
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Mendengar ucapan Adelia. Membuat wanita bernama Riska yang umurnya tentu lebih tua dari si ibu hamil. Mengepalkan tangannya erat. Apalagi melihat seperti apa Elvino memanjakan Adelia dengan lembut.
Sama seperti perkataan pemuda itu tadi yang mengatakan bahwa El sangat jarang menyebut nama istrinya. Melainkan mengunakan kata sayang.
"Ini apa di dalamnya?" El menunjuk pada paper bag yang dibawa oleh istrinya.
"Ini didalamnya ada kotak nasi buat makan siang dan juga chocolate cake kesukaan kamu. Tadi sebelum ke sini, aku sama mama berhenti dulu untuk membelinya" jawab Adel tersenyum manis. Dia sengaja ingin memanas-manasi Riska yang sudah pamer bahwa dirinya adalah mantan pacar Elvino.
Cup!
"Kenapa harus repot-repot, huem!" El yang sudah terbiasa bermesraan bersama istrinya. Tidak sadar ada Riska yang berdiri melihatnya mengecup bibir sang istri.
"El.... apa yang kamu lakukan! Ada---"
"Aku lupa, sayang. Ayo duduk, kamu pasti belum makan siang, kan. Jadi biarkan aku yang menyuapi mu." sela si tampan menarik lembut tangan sang istri agar duduk bersamanya dihadapan Riska. Si mantan kekasih yang bertahan selama empat bulan.
Tidak ada bantahan karena Adel memang lapar, belum makan siang. Soalnya entah karena dia sudah terbiasa disuapi oleh Elvino. Atau memang bawaan si calon bayi yang selalu ingin makan disuapi oleh papanya.
Jika tidak disuapi oleh Elvino, maka sudah pasti jika Adelia akan muntah-muntah. Sama seperti di saat awal kehamilannya. Akan tetapi bila disuapi oleh sang suami, dia akan makan banyak dan tidak ada merasakan apapun.
"Iya, aku memang belum makan. Tadi sebetulnya aku tidak ingin ke perusahaan. Namun, entah mengapa tiba-tiba aku ingin datang ke sini. Jadi sekalian saja aku bawakan bekal dari rumah." jawab Adelia juga binggung sendiri.
Soalnya hari ini Adelia sudah mengatakan pada Elvino. Bahwa dirinya tidak akan ke perusahaan Wijaya Group, karena kehamilannya yang sudah tinggal menghitung hari. Membuat si ibu hamil khawatir apabila tiba-tiba ingin melahirkan saat di jalan.
"Riska, Maaf, ya. Elvino memang terkadang tidak tahu tempat. Mungkin karena sudah terbiasa di rumah juga selalu dengan semaunya bila ingin menciumku. Alhasil saat di depan orang lain, ataupun di hadapan mantan pacarnya. Suamiku berlaku seperti anak kecil." ucap Adel sudah duduk satu sofa bersama suaminya.
Si ibu hamil dengan sengaja menekankan kata di depan mantan pacar. Agar Riska mengetahui dan sadar diri bahwa posisi Adelia jauh lebih tinggi.
"Oh, iya, ti--tidak apa-apa." Riska tersenyum canggung.
Namun, pandangan matanya terus memperhatikan Elvino. Pemuda itu sibuk mengeluarkan kotak bekal yang dibawa oleh istrinya.
"Ris, jika kamu mau makan siang, biar aku pesankan. Soalnya istriku membawa makanannya hanya pas untuk kami berdua." ucap Elvino mulai menyuapi istrinya.
"I--iya, tidak apa-apa! Lanjutkan saja makannya." sahut gadis itu yang masih penasaran jika Elvino dan Adelia benar-benar saling mencintai. Atau hanya sedang berpura-pura untuk menutupi rumah tangga mereka dihadapan orang lain.
Soalnya sejauh Riska mengenal si mantan Playboy cap kampak. Sangat tidak mungkin apabila pemuda itu jatuh cinta dan sampai bucin akut, seperti yang dia lihat hari ini.
"Oh, iya, kalau begitu apabila masih ada masalah dengan pekerjaan yang belum kamu pahami. Maka tunggulah aku selesai menyuapi istriku terlebih dahulu." ucap Elvino tersenyum kearah istrinya yang langsung menerima suapan darinya.
"Pelan-pelan, tidak ada yang akan merebut makanan ini darimu," si tampan Elvino mengambil selembar tisu lalu ia mengelap bibir Adelia yang di tempel oleh sayuran.
"Aku lupa, maaf."
"Sudah tidak apa-apa, aku hanya mengkhawatirkanmu yang makanya terlalu cepat," sambil menyuapi Adelia. Si suami siaga pun ikut juga makan siang mengunakan sendok yang sama pula.
"Apakah aku tidak salah lihat? Ini benar-benar Elvino mantan kekasihku ,atau hanya duplikatnya? Tapi jika dia adalah Elvino, Kenapa bisa bersikap seromantis ini pada istrinya?"
Pikiran dan hati Riska kembali berkecamuk tidak karuan. Namun, dia terus mencuri-curi pandang pada El dan Adelia.
"Riska, bagaimana jika kamu aku pesankan makan siang juga?" Adelia balas menatap Riska yang terus memandangi dia dan Elvino.
"Tidak, Del. Silahkan kalian makan siang. Aku tidak lapar." jawab Riska tersenyum canggung.
__ADS_1
"Duh, lama-lama melihat mereka bermesraan. Kenapa aku malah jadi malu." rutuk wanita tersebut langsung mengambil berkas diatas meja karena dia mau pergi saja.
"El, Adelia... aku permisi dulu. Nanti bila ada yang kurang paham, aku akan datang lagi. Terima kasih!" sebelum Elvino Adelia menjawab ucapannya. Riska sudah pergi begitu saja.
Wanita itu merutuki dirinya yang sudah duduk di sana menyaksikan Elvino yang bucin. Sehingga membuatnya malu sendiri.
Setelah melihat ke bucinan seperti itu, membuat dia membuang jauh niatnya yang mau merebut Elvino.
"El, dia kenapa?" tanya Adelia setelah pintu ruangan tersebut di tutup lagi.
"Mana aku tahu, sudahlah jangan memikirkan orang lain. Sekarang ayo makan lagi. Setelah aku selesai bekerja, kita pulang bersama-sama dan langsung ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan mu."
"Aku kan sehat, lalu buat apa kita kerumah sakit?"
"Sayang, aku takut kamu dan anak kita kenapa-kenapa. Aneh sekali kan, sekarang kamu kenapa malah sering muntah-muntah lagi." sambil makan mereka berdua selingi dengan pembicaraan seperti biasanya.
"Eum... baiklah! Soalnya pinggangku juga terasa panas sejak tadi subuh." Adelia mengagguk setuju dan baru mengakui bahwa dia merasakan bahwa pinggang nya terasa panas.
"Apa? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" seru Elvino merasa khawatir dan berusaha menampik tentang pemikiran buruk didalam hatinya.
"Kan tidak sakit, El. Hanya pinggangku terasa panas saja."
"Ayo makanlah yang banyak, setelah ini kita akan langsung ke rumah sakit." putusnya yang pasti tidak bisa dibantahkan lagi.
"Tapi---"
"Adelia, apa kamu tahu bahwa aku sangat mengkhawatirkan keadaan kalian berdua. Jadi jangan membantah, oke!" seru Elvino kembali menyuapi istrinya.
"Apabila sudah mendekati masa persalinan. Pinggang istri Anda akan terasa panas, atau memberikan tanda-tanda seperti ini, Tuan Muda. Nona Adelia masih muda, jadi tolong apabila sudah mengalami salah satu gejala-gejala seperti ini. Cepat bawa ke rumah sakit. Dan tolong rahasiakan apa yang Saya jelaskan tadi. Cukup kita saja yang tahu, bahwa resiko saat dia melahirkan bagitu besar."
El tiba-tiba mengingat kembali tentang pembicaraan dia dan dokter kandungan istrinya sekitar satu bulan lalu. Tepatnya saat dia di panggil sendiri setelah menemani istrinya periksa.
"Ya Tuhan! Aku mohon, tolong lindungilah istriku. Semoga mereka baik-baik saja, kenapa aku tiba-tiba merasa khawatir seperti ini."
Dokter kandungan tersebut sengaja hanya memberitahu Elvino karena tidak ingin bila memberitahu Adelia. Akan menjadi beban pikiran untuk si ibu hamil yang harus tenang, tidak boleh banyak pikiran.
"El, kamu kenapa?" Adelia menyentuh salah satu tangan suaminya.
"Tidak apa-apa! Ayo makan lagi," jawab Elvino tetap tersenyum. Agar Adelia tidak mengetahui kecemasan yang sedang ia rasakan.
"Kamu makan juga, kenapa malah berhenti, tidak makan lagi."
"Iya, ini aku juga mau makan lagi," El menyuapi dirinya lagi. Jika tidak begitu maka sudah pasti Adelia yang sangat peka dengan isi hatinya, akan curiga.
Hampir sekitar sepuluh menit kemudian. Mereka sudah selesai sarapan dan tinggal menunggu makanan mereka turun lebih dulu, agar bisa dicerna dengan baik.
"Tunggu, ya." El berdiri dari sofa untuk mengambil jas kerjanya dan menutup kembali laptopnya. Tidak lupa pemuda itu juga sudah mengirimkan pesan pada Sekertaris Demian agar menyiapkan mobil.
"Apakah kita akan ke rumah sakit sekarang?" melihat suaminya sudah mengambil jas dan juga menutup laptopnya. Membuat Adelia ikut berdiri.
"Iya, kita ke rumah sakit sekarang, ya." El mengelus pipi istrinya seraya menarik Adelia untuk dia peluk.
"Sayang... ada apa? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"
"Tidak ada, aku hanya merasa khawatir saja. Aku takut kamu merasakan kesakitan saat melahirkan anak kita." El merenggangkan pelukannya dan menundukkan kepalanya untuk mencium perut sang istri dan berkata.
"Sayang, tolong bantu mama, ya. Papa hanya takut mamamu kesakitan. Kamu juga harus baik-baik saja." ucapnya yang seakan-akan terasa ingin menjerit untuk membuang rasa khawatir yang sedang dia rasakan saat ini.
"El, sayang! Dengarkan aku, aku tidak merasakan sakit apapun dan aku baik-baik saja. Jadi jangan khawatir seperti ini." seperti apapun El menyembunyikan kekhawatirannya. Tetap saja Adelia akan mengetahui hal tersebut.
"Iya, kamu memang harus baik-baik saja. Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang." El tersenyum kecil sambil merangkul mesra pinggang istrinya.
__ADS_1
Sedangkan kotak bekal makanan mereka tinggalkan begitu saja.
"Tuan, Nona Muda," seru Sekertaris Eris berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, Eris, di dalam ada chocolate cake. Kamu ambil saja karena kami mau pergi." ucap Elvino tidak ingin makanan tersebut menjadi mubazir tidak di makan.
"Baiklah! Terima kasih, tapi apakah Nona baik-baik saja?" tanya wanita itu karena merasa heran. Biasanya apa bila Adelia ke perusahaan, pulangnya tidak akan terburu-buru seperti saat ini.
"Saya baik-baik saja, Kak." Adelia yang menjawab. Meskipun dia istri dari presdir perusahaan Wijaya group. Namun, pada orang yang lebih tua darinya. Maka Adel akan memangil kakak, atau bahasa panggilan yang lain.
"Syukurlah! Saya takutnya Nona kenapa-kenapa," si sekertaris tersebut menunduk sopan begitu Elvino sudah membawa istrinya menuju lift khusus dan langsung menuju lantai dasar dari perusahaan tersebut.
Semua yang bertemu mereka berdua menyapa dan menunduk hormat pada keduanya. Pasangan suami-istri yang sangat di dambakan oleh siapapun. Di perusahaan Wijaya group, semua karyawan mengetahui betapa CEO mereka mencintai sang istri.
"Silahkan Tuan Muda," ucap Sekertaris Demian membukakan pintu mobil untuk Elvino. Sedangkan Adelia sudah dibuka oleh suaminya sendiri.
"Demian, biarkan aku saja yang ke rumah sakit. Kamu tolong urus perusahaan saja. Nanti bila istriku harus di rawat, kamu sorenya menyusul ke rumah sakit dan ajak Aldo pergi bersamamu."
Ucap Elvino masuk kedalam mobilnya. Dia memang membawa mobi sendiri, tapi ada satu mobil yang mengawal dirinya. Semenjak kecelakaan yang dialami oleh Sekertaris Demian dan Tuan Arka papanya.
El memperketat pengawasan terhadap seluruh keluarga inti Wijaya. Termasuk para adik sepupunya, semuanya di awasi oleh orang-orang suruhannya.
"Baik Tuan Muda, selamat jalan dan hati-hati. Semoga nona baik-baik saja." Sekertaris Demian menutup pintu mobil sang bos dan setelah mobil Elvino meninggalkan perusahaan. Barulah dia masuk untuk melanjutkan pekerjaannya.
"El... apakah ada yang kamu sembunyikan? Kenapa aku merasa kamu lagi menyembunyikan sesuatu?" Adelia yang tidak tahu apa-apa, kembali mendesak sang suami agar berkata jujur.
"Sayang, tidak ada apa-apa! Aku hanya memikirkan kamu yang pinggangnya panas. Hanya itu saja, jadi jangan memiliki pikiran apapun, ya," Elvino mengelus kepala sang istri untuk menyakinkan si ibu hamilnya.
"Baiklah! Tapi bila ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan, tolong beritahu aku. Kita adalah keluarga, apapun itu. Kita harus saling menguatkan."
"Iya, istriku sayang. Aku tidak memikirkan hal apa pun," jawab Elvino sambil kembali bergumam.
"Ya Tuhan... bagaimana mungkin aku tidak khawatir pada keadaan istriku. Hanya karena dialah aku bisa menjaga keluargaku. Adelia adalah sumber kehidupan bagiku. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu padanya. Aku mohon padamu, tolong jaga anak dan istriku." do'anya di dalam hati.
"Tumben sepi, ya." suara Adelia kembali membuat Elvino menoleh kearah istrinya.
"Sepi karena jam makan siang sudah lewat, bila pas jam makan siang ramai juga," jawab Elvino mulai memelankan laju kendaraannya karena mereka sudah hampir sampai.
"Iya, mungkin karena setelah makan siang jadinya jalanan agak sepi. Tapi apakah aku terlalu banyak makan, ya. Kok perutku tiba-tiba terasa mules." ucap Adelia sembari memegangi perutnya yang besar.
"Benarkah? Kalau begitu tahan ya, ini kita juga sudah sampai." ucap Elvino sudah membelokkan mobilnya kearah rumah sakit Hospital Center.
Saat mereka datang, dokter kandungan istrinya sudah menunggu bersama perawat di sampingnya, karena tadi Sekertaris Demian yang menghubungi pihak rumah sakit agar bersiap-siap.
Bahwa nona mudanya mau melakukan pemeriksaan. Sebab Sekertaris Demian tidak tahu bahwa besar kemungkinan Adelia mau melahirkan.
"Selamat datang Tuan Muda," sapa dokter tersebut ramah.
"Dok, istri Saya tiba-tiba merasakan mules. Apakah ini mau melahirkan, atau---"
"Sepertinya nona muda mau melahirkan, Tuan Muda." sela si dokter karena melihat bentuk perut Adelia besarnya sudah berada di bawah, tidak seperti biasanya. Adelia adalah pasien nya sejak awal, jadi tentu sudah tahu bila ada perubahan.
"Be--benarkah! Kalau begitu tolong bantu istri Saya," seru Elvino memeluk tubuh istrinya yang terlihat menahan sakit.
"Benar Tuan Muda," jawab cepat si dokter. Lalu dia pun berkata pada suster yang bersamanya.
"Sus, cepat ambilkan kursi roda tadi." titahnya buru-buru. Soalnya sebelum kedatangan Elvino dan Adelia. Mereka baru saja melepas kepergian pasangan muda, yang juga baru beberapa hari lalu melahirkan. Jadi ada kursi roda bekas ibu-ibu tadi yang keluar dari rumah sakit dan belum dibawa kedalam.
"Sayang, perutku sakit sekali," ucap Adelia mulai merintih kesakitan.
"Bertahanlah! Sepertinya kamu mau melahirkan sekarang." ucap Elvino sambil membantu istrinya untuk duduk di kursi roda yang dibawa oleh suster.
__ADS_1
... BERSAMBUNG... ...