Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 70 mencari teman hidup


__ADS_3

Seminggu berlalu kini Hana sudah diperbolehkan untuk menjalani rawat jalan. Ada perasaan lega akhirnya bisa pulang.


Selama seminggu ini Shaka selalu setia menemani Hana di rumah sakit. Dia akan ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat setelah itu langsung menemui Hana.


Wanita mana yang tak bahagia ketika di perhatikan seperti itu. Namun Hana harus sadar diri. Sebaik apapun Shaka tetap saja mereka berbeda secara kelas sosial.


Shaka berasal dari keluarga yang berada sementara dirinya hanyalah gadis yatim piatu yang besar di panti asuhan. Hana tak pernah muluk-muluk dalam hidupnya.


Dengan kepulangannya ini pun dia bisa merasa lega setidaknya dia tak lagi merepotkan Shaka. meskipun sejujurnya Hana masih bingung setelah ini bagaimana nasibnya.


Dengan tangan yang masih belum kembali normal sepertinya dia akan sulit bekerja. Jika saja Dion memecat dirinya pun Hana akan ikhlas.


"Sudah selesai semua kita pulang ya. Tiga hari lagi kita kontrol." Shaka membantu Hana berpindah ke kursi roda.


Ternyata tulang betis Hana sebelah kiri juga mengalami patah sehingga dia menjalani dua operasi di lengan dan kakinya.


"Kak, terimakasih banyak ya sudah merawatku selama di sini. Aku benar-benar berhutang banyak pada Kak Shaka."


"It's ok. Nggak apa-apa Hana. Aku senang bantu kamu kok. Apalagi kamu sakit begini pasti akan sulit jika sendirian." Shaka tampak tersenyum membuat Hana semakin terenyuh.


Mereka pun kini sudah berada di mobil. Hana meminta untuk di antar ke kost nya. Namun saat sudah berada di jalan dekat tempat kost Hana justru Shaka terus melajukan mobilnya.


"Kak.. Loh itu kelewat tempat kost aku." Hana menunjuk jalan.


"Kamu akan tinggal di apartemenku Hana. Tempat itu tidak layak untukmu." ucap Shaka masih fokus menyetir mobilnya.


Hana pun mengernyitkan keningnya sambil menatap Shaka.


"Maksud Kak Shaka nggak layak gimana? Aku sudah bertahun-tahun tinggal di sana dan baik-baik saja." Hana merasa tak terima jika Shaka menghina tempat kost nya.


Memang jika menurut tolak ukur Shaka tentu tempat itu tak layak huni. Namun bagi Hana tempat itu lebih dari cukup mengingat kemampuannya yang hanya bisa menyewa kost tersebut.


Shaka menyadari perubahan ekspresi Hana memang sepertinya sedang tersinggung. Shaka pun menepikan mobilnya.


"Hana, maksudku tempat itu kurang cocok untukmu. Selain harus menaiki tangga ke atas juga kamar mandinya yang berada jauh dari kamarmu. Dengan keadaanmu yang masih seperti ini aku tak mau terjadi sesuatu lagi." Shaka meraih tangan Hana dan mencoba meyakinkan Hana.


"Tapi Kak Shaka sudah sangat baik padaku. Aku takut tak bisa membalas kebaikanmu." kedua netra Hana meneteskan air mata.


Diusapnya air mata itu dengan lembut. Kemudian Shaka menggenggam tangan Hana.

__ADS_1


"Hana, jangan pernah berpikir untuk membalas ini. Aku ikhlas membantumu dan justru kamu yang sudah banyak membantuku selama ini. Karena kamu aku jadi seperti ini. Aku merasa lebih baik dan bisa berdamai dengan keadaan."


Memang jika diperhatikan Shaka kini lebih ceria dan gampang berbaur dengan orang lain. Dan hal paling penting adalah Shaka mampu mengikhlaskan perasaannya terhadap Syifa mengingat dulu dia sangat menggebu ingin merebut Syifa dari Dion.


Kehadiran Hana menjadi penyemangat Shaka dan dia mengakui bahwa kini dirinya menjadi ketergantungan dengan Hana.


Mendengar Hana kecelakaan Shaka menjadi sangat panik dan takut kehilangan sosok Hana.


Setelah menempuh perjalanan singkat mereka pun sampai di basemen apartemen. Shaka segera keluar lebih dulu dan mengambil kursi roda kemudian membantu Hana turun dari mobil.


Shaka mendorong Hana menuju lift. Sudah dipastikan Apartemen itu merupakan hunian mewah dengan standar premium. Orang seperti Hana jelas tak pernah membayangkan bisa tinggal di tempat sebagus ini.


"Kak, tapi bagaimana dengan barang-barang ku di kost?" tiba-tiba Hana teringat semua barang miliknya.


"Tenang saja aku sudah memindahkan kesini. Barang-barangmu juga beberapa keperluan yang mungkin kamu butuhkan."


Dan benar saja. Saat memasuki unit apartemen Shaka kini Hana di bawa ke sebuah kamar. Kamar tidur yang begitu luas serta memiliki interior sangat menawan.


Barang-barang Hana sudah tertata rapi disana dan bahkan ada barang-barang lainnya yang disiapkan khusus oleh Shaka.


"Semua pakaianmu ada di sini. Dan maaf aku sudah menyortir yang kurang bagus. Tapi aku menggantinya." Shaka menunjukkan lemari besar berisi pakaian wanita di walk in closetnya. Banyak sekali baju bahkan pakaian privat nya yang masih baru.


Kemudian di sisi sebelahnya ada kaca besar serta tempat make up yang cukup lengkap.


"Ini semua milikmu jadi jangan sungkan-sungkan memakainya." ujar Shaka.


"Ta-tapi kak.. Ini terlalu berlebihan. Aku..." Hana bingung mau berkata apa.


"Kamu kenapa?" tanya Shaka.


"Kenapa Kak Shaka baik padaku? Sepertinya jika sekedar teman tak mungkin sampai seberlebihan begini. Kak tolong jangan membuatku semakin bingung dengan perasaanku." Hana menatap Shaka dengan netra yang sudah berembun.


"memangnya kenapa dengan perasaanmu?" tanya Shaka dengan tatapan lurus.


"A-aku.. Aku suka kak Shaka. Tapi aku tau aku tak pantas untukmu." Hana langsung menunduk. Air matanya sudah mengalir deras.


Shaka menunduk di depan kursi roda Hana. Dia mengangkat wajah Hana agar sejajar dengan dirinya.


Cuppp...

__ADS_1


Sebuah ciuman mendarat di bibir Hana. Shaka mencium Hana dengan begitu lembut.


"Maka pertahankan perasaan itu. Karena aku pun merasa demikian." Shaka mengusap lembut pipi Hana.


"M-maksud kak Shaka.. Kakak menyukaiku juga?" Hana tak percaya.


Shaka pun mengangguk. Kemudian dia merogoh saku jaket kulit yang sejak tadi dia kenakan.


Sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dia tunjukkan ke depan Hana. Gadis itu terkejut saat Shaka membukanya di depan matanya.


"Aku tak mau hanya sekedar teman saja. Aku ingin mencari teman hidup dan aku rasa kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi istriku, Hana."


...****************...


"sayang kamu nanti nggak ke kampus kan?" Syifa bersiap berangkat untuk ke kampus.


"Nggak sayang, aku nggak ada kelas. Aku mau ngecek lokasi buat cabang cafe.kata Nico ada tempat yang strategis." ujar Dion sambil menemani Bella bermain lego sebelum bersiap mengantarkan Syifa.


"Yaudah.. Hati-hati ya. Kesayangannya Mommy yang pinter sayang." Syifa mengecup kening Bella dengan begitu sayang.


"Daa.. Mommy.." ucap Bella.


"Daa sayang." Bella pun berangkat diantar Dion.


Sampai di kampus Syifa langsung melakukan aktivitasnya. Hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat.


Jam kerja Syifa telah usai lebih awal karena rapat dengan rektor masih ditunda. Dia pun hendak menghubungi Dion untuk menjemputnya.


Namun saat Syifa mencari ponselnya dia tak menemukannya. Syifa bahkan menggeledah tas dan ruangannya namun tak menemukannya.


"Yaampun kemana ponselku? Bagaimana aku bisa menghubungi suamiku?" Syifa mulai panik.


Sementara di tempat lain tampak Luna dan Rangga begitu senang. Dia berhasil menjalankan awal misinya.


"Kamu hebat juga punya ide begini. sekarang tinggal menghubungi Dion seolah Syifa yang melakukannya." Luna tampak cekikikan ketika berhasil mendapatkan ponsel milik Syifa.


"Tapi hati-hati. Pelajari dulu gaya penulisan dan bahasanya agar tidak ketahuan." ujar Rangga.


Sementara di dalam kamar Mona terus penasaran dengan rencana licik apa yang telah Rangga lakukan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2