Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Digantung Pada Pohon Toge.


__ADS_3

💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Hari begitu cepat berlalu. Siang sudah berganti malam dan malam telah berganti siang lagi. Sudah dua hari Raya dirawat di rumah sakit dan masih dalam keadaan kritis. Tidak ada perubahan sama sekali.


Rencananya apabila selama satu minggu tidak ada perubahan. Maka gadis itu akan dibawa berobat ke luar negeri. El dan Arya sekarang sudah kembali berbaikan jadi mereka berdua ingin membawa Raya berobat kemanapun asalkan bisa sembuh.


Untungnya keadaan Nyonya Risa tidak drob lagi karena selalu dihibur oleh si tampan Eza. Kemaren sore beliau sudah pulang kediaman keluarga Wijaya begitupun dengan Tuan Arka yang menginap di rumah sakit hanyalah Elvino, Arya Wiguna dan Arya suaminya Raya.


Ketiga pemuda tampan itu tidak ada yang tidur di kamar VIP. Mereka hanya duduk di depan ruang ICU sambil bermain ponsel ataupun sesekali mengobrol di sana.


Apalagi Arya. Semenjak istrinya masuk rumah sakit. Dia hanya tidur paling lama setengah jam. Itu pun apabila tidak benar-benar mengantuk. Selebihnya pemuda itu malah duduk di kursi tunggu depan ICU sambil memeriksa pekerjaannya.


Yaitu untuk menghilangkan rasa jenuh. Walaupun Tuan Yudha ayahnya sudah mengatakan agar semua pekerjaan diserahkan kepada sekretaris beliau dan juga sekretaris Demian.


Namun, Arya tetaplah tidak lepas tangan begitu saja pada tanggung jawabnya di perusahaan hanya saja untuk saat ini dia tidak pernah datang lagi ke sana karena hanya ingin menemani sang istri di rumah sakit.


Satu-satunya perubahan yang terjadi hanyalah Raya bisa merespon baik setiap orang yang mengajak dirinya berbicara. Gadis itu selalu meneteskan air matanya apabila Arya, maupun keluarga lainya datang untuk menjenguk.


"Bagiamana, Dok? Apa yang terjadi?" tanya Arya degan deguban jantung merasakan takut apabila sudah terjadi sesuatu pada istrinya.


Tadi saat Arya lagi menjeguk dan mengajak Raya berbicara tiba-tiba saja alat monitor berbunyi cukup kencang disertai tubuh Raya yang kejang-kejang. Kebetulan sekali sekarang hanya ada Arya di sana. Karena Elvino lagi keluar mencari makanan untuk mereka malam ini. Sedangkan Arya Wiguna belum datang. Biasanya udah itu akan datang ke rumah sakit setelah jam sembilan malam. Lalu akan pulang pada pukul tujuh paginya.


"Keadaannya baik-baik saja dan... berita membahagiakan untuk kita semuanya. Saat ini Nona Raya sudah melewati masa kritisnya. Namun, untuk malam ini belum bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Kami akan melihat keadaannya sampai besok pagi. Apabila keadaannya tetap stabil. Maka sudah boleh dipindah ke ruang rawat intensif," jawab Dokter Mirza melakukan pemeriksaan pada si putri bungsu keluarga Wijaya.


"A--apa! Be--benarkah? Ya... Tuhan, terima kasih engkau telah memberikan kemudahan pada istriku untuk melewati masa kritisnya," seru Arya meneteskan air mata bahagianya.


Walaupun Raya belum sadar. Setidaknya gadis itu sudah melewati masa kritisnya dan itu berarti bayi yang dikandungnya juga akan baik-baik saja. Karena kata Dokter Mirza apabila selama tiga hari keadaan Raya masih tetap sama. Maka kecil harapan untuk si calon bayi bisa bertahan untuk tetap hidup di dalam rahim ibunya.


Sedangkan malam ini adalah malam ketiga gadis itu tidak sadarkan diri. Makanya Arya benar-benar sangat terpuruk. Tadi saat Elvino berpamitan untuk pergi keluar. Dia yang sangat gelisah pada memikirkan keadaan sang istri.


Pemuda itu menemui dokter yang berjaga malam ini untuk menjenguk Raya. Lalu setibanya didalam. Diajaknya gadis itu mengobrol sambil menangis. Karena Arya benar-benar takut apabila buah hati mereka tidak bisa bertahan.


Alhasil tangis Arya yang meminta agar Raya bagun malah membuat alat monitor berbunyi nyaring dan tubuh istrinya seperti mengalami kejang-kejang. Akan tetapi ternyata itu menandakan hal baik. Raya malah sudah melewati masa kritis nya.


"Iya benar sekali, Tuan Muda. Ini benar-benar sebuah mukjizat dari Tuhan. Karena dalam hasil pemeriksaan kami tadi siang. Nona Raya tidak memiliki harapan untuk bisa melewati masa kritisnya dalam waktu dekat ini. Namun, ternyata sebuah keajaiban terjadi padanya," dokter muda tersebut mengelus pelan bahu Arya agar bisa tenang.


"Dokter, apakah Saya boleh menemuinya lagi?" tanya pemuda itu yang tidak puas bila belum bertemu istrinya secara langsung.

__ADS_1


Arya ingin mengungkapkan secara langsung pada Raya. Betapa dia bahagia mendengar keadaan istrinya yang sudah lewat masa kritisnya.


"Tentu saja. Tapi tetap degan waktu seperti biasanya ya, ini semua untuk kebaikan pasien," kata si dokter memberikan izinnya.


Kebetulan sekali malam ini yang bertugas adalah Dokter Mirza langsung. Jadi Arya sedikit tenang karena dokter tersebut adalah kepercayaan keluarga Wijaya.


Setelah itu Arya pun mengikuti Dokter Mirza masuk kedalam ruang ICU karena dia memang masih memakai pakaian khusus dari rumah sakit.


"Silahkan, Tuan Muda. Saya akan menunggu di tempat tunggu," titahnya mempersilahkan.


"Iya, terima kasih," jawab Arya berjalan mendekati istrinya yang sudah tidak seperti tadi lagi. Saat ini mulut Raya yang tadinya ada selang yang terhubung dengan komputer disampingnya. Kini sudah dilepas. Begitu pula dengan beberapa alat yang lainnya.


Namun, tidak semuanya dilepas karena keadaan gadis itu baru saja melewati masa kritisnya. Jadi masih membutuhkan alat bantu agar keadaannya tetap stabil.


"Sayang... kamu baik-baik saja, kan? Aku sangat bahagia sekali karena kata Dokter Mirza. Kamu sudah melewati masa kritis," sapa Arya duduk lagi disisi istrinya.


"Kamu harus kuat ya, setelah sadar kami akan membawamu berobat kemanapun. Agar kamu bisa sembuh seperti biasanya," ucapnya menoleh kearah kaki Raya.


"Ya Tuhan! Jika bukan karena perbuatanku. Maka kaki istriku tidak mungkin patah. Dia pasti akan baik-baik saja dan tidak akan pernah merasakan sakit seperti ini." gumam Arya menyeka air mata disudut matanya.


Sakit? Ya! Setiap melihat keadaan Raya. Disitulah Arya merasakan hukuman untuk dirinya yang telah berniat membuat istrinya mati bunuh diri seperti kakaknya.


Sebetulnya bila tidak jatuh cinta pada Raya. Cara Arya balas dendam sangatlah indah. Pertama-tama dia akan menikahi Raya, lalu setelah gadis itu benar-benar mencintai nya. Arya akan berselingkuh dan menunjukan pada istrinya jika dia memiliki wanita lain.


Bila terus-terusan dia berselingkuh. Tentu Raya akan tersiksa dan menderita dengan perlahan. Lalu lama-lama pasti Raya akan frustasi dan Arya akan membuat agar istrinya memilih untuk mati daripada hidup tersiksa.


"Aku sangat menyesali semuanya, sayang. Aku sangat menyesali semuanya," sekuat apapun Arya yang merupakan es balok berjalan. Itulah julukan orang- orang terhadapnya. Tetap saja bila berhubungan dengan Raya. Dia akan meleleh dan tak kuasa menahan air matanya.


Arya bukanlah Elvino. Kakak iparnya itu memang sangat suka tebar pesona. Sudah tampan, kaya raya dan ramah. Seperti itulah menurut para gadis-gadis saat El masih menjabat sebagai Playboy cap kampak.


Dia mulai bersikap dingin pada orang-orang setelah pengkhianatan besar-besaran di perusahaan Wijaya group beberapa tahun lalu.


Begitu juga pada wanita. El menjadi dingin karena takut jika pawangnya mengamuk. Bisa-bisa dia disuruh tidur luar kamar oleh Adel.


Sedangkan Elvino mana bisa berjauhan dari istrinya. Wanita yang membuatnya menjadi anak laki-laki kebanggaan kedua orang tuanya.


Disinilah si playboy cap kampak saat ini. Lagi menunggu pesanan nasi goreng untuknya dan ke-dua Arya adik ipar dan adik sepupunya.


"Aku tidak kenal dengan orangnya," ucap El yang lagi mengobrol dengan teman masa sekolahnya. Disaat sekolah menegah atasnya. Mereka berdua sama-sama lagi menunggu nasi goreng.


"Oh, aku kira kamu bekerjasama dengan dia juga,"


"Tidak! Aku tidak ada bekerjasama dengan perusahaan dari daerah sana. Oya, aku duluan ya, karena adik ipar ku pasti sudah menunggu," ucap Elvino sembari menerima pesanannya.

__ADS_1


Setelah membayar makanan tersebut dan berpamitan pada temannya. El pun kembali ke mobil dan menjalankan kendaraan tersebut menuju rumah sakit.


Tidak membutuhkan waktu lama karena sekitar lima menit. Mobil mewahnya sudah tiba di depan rumah sakit. Lalu seperti biasanya dia cukup memberikan kunci mobil tersebut pada orang-orang Wijaya dan ia pun masuk kedalam.


"Tuan Muda Elvino," seru seorang dokter laki-laki, begitu El tiba di depan ruang ICU. Namun, tidak menemukan siapapun di sana.


"Iya, apakah Dokter melihat adik Saya?" tanyanya yang mengenal dokter tersebut.


"Oh, Tuan Arya lagi berada di dalam. Ada berita bahagia. Nona Raya sudah melewati masa kritisnya,"


"Apa!" seru Elvino mendekati sang dokter.


"Iya, Tuan Muda. Nona sudah melewati masa kritisnya," jawab si dokter membenarkan.


"Syukurlah! Ini yang kami harapkan," ucap Elvino bisa bernafas lega dan diapun duduk di kursi tunggu.


"Kalau begitu Saya pergi dulu, Tuan. Jika ada perlu sesuatu, segera panggil saja kami," pamit dokter tersebut dengan sopan. El hanya mengangguk karena dia benar-benar merasa sangat bahagia setelah tahu keadaan adiknya ada kemajuan.


Lalu dia cepat-cepat mengirimkan pesan pada istrinya agar memberitahu pada kedua orang tuanya dan juga pada group chat keluarga Wijaya. Karena El yakin bahwa Arya pasti tidak akan ingat untuk memberi kabar bahagia tersebut pada keluarga mereka.


Tidak lupa El juga mengirimkan pesan bahagia itu pada orang tuan Arya. Sebab ia tahu bahwa Tuan Yuda dan Nyonya Fanya sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya.


"Terima kasih Tuhan. Terima kasih karena engkau sudah menyelamatkan adikku. Setelah keadaanya membaik. Aku akan menyumbangkan uang sebesar lima milyar ke beberapa tempat panti asuhan dan pakir miskin." gumam Elvino di dalam hatinya yang juga mengucapkan puji syukur atas kesehatan adiknya.


Soalnya Dokter Mirza sudah mengatakan. Apabila Raya bisa melewati masa kritisnya. Maka besar harapan gadis itu untuk sembuh. Makanya Elvino sangat bahagia.


Baginya uang berapapun tidak ada artinya. Asalkan sang adik bisa sembuh dan bisa berkumpul bersama lagi. Sekarang Raya tengah hamil muda. Tentu mereka begitu menantikan cucu Wijaya berikutnya.


"Cica... maafkan aku. Setelah adikku sembuh. Maka aku akan membawa istriku berziarah ke makam mu. Aku benar-benar menyesal sudah mempermainkan perasaan mu. Padahal aku tahu jika kamu adalah gadis baik-baik." Elvino kembali bergumam. Namun, kali ini dia meminta maaf pada Almarhumah Cica, kakak Arya.


"Elvino! Kamu ngapain disini?" tanya seorang dokter muda. Sehingga membuat si tampan menatap kearah sumber suara degan tatapan dinginnya.



"Kamu siapa?" tanya Elvino tidak mengenal dokter tersebut.


"Aku Rani. Mantan pacarmu. Apakah kamu sudah lupa padaku? Kita pernah berpacaran selama satu bulan setengah," jawab dokter muda itu tersenyum manis. Karena ternyata Elvino semakin tampan setelah sekian tahun tidak bertemu.


Gleek!


Elvino menelan Saliva nya sendiri dan bergumam. "Aduh... kenapa para mantanku sudah seperti hantu saja? Kalau sampai mamanya Eza tahu. Bisa-bisa aku dimutilasi olehnya. Kalau tidak, Adel pasti akan mengantung ku pada pohon toge." gumam pemuda itu tiba-tiba saja sangat takut pada mantan kekasihnya.


Raya sampai menjadi korban balas dendam Arya adalah atas kesalahannya. Jadi hal wajar dia merasa takut. Atau trauma.

__ADS_1


"Kenapa juga kamu memiliki wajah tampan, Elvino Atmaja Wijaya. Begini kan jadinya. Memiliki mantan pacar disetiap tikungan." rutuk Elvino menyalahkan wajahnya yang tampan. Padahal semua itu adalah kesalahan dirinya yang selalu tebar pesona.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2