Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Sisil.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Setelah kepergian para dokter. Sudah ada sekitar sepuluh menit. Pasangan suami-istri itu hanya diam tidak ada yang berbicara lebih dulu.


"Ray... sayang," ucap Arya sendu pada istrinya yang hanya menatap kosong kearah langit-langit kamar.


"Sayang, tolong maafkan aku. Aku benar-benar bodoh karena sudah mengkhianati mu. Namun, percayalah bahwa aku menemui Manda untuk---"


"Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan kesalahanmu karena semua ini adalah kesalahanku yang bodoh sudah percaya pada mu. Selama ini aku kira dirimu mencintaiku, Ar. Akan tetapi ternyata semuanya hanya dusta,. Kamu membenciku," sela Raya tersenyum kecil. Padahal di hatinya lagi menahan perih, agar tidak menangis.


"Sayang, demi Tuhan. Aku tidak pernah membencimu. Aku berpacaran dengan Manda hanya---"


"Aku mau istirahat. Bisa tolong tinggalkan aku sendiri," ucap Raya mulai memejamkan matanya. Entah mengapa mendengar nama Manda membuatnya semakin terluka. Walaupun Raya tahu apa alasan Arya melakukan semuanya. Tetap saja dia tidak bisa menerima kebohongan yang Arya lakukan.


Mungkin bagi orang yang memandang. Itu semua hanya salah paham. Akan tetapi bagi Raya yang merasakan semuanya, benar-benar sangat menyakitkan.


"Oke, kamu istirahat saja. Lain kali kita bicarakan lagi," Arya mengalah karena dia memang salah besar saat istrinya baru sadar. Akan tetapi sudah diajak berbicara masalah rumah tangga mereka.


Gadis itu tidak menjawab dan hanya memejamkan matanya. Padahal Raya haus mau minum. Namun, karena rasa kecewanya lebih besar. Raya memilih menahan rasa haus tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Arya kembali lagi duduk seperti tadi. Tidak perduli Raya mengusirnya sekalipun. Namun, dia akan terus berada disana karena Arya tahu bahwa dia memang bersalah.


Ceklek!


Baru saja beberapa menit. Pintu ruangan tersebut dibuka pelan oleh Sisil. Adik sepupu Raya.


"Kak, katanya Kak Raya sudah siuman?" tanya gadis itu, karena kebetulan dia dari menjenguk sahabatnya yang lagi dirawat di rumah sakit itu juga.


"Iya, tapi sekarang dia lagi---"


"Sisil," ucap Raya kembali membuka matanya karena sebetulnya dia memang tidak tidur.


"Kakak, syukurlah Kakak sudah sadar. Kami semua sangat mengkhawatirkan keadaan mu," seru Sisil langsung memberikan pelukan dari sebelah kiri Raya.


"Terima kasih. Maafkan aku sudah membuat kalian semua khawatir,"


"Aku mau minuman, bisa tolong ambilkan. Tapi kata dokter sedikit-sedikit saja, tidak boleh sekaligus banyak. Itu air bekas---"


"Sayang, biar aku saja yang ambilkan," tawar Arya yang tidak ditanggapi oleh Arya.


"Baiklah, biar aku saja, Kak. Mungkin Kak Raya mau balas dendam karena aku sering merepotkan dia setiap masuk rumah sakit," imbuh Sisil yang bisa menebak jika kakak sepupunya tidak mau dibantu oleh Arya.


"Iya, silahkan," imbuh Arya mengangguk.


"Ini Kak," degan sangat pelan. Sisil mulai memberi kakak sepupunya air putih.

__ADS_1


"Sudah!" Raya menutup mulutnya karena dia tidak mau minum lagi.


"Apakah Kakak belum diberik---"


Ceklek!


Pintu ruangan tersebut kembali dibuka. Sehingga Sisil ikut menoleh kearah pintu dan ternyata yang datang adalah dokter muda yang bertugas mengantarkan makanan khusus buat Raya.


"Permisi semuanya. Maaf Saya mengaggu. Ini bubur buat Nona Raya. Nanti setelah menghabis makanannya. Beri obat ini satu saja dulu. Sedangkan obat yang lainya satu jam dari sekarang baru boleh diberikan," ucap Dokter tersebut menaruh nampan yang ia bawa pada meja kecil khusus untuk menyimpan makan dan minuman.


"Iya, Dok terima kasih. Apakah boleh diberikan sekarang?" tanya Sisil karena dia yang akan menyuapi kakaknya.


"Benar, kasih saja sekarang. Untuk saat ini nona sudah boleh makan dan minum seperti pasien lainya," jawab dokter tersebut sambil melihat jam pada pergelangan tangannya.


Apabila baru sadar setelah koma tidak sadarkan diri. Memang belum boleh bila minum atau makan terlalu banyak. Maka dari itu sengaja diberikan jeda sampai beberapa puluh menit.


"Oke, Saya mengerti. Sekali lagi terima kasih, Dok," kata Sisil yang sama seperti Raya memilih sifat ceria.


"Sama-sama, Nona. Kalau begitu Saya permisi dulu. Apabila membutuhkan sesuatu, cukup tekan tombol hijau pada dinding," pesan si dokter berpamitan meninggalkan ruangan tersebut.


"Kakak, ayo aku suapi. Kakak makanya pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru karena aku akan merawat Kakak," ucap Sisil mulai menyuapi Raya dengan ukuran satu sendok yang tidak dia penuhi. Raya tidak berkata apapun. Akan tetapi dia menurut saja saat disuapin.


"Sil, apabila mama tidak bisa menginap di sini. Maukah kamu menemaniku sampai aku keluar dari rumah sakit?" tanya Raya karena dengan keadaannya saat ini. Sangat membutuhkan bantuan orang lain dan Raya tidak mau dibantu oleh Arya.


"Tentu saja mau. Apa sih yang tidak buat kakak ku," jawab Sisil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Berbeda dengan Arya. Mendengar permintaan istrinya yang mau ditemani oleh Sisil. Membuat hati pemuda itu semakin takut apabila Raya benar-benar tidak mau hidup bersamanya lagi.


... BERSAMBUNG......


__ADS_2