Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 47 mengetahui fakta


__ADS_3

Syifa sudah tak berdaya. Tubuhnya terasa sangat lemas. Bahkan sekedar membuka mulut saja membalas pertanyaan Dion rasanya sungguh malas.


"Sayang, apa kamu lelah?" sungguh meski Dion sangat perhatian kepadanya namun pertanyaan ini rasanya tak perlu ditanyakan lagi.


Bagaimana tak lelah Dion benar-benar menggempurnya semalaman. Bahkan baru selesai hampir pagi. Entah tenaga Dion itu terbuat dari apa yang pasti pria itu sangat bersemangat.


"Masih tanya aku lelah. Jawabannya sangat lelah." Syifa masih berusaha menjawabnya dengan lirih.


"Iya-iya maafkan aku sayang. Aku terlalu bersemangat." Dion terkekeh pelan.


Meski dia masih sanggup melanjutkan gempurannya namun melihat keadaan Syifa rasanya tak tega.


Akhirnya Dion mengakhiri permainan mereka setelah pelepasan yang kesekian kalinya. Dia beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.


Setelah itu Dion menghampiri Syifa. Mengelap seluruh tubuhnya dengan waslap untuk menghilangkan rasa lengket dan membersihkan intinya yang sangat basah akibat lelehan cinta keduanya.


Syifa hanya pasrah akan setiap sentuhan Dion. Dengan telaten dia membersihkan milik Syifa meski harus menahan gairahnya yang seolah tak mau surut. Tubuh istrinya terlalu candu untuknya.


Setelah selesai Dion memindahkan Syifa ke sofa sejenak dan memakaikan piyama yang nyaman. Setelah itu mengganti sprei dengan yang baru.


Itulah hal yang paling membuat Syifa salut kepada suaminya. Meski dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan namun tak melupakan tanggung jawabnya.


Dion kembali menggendong tubuh Syifa dan merebahkannya ke atas ranjang. Menyelimuti tubuhnya serta membuat posisi senyaman mungkin.


"Thanks sayang. Aku sangat mencintaimu." sebuah kecupan mendarat di kening Syifa setelah itu tangan kekar Dion pun memeluknya dan mengantarkan keduanya untuk tidur. Agar saat bangun nanti tenaganya kembali pulih.


Tak lupa Dion mengelus pelan perut Syifa berharap benih-benih kecebongnya nanti bisa tumbuh didalam rahimnya dan menghasilkan keturunan untuknya.


...****************...


"Pagi Ma, Pa." Dengan wajah berseri-seri Dion menghampiri kedua orang tuanya yang sedang bersiap sarapan. Tampak Bella yang sudah menggelendot di gendongannya.


"Pagi sayang, eh cucu Oma udah cantik. mana Syifa?" tanya Mama Rina.


"Emm.. Masih tidur ma. Kayaknya kecapean." ujar Dion sedikit salah tingkah.


Mama Rina hanya menanggapinya dengan senyum. Begitu pula dengan Papa Wira. Sudah paham apa yang sedang dilakukan putranya. Terlebih tanda merah yang kembali muncul di leher Dion.


Dion meletakkan Bella pada high cair. Sementara susternya masih menyiapkan makanan untuk putri kecilnya.


"mbak biar aku yang suapi ya." ujar Dion.


"iya Pak Dion." jawab suster tersebut.


"Kamu nggak makan dulu Dion?" tanya Mama Rina.


"Nanti aja ma. Nunggu Syifa sekalian." ujar Dion.


Tak berselang lama Shaka pun ikut bergabung di meja makan. Tapi dia mencari keberadaan Syifa yang tak tampak.


Ingin bertanya tapi gengsi. Namun saat melihat tanda di leher Dion membuat Shaka kembali geram. Sungguh pagi-pagi sudah diperlihatkan hal menjengkelkan itu.

__ADS_1


"Pinter anak Papa lahap banget makannya. Biar cepet gede nanti Papa kasih adek buat Bella." celetuk Dion.


"Uuhhukk.. Uhhukk..." Shaka yang mendengar hal itu sontak langsung tersedak.


"kamu nggak apa-apa Shaka?" tanya Papa Wira.


Shaka hanya menggeleng kemudian minum air. Tapi sorot matanya terus mengarah kepada Dion.


"Sepertinya ada yang kode mau ngasih cucu papa ini?" goda Wira.


"Do'ain aja Pa. Pengennya aku juga begitu. Biar rumah makin rame." ujar Dion.


Terlihat sekali bahwa Dion begitu menginginkan kehadiran seorang anak lagi di rumah ini. Rasanya akan tambah lengkap kebahagiaannya.


"Iya tentu saja Papa akan mendoakan yang terbaik untuk anak-anak Papa. Juga Shaka semoga segera mendapatkan tambatan hati." ujar Papa Wira.


Shaka hanya menanggapinya dengan anggukan. Meski dalam hatinya masih kekeuh menginginkan Syifa.


"Aku sudah selesai. Aku ada urusan. Permisi." seperti biasa Shaka akan pergi dari ruang makan paling dahulu. Apalagi tidak adanya Syifa membuat Shaka semakin tak bersemangat.


Selesai menyuapi Bella kini gantian Dion menyiapkan sarapan untuknya juga Syifa. Dia sengaja ingin sarapan di dalam kamar.


Saat Dion memasuki kamar rupanya tak ada Syifa. Namun suara gemericik air menandakan bahwa wanitanya tengah mandi.


Tak berselang lama Syifa keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe. Langkahnya sedikit tertatih membuat Dion langsung bangkit dan membantunya berjalan.


"Sayang, sini aku gendong saja. Sakit banget ya?" tampak wajah Dion sudah begitu khawatir.


"Maaf ya, jadinya kamu kesakitan lagi. Habisnya milik kamu enak banget sayang. Bikin nagih." ujar Dion.


"Haha iya-iya nggak apa-apa sayang. Justru aku senang jadinya kamu nggak pengen nyobain punya orang lain. Cukup aku aja."


"Pasti dong sayang. Cuma kamu wanitaku. Dan selamanya hanya ada kamu di hatiku." Dion kini mendudukkan Syifa di sofa.


"Sarapan dulu yuk. Pasti kamu laper kan." ujar Dion.


"Banget. Tapi kok ini porsinya banyak banget. Mana habis?" Syifa memang sedikit heran karena porsi makanan yang ada di piring Dion tampak sangat banyak.


"Ini kita makan sepiring berdua sayang. Katanya jadi pengantin baru lagi. Ya harus romantis dong." celetuk Dion dibarengi tawa riangnya.


Untung saja hari ini hari minggu. Sehingga Syifa tak perlu repot-repot pergi ke kampus. Meski belum tahu agenda Dion yang biasanya mengajaknya pergi keluar namun di rumah saja Syifa sudah senang. Menghabiskan waktu dengan keluarganya.


"Sayang, maaf aku harus ke cafe sekarang. Kata Alam semalam ada maling yang mencoba membobol cafe. Aku harus mengecek kondisi cafe." ujar sembari mengecup lembut kening Syifa.


"Yaudah kamu hati-hati ya Mas." jawab Syifa.


"Iya, setelah dari cafe nanti kita ajak Bella ke taman." Dion pun kini langsung pergi menuju cafe.


Syifa pun mengajak Bella bermain di taman samping rumah sambil menunggu Dion.


Shaka yang mengetahui keberadaan Syifa tanpa adanya Dion langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Syifa.." panggil Shaka.


"Eh, Kak Shaka." jawab Syifa.


"Boleh aku temani kamu di sini?" tanya Shaka lagi.


"Boleh.. Silahkan saja. Ini kan juga rumah kak Shaka." kalau boleh memilih sebenarnya Syifa lebih senang tanpa Shaka. Namun dia tak mungkin menolaknya sebab ini juga rumah Shaka.


"Kamu apa kabar? Rasanya aku sudah beberapa hari di sini tapi belum sempat mengobrol denganmu." Shaka duduk di sebelah Syifa yang tengah menemani Bella bermain.


"Kabarku baik kak." ucap Syifa singkat.


Ada keheningan sejenak. Baik Syifa maupun Shaka belum kembali berbicara. Namun kemudian Shaka kembali mengajukan pertanyaan untuknya.


"Apa kamu bahagia menikah dengan Dion? Apa dia memaksamu melakukan sesuatu?"


"Maksud Kak Shaka apa? Aku bahagia kok menikah dengan Mas Dion. Dia menerimaku juga Bella." ujar Syifa.


"Syifa aku tahu pernikahanmu dengan Dion adalah terpaksa. Warga kampung kan yang memergoki kalian hingga dipaksa menikah. Sungguh aku tahu siapa kamu Syifa. Kamu adalah wanita baik-baik. Apa saat itu Dion memaksamu berbuat sesuatu? Atau mungkin Dion justru memperkosamu?" kini Shaka langsung mengutarakan semua unek-unek yang mengganjal di pikirannya.


Syifa yang mendapat pertanyaan seperti itu tentu saja langsung terkejut.


"Kak, Mas Dion tidak pernah melakukan hal-hal yang merugikan untukku. Dan justru mas Dion lah yang menyelamatkan kehormatanku. Dia rela melepaskan statusnya demi menikahiku. Jadi mungkin informasi yang Kak Shaka terima kurang tepat." ujar Syifa.


"Tapi Syifa. Dion masih berumur di bawah kamu. Aku khawatir dia tak bisa bertanggung jawab dan membahagiakanmu. Dan sebenarnya.." Shaka menghentikan kata-katanya sejenak. Tampak dia menghela nafas.


"Sebenarnya kedatanganku ke Indonesia adalah ingin mencarimu. Syifa aku masih sangat mencintaimu. Aku ingin kita sama-sama lagi seperti dulu. Bahkan aku juga sudah siap menerima segalanya. Aku mau menerima Bella dan tak akan mempermasalahkan statusmu. Hatiku masih berat untuk berpaling darimu Syifa. Dan aku rasa tak ada wanita yang bisa mengisi kekosongan dalam hatiku selain dirimu. Dan aku siap menunggumu sampai kapanpun. Tinggalkan Dion dan ayo kita mulai cinta kita kembali Syifa."


DEG!!


Syifa sangat terkejut dengan ucapan Shaka. Tak menyangka bahwa pria yang kini statusnya menjadi kakak iparnya justru berkata seperti itu.


Dan tak hanya Syifa saja yang terkejut dengan pengakuan Shaka. Ternyata Dion sejak tadi diam mendengarkan obrolan mereka.


Hatinya terasa begitu sakit seolah ada ribuan pisau yang menusuknya. Tak Menyangka bahwa istrinya ternyata pernah memiliki hubungan spesial dengan Shaka.


Bahkan saking terkejutnya hingga membuat Dion tanpa sadar mengepalkan tangannya. Rasanya tak sanggup mendengar jawaban dari Syifa. Apalagi selama ini Dion selalu merasa kalah jauh di banding Shaka yang memiliki segalanya.


Tapi usapan tangan lembut di bahunya langsung menyentak Dion. Dia menoleh ternyata Mama Rina yang berada di belakangnya.


"Ma.." ucap Dion lirih.


Dion langsung berhambur ke pelukan Mama Rina. Rasanya saat ini dia sangat membutuhkan dukungan seseorang.


"Jangan bersedih sayang, Mama tahu bagaimana Syifa. Dia tak akan mungkin berpaling begitu saja. Karena kalian saling mencintai. Kuatkan hatimu Dion." ujar Mama Rina lirih.


Ya, kasih sayang seorang ibu adalah obat dari segala kegundahan. Dengan pelukan hangatnya sedikit membuat Dion merasa tenang.


Kini Dion hanya bisa menunggu jawaban Syifa. Semoga saja tak akan mengecewakan dirinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2