
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Pagi harinya. Di keluarga Wijaya. tepat di lantai dua rumah mewah tersebut. Sepasang suami istri lagi tidur dengan nyenyaknya.
Triiing!
Triiing!
Suara Jam weker yang sengaja disetel oleh Elvino saat dia terbangun tadi malam. tepatnya adalah pukul setengah dua dini hari. Si ibu hamil tiba-tiba saja ingin memakan buah pepaya setelah dia terbangun dari tidurnya.
Alhasil Elvino sendiri yang turun ke lantai bawah untuk mengambil apa yang diinginkan oleh sang istri. Padahal saat membangunkannya. Adel hanya minta ditemani saja, bukan menyuruhnya mengambil sendirian.
Namun, Elvino yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Adel dan juga bayi yang dikandungnya. Melarang tegas sang istri turun ke lantai bawah.
Triiing!
"Eum... ini jam berapa tanya Adelia sambil mengucap matanya yang terasa masih mengantuk. Akan tetapi dia ingat bahwa suaminya harus berangkat pagi-pagi, karena hari ini adalah hari pertama Elvino bekerja di seumur hidupnya.
"Lebih baik aku membangunkan El duluan saja. Agar dia bisa mandi lebih awal dan tidak terlambat. Kalau diri aku kan tidak kemana-mana hanya di rumah saja. Jadi bisa mandinya agak siangan." Adelia yang sudah duduk dengan pelan.
"El, Elvino!" panggilnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. "El, ayo bangun! Ini sudah jam setengah delapan. bukannya kamu mau berangkat ke perusah---"
"Apa! sudah jam setengah delapan?" seru El yang langsung duduk meskipun matanya masih sangat mengantuk.
"Ha... haa... iya, anggap saja sekarang sudah jam setengah delapan," tawa Adel karena lucu melihat wajah kaget Elvino.
"Astaga! Adelia Putri!" El mengeram. Karena dia pikir memang jamnya sudah setengah delapan pagi. Tahu-tahunya masih jam enam lewat lima menit.
"Haa.. ha... jadi kamu benar-benar takut ya jika hari ini sampai datang terlambat." Adel masih terus tertawa sehingga El pun menggelitik dirinya.
__ADS_1
"Haa... El, aku, haa... perutku sakit gara-gara tertawa. Jadi tolong hentikan," ucap gadis itu yang langsung membuat Elvino berhenti menggelitik istrinya dan bertanya khawatir.
"Apanya yang sakit? Ma--maafkan aku," kata pemuda itu menatap lekat perut sang istri.
"El, kamu tidak perlu meminta maaf. Perutku bukan sakit kenapa-napa. Tapi karena terlalu banyak tertawa," jawab Adelia menyengir kuda.
"Aaaaa... ini pipinya mau aku gigit?" seru si tampan Elvino menarik kedua pipi Adelia dengan gemasnya.
"Elvino, kenapa kamu malah menarik kedua pipiku," keluh si ibu hamil. Sambil memanyunkan bibirnya ke depan.
"Kamu itu terlalu menggemaskan. Jadinya aku tarik saja pipimu," tergelak karena Elvino benar-benar sangat suka membuat Adelia cemberut seperti saat ini.
"Mana ada ibu hamil yang menggemaskan. Kamu pasti berbohong, 'kan?" Adelia menatap suaminya penuh selidik.
Soalnya Adel berpikir jika Elvino sedang menggombali dirinya dengan jurusan ala si tampan yang otaknya tidak digunakan untuk belajar. Melainkan buat merayu para gadis agar semakin tergila-gila padanya.
"Eh, kenapa jadi marah?" El menahan kedua tangan istrinya yang sudah mau memukul dada bidangnya.
"Kamu pasti lagi mempraktekkan cara untuk merayu para pacar-pacarmu kan? Ayo mengaku," desak si ibu hamil tidak mau kalah.
Gleeek!
"Astaga! Adelia Istriku! Aku tidak berbohong. mana mungkin aku lagi belajar cara praktikkan tutorial merayu gadis. Receh sekali bila aku yang merayunya lebih dulu," pemuda itu yang sudah kembali ke alam sadarnya.
"Apakah selama ini kamu tidak ada merayu para kekasihmu?" tadi datang marahnya secara tiba-tiba. Lalu saat ini dengan tiba-tiba pula Adelia berbicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Tidak! aku tidak pernah merayu wanita manapun," jawab Elvino jujur. Soalnya dia memang tidak ada merayu para mantan kekasihnya terkecuali di saat baru awal kenalan saja.
"Oh, kalau begitu cepat mandi sana! Biar aku siapkan pakaian untukmu," titah si ibu hamil yang membuat Elvino menyergit sampai satu alisnya terangkat keatas.
"Adel, kamu baik-baik saja kan," tanyanya sambil menyentuh kening sang istri menggunakan punggung tangannya.
"Tentu aku baik-baik saja, memangnya ada yang aneh padaku?" bukan yang jawab tapi malah kembali bertanya.
"Astaga! Jadi yang dibilang oleh papa waktu itu ngidam anehnya mama seperti ini? Aaaa.. kenapa aku semakin yakin jika anak yang dikandung Adelia memang bibit dariku. Soalnya ngidam Adel dan mama hampir sama." Elvino berteriak di dalam hatinya yang kembali bergumam diiringi senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"El, kamu kenapa? Disuruh mandi malah tersenyum-senyum sendiri,"
"Eum... tidak ada apa-apa. Baiklah ibu hamilku! Sekarang aku akan mandi dan tolong siapkan pakaian kerja untukku, oke!" seru Elvino dengan semangat empat limanya. Pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Dasar aneh!" kata Adel bergumam kecil. Namun, tidak lama setelah itu. Senyum manisnya terbit seperti mana matahari di luar sana yang bersinar cerah.
"Apa tadi, dia bilang aku ibu hamilnya," tidak berbeda jauh dari Elvino. Si ibu hamil pun ikut tersenyum-senyum sendiri. Sambil mengelus perut buncitnya.
"Adel, apa yang kamu lakukan," ucapnya pada diri sendiri. Lalu dia pun turun dari atas tempat tidur dan merapikan kembali ranjang berukuran king size tersebut.
Setelah itu barulah dia berjalan ke arah lemari tempat baju Elvino. Untuk menyiapkan pakaian yang kan dipakai oleh suaminya hari ini.
"Sepertinya yang ini saja. El kan bukan bos nya. Tapi dia hanya Staf biasa," berbicara sendiri sambil menutup pintu lemari tersebut. Lalu dibawanya ke arah ranjang tempat tidur, dan diletakkan di sana dengan rapi.
Sedangkan dia sendiri membereskan meja tempat Elvino belajar tadi malam. Soalnya hanya pekerjaan itulah yang bisa ia lakukan. Adelia tidak mau bermanja-manjaan. Meskipun di sana memiliki begitu banyak asisten rumah tangganya.
Sekitar lima belas menit kemudian, El sudah keluar dalam keadaan segar dan hati berbunga-bunga, karena merasa bahagia dengan ngidam Adelia yang sama seperti sang ibu saat hamil dirinya dulu.
Elvino tahu setelah di ceritakan oleh Tuan Arka, papanya. Yaitu beberapa minggu yang lalu. Tepatnya saat hampir tengah malam El pulang ke rumah orang tuanya. Hanya untuk meminta dibuatkan nasi goreng.
Setelah ditanya oleh Tuan Arka dan Nyonya Risa. Ternyata putra mereka repot-repot datang hanya karena ingin numpang membuatkan nasi goreng untuk Adelia, dan setelah jadi Elvino memasukkan ke dalam wadah kecil. Lalu dibawa lagi kembali ke Apartemennya.
Sehingga dia mendapat ejekan dari sang ayah, karena dulu beliau juga merasakan betapa repotnya ketika Nyonya Risa hamil Elvino.
Boleh dikatakan bahwa Elvino ini anaknya sudah nakal sejak masih di dalam kandungan ibunya dan sialnya sekarang malah menurun pada kehamilan Adelia.
"El, itu pakainya. jika tidak cocok kamu tukar saja sendiri," ucap Adelia tanpa menoleh ke arah belakang, karena saat ini si ibu hamil sedang duduk di atas sofa sambil menunggu suaminya selesai mengganti pakaian.
"Iya, terima kasih! Kamu mandi sana. Airnya sudah aku siapkan," titah El sambil membawa baju yang disiapkan oleh sang istri masuk kedalam ruang ganti.
"Huem, bentar lagi," jawabnya karena merasa malas untuk mandi.
"Astaga! Adelia, kenapa belum mandi juga? Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi." ucap Elvino yang sudah keluar dari ruang ganti. Sehingga membuat Adel berdiri untuk melihat ke arah sumber suara suaminya.
__ADS_1
"Kenapa dia tetap terlihat keren? Seharusnya biasa-biasa saja kan," gumam Adel menatap lekat Elvino.
... BERSAMBUNG......