Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Surat Gugatan.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Akhiri semuanya bila kamu tidak sanggup," ucap Raya membuat Arya menatap padanya.


"Apa maksudnya? Aku tidak bilang ingin mengakhiri hubungan kita?" tanya Arya walaupun dia mengerti kenapa istrinya bicara seperti itu. Namun, Arya berpura-pura tidak paham.


"Tapi aku ingin mengakhiri pernikahan ini. Aku ingin kita segera berpisah," jawab Raya dengan tegas dan tidak ada dia menunjukan keraguan pada wajahnya.


"Tapi aku tidak mau, aku tidak akan pernah mau, Ray. Aku sangat mencintaimu. Aku---"


"Haa... ha... Arya, jangan membuat lelucon," tawa sumbang si putri bungsu Wijaya. "Aku sudah muak mendengar cinta mu. Sejak kamu mengajakku berpacaran, bukannya kamu juga bilang seperti itu?"


Percayalah walaupun Raya terlihat tegar. Namun, hatinya sedang menangis dalam diam. Sangat sakit rasanya bila orang yang kita cinta dan sanjung ternyata hanya membohonginya selama berbulan-bulan lamanya.


Namun, Raya tetap berusaha kuat demi anak yang dia kandung. Raya memang sangat kecewa pada Arya. Tapi anak yang ada di rahimnya tidak bersalah dan itu juga darah dagingnya sendiri.


Sebetulnya sebelum terjadinya kecelakaan pada malam itu. Raya akan pergi membawa anaknya ke luar negeri. Yaitu setelah harapannya sirna untuk membuat Arya mencintai dia dan mempertahankan pernikahan mereka.


Setelah melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain. Namun, ternyata alur kisah hidupnya tidak sesuai yang diinginkan. Raya mengalami kecelakaan dan Arya mengetahui bahwa dia hamil.


"Raya, aku benar-benar mencintaimu. Aku benar-benar menyesal telah berniat menyakitimu. Demi Tuhan Ray, aku sangat menyesali semuanya," jawab Arya memegang tangan Raya yang masih pucat dan terlihat kurus.


"Mengapa kamu hancurkan semua harapanku? Disaat cinta ku sedang berkembang. Padahal kamu tahu sendiri seperti apa impianku ingin membangun sebuah keluarga bersamamu," imbuh Raya membuang arah pandangannya.


"Manisnya janji yang kamu ucapkan ternyata semua itu hanyalah dusta. Aku tidak pernah mengira jika kamu tega melakukannya," lanjut Raya karena Arya kembali terdiam mendengar ucapannya. Binggung apa yang harus dijawab karena apa yang dikatakan oleh istrinya adalah benar.


"Andai saja kamu tidak membohongiku dan hanya berselingkuh. Mungkin aku akan memaafkan mu. Namun, karena kebohongan mu, aku tidak bisa melupakan semuanya semudah itu." ungkap Raya karena dia hanya kecewa sudah dibohongi.


"Sayang, aku mohon. Tolong beri aku satu kali kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya. Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi," Arya bukannya melepaskan tangan Raya.


Tapi sekarang justru kedua tangannya mengenggam jari tangan istrinya. Raya hanya diam dan masih tetap membuang arah pandangan matanya.


"Aku mohon! Aku akui, jika diriku memang bersalah. Aku bodoh karena tidak menyadari perasaanku sejak awal. Andai aku---"


"Andai kamu tidak menyadari perasaan mu. Maka kamu sudah membunuhku dengan rencana-rencana yang sudah kamu susun kan? Terima kasih, karena dendam mu. Aku bisa lebih berhati-hati lagi untuk kedepannya," sela Raya menarik tanyanya kasar. Sehingga langsung terlepas.


Lalu Raya mengambil tongkat disampingnya dan pergi berjalan dengan tertatih-tatih. Arya ikut berdiri mengikuti istrinya yang ternyata pindah ke sofa.


"Ray, aku tidak mungkin melakukannya. Aku---"


"Iya, kamu tidak mungkin melakukannya jika sudah tahu memiliki perasaan padaku sejak awal. Sudahlah, hidupmu dan hidupku masih panjang. Kamu masih muda dan Manda pasti tidak akan menolak menikah dengan Duda, karena jangankan bekas. Suami orang lain saja dia mau," Raya kembali menyela.


"Tapi aku tidak mau kita berpisah. Aku tidak akan pernah menceraikan mu. Jika bukan karena hubungan kita berdua. Maka tolong beri aku kesempatan demi anak kita," mohon Arya begitu frustasi.


Apabila dia dan Raya berpisah. Arya bukan hanya kehilangan istri yang sangat dia cintai. Namun, juga calon buah hatinya dan Raya. Akan seperti apa anaknya nanti, belum juga lahir tapi kedua orang tuanya telah berpisah.


"Aku berpacaran dengan Manda bukan karena aku menyukainya. Malam itu, aku menemuinya karena mau mengakhiri semuanya. Aku tidak ingin menyakiti perasaan mu. Namun, pada saat dia tiba-tiba memelukku, kamu datang dan membuat mu salah paham," jelas Arya masih berusaha membuat Raya mau memberinya kesempatan.


"Maaf, Ar. Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Tentang anakku, kamu tidak perlu khawatir karena aku berjanji apabila dia bertanya tentang orang tuanya. Aku akan menunjukan bahwa kamu adalah papanya," jawab Raya tetap pada pendiriannya.


"Jika kamu berada di posisiku, mungkin juga akan salah paham. Coba tanyakan pada dirimu sendiri. Istri mana yang tidak akan salah paham saat suaminya berpelukan dengan wanita lain dan sialnya wanita itu adalah yang diberitakan berpacaran dengan mu," saat berkata demikian terdengar Raya menghela nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah mendengarnya?" tanya Arya karena dia memang belum tahu jika Raya sudah tahu dia selingkuh sebelum melihat dia dan Manda berpelukan malam naas itu terjadi.


"Tentu saja aku sudah mendengarkannya karena aku bukan orang tuli dan buta. Semua anak-anak kampus sudah tahu kamu berpacaran dengan Manda. Namun, aku tetap berpura-pura tuli. Semua itu karena aku terlalu mencintaimu. Tapi karena cinta itu aku hampir meregang nyawa dan membuatku seperti ini," Raya tersenyum getir.


Kali ini dia hanya menatap pada meja dihadapan mereka. Tidak membuang arah pandangan seperti tadi lagi. Jadi Arya bisa tahu bahwa istrinya sangat terluka karena dirinya.


"Aku juga tahu kamu menikahiku karena ingin balas dendam pada kakak, bukan karena mencintaiku. Ha... haa... aku bodoh kan sudah bersama selama berbulan-bulan dan tidak tahu bahwa semuanya hanya pura-pura. Aku tidak akan tahu bila tidak mendengar dirimu bicara pada Afdhal," tawa Raya sambil menyeka air matanya.


"Apa... jadi Raya sudah tahu semuanya pada saat sebelum kecelakaan. Aku kira dia tahu dari salah satu kelurganya yang bercerita saat di rumah sakit."


Gumam Arya degan tatapan terus melihat kearah Raya. Ingin rasanya menarik Raya untuk dipeluk. Akan tetapi semuanya sudah tidak sama lagi. Sekarang ada benteng diantara mereka yang Arya ciptakan sendiri dan Raya hanya tinggal membangunnya.


"Maka dari itu lebih baik kita berpisah. Kamu carilah wanita lain karena sekarang keadaan aku pun sudah cacat. Pisik ku bagus saja kamu permainkan, apalagi seperti in---"


"Raya, berapa kali harus aku katakan. Bahwa aku tidak akan pernah mau berpisah. Kamu tenangkan dulu hatimu. Nanti kita bicarakan lagi setelah kamu tenang," sela Arya benar-benar mau menjerit untuk melampiaskan penyesalannya.


"Aku memang bersalah sudah memanfaatkan mu untuk balas dendam pada Kak Elvino dan dia pun tahu itu. Akan tetapi aku menyesal dan aku tidak perduli seperti apa keadaan mu. Mau tidak bisa berjalan sekalipun aku tetap mencintaimu. Jadi tolong jangan pernah berbicara tentang keadaan mu," ucap Arya dengan hati terasa sakit karena Raya menyebut pisiknya cacat.


"Aku sudah tersiksa karena kamu menjauhiku. Aku ingin kita seperti biasanya. Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi," lanjutnya penuh harap.


"Tapi aku sudah memikirkan semuanya sejak di rumah sakit. Aku memang tidak bisa lagi melanjutkan semuanya. Terserah padamu mau berpisah atau tidak karena aku sudah mengirimkan surat gugatan hari ini," jawab Raya yang tidak memberitahu siapapun jika hari ini dia sudah mengajukan untuk bercerai.


"A--apa! Kamu tidak lagi bercanda kan? Siapa yang melakukannya? Bukan Kak Elvino, kan?" seru Arya degan mata langsung memerah antara ingin marah dan sedih secara bersamaan.


"Untuk apa aku bercanda, aku serius. Bukan kakak ku yang melakukannya. Namun, aku meminta bantuan Paman Abraham. Kedua orang tuaku juga tidak tahu. Ini hidupku, jadi aku ingin memutuskan sendiri karena saat memilih mu. Untuk menjadi pendamping hidupku. Aku juga melakukannya sendiri,"


Mendengar jawaban Raya bagaikan bom atom yang melanda jantung dan hati Arya pada saat itu juga. Tadinya dia berharap seiring berjalannya waktu. Raya degan perlahan akan luluh. Bukannya seperti ini secara diam-diam sudah melayangkan surat gugatan cerai.


"Raya... kenapa kamu melakukan ini? Aku tidak ingin kita berpisah. Aku memang bersalah sudah menyakitimu. Tapi tidak seperti ini, kita tidak harus berpisah," seru Arya menangis pada saat itu juga.


Dunianya seakan-akan sudah runtuh mendengar Raya tidak mau hidup bersamanya lagi. Semua harapan Arya ingin membahagiakan anak dan istrinya sudah pupus. Raya telah mengirimkan surat gugatan cerai. Maka sudah pasti cepat atau lambat mereka akan berpisah.


Mereka berdua sama-sama menangis. Raya menagis karena semua impiannya sudah dirampas oleh takdir cinta mereka.


Sedangkan Arya menangis karena penyesalannya. Andai dia tidak memanfaatkan cinta Raya yang tulus. Maka saat ini pasti mereka sudah hidup bahagia.


Hampir selama dua puluh menit mereka saling diam. Sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Sampai terdengar suara pintu di ketuk Arya pun langsung berjalan untuk melihat siapa yang datang.


Ceklek!


"Mama," seru Arya karena yang datang adalah ibu mertuanya bersama Bibi Asih.


"Iya, Mama hanya mau mengantarkan makan malam untuk kalian," jawab Nyonya Risa menatap pada muka menantunya sesaat.


"Iya, Ma. Ayo silahkan masuk," Arya membuka lebar pintu kamar tersebut.


"Mama harap kalian bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, Nak. Kasihan anak kalian bila sampai dia lahir nanti. Kedua orang tuanya sudah berpisah." gumam wanita setengah baya itu berjalan masuk membawa iris buah-buahan segar. Sedangkan Bibi Asih membawa nampan berisi makanan, susu dan lengkap dengan air putihnya.


"Sayang, kamu tidak istirahat," Nyonya Risa menyapa putrinya lebih dulu.


"Mama," seru Raya tersenyum sumringah. Agar mamanya tidak tahu bahwa dia habis menangis.


"Raya ingin duduk saja, Ma. Kenapa makanannya harus diantara ke kamar. Kami bisa makan diluar," lanjutnya lagi yang kebetulan saling tatap dengan Arya. Akan tetapi tidak lama karena Raya lebih dulu memutuskan tatapan matanya.


"Papa yang menyuruh kalian makan malam di sini saja. Lagian kamu belum sehat, jadi tidak boleh banyak gerak dulu," jawab beliau tersenyum getir.


Walaupun Arya dan Raya terlihat biasa-biasa saja. Namun, Nyonya Risa tahu bahwa keduanya pasti lagi membahas masalah yang terjadi diantara keduanya. Sebab bukan hanya mata Arya yang terlihat habis menangis. Tapi juga mata putrinya.

__ADS_1


"Makan yang banyak ya, Nak. Ini susu ibu hamilnya. Jangan terlalu banyak pikiran karena tidak baik pada kesehatan bayi kalian," ucap beliau menyentuh lembut tangan putrinya.


"Iya, terima kasih, Ma," Raya balas mengenggam tangan ibunya sebentar.


"Ar, ini makanlah selagi masih hangat. Mama akan keluar karena ada Tante Anita dan suaminya. Tapi mereka tidak lama karena di luar mau hujan," titah Nyonya Risa pada sang menantu yang berdiri saja.


"Iya, Ma," jawab Arya singkat. Tidak mau menganggu anak dan menantunya. Nyonya Risa langsung mengajak Bibi Asih keluar dari sana.


"Sayang, ayo makanlah. Setelah itu minum susunya. Nanti jam sembilan baru minum obat dan vitamin," ucap Arya mengisi piring dengan nasi serta lauk pauk. Lalu dia berikan pada istrinya.


Seolah-olah tidak ada terjadi apapun dengan mereka. Sehingga dia masih tetap memanggil Raya dengan sebutan sayang dan melayani istrinya dengan baik.


"Terima kasih," kata si putri bungsu menerima piring yang diberikan oleh suaminya. Namun, Raya tidak berbicara hal lain lagi. Sehingga Arya hanya menghela nafasnya saja.


Satu menit!


Dua meniti!


Sampai sekitar sepuluh menit kemudian. Arya belum juga mengambil makanan untuknya sendiri dan malah menuangkan air putih untuk istrinya.


"Kenapa kamu hanya melihatku saja? Mengapa tidak mengisi piring dan ikut makan," tanya Raya dengan nada sedikit ketus.


"Aku tidak mau makan. Perutku masih kenyang. Apalagi mencium bau masakan ini perutku malah terasa mau---"


Tidak melanjutkan ucapannya lagi. Arya sudah berlari masuk ke dalam kamar mandi dan setibanya di sana, dia langsung memuntahkan semua makanan yang sudah dia makan.


Hoek!


Hoek!


Suara pemuda itu berusaha mengeluarkan semua yang ia makan. Tiba-tiba tubuhnya terasa sangat lemas. Ini bukanlah kali pertama dia muntah-muntah. Akan tetapi sudah hampir satu Minggu ini. Namun, baru malam ini dia merasa sampai lemas tidak berdaya.


Hoek!


Hoek!


"Astaga, aku kenapa bisa seperti ini. Apakah gara-gara tidak pernah tidur malam lagi? Aduh... rasanya seperti mau pingsan," keluh Arya mengelap mulutnya dengan tisu.


Hoek!


Hoek!


Namun, baru juga dia mau keluar dari kamar mandi. Malah perutnya kembali terasa diaduk-aduk. Sehingga Arya muntah-muntah lagi. Raya yang mendengar sontak terkejut. Akan tetapi dia tidak ada niat mendekati suaminya.


"Dia kenapa? Apa salah makan sesuatu?" tanya Raya pada dirinya sendiri. Saat dia masih bergumam. Arya pun sudah keluar dalam keadaan lemas.


"Arya, kamu kenapa?" tanya Raya menatap pada suaminya yang langsung naik keatas tempat tidur dan memejamkan matanya.


"Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya kurang tidur saat malam hari, jadinya seperti ini. Maaf sudah menganggu mu yang sedang makan," jawab Arya berusaha untuk menidurkan matanya. Berharap setelah tidur dia tidak akan mengalami muntah-muntah lagi.


"Apakah kamu yakin tidak apa-apa? Apa perlu aku bilang pada papa. Biar menelepon dokter untuk memeriksa keadaanmu?" tawar Raya karena khawatir juga bila Arya sakit dan dia mengabaikan pemuda itu.


"Tidak sayang, aku hanya butuh tidur malam saja. Maaf, aku tidak bisa menemanimu makan," jawab Arya yakin jika dirinya baik-baik saja.


"Baiklah, tapi bila kamu merasa sakit maka bilang saja. Aku akan meminta papa untuk menelepon dokter---"


"Tidak perlu karena aku baik-baik saja. Aku hanya ingin kamu menarik surat gugatan kita. Aku lebih baik mati daripada harus berpisah darimu," sela Arya yang tidak lama setelahnya langsung tertidur.

__ADS_1


... BERSAMBUNG......


__ADS_2