Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 100 Hasil kerja keras


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Meski sebelumnya Dion sempat pesimis bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu namun akhirnya dia bisa melakukannya.


Berkat kerja kerasnya selama ini juga dukungan penuh dari Syifa akhirnya Dion pun bisa menyelesaikan semuanya dan dipastikan bisa lulus tepat waktu.


"Huftt... " terdengar suara helaan nafas kasar Dion sebelum memasuki ruangan.


Dengan setelan formal memakai almamater serta tatanan rambut yang rapi Dion tampak semakin mempesona. terbukti sejak tadi banyak yang memperhatikannya.


"Yaampun liat yang seger-seger pagi begini emang bikin mood naik ya. Sayang sekali udah ada pawangnya."


"Udah ganteng, rajin, penyayang juga tajir lagi. Ya Allah pengen ada kembaran Dion gitu."


Sementara masih banyak para mahasiswa baru yang terus berusaha menarik perhatian Dion. Kebanyakan dari mereka masih belum tau status pernikahan Dion dengan Syifa.


"Kak Dion semangat ya.. kak Dion pasti bisa." Seru beberapa mahasiswi adik tingkatnya.


Dion tak terlalu menghiraukan mereka. Baginya menjaga konsentrasi itu lebih penting.


"Hmm.. pangeran kampus bentar lagi lulus, gimana sama ciwi-ciwi yang ngincerin lo, kakak Diooonnn... pasti pada kesepian." goda Nico yang kebetulan juga menunggu giliran untuk sidang skripsi.


"Bodo amat.." jawab Dion singkat.


Dion memang sengaja datang lebih awal guna mempersiapkan dirinya dengan maksimal. Hingga akhirnya giliran namanya di panggil Dion langsung bersiap memasuki ruangan.


Sebelum itu dia memanjatkan doa terlebih dahulu agar diberi kelancaran.


Ruangan itu terasa begitu dingin entah karena AC yang bersuhu rendah atau memang Dion yang dilanda gugup.


Namun saat dirinya memandang dosen pengujinya dia dibuat terkejut karena salah satu diantara mereka adalah Syifa. Ada rasa lega tersendiri meskipun Syifa sendiri selalu profesional setidaknya dengan memandang wajah istrinya sedikit mengurangi rasa gugupnya.


Dengan penuh tekad Dion melakukan presetasinya dengan sangat baik bahkan segala macam pertanyaan yang diajukan oleh dosen pembimbing pun dapat dijawab dengan baik. Setidaknya berbagai macam latihannya selama ini tak sia-sia.


Sampai pada ahirnya dia dapat menyelesaikan sidang tersebut dengan baik. Ada rasa puas saat dirinya sudah menyelesaikan tugasnya ini. Kinni tinggal menunggu hasilnya saja.


Selanjutnya Nico yang melakukan sidang. Dion sudah berjanji untuk menunggu sahabatnya. Karena bagaimanapun mereka sudah berjuang bersama.

__ADS_1


"Akhirnya... lega gue. Sumpah istri lo bener-bener kek malaikat pencabut nyawa asli." keluh Nico saat baru saja keluar dari ruangan sidang.


"Hahahaha baru tau ya, gue aja kaget dia jadi dosen penguji gue. Gue yang lakinya aja merinding sendiri liatnya. Berasa kejer semua." ujar Dion.


Sementara di dalam ruangan sidang kini tampak Syifa mengobrol sebentar dengan rekan dosennya yang sama-sama menjadi tim penguji.


"Awalnya saya ragu Bu Syifa jadi penguji suami sendiri. Ternyata saya harus acungi jempol karena sikap profesional anda." ujar Pak Beni.


Syifa hanya menanggapi dengan senyuman. "Karena saya harus profesional terhadap pekerjaan saya meskipun itu suami saya sendiri." jelas Syifa.


Syifa sendiri pun meski ada sedikit rasa tidak tega nyatanya dia cukup bangga dengan hasil presentasi Dion.


"KAAKKK DDIIOOOONNN.... Kak Dion selamat ya.. kakak sukses terus ya... ini biar makin semangat." beberapa mahasiswi adik tingkatnya kini sibuk mengerubuti Dion dengan membawa berbagai macam barang. Ada buket bunga, kado, kue, berbagai macam makanan, boneka bahkan ada yang memberikan tiket nonton di bioskop.


Dion yang gelagapan dengan semua kerumunan itu pun tampak bingung pasalnya dia sampai kesulitan membawa barang-barangnya.


Belum lagi ponselnya sejak tadi berbunyi banyak sekali nomor baru mengucapkan selamat. Dion sendiri belum sempat melihat pengumuman hasil sidangnya. Tau-tau saja dia mendapat berbagai macam hadiah begini.


Karena tak ingin kerepotan akhirnya Dion memindahkan semua hadiahnya ke mobil dibantu Nico dan dua temannya bernama Tyo dan Evan.


"Iya nih, padahal udah ada pawang masih aja banyak penggemar. Lah kita-kita ini jomblo ngenes kagak ada satupun yang ngasih ucapan selamat." Dion hanya bisa terkekeh dengan penuturan teman-temannya.


"Kalau kalian mau ambil aja tuh hadiah-hadiahnya. Lagian sebanyak ini yang ada istri malah makin ngreog." ujar Dion.


"Beneran nih, gue lihat ada beberapa kue sama snack. Gue ambil ya." ujar Tyo.


"Ambil gih semau lo. Habis ini gue traktir ya tapi gue mau nemuin istri dulu. Lo tunggu di cafe depan aja." Dion pun bergegas untuk menemui istrinya karena dia ingin mendengar secara langsung hasil sidang skripsinya.


"Sayang gimana hasilnya?" tanya Dion saat sudah bersama Syifa.


"Emang belum tau hasilnya?"


"Belum, aku maunya tau langsung dari kamu." Dion mengusap lembut pipi istrinya. Kebetulan mereka sedang berada di lorong yang sepi.


"Kamu lulus tanpa revisi. Selamat ya. Dan kamu berhasil meraih nilai A mas." ucap Syifa dengan bangganya.

__ADS_1


Dion langsung memeluk Syifa dengan bahagia. Rasanya mendengar berita baik langsung dari istri sendiri begitu membanggakan.


"Makasih sayang, berkat bantuan dan semangat kamu aku bisa lulus tepat waktu." balas Dion.


"hmm bukannya udah dapet banyak semangat dari adik tingkat kamu?"


Dion mengulum senyum melihat ekspresi cemburu istrinya. Terlalu menggemaskan jika seperti ini.


"Support system ku terletak pada kamu dan Bella, sayang." Dion tampak celingukan  menoleh ke kanan dan kiri hingga memastikan tidak ada orang yang melihatnya.


CUPP


Dion langsung menyambar bibir Syifa dan mel umatnya singkat. Tentu saja hal itu langsung membuat Syifa terkejut.


"Dasar nakal, masih di kampus juga." Syifa langsung memprotes Dion.


"Itu balasannya karena sejak tadi bikin aku kejer di ruang sidang. Bisa-bisanya sih istri sendiri jadi dosen killer gini." Dion menggelengkan kepalanya dengan heran.


"Itu namanya profesional, gak boleh milih-milih sama mahasiswa." Syifa membela diri.


"Hmm, tapi lihat kamu tadi begitu kelihatan sexy banget sayang. Jadi keinget kalau kamu lagi menjerit-jerit waktu aku genj-" Syifa langsung membungkam mulut Dion sebelum arah pembicaraannya semakin jauh.


"Udah-udah mesum banget sih, aku mau lanjut kerja dulu." sanggah Syifa.


"Yaudah bumil cantik selamat bekerja, nggak boleh capek-capek nanti pulang sama aku ya." Dion dan Syifa pun berjalan kembali menuju koridor.


Namun tiba-tiba seorang mahasiswi baru menghampirinya membawa buket bunga dan langsung memeluk Dion.


"Kak Dion, aku seneng banget. Bangga banget sama kak Dion, selamat ya atas kelulusannya. Tapi aku sedih kak Dion udah nggak ngampus lagi setelah ini." dengan manjanya gadis itu bergelayut di tubuh Dion.


Dion yang terkejut berusaha melepaskan diri. Apalagi saat melihat Syifa yang mukanya merah padam seolah akan muncul tanduk di kepalanya.


...****************...


Halo teman-teman reader setiaku. Udah sampai ke 100 bab nih. Maunya dilanjut panjang atau cepet di tamatin nih? Kasih saran ya. Makasih

__ADS_1


__ADS_2