
Rasanya tak ada bosan-bosannya memandang wajah cantik Syifa barang sedetikpun. Dion terus memandangi wajah istrinya itu yang sudah terlelap.
Meski rasa bersalah itu masih saja mengganjal pikirannya. Bisa-bisanya dia melakukan hal sebodoh itu dengan lebih mempercayai omongan orang lain ketimbang istrinya sendiri.
Jika begini saja Dion pun akhirnya sadar. Apakah pantas dia menjadi seorang ayah yang baik? Rasanya hal itu mengharuskan dirinya belajar lebih banyak lagi.
Karena peran seorang ayah bukan hanya menghamili lalu menghidupi anak-anak dan istrinya. Tapi dia harus bisa jadi seorang yang mampu mengayomi dan membimbing keluarganya dengan benar.
"Kok belum tidur? Udah mau pagi loh sayang." suara gumaman Syifa seketika membuyarkan lamunannya.
"Ah, iya sayang. Aku sulit tidur. Rasanya kepalaku begitu berisik." ujar Dion.
"Kenapa lagi? Mau cerita?" Syifa kini memandang lurus suaminya.
"Tidak sayang, nanti saja. Kamu pasti ngantuk kan?" tak dipungkiri Syifa memang sangatlah mengantuk saat ini. Namun melihat suaminya yang tampak gelisah juga membuatnya tak tega.
"Mau cepet ngantuk?" tawar Syifa.
"Hmm."
"Sini.." Syifa merentangkan tangannya. Seketika Dion paham dan langsung menjatuhkan kepalanya di dalam pelukan Syifa. Mengusal ke dalam dekapan wanita itu terasa begitu hangat apalagi wangi tubuhnya yang seolah menjadikannya semakin nyaman. Dan benar saja tak lama kemudian Dion pun sampai juga ke alam mimpi.
...****************...
Pagi menyambut. Seperti biasa ritual awal yang wajib dilakukan bersama adalah sarapan pagi. Mau akhir pekan atau tidak sama saja.
Mama Rina yang selalu semangat menyiapkan sarapan pagi dengan dibantu oleh para asisten rumah tersebut. Namun kali ini tampaknya tak terlalu bersemangat.
Sebab permasalahan Syifa dan Dion kemarin cukup membuatnya khawatir dan kepikiran. Padahal tak tau saja bahwa mereka sudah berbaikan sedari semalam.
"Pagi Mama, kok wajahnya ditekuk begitu." Wira menghampiri istrinya di dapur langsung memeluknya dari belakang.
"Pagi sayang, mas kok peluk-peluk sih malu tau dilihat mbak-mbak." omel Rina.
"Biarin, paling mereka juga pergi sendiri kalau sungkan." jawab Wira dengan santainya.
"Dasar Papa ini. Udah tua juga." gerutu Rina.
"Biar tua tapi jiwa muda sayang. Kamu kenapa tadi belum dijawab kok cemberut?" Wira menciumi pipi Rina seperti anak muda tang sedang kasmaran.
"Lagi mikirin anak-anak. Syifa sama Dion udah baikan belum ya? Semalem aku juga nggak lihat Dion pulang ke rumah." Rina tampak sendu.
"Doakan saja semoga mereka segera baikan. Namanya rumah tangga pasti ada saja masalahnya tapi kita sebagai orang tua hanya bisa memberi dukungan dan jangan ikut campur terlalu dalam." ujar Wira.
Para asisten rumah tangga di rumah tersebut pun tampak mengintip sang majikan. Bahkan mereka merasa sangat bahagia melihat kedua majikannya yang semakin hari semakin romantis.
__ADS_1
Belasan tahun mengabdi di kediaman Wira dan Rina mereka tentu tahu bagaimana kesehariannya. Jika dulu mereka selalu dingin dan tak pernah sedikitpun menunjukkan kedekatan seperti ini justru sekarang kebalikannya.
"Sepertinya Tuan sudah bucin akut sama Nyonya. Tapi bagus itu bisa saingan bucinnya sama Mas Dion dan Non Syifa." ujar Tuti. Salah satu asisten rumah tangga.
"Iya juga, adem lihatnya Tut." balas Bi Atun. Asisten senior di rumah tersebut.
Setelah semuanya beres kini Rina dan Wira sudah berada di ruang makan. Disusul Luna yang datang lebih awal dengan wajahnya yang berseri.
"Selamat pagi Om, Tante." sapa Luna.
"Pagi Luna." jawab Wira.
"Kok masih sepi, mana Kak Syifa dan Kak Dion?" Luna pura-pura tak mengetahui masalah kemarin.
"Mungkin masih tidur. Kan ini hari minggu." ujar Rina.
"Ow, gitu ya.." dalam hati Luna begitu senang. Akhirnya pagi ini matanya tak panas melihat kemesraan pasangan itu.
Namun baru saja Luna membatin senang tiba-tiba sepasang suami istri itu turun dari tangga dengan saling mengumbar senyum.
Bahkan Dion tampak begitu mesra dengan melingkarkan tangannya di pinggang Syifa sementara Syifa sedang menggendong Bella.
Benar-benar pemandangan yang sangat harmonis. Seolah permasalahan kemarin hilang diterpa angin lalu.
"Sudah papa bilang kan kalau mereka nggak akan betah marahan lama-lama. Dion kan bucin parah sama Syifa." ucap Papa Wira dengan senyum tersungging.
"Kayak Papa nggak bucin aja." cibir Rina.
Suasana hati Luna mendadak berubah drastis. Apalagi mendengar ocehan kedua orang tua Dion membuatnya semakin panas.
"Pagi Opa, Oma.." Dion menyapa kedua orang tuanya dengan panggilan Bella.
"Pagi cucu opa yang cantik. Sini duduk sama opa." dengan antusiasnya Wira langsung memangku Bella.
"Papa nggak sarapan dulu? Biar Bella duduk di kursinya." ucap Syifa merasa tidak enak dengan mertuanya.
"Nggak apa-apa. Kemarin Papa nggak ketemu Bella seharian sekarang mau kangen-kangenan sama cucu kesayangan." Wira mengusap lembut pipi gembul Bella. Tampak sekali kasih sayang tercurah dari pria paruh baya itu.
Tak berselang lama datanglah Shaka dan bergabung di meja makan. Kedua netra Luna langsung membulat melihat pria itu. Dia begitu khawatir dan gelisah sebab Shaka sudah memergoki perbuatannya.
Apalagi saat Shaka sengaja duduk di samping Luna dengan tatapan tajamnya. Aura intimidasi jelas terasa dari sosok dingin itu.
Acara sarapan berlangsung dengan begitu nikmat dan hangat. Akhir pekan yang menyenangkan sebab semua anak-anak berkumpul di rumah. Momen yang jarang terjadi di kediaman Wira.
Selesai makan mereka pun masih berbincang-bincang.
__ADS_1
"Mama senang sekali melihat kalian akur lagi begini." Rina tampak mengusap lengan Syifa dengan begitu sayang. Syifa hanya membalasnya dengan senyuman.
"Setiap rumah tangga memang tak luput dari masalah, tapi jadikan masalah itu sebagai penguat hubungan kalian. Biasanya kalau sudah akur begini akan jadi makin cinta, iya kan ma?" ucap Wira.
"Luna tumben kau diam? Bisanya selalu mengoceh?" tiba-tiba Shaka menyinggung Luna.
"Eh.. T-tidak apa-apa kak." ucap Luna tergagap.
"Kak Shaka. Apa hukumannya jika ada seseorang yang licik sengaja ingin mengusik ketenangan keluarga kita?" Dion tiba-tiba menyeletuk.
"usir saja dari rumah ini." jawab Shaka dengan santainya.
Syifa tampak bingung dengan obrolan suami dan kakak iparnya tersebut. Begitu juga dengan kedua orang tuanya.
Sementara Luna hanya bisa terdiam sambil menunduk. Sungguh tak ada yang bisa dia lakukan selain menggenggam erat jemarinya sendiri.
"Kalau begitu kau siap untuk angkat kaki dari rumah ini Luna?" Dion dengan suara datarnya.
**Degg**..
Semua orang sangat terkejut dengan ucapan Dion. Namun tidak dengan Shaka. Pria itu hanya menanggapinya dengan senyuman smirk.
"Apa-apaan kamu Dion?" tanya Wira.
"Pa, gadis licik ini sudah menghasutku hingga terjadi pertengkaran kemarin." ujar Dion.
"Mas, apa maksudnya ini?" Syifa juga terkejut karena Dion semalam tidak mengatakan apapun tentang Luna.
Shaka mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman pembicaraan Luna.
"Papa dengar sendiri kan?" ucap Shaka.
Wajah Wira yang semula datar kini langsung berubah merah padam. Tak disangaka putri dari sahabatnya itu akan bertindak licik seperti itu.
Dalam kondisi yang kurang baik begini Mama Rina cepat-cepat membawa pergi Bella kepada pengasuhnya. Dia tak ingin cucu kesayangannya itu mendengar pertengkaran.
"Om.. Om.. Luna bisa jelaskan.." Luna mencoba untuk memohon kepada Wira.
"Saya benar-benar kecewa dengan kamu. Papamu membangun kepercayaan dengan baik tapi malah dihancurkan oleh putrinya sendiri." ucap Wira kecewa.
"Om.. Tante.. Maaf.." Luna sudah berderai air mata dengan memohon kepada semua orang.
"KELUAR DARI RUMAH SAYA." ucap Wira dengan lantang.
...****************...
__ADS_1