Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Apakah Salah Minum Obat?


__ADS_3

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


...HAPPY READING......


.


.


"Selamat pagi, Nona," sapa dokter yang sudah datang bersama perawat. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Sebetulnya sudah sejak tadi mereka ingin memeriksa keadaan Adel. Namun, karena tahu jika Elvino masih tidur di kursi samping istrinya. Membuat dokter dan perawat tersebut memeriksa pasien lainnya.


"Selamat pagi juga, Dok," jawab gadis itu tersenyum kecil pada Dokter kandungan tersebut.


"Kita periksa lagi ya, agar tahu bagaimana keadaan bayinya." ucap si dokter mulai mengunakan alat buat memeriksa keadaan pasiennya.


Pada saat bersamaan Elvino yang lagi mandi sudah keluar dengan baju ganti yang diantarkan oleh sopir pribadi ayahnya, beberapa waktu lalu.


Nyonya Risa tidak hanya mengirimkan pakaian ganti buat anak dan menantunya. Namun, juga sarapan sehat untuk mereka berdua. Marah-marahnya beliau pada Elvino yang sangat susah diatur. Tetap saja tidak akan membiarkan anaknya kelaparan.


Hanya masalah pekerjaan kali inilah Nyonya Risa tidak bisa membantu. Sebab suaminya tidak bisa dibujuk rayu lagi. Semua itu tentu saja karena Tuan Arka kembali mendapatkan surat peringatan yang dikirimkan langsung oleh kampus tempat putranya belajar.


"Tuan Muda," seru si perawat menggeser tempatnya berdiri. Soalnya takut menghalangi Elvino yang mau melihat keadaan istrinya.


"Heum, periksa saja," titah El yang mengerti bila perawatan dan dokter tersebut canggung padanya.


Setelah mendengar ucapan Elvino. Si perawat yang menggeser tubuhnya tadi, kembali ke posisi semula untuk membantu dokter dan rekannya.


"Setelah jam sembilan nanti kita akan melakukan pemeriksaan USG ya, Nona. Soalnya dari hasil pemeriksaannya kandungan Anda masih sangat lemah," kata dokter setelah melakukan pemeriksaan.


Meskipun dia tidak menjelaskan secara detail. Namun, baik Adelia ataupun Elvino tentu sudah tahu jika ada sesuatu pada kehamilan anak mereka.


"Kenapa tidak sekarang saja?" bukan Adel yang bertanya. Tapi itu adalah suara Elvino yang sejak tadi mendengar percakapan si dokter.


"Karena Dokter ahli bagian USG belum datang, Tuan Muda. Dokter Arsinta baru pulang tadi malam setelah melakukan seminar selama satu Minggu ini," terang si dokter.


Jika itu bukan Adelia yang mengandung calon pewaris. Maka dia juga bisa melakukannya. Namun, ini berbeda, mereka mana berani asal melakukan dan memvonis sesuatu. Sebab yang mereka ketahui Adel istri dari Elvino dan sudah pasti itu anaknya.


"Kalau begitu Dokter telepon dia agar cepat datang nya. Saya mau pulang dulu setelah ini, " kata El yang tidak sabar. Sehingga mendapatkan teguran dari istrinya.


"El," gadis itu mengelengkan kepalanya pelan. "Jika kamu mau pulang, ya pulang saja. Jangan memaksa dokternya," lanjut Adel merasa tidak enak pada dokter yang memeriksanya.


"Kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri?"


"Tentu saja tidak, bukannya mama juga mau datang," jawab gadis itu cepat.


"Baiklah kalau begitu," si tampan Elvino mengangguk setuju.


"Nona, Tuan, kalau begitu Saya mau permisi dulu, soalnya masih ada beberapa orang pasien yang belum di periksa," pamit dokter tersebut diikuti oleh perawat nya. Jadi yang tersisa hanya El dan istrinya saja.


"Iya, terima kasih, Dok," ucap Adel tulus.


"El, sarapan dulu," kata gadis itu karena sejak tadi El memang belum makan. Pemuda itu hanya melayaninya saat lagi sarapan.


"Iya, sebentar lagi," jawabnya melihat kearah ponselnya yang ada di atas meja.


"Cica," gumamnya begitu melihat siapa nama penelepon.


πŸ“± Elvino : "Iya, Ca?" sapa El karena ponselnya terus saja bergetar. Bila tidak diangkat pasti gadis itu tidak akan pernah menyerah.


πŸ“± Cica : "El, aku mau menjenguk adikmu, boleh, kan? Dan kenapa dari malam kamu hanya membalas satu pesanku saja?" brondong Cica dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Selama gadis itu berpacaran. Baru kali ini dia mempunyai kekasih yang tidak pernah memangilnya dengan romantis, menghubungi dia duluan dan semua yang dibutuhkan oleh setiap pasangan tidak pernah Elvino berikan. Soalnya dia memang tidak menyukai Cica atau para mantan kekasihnya yang lain.


πŸ“± Elvino : "Itu karena aku lagi berada di rumah sakit. Kamu tidak perlu menjenguknya, karena dia tidak suka banyak orang yang datang," dusta Elvino yang membuat Adel mengelengkan kepalanya. Suaminya itu sangat pandai jika masalah berbohong.


Jika masalah pelajaran saja barulah Elvino lelet, karena dia tidak pernah mengerjakannya dengan serius. Semenjak menikah dengan Adel sudah ada beberapa kali dia meminta batuan istrinya mengerjakan tugas kuliahnya. Dengan iming-iming pergi keluar jalan-jalan mencari makanan yang diinginkan sang istri.

__ADS_1


Adelia yang sangat pintar tentu saja tidak kesulitan. Hanya saja nasibnya yang tidak beruntung. Sehingga hanya bisa sekolah menengah atas saja.


Namun, begitu dia menjadi istri Elvino. Tuan Arka sudah menyuruhnya untuk kuliah di manapun yang ia mau. Asalkan masih di negara yang sama. Soalnya bila jauh, beliau takut terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucunya


Akan tetapi Adel bukanlah orang yang serakah. Dia tidak mau menyusahkan Tuan Arka yang sudah mau menerima dirinya yang bukan siapa-siapa. Sebagai menantu keluarga Wijaya.


Meskipun hal wajar mereka melakukan itu, karena masa depan Adel sudah dihancurkan Elvino.


πŸ“± Cica : "Benarkah?"


πŸ“±Elvino : " Iya, tentu saja aku tidak berbohong. Sudah dulu ya. Nanti aku telepon lagi." pamit pemuda itu memutuskan secara sepihak.


"El, kenapa kamu suka sekali berbohong?" seloroh Adel yang sangat gatal mulutnya bila tidak bertanya.


"Aku berbohong demi kebaikan," jawab enteng si tampan. "Apakah kamu tidak mau makan lagi? Atau mau buah?" mengalihkan pembicaraan lebih baik, daripada si calon baby menyiksanya dengan pertanyaan yang memaksa harus dijawab.


"Tidak! Aku masih kenyang, kamu yang makan duluan. Di Apartemen tidak ada apa-apa, nanti kamu kelaparan," jawab Adel yang benar saja tidak bertanya lagi kenapa Elvino suka sekali berbohong.


"Huh!" pemuda itu menghembuskan nafasnya lega. "Sepertinya aku harus pintar-pintar ngeles untuk mengalihkan pembicaraan nih. Kalau tidak Adel mana mau menyerah, aku merasa semakin hari dia semakin bawel," gumam Elvino memikirkan cara agar dirinya bisa mengatasi ngidam sang istri, atau memang ingin balas dendam secara halus? Entahlah! Yang jelas terkadang sangat menyiksa pemuda itu.


"El, kamu kenapa?" Adel mengibaskan tangannya dihadapan Elvino yang sudah duduk ditempatnya tidur tadi malam.


"Agh, tidak ada, aku hanya lagi memikirkan---"


Ceklek!


Sebelum El menyelesaikan ucapannya. Pintu ruang rawat tersebut dibuka dari luar. Ternyata yang datang adalah perawat yang tadi ikut memeriksa Adel.


"Maaf Tuan Muda, Nona, sudah mengganggu waktunya. Apakah Nona siap jika kita melakukan USG nya sekarang? Soalnya Dokter Arsinta sudah datang. Namun, dia tidak lama dan mau pergi lagi," ucap si perawat sopan.


"Baiklah! Saya bisa melakukannya sekarang," jawab Adel menyibakkan selimut yang ia gunakan sejak tadi malam.


"Eh, kamu mau apa? Diam di sini, jangan berjalan." cegah El tanpa sadar lagi mengenggam tangan Adel agar tidak turun dari atas ranjang.


"Kenapa? Aku kan mau pergi mela---"


"Nah, itu, kamu tidak boleh berjalan karena belum sembuh. Harus mengunakan kursi roda," Elvino langsung mengambil alih kursi roda tersebut.


"Oh, aku kira ada apa," gadis itu menyugikkan senyum yang sangat manis, karena dia benar-benar tersenyum tulus.


Tidak menyangka saja Elvino yang bobroknya tidak ketulungan masih bisa berpikiran bagus untuk kesehatan dirinya.


"Jika lagi tersenyum seperti sekarang, dia manis juga. Tidak terlalu buruk," puji El didalam hatinya.


"Mari Nona biar kami bantu," perkataan dua perawat tersebut menyadarkan Elvino dari lamunannya.


"Biarkan Saya yang membantunya," cegah El yang mana mungkin membiarkan orang lain menyentuh istrinya. Apalagi perawat yang satunya adalah laki-laki muda yang mungkin kurang lebih seumuran dengan dirinya.


"El, aku---"


"Diam! Jangan banyak bergerak," sela Elvino langsung merangkul tubuh Adel kedalam gendongannya dalam hitungan menit dan di pindahkan ke kursi roda. Sehingga Adel tidak memiliki waktu buat protes ataupun menolak.


Meskipun Elvino pemalas dalam hal lainnya. Namun, dia sangat rajin berolahraga. Jadi tubuhnya tidak akan merasa kesusahan hanya mengangkat tubuh kecil dan pendek istrinya.


"Eum... mari ikuti kami," ujar si perawat berjalan meninggalkan ruangan tersebut lebih dulu. Mereka kebetulan masih lajang, jadi melihat pemandangan romantis pada pasangan yang sepertinya saling mencintai membuat mereka salting.


Malu sendiri dan mendambakan memiliki pasangan seperti keduanya yang satu sangat tampan dan gadisnya juga cantik. Apalagi Adel dan Elvino akan segera memiliki buah hati, yang pastinya dari hasil cinta kedua orang tuanya.


Sedangkan Adelia hanya menunduk diam. Dia tidak bicara sepatah katapun karena semua itu sangat terasa aneh.


Tidak menghabiskan waktu yang lama. Hanya beberapa menit saja, mereka sudah tiba di depan ruang USG tempat kaum-kaum elite. Bukan kaum-kaum rebahan biasa.


"Mari Tuan Muda," si perawat laki-laki tadi membuka pintunya lebar. Lalu El yang mendorong kursi roda istrinya melangkah masuk.


Setibanya di dalam ruangan tersebut, dokter yang tadi memeriksa Adel juga sudah ada. Satunya lagi adalah Dokter Arsinta.

__ADS_1


"Selamat Pagi, Tuan Muda Wijaya, Nona... Adel, mari langsung saja ke tempat pemeriksaan." sambut Dokter Arsinta ramah.


"Pagi juga, Dok," Adel yang menjawab karena suaminya hanya mengangguk kecil saja.


"El, biarkan aku---"


"Jangan banyak protes!" pemuda itu kembali memindahkan tubuh Adel dari kursi roda ke ranjang pemeriksaan.


Entah memang tulus karena tidak ingin terjadi sesuatu pada bayi yang dikandung Adelia. Atau karena El ingin mengambil kesempatan untuk bisa menghirup bau harum dari rambut Adelia. Padahal sejak kemarin pagi Adel belum mandi. Entah! Hanya Elvino sendiri yang mengetahuinya.


"Sus, tolong berikan Gel nya sebelum Saya mulai," titah Dokter Arsinta pada asistennya.


"El, eum... kamu tunggu saja di sana, di sini tidak ada laki-laki," usir Adel karena dia tahu bila melakukan USG bajunya akan disingkap. Dia merasa malu bila El melihat hal tersebut. Meskipun mereka pernah berhubungan intim waktu itu, tapi El dalam keadaan mabuk tidak sadar.


"Tidak apa-apa, Nona. Dia suami Anda sendiri, yang tidak boleh itu seperti perawat laki-laki tadi. Lagian Tuan Muda pasti ingin melihat perkembangan buah hatinya," sahut Dokter Arsinta tersenyum.


Dia tidak tahu saja, bahwa Adelia dan Elvino hanya menikah kontrak. Apalagi bila mengetahui apa alasan yang membuat mereka menjadi pasangan suami-istri.


"El, a--apakah kamu---"


"Tentu saja, aku mau melihatnya juga," sela El tiba-tiba ingin melihat seperti apa si bayi yang sangat sering membuat dia menderita.


Mendengar perkataan Elvino yang ingin melihat dia periksa. Akhirnya Adelia hanya bisa menahan rasa malunya.


"Baiklah! Kita mulai ya," kata si perawat mulai menyingkap baju pasien yang dipakai gadis itu.


"Aaaaa... aku malu sekali, ini Markutet kenapa jadi nempel terus. Aku kan malu," teriak Adel di dalam hatinya. Begitu bajunya disingkap keatas. Perutnya yang mulai membesar terlihat sangat jelas.


Mata El sampai membola keluar. Selama ini Adel selalu memakai baju longgar, jadi tidak terlalu nampak.


"Sudah, Dok," ucap si perawat mundur, karena setelah ini bukanlah tugasnya lagi.


"Iya, terima kasih," Dokter Arsinta mulai menyiapkan alat yang akan dia gunakan sampai reaksi Gel tadi bekerja.


"Mengapa aku jadi deg degan seperti ini? Apakah karena aku takut bila bayinya seperti Aiden dan Hendra, ya?" pikiran bodoh Elvino. Padahal mana bisa diketahui bayi tersebut akan mirip siapa.


"Nona jangan tegang ya, ini tidak sakit," ucap si dokter. Selama hamil, Adel memang belum pernah melakukan USG. Padahal ibu mertuanya sudah mengajak berulang kali. Akan tetapi karena dia tidak mau, Nyonya Risa pun membiarkan saja. Asalkan menantunya sehat.


Begitu alat tersebut menempel pada perut Adel. Detak jantung si bayi pun langsung terdengar karena sekarang usianya sudah tiga bulan kurang lebih.


"Ini bayi nya, masih kecil seperti telur," ucap si Dokter. Mengarahkan alat yang dia pegang kearah letaknya bayi Adelia.


Tes!


Adelia yang mendengar penjelasan Dokter Arsinta. Sangat senang, dia sampai meneteskan air mata bahagianya. Apalagi ketika mendengar detak jantung anaknya yang masih berbentuk gumpalan kecil.


Sedangkan Elvino menelan Saliva nya berulangkali. Dia ikut membeku tidak mampu berkata apapun. Ada rasa yang tidak bisa dia jabarkan dengan kata-kata.


Sambil melakukan pemeriksaan. Dokter Arsinta terus memberikan penjelasan secara mendetail. Sebab jika masalah kandungan dan USG. Dialah pakarnya.


"Jadi bagaimana keadaan istri Saya, Dok? Apakah dia dan... anak kami baik-baik saja?" tanya Elvino setelah bisa menguasai dirinya dan melihat Dokter Arsinta pun selesai melakukan pemeriksaan.


"Mari kita duduk dulu," ajak si Dokter. Tidak mungkin dia berbicara sambil berdiri.


"Huem, Dokter duluan saja. Saya akan membantu istrinya Saya," jawab Elvino setuju. Namun, dia ingin membantu Adelia pindah ke atas kursi roda lagi.


"El, aku bisa sendiri. Kamu tidak perlu melakukan semua ini," ucap Adelia merasa canggung sendiri karena sejak tadi El terus saja menyebutkan kata. Istri Saya dan kata anak kami.


"Adelia," seru Elvino tidak suka penolakan. Tanpa menunggu lagi, dia mengangkat tubuh istrinya pindah ke kursi roda. Lalu dia dorong ke depan meja Dokter Arsinta.


"Ada apa dengannya? Yang sakit kan aku..Kenapa dia yang salah minum obat?" gumam Adel yang tidak bisa membatah ucapan suaminya.


...BERSAMBUNG......


__ADS_1


Jangan lupa buat mampir di karya Mak Author yang ini juga ya πŸ₯° Insya Allah sama menariknya dengan cerita Bbg Elvino dan Adelia. Terima kasih πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2