Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Berkacak Pinggang.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Si kelinci pergi kemana sih?" rutuk Eza karena belum juga menemukan keberadaan istrinya. Satu jam lalu dia yang mengusir dan sekarang dia sendiri pula mencari Olivia.


"Apa mungkin dia lagi malam pertama bersama Hendrix? Brengsek!" pemuda itu memukul stir mobilnya. Lalu dia kembali menjalankan kendaraannya pelan. Sambil memperhatikan di kiri-kanan jalan. Siapa tahu bisa menemukan sang istri.


"Jika sampai keluargaku tahu dia pergi karena aku usir, bisa berbahaya ini." ucapnya pada diri sendiri. Eza tidak menyerah dan terus mencari sampai matanya tidak sengaja melihat seorang gadis duduk di halte bus.


"Kurang ajar! Aku sudah berkeliling mencarinya dan dia enak-enakan duduk bersantai di sini." seru Eza turun dari mobilnya dan berjalan mendekati Olivia.


"Hei, apakah pekerjaan mu selain menjebak orang lain, juga merepotkan aku?" tanya Eza sedikit membentak. Namun, Oliv yang menyadari kehadiran Eza hanya cuek tidak menggubrisnya.


"Kau tuli atau buta, hah?" Eza menarik tangan Olivia agar berdiri.


"Lepas! Apaan sih megang-megang!" sentak gadis itu kesal. Dia duduk di situ karena lelah belum bertemu kendaraan umum untuk pulang ke kontrakannya.

__ADS_1


"Apakah kau tahu ini jam berapa? Kenapa duduk di sini?"


"Kamu nanya?" jawab Oliv malas.


"Olivia Alexa!" Eza mengeram seraya mengepalkan tangannya erat.


"Apa? Baru juga menikah satu hari tapi kau sudah tahu namaku." gadis tersebut mencibir.


"Ayo pulang!"


"Pulang saja sendiri. Kita kan berbeda arah. Aku mau pulang ke kontrakan dan kau terserah mau ke mana saja." tolak Oliv hendak melangkah pergi. Namun, tangannya di cekal erat oleh Eza.


"Mau kemana kau?"


"Apa? Berani sekali kau menghina ku. Ayo pulang sekarang?" Eza sudah menarik tangan Olivia. Namun, oleh gadis itu menahannya. Sehingga tidak bergerak sedikitpun.


"Aku tidak mau! Bukankah tadi kau yang mengusirku untuk pergi. Jadi pulanglah sendiri tidak usah muncul dihadapan ku lagi." kali ini Olivia berhasil melepaskan cekalan tangan Eza. Dia kembali berjalan mau pergi. Namun, dalam detik itu juga tubuhnya sudah melayang karena Eza menggendongnya di atas bahu. Sudah seperti membawa karung beras atau beban berat lainnya.


"Eza, lepas! Apa yang kau lakukan?" teriak Oliv karena kepalanya pusing setelah digendong seperti itu.


"Diam! Atau aku akan menabrakkan mobil ini kearah pohon itu. Biar kita sama-sama kecelakaan." mendengar perkataan Eza membuat Olivia diam tidak berkutik sama sekali. Membuat pemuda itu menyugikkan senyum tipis yang tidak dapat dilihat oleh istrinya.

__ADS_1


"Takut juga rupanya. Aku kira dia tidak takut mati."


Gumam Eza mulai menjalankan kendaraan menuju rumah orang tuanya yang kebetulan tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama sudah tiba. Eza langsung memasukkan mobilnya ke garasi. Kebetulan walau mereka tidak tinggal di sana. Rumah tersebut memiliki penjaga dan juga selalu dibersihkan.


"Apakah ini rumah mu?" tanya Olivia karena Eza mematikan mesin mobilnya.


"Sudah, jangan banyak tanya. Ayo turun! Atau kau mau aku gendong seperti tad---"


"Eh, tidak-tidak! Aku bisa sendiri." seperti anak kecil Olivia turun sendiri dan mengikuti suaminya dari belakang.


"Ini rumah kami sendiri." Eza menjelaskan sambil membuka pintu rumah. Padahal tadi dia melarang Oliv bertanya. "Jika rumah yang ditinggali sekarang adalah milik opa ku. Dulu saat masih kecil aku tinggal di rumah ini." lanjutnya berhenti bicara karena tidak ada suara dari arah belakang.


Buuuk!


Mata Olivia terbelalak karena dia tadi tidak melihat kearah depan dan membuatnya menabrak dada bidang Eza yang memakai baju kaos.


"A--ada apa?" tanya Olivia terbata.


"Kau yang kenapa diam saja? Apakah lagi memikirkan cara untuk menyusahkan aku lagi?" tuduh Eza membuat Olivia berkacak pinggang.


"Hei laki-laki sombong! Apa yang kau katakan? Kapan aku menyusahkan mu? Bukannya tadi kau yang mengusirku. Lalu mencariku lagi dan mengajakku ke mari. Saat aku bertanya ini rumah siapa, tapi kau malah marah, menyuruhku jangan banyak tanya." kali ini Olivia tidak akan mau mengalah lagi. Mereka berdua sama-sama saling tatap dan seakan lagi saling serang lewat sorot mata.

__ADS_1


...BERSAMBUNG......


__ADS_2