonya Risa pun memindahkan baby Eza ke pangkuan menantunya.
"Iya, Nak! Bila air susumu sudah ada, maka biarkan dia meminum ASI saja."
"Malaikat kecilku... terima kasih, Nak. Karena sudah hadir di antara mama dan papamu." Adelia kembali bergumam saat sudah mendekap sayang sang putra yang juga menatap padanya.
"Baiklah! Karena keadaan Nona dan baby nya baik-baik saja. Kami permisi dulu," pamit dokter tersebut karena tidak ingin menjadi pengganggu kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarga Wijaya.
"Iya, Dok, terima kasih!" ucap mereka serempak.
Setelah kepergian dokter dan perawat, yang ada hanya tinggal keluarga Elvino saja. Raya yang tahu mungkin kakak iparnya malu mau menyusui keponakannya. Juga pergi duduk di atas sofa seperti tadi.
"El, ambilkan bebat yang kita bawa di tas bayi. Bawa ke sini satu lembar saja." titah Nyonya Risa pada sang putra.
Soalnya beliau masih ingin mengajari menantunya cara memberikan ASI pertama pada baby Eza.
"Ini, Ma! Untuk apa?" tanya si tampan melihat mamanya mengambil kain bebat lalu di tutup pada bagian dada Adelia. Yaitu ternyata buat menutupi gunung kembar Adel yang sangat besar, karena air susunya memang sudah ada sejak hamilnya tujuh bulan.
"Mama lupa membeli penutup khusus buat menutupi saat Adel menyusui anak kalian. Tapi tadi Mama sudah menelpon tante Mona agar dia membelikannya terlebih dahulu sebelum datang ke rumah sakit." papar beliau membantu menutupi gunung kembar Adelia yang saat ini mulai menyusui sang cucu.
"Mama duduk saja, jika hanya seperti ini, El juga bisa melakukannya." si tampan Elvino yang merupakan ayah siaga. Tentu langsung bisa untuk melakukan pekerjaan mudah seperti itu.
"Baiklah! Kalau begitu Mama duduk dulu, ya. Nanti apabila ada perlu sesuatu, panggil saja Mama." setelah berkata seperti itu Nyonya Risa pergi ke arah sofa mendekati Raya putrinya, karena beliau juga sangat lelah belum beristirahat sejak siang.
"Sayang, terima kasih!" ucap Elvino sambil mengantikan mamanya menutupi dada istrinya yang terbuka, karena dua kancing baju bagian atasnya dibuka.
Sehingga terpampang jelas dada Adelia yang sangat putih dan mulus. Untung saja tadi malam mereka tidak melakukan acara menjenguk bayinya, karena apabila mereka habis melakukan percintaan. Sudah pasti dada wanita itu akan dipenuhi oleh bekas Kiss Mark yang diukir indah oleh Elvino
__ADS_1
"Terima kasih buat apa? Dia anakku, jadi sudah pasti aku akan melahirkannya." jawab Adel juga ikut tersenyum.
"Jangan lupa, dia juga anakku." bantah Elvino cepat.
"Iya, dia juga anakmu. Tadi aku kan tidak bilang bahwa ini hanya anakku sendiri." Adelia yang tahu suaminya sangat sensitif apabila berhubungan dengan anak mereka. Cepat-cepat mengalah agar Elvino tidak merajuk.
"El," panggil Adelia singkat.
"Apa? Apakah kamu ingin sesuatu?" Elvino balik bertanya.
"Tidak! Bukan ingin sesuatu, tapi aku ingin bertanya. Sejak kapan kamu mengetahui bahwa kejadian malam itu tidak ada hubungannya dengan kedua sahabatmu?" tidak sabar menunggu Elvino menjelaskan sendiri. Adelia pun langsung saja bertanya.
"Aku baru mengetahuinya sekitar satu bulan yang lalu. Akan tetapi dari sebelum papa mengalami kecelakaan. Aku sudah curiga bahwa yang melakukannya memang aku sendiri." jawab si tampan jujur.
Alasannya yang tidak mau memberi tahu Adelia sejak awal karena ingin membuat kejutan saat kelahiran anak mereka.
"Tapi sebelum itu apakah kamu benar-benar tidak tahu kejadian sebenarnya?" rasa ingin tahu membuat Adelia kembali bertanya.
"Belum! Aku belum mengetahui bahwa yang melakukannya hanya aku saja. Pantas saja orang yang mengancam papa agar aku menikahimu, hanya mengirimkan foto diriku. Sedangkan Aiden dan Hendra tidak ada. Ternyata karena pelakunya hanya aku saja," Elvino tersenyum saat berkata demikian.
"Itu berarti walaupun kejadian itu dilakukan juga oleh kedua temanmu. Rasa---"
"Tentu saja rasa cintaku pada kalian berdua tidak akan pernah berubah, karena aku sudah siap menerima kenyataan buruknya, sejak awal. Apabila si tampan ini bukanlah hasil kecebong ku." Elvino tersenyum mengelus pipi Baby Eza yang sudah kembali tidur lagi.
"El, terima kasih untuk semua kasih sayang dan cintamu padaku. meskipun kamu belum mengetahui bayi siapa yang aku kandung. Namun, dirimu sudah menjadi sosok ayah dan suami terhebat bagi kami berdua." ucap tulus Adelia yang sudah menutup kembali kancing bajunya yang dibuka, karena sang putra sudah tidur lagi.
"Aku juga berterima kasih kepadamu. Sudah mau menerimaku yang begitu banyak memiliki kekurangan. Walaupun kelebihannya hanya ketampananku saja, karena tidak ada saingannya." El tersenyum jumawa yang sangat suka membuat istrinya merasa salting karena.
"Ck, kamu itu sudah sangat tampan, jadi tidak usah memuji dirimu sendiri lagi." decak Adel ikut tersenyum
"Sayang, sekarang kita sudah bertiga. Aku akan semakin semangat lagi untuk bekerja dan membahagiakan kalian berdua." seru Elvino menyatukan tangan mereka bertiga.
Satu tangan kekarnya dapat mengenggam tidak telapak tangan sekaligus. Yaitu posisi tangan Baby Eza berada di atas telapak tangan mamanya.
"Baiklah! Papa Elvino, terima kasih karena sudah mau menjadi pahlawan terhebat bagi kami. Aku sangat mencintaimu... suamiku," ungkap Adelia yang langsung mendapatkan kecupan pada bibirnya dari Elvino.
Cup!
"Rasa cintaku juga tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Aku benar-benar merasa bahagia. Aku sangat bahagia sayang. Aku---"
"Ini rumah sakit dan kakak ipar baru saja menjalani operasi tadi siang. Kenapa Kakak sudah merayunya." seloroh Arya, adik sepupu Elvino.
"Ar, kamu---"
"Begitulah jika sudah jatuh cinta, sampai-sampai kami yang ada di sini dianggap mengontrak." sahut Tante Anita yang baru saja datang.
Namun, karena Elvino dan Adelia lagi serius membahas hubungan mereka. Sampai-sampai tidak mendengar pintu ruangan tersebut dibuka.
"Tante, Om," ucap pasangan suami-istri itu serempak.
"Sayang, selamat, ya. Akhirnya Elvino Junior sudah lahir dalam keadaan sehat tanpa ada kekurangan apapun." Tante Anita langsung mengambil alih untuk menggendong calon penerus Wijaya Group berikutnya.
"Terima kasih karena Tante, Om dan semuanya sudah datang." jawab Adelia yang langsung menoleh ke arah pintu karena kebetulan sekali Paman Hasan dan Tante Mona sudah datang lagi untuk kedua kalinya.
"Sayang, kamu sudah siuman! Syukurlah! Tante dan Om mu sangat khawatir. Namun, mau cepat-cepat data ke sini malah terkena macet saat di jalannya." seru Tante Mona mendekati Adelia begitupun dengan paman Hasan.
Saat mereka pulang tadi, Adelia belum siuman. jadi belum mengucapkan kata selamat dan juga do'a terbaik untuk ibu dan bayinya.
"Sudah Tante! Maaf sudah merepotkan kalian semua dan juga membuat khawatir. Tapi sekarang Adelia sudah merasa baik-baik saja." ibu muda itu menerima pelukan hangat dari wanita yang sudah dianggap seperti mana ibunya sendiri.
__ADS_1
Begitupun dengan pamannya, laki-laki paling sabar menghadapi trauma yang dialami oleh Adelia setelah kejadian naas malam itu. Namun, karena kesabaran yang dimiliki oleh beliau lah. Akhirnya sang keponakan dan keluarga mereka pun bisa hidup bahagia saling menyayangi satu sama lain.
...BERSAMBUNG......