
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki Raya dan Arya menuju meja makan. Tempat anggota keluarganya menunggu di sana.
"Siang Pa, Ma, Kakak," sapa Arya pada mertua dan kakak iparnya.
"Iya, siang juga, Nak. Ayo duduklah!" jawab Tuan Arka pada sang menantu.
"Siang juga, Ar. Duduklah! Ini Eza sudah kelaparan menunggu kalian belum juga turun. Mentang-mentang lagi jadi pengantin baru. Jadi betahnya di kamar saja terus," cibir Elvino yang membuat Arya hanya tersenyum simpul.
"Selamat siang semuanya! Selamat siang keponakan Onty yang tampan," ucap Raya juga ikut menyapa semua anggota keluarganya.
"Siang juga, Dek," jawab semuanya dengan serempak.
"Tamat tiang duga Onty," si tampan Eza juga ikut menjawab karena dia memang sangat rajin bila diajak berbicara.
"Wah, si bayi nya Onty kenapa baru pulang. Huem! Ayo bilang. Tadi bayi Eza pergi kemana?" Raya yang mendengar suara keponakannya langsung mendekati Eza yang duduk bersebelahan dengan opa nya.
"Eda tadi puyang," jawab Eza yang membuat El tersenyum kearah buah hatinya.
"Puyang-puyang! Salah Eza! Yang benar itu pulang. Ngapain pulang-pulang? Bukannya sekarang rumah Eza ada di sini." Raya bukannya langsung duduk bersama suami dan keluarganya.
Namun, gadis itu malah menjahili Eza karena belum berhasil membuat keponakannya, menangis karena kesal sudah diganggu olehnya.
__ADS_1
Apakah kalian mau langsung pergi setelah makan siang? Atau mau menginap dulu di sini satu malam, dan besok pagi baru ke rumah orang tua Arya?" tanya Elvino pada ipar dan adik perempuannya
"Kami akan langsung berangkat hari ini Kak. Soalnya besok aku sudah mulai kuliah dan juga bekerja. Jadi malam ini kami akan menginap di rumah papi dulu, sebelum tinggal di Apartemen." Arya yang menjawab karena Raya malah menatap ke arah suaminya.
Sebab gadis cantik itu tergantung pada Arya. Mau tidur di mana ataupun akan tinggal bersama orang tuanya siapa.
"Oh, yasudah! Kalau begitu tidak apa-apa. Tapi apabila ada waktu senggang, kalian harus menginap di rumah orang tua Arya ataupun di sini." pesan Elvino sebagai seorang kakak laki-laki harus mengajarkan yang baik untuk kedua adiknya.
"Iya, soalnya itu kakak tidak tidak perlu khawatir, karena kami memang akan menginap di sini ataupun di rumah papi di setiap akhir pekan." Arya kembali menjawab.
Sehingga membuat Raya tersenyum karena ternyata suaminya itu akan membagi waktu dengan adil untuk orang tua maupun mertuanya.
"Hei bayi, ayo jawab. Tadi Eza pergi kemana?" Raya kembali menjahili Eza yang sedang menatap pada mainan motor-motornya.
Tadi ketika pulang dari rumah mereka sendiri. Eza sibuk minta dibelikan mainan saat mereka melewati sebuah toko yang menjual mainan khusus anak-anak seusianya. jadilah sekarang si kecil Eza sibuk dengan mainannya sendiri.
"Puyang lumah, Onty." jawab Eza mulai kesal karena Raya merebut mainannya.
"Aaaa... Papa, ainan Eda diabil Onty," benar saja akhirnya Raya berhasil membuat keponakan menjerit kesal karena mainannya telah direbut.
"Opa, toyong. Onty dakal. Tepat malahin Onty," adu si kecil pada opanya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Raya yang menjahili Eza.
"Adek," tegur El yang tidak dihiraukan oleh Raya.
"Eh, mana berani opa sama Papa El marahin Onty. Sekarang kan Onty sudah punya pahlawan. Om Arya akan melindungi Onty dari siapapun yang mau menyakiti Onty kamu yang paling cantik ini." jawab Raya tetap tidak mau mengembalikan permainan Eza.
Sementara itu Arya yang mendengar ucapan istrinya. Langsung terhenyak karena semua itu tidaklah benar. Justru Arya lah yang akan menjadi sumber penderita gadis itu.
"Apakah aku salah pilih jalan untuk balas dendam dengan cara menikahinya? Kenapa mendengar Raya begitu percaya jika aku akan melindunginya, merasa tidak menentu seperti ini?"
Gumam Arya menatap pada Raya yang tersenyum bahagia melihat Eza meminta bantuan pada papa dan kakaknya.
"Papa yang tapan, toyongin Eda. Onty dakal dah lebut motol-motolan puna bayi Eza." ucap si kecil sudah turun dari bangkunya dan mendekati Elvino dan tentu saja si papa idaman akan langsung mengedong putranya yang menangis.
__ADS_1
"Oh sayangnya, anak Papa Elvino yang tampan. Biarkan saja Onty mengambil mainan Eza. Nanti kita akan minta ganti rugi pada Om Arya. Jangan menangis lagi, ya." bujuk El sambil memeluk anaknya.
Namun, pemuda tampan itu lagi tersenyum manahan tawanya. Agar Eza tidak mendengar. Kalau tidak, si bayi Eza akan bertambah menangis. Sebab dia merasa sudah ditertawai oleh ayahnya. Hal seperti itu sudah sering terjadi. Makanya Elvino yang paham, tidak mau menertawakan sang putra.
"Elah! Giliran digangguin sama Onty aja baru tuh ngaku-ngaku jadi bayi Eza. Tapi kalau lagi sama opa mengakunya bukan bayi lagi. Tapi akan berkata Eza yang tampan sudah besar." cibir Raya merasa gemas pada tingkah keponakannya yang menyebutkan bahwa masih bayi.
"Bialin," jawab Eza yang membuat Elvino semakin tersenyum lebar.
"Sayang, ayo cepat kembalikan mainan Eza. Tidak baik membuat anak kecil menangis." ucap Arya setelah di menyaksikan perdebatan istri dan keponakannya.
"Adek, sudah! Kamu ini kebiasaan sekali. Jika bukan merebut mainannya. Maka kamu akan merebut Papa tidak boleh menggendong Eza." tegur Nyonya Risa yang selalu heran karena Raya sangat usil pada Eza.
"Ih, Mama. Raya kan hanya bercanda." jawab Raya mengembalikan mainan Eza dan duduk disebelah suaminya.
"Jangan sering-sering jahil sama Eza, Dek. Bagaimana nanti bila anak kalian jadi cengeng seperti kamu menjahili Eza saat ini," ujar Nyonya Risa mengingatkan.
"Mana mungkin. Haaa... ha... Eza suka mengaku jika dia sudah besar." tawa Raya melihat keponakannya yang sudah berhenti menangis.
"Adek!" Tuan Arka mulai kode karena mereka sudah memulai makan siang.
"Iya, Pa. Maaf!" setelah itu Raya maupun keluarga yang lain tidak ada yang berbicara lagi. mereka hanya fokus pada makanannya masing-masing.
Setelah selesai satu persatu keluarga itu pun pergi ke ruang tengah. Begitu pula dengan Arya dan Raya. Mereka juga menyusul kesana karena mau langsung sekalian berpamitan.
Hampir tiga puluh menit kemudian. Tepatnya Arya sudah berbincang pada ayah mertua dan kakak iparnya. Barulah pasangan tersebut berdiri dari tempat duduknya.
"Ma, Pa, Kak El dan Kak Adel. Arya izin membawa Raya tingal di Apartemen." ucap Arya dengan sangat sopan.
"Iya, bawalah! Sekarang Raya sudah menjadi tanggung jawabmu. Tolong jaga dia dengan baik seperti mana kami menjaganya." jawab Tuan Arka yang sudah siap melepaskan sang putri pada menantunya.
Sebab tugas seorang ayah hanya membesarkan dengan baik dan ilmu pengetahuan yang cukup. Namun, apabila seorang putri sudah menikah. Maka sudah hak suaminya mengajak tinggal bersama.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1