
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Sepuluh hari sudah berlalu.
Keadaan Raya sudah dinyatakan sembuh. Tidak ada yang namanya gagal operasi seperti papanya beberapa tahun lalu. Maka selama sepuluh hari itulah Sisil menemaninya.
Raya menolak tidak mau dirawat oleh Arya. Jadinya tidak ada yang memaksanya karena mereka tahu perasaan Raya sangat terluka. Bagi keluarga mungkin bisa memaafkan karena mereka bukanlah korban dari kebohongan yang Arya lakukan.
Akan tetapi tidak dengan Raya. Hatinya benar-benar sudah terlanjur kecewa dan merasa sebagai wanita yang begitu bodoh. Menjalin hubungan lebih dari setengah tahun dan selama itulah dia hidup dalam kebohongan yang berpura-pura mencintainya.
Hari ini adalah waktunya dia pulang. Akan tetapi bukan ke Apartemen Arya lagi. Melainkan ke rumah mertuanya dan Arya yang akan ikut tinggal dirumah mertuanya karena mau seperti apapun. Raya adalah istri sahnya. Calon ibu dari anaknya yang sedang dikandung gadis itu.
Meskipun dia tidak bisa berjalan. Begitu banyak luka bekas jahitan. Tidak membuat si putri bungsu Wijaya terpuruk. Justru dia sangat tegar.
Malah sebaliknya orang-orang disekelilingnya yang merasakan prihatin melihat Raya harus berjalan menggunakan tongkat. Belum lagi rambut panjangnya sudah dipotong pendek atas permintaan Raya sendiri.
Raya memotong rambutnya karena saat mereka berpacaran. Arya selalu bilang begitu suka melihat rambut panjangnya. Maka dari itu dia potong.
Agar kenangan indah yang sangat menyakitkan itu bisa segera dia lupakan. Raya harus bangkit tidak boleh terpuruk oleh keadaan. Itulah yang gadis itu pikirkan karena hidupnya harus tetap berlanjut. Bersama Arya ataupun tanpa seorang suami bersamanya.
Selama sakit Raya juga tidak pernah meminta bantuan Arya. Apabila membutuhkan sesuatu dia akan meminta tolong pada Sisil dan jika sepupunya tidak ada. Raya akan berusaha sendiri dengan kakinya yang cacat.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki Dokter yang masuk kedalam ruang rawat VIP tersebut. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Raya diperbolehkan pulang apabila hasil pengecekan terakhirnya benar-benar sudah sembuh kecuali kakinya saja dan hasil tersebut baru keluar jam empat tadi. Makanya sore ini mereka baru bersiap-siap untuk pulang.
"Selamat sore semuanya," sapa Dokter Mirza tersenyum kearah Raya yang duduk diatas ranjang.
"Sore juga, Dok," jawab mereka yang ada disana.
"Bagiamana, apakah Nona sudah siap untuk pulang? Dan tidak merasakan pusing atau sebagiannya lagi, kan?" dokter tersebut kembali memastikan.
"Saya sudah siap untuk pulang, Dok. Saya sudah sembuh dan tidak merasakan pusing ataupun yang lainnya," jawab Raya tersenyum kecil.
Arya yang duduk dipinggiran sofa degan tangan ia lipat didepan dada hanya diam menatap wajah istrinya.
"Dulu Raya adalah gadis yang periang dan selalu tersenyum. Tapi karena diriku sekarang dia lebih banyak diam pada siapapun itu. Ya Tuhan... aku mohon semoga Raya mau membuka pintu hatinya untuk memberiku kesempatan."
Gumam Arya didalam hatinya karena sekarang Raya memang sudah berubah. Lebih pendiam walaupun ada kelurganya yang lain. Yaitu lagi berkumpul dalam ruang rawatnya.
Saat ditanya oleh Nyonya Risa, Adelia ataupun keluarga yang lainya. Dia hanya menjawab. Raya baik-baik saja. Hanya lagi malas bicara saja. Hanya itulah yang Raya katakan.
"Syukurlah jika Nona tidak merasa pusing ataupun yang lainnya. Kalau begitu sekarang Saya sudah mengizinkan Anda untuk pulang. Tapi ingat harus makan dan minum obat yang teratur. Jaga kesehatan agar calon baby nya juga sehat," pesan si dokter sangat salut pada tekad Raya untuk sembuh lebih cepat daripada perkiraan.
"Iya, Dok. Terima kasih karena kalian semua sudah mau Saya repot kan,"
"Tidak merepotkan sama sekali karena ini adalah kewajiban kami untuk merawat, Anda," jawa Dokter Mirza menoleh kearah Arya, Elvino dan Nyonya Risa. Jika Tuan Arka dan Adelia mereka menunggu dirumah saja karena baru pulang dari rumah sakit sekitar jam tiga sore.
Gara-garanya si Baby Eza mengikuti Dokter Rani memeriksa pasien yang melahirkan. Eza begitu suka melihat para bayi yang baru lahir karena merasa dia sudah besar.
__ADS_1
Alhasil Adelia harus menunggu putranya selesai menjadi asisten dadakan Dokter Rani yang sudah dibilang tante oleh anaknya.
"Nyonya, Tuan Muda El, Arya. Sekarang kalian bawalah Nona Raya pulang. Tapi lima hari dari sekarang harus dibawa ke rumah sakit lagi untuk melakukan pemeriksaan dan terapi pada kakinya," ucap si dokter.
"Iya, kami mengerti, Dok," jawab mereka serempak. Lalu karena semuanya sudah siap sejak tadi. Raya pun dibantu turun dari atas ranjang. Gadis itu duduk di atas kursi roda dulu sampai ke lobby rumah Sakit.
Kali ini yang mendorong kursi rodanya adalah Arya. Begitupun yang membantunya turun dari ranjang pasien tadi. Raya tidak menolak karena tidak mau dipandang buruk oleh orang-orang yang mengenal mereka.
Akan menjadi aneh bila dia didorong oleh kakaknya. Sedangkan Arya juga ada. Sudah pasti orang luar tahu jika hubungannya dan Arya tidak baik-baik saja.
"Kak, Ma. Raya sama aku saja," ucap Arya begitu tiba didekat mobil mereka yang sudah disiapkan oleh pengawal Wijaya.
"Iya, Mama mau mampir di toko kue juga. Nanti pasti ada keluarga yang datang dan kita tidak ada makanan di rumah," jawab Nyonya Risa juga ingin Raya pulang bersama Arya. Agar keduanya bisa lebih dekat lagi karena sebagai orang tua tentu beliau ingin rumah tangga anaknya baik-baik saja.
Tidak sampai berpisah. Apalagi saat ini Raya lagi mengandung. Alangkah lebih baiknya bila sang cucu dibesarkan ayah dan ibunya.
"Huem, iya. Hati-hati," Elvino juga menjawab disertai anggukan kepalanya. Lalu setelah membantu adiknya masuk kedalam mobil dan Arya menjalankan mobilnya lebih dulu. Barulah Elvino dan mamanya menyusul dari belakang.
"El," panggil Nyonya Risa pada sang putra yang memperhatikan jalanan yang ramai karena sudah sore.
"Apa, Ma? Mama mau ke Toko kue Tante Inez atau toko kue lainya?"
"Kita ke Toko kue Tante Inez," jawab wanita setengah baya itu sebelum melanjutkan ucapannya. "Bagiamana bila Raya memutuskan mau berpisah dari Arya? Mama tidak mau mereka berpisah. Kasihan keponakan mu bila kedua orang tuanya berpisah, Nak,"
"Soal itu El juga belum tahu, Ma. Kita tidak bisa memaksa adek untuk mempertahankan rumah tangganya. Walaupun Arya tidak sepenuhnya bersalah. Tapi adek pasti masih sakit hati karena merasa dibohongi," Elvino menjawab dengan helaan nafas berat karena semua itu tidak akan pernah terjadi bila dia tidak mempermainkan Almarhum Cica.
"Coba kamu ajak dia berbicara pelan-pelan. Mana tahu adek mu adikmu bisa memaafkan Arya," ujar beliau penuh harap.
"El sudah berulang kali melakukannya, Ma. Selama menemaninya di rumah sakit, apabila hanya ada kami berdua. El sudah membujuknya dan bertanya kenapa dia tidak mau dirawat oleh Arya. Tapi Raya hanya menjawab bahwa dia baik-baik saja dan tidak mau menyusahkan orang lain," terang Elvino karena dia memang sudah terus berbicara pada adiknya agar jagan bersikap seperti itu pada Arya.
Soalnya Elvino yang melihat Arya dicuekin merasa kasihan pada adik iparnya. Dia juga sebagai seorang suami yang mencintai istrinya. Bila Adel marah sebentar saja sudah frustasi. Apalagi Arya yang sudah didiamkan hampir dua Minggu.
"Jadi dia juga tidak mau bicara jujur padamu?" seru Nyonya Risa cepat.
"Iya, Ma. Mama pikir El tidak merasa bersalah pada mereka berdua. El juga tidak mau mereka sampai berpisah. Apalagi Arya itu benar-benar mencintai Raya. Sejak adek masuk rumah sakit dia tidak pernah tidur saat malam hari. Karena takut bila Raya membutuhkan sesuatu atau kenapa-kenapa," ungkap pemuda itu yang selalu memperhatikan adik iparnya saat menjaga Raya.
"Kita berdo'a saja semoga adek bisa segera memaafkan Arya. Agar mereka bisa hidup bahagia bersama si calon penerus Wijaya berikutnya," ucap Elvino mendo'akan rumah tangga adiknya.
"Iya, kamu benar. Semoga saja Raya bisa memaafkan Arya. Namun, apabila dia tetap pada keputusannya. Kita hanya harus mendukung apapun itu karena jangan sampai dia merasa tidak memiliki keluarga. Hanya karena kita ingin dia dan Arya tetap bersatu," imbuh Nyonya Risa yang sama saja dengan keluarga yang lainnya.
Namun, apapun itu mereka tidak mau ikut campur terlalu dalam. Yaitu untuk memaksa agar keduanya jangan sampai berpisah.
"Iya, Ma. Kita harus membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Baik menurut kita, belum tentu baik untuk adek. Jangan sampai dia kembali menderita karena kita," Elvino pun mengangguk setuju.
Sementara itu di dalam mobil Arya yang tidak terlalu jauh dari mereka.
"Sayang, apakah kamu mau sesuatu?" tanya Arya menoleh kearah Raya. Saat ini mobil mereka masih berhenti di lampu merah. Arya tidak bisa membawa mobilnya cepat karena jalanan begitu ramai oleh motor dan mobil karyawan yang baru pulang bekerja.
"Tidak," Raya menjawab singkat. Sehingga Arya kembali menghela nafas dalam-dalam. Entah sampai kapan Raya bersikap dingin padanya.
"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar bersalah sudah---"
"Kita bicarakan saat dirumah. Sekarang aku hanya ingin menikmati pemandangan ini," sela Raya belum mau membahas masalah apapun.
"Oke-oke! Tapi apapun yang mau kamu bicarakan. Tolong jangan menyuruhku pergi karena aku tidak akan pernah melakukannya," Arya kembali mengalah.
Padahal dari semenjak Raya sadar sudah sering Arya mau membahas masalah diantara mereka. Akan tetapi Raya selalu bilang jangan bicarakan sekarang. Sehingga Arya pun diam tidak memaksa karena tahu bahwa kesehatan istri dan anaknya jauh lebih baik.
Berhubung Raya tidak mau apapun. Arya langsung menjalankan kendaraannya menuju rumah sang mertua. Hanya sekitar sepuluh menit kemudian mereka pun sudah sampai.
__ADS_1
Lalu sama seperti tadi. Arya membantu Raya turun. Akan tetapi saat ini Raya hanya mengunakan tongkat saja bukan kursi roda. Setelah menutup pintu mobilnya Arya pun cepat-cepat mengikuti Raya dari belakang.
Takut bila istrinya tersandung hingga terjatuh. Apabila hal itu sampai terjadi maka sudah pasti Arya akan dihabisi oleh Elvino ataupun mertuanya karena sudah gagal menjaga Raya degan baik.
"Selamat datang..." sambut Adelia, Eza dan juga Tuan Arka. Ada juga para asisten rumah tangga juga ikut menyambut kepulangan Raya.
"Wah, Baby Eza tampan sekali," puji Raya langsung tersenyum lebar begitu melihat Eza mendekat dan menuntunnya menuju sofa.
"Butan Baby Eda, tapi tampan Eda," jawab si kecil membeberkan bahwa dia bukanlah bayi lagi. Melainkan si tampan Eza. Titisan si playboy cap kampak ternyata selalu memuji dirinya tampan.
"Benarkah? Wah sepertinya ini semua gara-gara Eza berteman sama Tante Rani, ya," tebak Raya yang sebetulnya ingin mengejek keponakannya.
"Sayang, mama mana?" tanya Tuan Arka mengelus kepala putrinya. Ya, si Baby Eza membawa Raya duduk bersama dia dan opanya. Sedangkan Arya duduk sendirian di sofa tunggal.
"Mama sama kakak lagi mampir ke toko untuk membeli kue," jawab Raya menatap pada Arya sekilas. Mereka berdua sudah tidak terlihat seperti pasangan suami-istri lagi.
Soalnya Raya selalu menjaga jarak. Dari semenjak sadar Raya sudah membangun dinding pembatas diantara mereka berdua dan itu sangat menyiksa Arya.
"Ar, kamar kalian dipindahkan ke kamar tamu. Agar Raya tidak perlu menaiki tangga. Jadi bila kamu mau istirahat pergilah. Kantung mata mu semakin terlihat seperti panda," ucap Tuan Arka karena mana tahu menantunya mau beristirahat.
Walaupun tidak ikut menjaga putrinya di rumah sakit. Akan tetapi beliau juga tahu jika Arya tidak pernah tidur di saat malam harinya. jika pun tidur pada siang hari itu tidak lebih dari satu jam.
"Iya, Pa. Arya juga berpikiran untuk tidur di kamar bawah saja," jawab Arya terdiam sejenak.
"Nanti saja, Arya tidak lelah," tolaknya dengan halus, karena dia akan masuk ke kamar bila bersama Raya.
"Baiklah, terserah padamu. Papa hanya tidak ingin kamu malah ikutan sakit karena sudah berjuang cukup keras untuk menjaga Raya selama di rumah sakit," Tuan Arka sengaja berbicara seperti itu agar Sang Putri bisa luluh hatinya.
"Ini sudah menjadi kewajiban ku untuk menjaga Raya, Pa. Melihat Raya sudah sembuh saja membuatku sangat bahagia," tutur pemuda itu membuat Raya tersenyum geli didalam hatinya.
"Pintar sekali dirimu berbicara manis Arya. pantas saja aku bisa tertipu oleh kata-kata palsumu itu." gumam Raya di dalam hatinya.
"Papa, Kak. Raya mau ke kamar dulu. Rasanya aku mau baring saja," pamit gadis itu mau pergi ke kamar.
"Pergilah, ajak Arya istirahat," kata Tuan Arka mengiyakan.
"Iya, pergilah. Kamu istirahat dikamar saja. Nanti saat makan malam kakak akan mengantar makanan untukmu dan Arya," jawab Adelia bisa menebak jika adik iparnya merasa tidak nyaman dengan perkataan Arya.
"Huem," Raya hanya berdehem kecil. Lalu dia menatap pada Arya dan berkata. "Apakah kamu tidak mau beristirahat?" ucapnya seperti sebuah pertanyaan, bukan ajakan.
Sebelum Arya menjawab pun Raya sudah pergi ke kamar lebih dulu diantar oleh asisten rumah tangga mereka.
"Ar, bersabarlah perempuan apabila lagi marah memang seperti itu. Papa harap kamu dan Raya bisa menyelesaikan masalah diantara kalian secara baik-baik," ucap Tuan Arka pada sang menantu yang masih duduk dihadapan beliau.
"Sekarang pergilah ikuti dia. Kamar sebelah kira dari tangga kelantai atas. Itulah kamar kalian yang baru," lanjut beliau lagi.
"Iya, Pa. Aku ke kamar dulu," jawab Arya memang harus selalu bersabar menghadapi Raya yang marah padanya. "Kak, aku kekamar dulu," pamitnya pada Adelia.
"Iya," Adel menjawab singkat menatap punggung Arya yang semakin menjauh dari mereka.
Ceklek!
Suara pintu kamar dibuka oleh Arya. Lalu dia berjalan mendekati Raya yang lagi duduk di pinggir ranjang tempat tidur.
"Sayang, maafkan aku. Tolong jangan seperti ini karena aku benar-benar tersiksa kamu abaikan," ucap Arya tidak bisa menahan dirinya untuk menunggu Raya yang membicarakan masalah mereka lebih dulu.
"Jika kamu sudah tidak tahan, maka cepat urus surat perceraian kita. Aku ingin berpisah darimu," jawab Raya yang membuat Arya langsung menatap lekat pada istrinya yang terlihat santai.
...BERSAMBUNG......
__ADS_1