Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Benar Akan Menikah.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Pa, bagaimana ini?" tanya Adelia pada Elvino. Mereka baru saja tahu bahwa Eza lagi berduaan dengan seorang gadis yang merupakan pegawai hotel mereka sendiri.


"Tidak harus bagaimana-bagaimana. Berarti Eza harus mempertanggung jawabkan perkataannya." jawab El santai. Membuat mata putranya seakan mau loncat dari tempatnya. Sekarang mereka lagi berada di dalam kamar hotel tempat El dan Adelia.


"Pa... apakah tidak ada cara lain? Eza berkata seperti itu karena terpaksa. Tidak ada pilihan lain selain mengakui wanita jadi-jadian itu calon istri." ucap Eza mengusap wajahnya kasar karena dia sendiri sebetulnya tahu jika harus menepati perkataannya yang akan menikah bersama Olivia dalam bulan ini.


"Za, kamu anak yang cerdas. Tidak perlu Papa jelaskan tentunya kamu tahu dampak pada keluarga kita kan? Terutama pada Wijaya group." kata Elvino. "Untuk menutup mulut ember para wartawan itu, nikahilah Olivia. Sepertinya dia tidak terlalu buruk."


"Tidak terlalu buruk? Haa... ha... Pa, dia itu gadis jadi-jadian. Buktinya gara-gara dia semua kekacauan ini terjadi. Seharusnya besok Eza mau mengungkap perasaan Eza pada Ezia." pemuda tampan itu tertawa dibalik rasa kesalnya.


"Pilihan ada padamu, Za. Papa tidak mau memaksamu untuk menikahi Olivia. Putuskan lah sendiri! Kamu jangan menuduh asal gadis itu. Mana tahu kan dia hanya menjadi korban orang yang mau menjatuhkan mu." El menepuk pelan pundak putranya.

__ADS_1


"Jika kamu berubah pikiran kita keluar sekarang dan katakan pada wartawan bahwa Olivia meminta tolong padamu. Bukan sebaliknya kamu yang mau memperkosanya." lanjut Papa tampan itu lagi.


"Za..." Adelia menatap putranya agar tidak mengambil keputusan yang salah.


"Mama, apa yang harus Eza lakukan? Eza tidak mau menikahi gadis lain kecuali Ezia," jawab Eza benar-benar binggung.


"Mama juga tidak tahu apa yang harus dilakukan? Ini masalah masa depanmu. Atau kita kasih tahu opa Arka saja?" usul Adel karena tidak ingin mereka salah mengambil keputusan.


"Tidak, Ma. Eza tidak mau opa sampai sakit karena masalah ini." cegah pemuda itu sambil berpikir mencari solusi yang pengakuannya sendiri.


"Baiklah! Eza... akan menikahinya. Semua ini Eza lakukan demi nama baik keluarga kita." jawab Eza walaupun masih ragu-ragu.


"Ya, Eza serius. Asalkan masalah ini cepat selesai." jawab si calon pewaris yang selalu memikirkan nama baik keluarga besarnya. Tidak seperti El saat muda yang sukanya membuat masalah.


"Oke, jika begitu ayo kita keluar dari sini. Kasihan Olivia harus menghadapi mereka semua." Elvino menarik tangan putranya dan dibawa keluar dari kamar tersebut.


Mereka bertiga langsung menuju kamar tempat Eza. Dimana Hendrix dan para wartawan menunggu di sana.


"Aku sangat yakin, Tuan Elvino tidak akan setuju putranya menikahi gadis ini. Aku mau kalian hancur secara perlahan."

__ADS_1


Gumam Hendrix melihat kedatangan Eza bersama kedua orang tuanya. Sebetulnya bukan permasalahan dari orang tuanya saja pemuda itu ingin menjebak Eza. Namun, karena gadis yang dia sukai menolaknya karena si calon pewaris Wijaya.


"Tuan, El, Nyonya Adelia... apakah benar Olivia calon istri dari Tuan muda?" baru saj mereka memasuki kamar tempat Olivia menunggu. Berbagai pertanyaan langsung dilayangkan oleh wartawan.


"Apa benar seorang calon pewaris akan menikahi gadis biasa seperti nona ini?" tanya wartawan yang satunya lagi.


"Jika benar mereka mau menikah apakah akan diadakan pernikahan mewah karena semua orang tahu bahwa Tuan Eza adalah satu-satu putra kalian?" berbondong-bondong pertanyaan sekaligus yang membuat Elvino tersenyum tipis kearah Hendrix.


"Ya, Olivia adalah calon istri dari putra kami Alfariel Faiza Wijaya." jawab Elvino dengan suara lantang. "Tentu saja kami akan mengadakan pesta pernikahan mewah yang tentunya akan dilaksanakan di salah satu hotel bintang lima milik keluarga Wijaya." lanjutnya lagi yang langsung diubah siaran langsung di berbagai saluran televisi.


"Apa... jadi aku benar-benar akan menikah dengan laki-laki ini. Mati aku!"


Gumam Olivia hanya bisa merutuki nasibnya yang selalu tertimpa sial.


"Brengsek! Awas kau ya... akan aku buat kau menyesal karena sudah bekerjasama dengan Hendrix untuk menjebak diriku."


Bukan hanya Olivia yang bergumam, tapi juga Eza. Mereka berdua saling tatap dengan pikirannya masing-masing.


... BERSAMBUNG... ...

__ADS_1


__ADS_2