
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Setelah kepergian Raya bersama Arya. Elvino kembali berkumpul dengan orang tuanya di ruang tengah. Lalu karena Eza mau bobo sebab hari semakin siang. Adelia pun kembali ke kamar mereka yang ada dilantai atas untuk menidurkan si buah hati.
Akan tetapi tidak dengan Elvino karena dia masih ingin bicara pada kedua orang tuanya tentang permintaan Arya yang ingin serius menjalin hubungan dagang si putri bungsu keluarga Wijaya.
"Lalu kamu memberi dia jawaban apa?" tanya Tuan Arka pada Elvino setelah mendengar anaknya bicara.
"El bilang agar dia dan Adek pacaran saja dulu, karena mereka berdua baru berkenalan juga." jawab El yang duduk bersebelahan dengan mamanya.
"Jika dia benar-benar serius, kamu akan menanggapinya seperti apa? Bukannya dari jawabanmu seperti sudah memberinya kesempatan atau harapan untuk lebih sekedar dari pacaran." lanjut Tuan Arka karena Nyonya Risa hanya diam menjadi pendengar yang baik.
"Soal itu Papa tenang saja, karena El memang memberi Arya kesempatan dan harapan. Namun, semuanya tidak berlaku bila dia tidak pantas untuk menjadi pendamping hidup Raya."
"Jika Papa terserah padamu, El. Kamu sudah tahu mana yang terbaik untuk adikmu. Namun, jangan pula karena posesif untuk kebahagiaan Raya, kamu terlalu mendominasi pemuda yang sesuai dengan keinginanmu sendiri,"
"Iya, El tahu mana yang baik dan tidaknya, Pa. El bukan mau melihat seberapa baik masa lalu dan kayanya Arya, karena bila harta, Raya tidak akan pernah kekurangan apapun. Begitu pula bila masa lalunya Arya yang tidak bagus. El saja bisa berubah seiring berjalannya waktu. Jadi bila Arya benar-benar mencintai Adek, sudah pasti akan berubah dari semua kebiasaan buruknya." jelas Elvino karena dia memang bukan mau menilai hal itu.
"Lalu Kakak mau mencari tahu tentang apa?" setelah sejak tadi hanya diam saja, Nyonya Risa ikut menimpali pembicaraan ke-dua laki-laki terhebatnya.
"El hanya ingin mencari tahu niatnya untuk mendekati Raya, Ma. Mana tahu karena Arya ingin harta, atau bisa jadi karena dia penasaran saja pada adek yang sangat pemilih untuk sekedar berteman dengan seorang pria," jawab Elvino memang belum bisa menebak tentang adanya orang balas dendam atas perbuatannya beberapa tahun lalu.
"Terobsesi maksudmu?" Nyonya Risa memastikan perkataan anaknya.
"Iya, anggap saja mana tahu Arya hanya terobsesi untuk menaklukkan cinta Raya. Namun, semoga saja tidak dan mudah-mudahan Arya memang pemuda baik-baik seperti yang kita lihat dari kesopanannya saat ini,"
__ADS_1
"Papa setuju, El! Kamu sudah melakukan hal yang benar. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Apa yang tidak mungkin dunia ini. Pak Pram dan Manuel saja bisa berkhianat pada Wijaya group. Apalagi orang lain yang belum kita kenali secara mendetil." imbuh Tuan Arka langsung setuju pada keputusan putra kebanggaannya.
"Astaga! Mama lupa akan hal itu, Nak. Lakukanlah apa yang menurutmu baik," Nyonya Risa langsung mengelus sayang bahu putranya.
Mau sebesar apapun Elvino dan sehebat apapun. Tetaplah Elvino putranya yang masih kecil. Begitulah menurut sudut pandang orang tua pada anak-anaknya.
"Iya, Ma, makanya El bilang pada Arya, untuk menjalin hubungan seperti biasanya. Namun, bila orang-orang Wijaya sudah mendapatkan bukti bahwa Arya adalah pemuda baik-baik. Maka silahkan saja jika dia mau menikahi Adek," Elvino tersenyum kecil karena akhirnya kedua orang tuanya mengerti atas keputusan yang dia ambil.
Sebab baik itu Tuan Arka maupun Nyonya Risa memang sudah menyukai Arya. Pemuda itu sangat sopan apalagi mereka mengetahui bahwa Arya sekarang sudah bekerja mengantikan ayahnya yang lagi sakit.
Membuat mereka kagum akan bakti Arya pada orang tuanya. Mereka hanya berpikir agar Raya mendapatkan pendamping hidup seperti mana Elvino kakaknya.
Sayang keluarga dan sangat bertanggung jawab pada istri maupun anaknya. Begitulah keinginan pasangan suami-istri itu termasuk Elvino sendiri.
Akan tetapi manusia hanya bisa berencana karena segala sesuatunya sudah ada yang mengaturnya. Namun, jangan pula karena itu kita harus pasrah saja sebelum mencoba untuk berusaha.
Tidak berbeda jauh dari orang tuanya di rumah. Saat ini Raya dan Arya juga lagi membahas hal yang sama. Soalnya si cantik Raya memang tidak tahu bahwa Arya berniat menikahinya.
Sebelum menjawab pertanyaan Raya, Arya pun mengetepikan mobilnya setelah menyalakan lampu sen sebelah kiri. Tanda bahwa mereka mobil mereka akan berhenti di sisi jalan.
"Kenapa? Apakah kamu tidak mau menikah denganku?" bukannya menjawab tapi Arya kembali melemparkan pertanyaan.
"Tidak! Bukan seperti itu, aku hanya merasa aneh saja karena kita baru berpacaran beberapa bulan."
"Ray, kedua orang tuaku sangat berharap aku cepat menikah karena mami ingin memiliki seorang putri yang bisa mengantikan kakakku. Agar mereka tidak terus larut dalam kesedihan dan aku tidak bisa menikahi gadis lain karena aku sangat mencintaimu." jawab Arya sudah mengenggam tangan kekasihnya.
Untuk menyakinkan kekasihnya jika dia benar-benar serius dan sangat mencintai Raya. Namun, sayangnya semua itu hanyalah sebuah dusta belaka karena Arya hanya menjadikan Raya alat balas dendam.
"Tidak bisa menikahi gadis lain? Apakah bila tidak menikah denganku orang tua mu ingin menjodohkan kamu degan gadis lain?" tanya Raya setelah mencerna ucapan kekasihnya.
"Iya, mami mau menjodohkan aku dengan anak dari sahabatnya yang ada di kota ini juga. Makanya tadi aku langsung bilang pada kakakmu bahwa aku ingin serius tentang hubungan kita."
__ADS_1
"Kamu sudah bilang pada Kak Elvino?"
"Sudah! Aku sudah bilang dan Kak El bilang tunggulah dulu, agar kita bisa saling kenal satu sama lain."
"Apakah jika tidak menikah denganku, maka kamu akan menikahi gadis yang akan dijodohkan oleh orang tuamu?" Raya kembali memastikan karena dia bukan gadis polos yang tidak mengerti apa-apa.
"Tentu aku akan menerima perjodohan itu. Meskipun aku terpaksa melakukannya karena gadis yang aku cintai hanyalah dirimu," dusta Arya mengelus pipi Raya sebelum dia mengecup bibir ranum gadis itu yang sudah beberapa kali dia lakukan.
Namun, hanya sekedar berciuman tidak lebih daripada itu. Bukan hanya karena Raya yang tidak mau melakukan lebih dari sekedar ciuman. Akan tetapi juga Arya, karena dia mau menikahi Raya lebih dulu jika memang mau mengambil mahkota gadis itu.
Cup!
"Raya, aku benar-benar mencintaimu, jadi jika kamu juga mencintaiku. Maka bila setelah mendapatkan izin dari kakakmu. Aku ingin hubungan kita untuk berlanjut ke jenjang pernikahan," ucap Arya setelah melepaskan ciuman mereka.
"Bagaimana, apakah kamu mau?" tanyanya karena Raya hanya diam saja degan muka memerah karena malu setelah mereka berciuman.
"Ba--baiklah! Aku---"
Cup!
"Pipimu kenapa selalu merah bila sudah berciuman denganku?" Arya kembali mengecup bibir Raya. Tapi hanya sekilas saja.
"Aaaaa... Arya, aku tidak mau melihat mu lagi," seru Raya yang merasa semakin malu dan dia juga menutup mukanya sendiri mengunakan kedua tangannya.
"Haaa... ha... jika nanti sudah menikah, maka kita akan lebih sering lagi melakukannya. Jadi tidak boleh malu," tawa Arya yang kembali lagi menjalankan kendaraan mewah bermerk Ferrari menuju kediaman orang tuanya.
"Kakak, aku berjanji akan membalas sakit hatimu pada Elvino. Kerena aku sangat yakin jika semua rencana ku akan berjalan dengan lancar."
Gumam pemuda itu sambil menatap jalanan ibukota yang ramai oleh kendaraan lainnya.
... BERSAMBUNG... ...
__ADS_1