Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Keseriusan Arya.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Kak, ayo ke depan, Raya mau bilang ke Bibi untuk membuatkan minuman." Raya mengulangi perkatanya pada sang kakak karena El yang mau bertemu Arya. Jika kedua orang tuanya sudah saling kenal.


"Arya sudah datang, Dek?" tanya Nyonya Risa dan Adelia serempak. Sedangkan El tidak bicara apa-apa pemuda tampan itu langsung saja berdiri dari tempat duduknya.


"Sudah, Ma, Kak," jawab Raya membenarkan. Lalu si cantik pun pergi ke dapur untuk menemui asisten rumah tangganya.


Cup!


"Sayang, aku ke depan dulu," ucap El masih sempat-sempatnya mengecup pipi Adelia dihadapan mamanya yang hanya tersenyum melihat keharmonisan rumah tangga anaknya.


Elvino memang sangat romantis pada istrinya. Jadi semua keluarga mereka tidak merasa heran lagi.


"Huem, iya, pergilah! Aku mau disini saja menemani mama," jawab Ade karena dia tidak ingin ikut campur urusan suaminya.


"Ma, El ke depan," pamit pemuda itu sebelum meninggalkan ruang tengah dan menemui kekasih adiknya di ruang tamu, yang diiyakan oleh Nyonya Risa.


Sama seperti Adelia, beliau dan suaminya juga tidak ingin ikut campur karena mereka semuanya yakin bahwa Elvino. Si mantan playboy cap kampak yang sudah menjadi suami dan ayah idaman itu tahu mana yang terbaik buat adiknya.


"Selamat pagi," suara Elvino membuat Arya yang tadinya lagi menatap pada ponsel langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Jadi dia yang bernama Elvino Atmaja Wijaya. Sangat tampan, pantas saja Almarhum kakakku mencintainya sampai mati." gumam Arya tidak memungkiri ketampanan El yang sangat sempurna dimatanya.


"Selamat pagi juga... Kak," jawab Arya yang bingung mau memanggil El degan sebutan apa.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu," El berjalan mendekati Arya dan bersalaman dengan pemuda itu. "Mari silahkan duduk," ajaknya lagi yang memilih duduk di hadapan Arya.


"Iya, Kak, terima kasih!" Arya kembali duduk seperti tadi dan menyimpan ponselnya.


"Sejak kapan kamu berpacaran dengan adik Saya?" tanya Elvino langsung tanpa berbasa-basi lagi.


"Eum... sekitar empat bulan kurang lebih sudah selama itu," jawab Arya jujur karena dia memang sejak awal pindah ke kampus yang sama dengan Raya sudah menyukai gadis itu.


Namun, niatnya untuk menyakiti Raya setelah mencari tahu siapa laki-laki yang sudah membuat kakaknya memilih bunuh diri. Daripada menikah dengan laki-laki pilihan orang tua mereka, karena sang kakak masih mencintai Elvino.


"Apakah kamu asli orang sini, atau pendatang? Soalnya Saya dengar Raya menyebut kamu adalah anak pindahan dari kampus lain?" meskipun El sudah tahu dari adiknya tadi. Dia tetap bertanya sendiri tentang kebenaran dari Arya.


"Saya pindahan dari luar negeri, tepatnya dari negara Australia karena mami Saya orang sana. Tapi jika papi asli orang sini,"


"Oh," El mengagguk kecil. "Apakah kamu memiliki pacar lain selain Raya?" gara-gara kelakuannya yang tidak pernah memiliki kekasih satu orang. Membuat El bertanya demikian pada Arya.


Padahal meskipun Arya memiliki kekasih lain. Mana mungkin dia mau mengaku pada kakak dari kekasihnya.


"Tidak! Saya hanya memiliki satu mantan kekasih yang ada di Australia juga. Tapi kami sudah lama putus, dari sebelum Saya pindah ke sini." Arya yang ingin tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Elvino. Tetap menjawab dengan serius karena dia sudah menduga bahwa El akan mengintrogasi dirinya.


"Rupanya kamu takut juga bila adikmu disakiti. Apa yang aku rasakan saat kehilangan kaka ku, maka kamu juga akan merasakannya setelah aku berhasil menikahi Raya," gumam Arya tersenyum kecil di sudut bibir atasnya.


"Baguslah! Karena Saya tidak ingin kamu menyakiti adik Saya karena gadis lain. Apabila kamu tidak menyukainya, maka tinggalkan dengan cara baik-baik." imbuh si tampan Elvino. Pemuda itu hanya ingin mencari pasangan yang tepat buat adiknya.


"Saya sangat mencintai Raya, jadi Saya tidak mungkin menyakitinya. Bahkan Saya ingin melamar Raya dalam waktu dekat ini," kata Arya dengan sangat serius karena dia memang ingin menjadikan Raya istrinya.


"Melamar! Apakah kamu lagi mabuk? Melamar itu berarti kamu ingin menjadikan adik Saya is---"

__ADS_1


"Saya bersungguh-sungguh mau menjadikan Raya pendamping hidup Saya karena papi sudah sakit-sakitan dan ingin Saya segera menikah. Dan gadis yang Saya cintai hanyalah Raya." Arya memotong ucapan Elvino cepat.


"Saya memang lagi mabuk, tapi bukan karena minuman. Melainkan karena mabuk sudah mencintai Raya, Kak. Jadi tolong restui hubungan kami berdua." lanjut Arya lagi karena dia rela melakukan apapun.


Asalkan niat balas dendamnya pada Elvino bisa terbalaskan. Yaitu membuat Raya mengakhiri hidupnya sama seperti kakaknya juga.


"Serius sekali, bagaimana mungkin kamu sangat yakin mencintai adik Saya dan mabuk karenanya?" mendengar perkataan Arya membuat El memperbaiki cara duduknya.


"Karena Saya sudah jatuh cinta pada Raya dari pandangan pertama. Saya sangat yakin karena belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya." Arya kembali berbicara yang membuat Elvino terdiam dalam waktu sesaat sebelum bertanya hal lain lagi.


"Lalu selain kuliah, apa yang kamu lakukan? Eum... maksudnya apakah kamu bekerja?" setelah mendengar Arya sangat serius.


Membuat si mantan Playboy cap kampak menanyakan lagi tentang kehidupan pemuda yang ada dihadapannya yang terlihat sangat santai. Tidak terlihat sedikitpun bahwa Arya mendekati Raya karena memiliki niat buat balas dendam pada Elvino.


"Saya bekerja di perusahaan Diamond series. Sebagai CEO di sana. Tapi baru sekitar delapan bulan ini karena keadaan papi semakin memburuk."


"Wah, hebat sekali! Sebagai anak laki-laki memang harus bisa menjadi pelindung untuk keluarganya. Bukan hanya pada kedua orang tua saja. Namun, juga pada saudara kita, apalagi bila dia seorang perempuan." El berkata seperti itu karena dia juga pernah di posisi Arya yang menjabat sebagai CEO karena mengantikan papanya yang sakit akibat kecelakaan.


Pada saat itu El berusaha menjadi anak yang berbakti, menjadi suami yang bertanggung jawab dan menjadi kakak terbaik buat keluarganya.


"Iya, Kak. Sekarang Saya memang sedang berusaha untuk menjadi pelindung buat kedua orang tua Saya, karena bila saudara, Saya sudah tidak punya karena dia sudah meninggal dunia sekitar satu tahun lalu." saat menyebutkan kakaknya telah tiada. Terdengar pemuda itu menghela nafas berat.


Namun, El mengerti apa yang dirasakan oleh Arya. Dia saja dulu bisa melewati semuanya karena ada sang istri yang selalu memberinya semangat untuk tetap bangkit. Walaupun hasil akhirnya belum tahu akan seperti apa.


"Apakah kakakmu meninggal belum memiliki keluarga? Agh, maaf! Saya hanya in---"


"Tidak apa-apa! Iya, kakak Saya meninggal dunia sebelum dia menikah. Dia... mengakhiri hidupnya karena tidak mau dijodohkan oleh orang tua kami dan karena hal itulah papi langsung terkena serangan jantung. Namun, sampai sekarang keadaannya belum juga sembuh. Padahal kami sudah membawanya berobat kemana-mana," ungkap Arya tidak berbohong sama sekali.


Memang seperti itulah kenyataannya. Dia memang sengaja menceritakan pada Elvino bahwa kakaknya meningal dunia karena bunuh diri. Agar saat semuanya sudah terbongkar nanti. El bisa tahu kenapa Arya sampai memiliki dendam padanya.


"Saya turut berdukacita! Kamu yang sabar karena setiap masalah pasti ada hikmahnya. Dulu saat papa kami mengalami kecelakaan. Saya juga menghadapi masalah besar di perusahaan. Namun, setelah begitu banyak mendapatkan ujian, sekarang kami semua sudah bahagia." ucap El bersimpati karena dia tidak menyangka bahwa kisah Arya lebih menyedihkan daripada dirinya kala itu.


"Terima kasih, Kak. Tapi setelah mendengar cerita Saya. Tolong jangan melarang Saya menjalin hubungan dengan Raya karena Saya sangat mencintainya." pinta Arya yang tidak mungkin mengurungkan niatnya untuk menikahi Raya.


Arya tidak ingin terlalu lama berhubungan dengan Raya karena dia ingin dalam waktu tiga bulan setelah menikahi adik dari orang yang dia benci. Raya sudah mati bunuh diri.


Meskipun dia harus berperang dengan hatinya sendiri karena harus tega melakukan hal itu pada gadis yang sangat baik seperti Raya. Namun, bila sudah mengigat seperti apa kehancuran keluarganya gara-gara Elvino. Membuat perasaan tersebut hilang ditutupi oleh dendam.


"Haa... ha... Saya tidak akan melakukannya, bila kamu benar-benar berniat baik dan sangat mencintainya." tawa Elvino yang menyukai cara Arya yang terlihat sangat pemberani mengungkapkan keinginan untuk menikahi Raya dan juga tidak malu menceritakan bahwa kakak perempuannya mati bunuh diri.


Menurut El yang merupakan seorang mantan Playboy cap kampak. Tentu Sikap Arya tidak menunjukkan bahwa memiliki niat buat menyakiti adik gadisnya.


"Apakah Kakak memberi Saya izin untuk menikahi Raya?" seru Arya langsung.


"Tentu, tapi bukan sekarang. Kalian baru berpacaran dan sudah pasti belum mengenal satu sama lain. Jadi sekarang silahkan jalani semuanya seperti semula." jawab El tersenyum kecil.


"Walaupun pemuda ini terlihat baik dan nampaknya tidak menunjukkan jika dia seorang playboy. Aku tidak akan melepaskan adikku begitu saja. Raya adalah adikku satu-satunya. Aku tidak ingin dia menderita setelah menikah."


Elvino bergumam di dalam hatinya karena dia akan memberikan Arya kesempatan. Sampai dia mendapatkan bukti bahwa Arya benar-benar pemuda baik-baik.


"Baiklah! Saya akan sabar menunggu sampai Kakak memberikan Saya Izin buat menikahi Raya. Saya akan buktikan bahwa Saya layak untuk menjadi pendamping hidupnya." jawab Arya setuju karena dia tidak mungkin memaksa untuk menikahi Raya bila belum mendapatkan restu dari Elvino.


Sebab waktu itu Tuan Arka dan Nyonya Risa juga sudah pernah mengatakan. Bahwa untuk menikahi Raya, maka harus bisa menaklukkan hati Elvino karena pasangan suami-istri itu akan menyerahkan segala keputusan pada putra sulung mereka.


Lama menunggu kedatangan Raya yang belum juga datang. Elvino dan Arya akhirnya membicarakan masalah pekerjaan. Mau apa lagi yang akan dibicarakan karena El sudah tahu tentang kekasih adiknya.


Tap!


Tap!

__ADS_1


Suara langkah kaki Raya datang membawakan minuman beserta makanan ringan juga.


"Maaf, sudah menunggu lama," ucap si cantik tersenyum sembari meletakan dua gelas Teh hangat di atas meja dan juga piring makanan yang ia bawa.


"Adek pergi mengambil minumannya di mana? Apakah mencari asal-usul airnya terlebih dahulu?" kata El sambil melihat jam pada pergelangan tangannya.


"Haa... haa... Kakak apa-apaan sih, Raya lama karena di bayi tu minta ditemani memberi kelinci makan." tawa Raya yang langsung duduk disamping Arya.


Namun, dengan jarak cukup jauh, tidak berdekatan karena mana berani dia didepan kakaknya bermesraan.


"Lalu mana dia, kenapa tidak ikut kesini?" El ikut tersenyum setelah mengingat putranya.


"Ada diruang tengah, lagi bersama mama dan Kak Adel,"


"Ar, ayo minum tehnya karena ini sangat langka. Aku membuatnya sendiri." ucap Raya pada kekasihnya.


"Iya, terima kasih!" jawab Arya tersenyum simpul.


"Wah, jika begitu harus berhati-hati, Ar, karena Raya sangat jarang membuat minuman. Takutnya kita akan sakit perut," imbuh El yang membuat Raya menatap kakaknya tajam. Sedangkan yang ditatap hanya cuek saja sambil mencicipi Teh yang dibuat oleh sang adik.


Saat mereka kembali mengobrol. Suara langkah kaki kembali terdengar. Akan tetapi kali ini lebih berisik karena yang datang adalah Eza membawa mobil-mobilan dan diikuti oleh mamanya dari belakang.


"Eh, bayinya Papa Elvino datang lagi," seru Raya tertawa dan berdiri dari sofa untuk mendekati keponakannya.


"Onty diam, Eda mau tama papa," si kecil yang tidak suka dicium terus-menerus mendorong jauh muka sang Tante agar menjauh.


"Tidak boleh, Eza harus kenalan sama Om Arya dulu," cegah Raya yang membuat Eza diam dan melihat kearah sofa.


"Om tapa?" tanya si kecil berjalan mendekati Arya.


"Hai, Om ini pacarnya Onty Eza. Ternyata sangat tampan, ya. Pantas saja Onty Raya selalu membicarakan mu," jawab Arya bersalaman dengan tangan kecil Eza.


Mereka berdua berkenalan seperti mana layaknya orang dewasa saja. Soalnya Eza memang sudah biasa ikut papanya ke perusahaan. Ataupun ikut menghadiri acara-acara penting.


Jadi si kecil tidak takut pada orang-orang yang belum dia kenal. Apalagi Eza memang anaknya sangat pintar. Tidak sama seperti papanya yang kuliah jurusan manajemen saja sudah seperti kuliah para mahasiswa kedokteran.


"Om Alya duga tapan," Eza yang dipuji juga ikut memuji ketampanan Arya. Hanya saja pemuda itu terlihat lebih dingin bila dibandingkan dengan Elvino.


"Haa.. ha... aduh Bayi Eza sudah mengakui jika Om Arya tampan. Jika Om jelek maka Onty Raya juga tidak mau," ucap Raya sambil menarik pipi keponakannya.


"Eh, Astaga hampir lupa! Maaf Kak, Raya lupa pada Kakak gara-gara bayi ini," seru Raya baru menyadari belum memperkenalkan kakak iparnya pada sang kekasih.


"Tidak apa-apa! Teruskan saja, Kakak hanya mau mengantar Eza." jawab Adel ikut tersenyum mendengar ucapan putranya.


"Tidak-tidak! Kakak harus berkenalan sama Arya," Raya berdiri dari duduknya untuk memperkenalkan Arya.


"Ar, kenalkan, ini kakak perempuan ku. Mamanya Eza dan istrinya Kakak Elvino." ucap gadis itu memperkenalkan keduanya.


"Hai Kak, kenalkan Saya Arya," ucap pemuda itu ikut memperkenalkan dirinya. Bagitu pula sebaliknya, Adelia juga ikut memperkenalkan dirinya. Namun, tidak lama setelah itu Arya meminta Izin untuk membawa Raya ke rumah orang tuanya.


"Kak, hari ini Saya mau mengajak Raya main ke rumah. Soalnya mami sangat ingin bertemu dengannya." Arya bicara pada Elvino karena dia sudah berhasil membuat si mantan playboy cap kampak percaya pada niatnya mendekati Raya.


"Pergilah! Tapi hati-hati, kamu membawa adik Saya dalam keadaan baik-baik saja dan kebalikan lagi dalam keadaan yang sama." jawab Elvino tidak ingin membatasi kebebasan adiknya.


Meskipun jika untuk keputusan selanjutnya tetap dia yang menentukan. Akan tetapi apapun yang El lakukan demi kebaikan adiknya.


"Eza, Om pinjam Onty Raya, ya," ucap Arya pada Eza yang sejak tadi duduk bersamanya.


"Iya, Eda mau tama papa aja," jawab si tampan Eza langsung minta diturunkan karena dia mau mendekati kedua orang tuanya.

__ADS_1


... BERSAMBUNG... ...



__ADS_2