Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 82 jangan duakan aku


__ADS_3

Hari ini begitu melelahkan untuk Syifa. Seharian ini begitu banyak pekerjaan di kampus. Dan yang membuatnya tak bersemangat adalah tidak adanya Dion.


Biasanya pria itu selalu menghibur dan memberi perhatian untuknya. Meski hanya sekedar mengirim makanan atau minuman ke ruangannya. Juga mengobrol di kantin atau perpustakaan.


Intinya kehadiran Dion saja sudah menjadi semangat tersendiri untuk Syifa.


Dion hari ini tidak ada jadwal mata kuliah sehingga dia memilik untuk mengurus salonnya yang akhir-akhir ini cukup sibuk karena tidak adanya Hana.


Dengan langkah letihnya kini Syifa sampai juga di rumah. Rasanya dia ingin segera limbung ke atas ranjang.


Namun suara riuh di ruang tamu membuat Syifa urung sebab para ibu-ibu sosialita yang merupakan teman-teman dari Mama Rina sedang berkumpul. Rupanya mereka sedang mengadakan arisan.


"Syifa, baru pulang ya?" sapa Bu Jova, salah satu anggota geng tersebut.


"Iya Bu," Syifa menjawabnya dengan senyum terpaksa. Sungguh hari ini dia sangat lelah sebenarnya enggan bertemu mereka.


"Wah, apa nggak capek Syifa kerja seharian belum lagi ngurus anak dan suami." ucap Salah satu ibu yang lain.


Syifa pun hanya menjawab seadanya. Sebenarnya Syifa paling malas berurusan dengan para ibu-ibu seperti ini. Mereka taunya menghambur-hamburkan uang dan memanfaatkan kedudukan suaminya. Sementara Syifa yang sudah bersusah payah menuntut ilmu tinggi hingga ke luar negeri tak ingin diam saja. Dia ingin berbagi ilmu itu dengan menjadi tenaga pendidik yang merupakan mimpinya sejak dulu. Namun demi menghormati mertuanya terpaksa Syifa menurutinya.


Sementara dirinya masih fokus melihat Bella yang tengah bermain dengan cucu salah satu teman Mama Rina. Dengan ditemani susternya Bella tampak lincah berlarian.


"Wah Bella udah pinter tuh udah gede waktunya bikinin adek lagi. Emangnya jeng Rina nggak pengen punya cucu lagi?" tanya salah satu temannya.


"Kalau itu biar Syifa dan Dion yang menentukan." ucap Mama Rina yang tampak datar.


Syifa akhirnya pergi menghampiri Bella untuk melepas rindu. Kehadiran putri kecilnya itu sangat berarti untuknya. Rasa lelah bekerja seharian terasa berkurang saat melihat keceriaan dan pelukan sang buah hati.


"Jeng, kenapa Dion dan Syifa belum juga hamil lagi? Emang jeng nggak mau punya keturunan lanjutan dari Dion?"


"iya jeng, emang sih mantu kamu itu kariernya bagus juga pendidikannya tinggi. Tapi bagaimanapun dia seorang istri. Udah kodratnya memberi keturunan."


"Jangan terlalu di los aja jeng takutnya justru mantu kamu itu makin ngelunjak. Kasian Dion dan suami kamu kan jeng."


Rentetan perkataan para ibu-ibu itu jelas masih bisa didengar oleh Syifa. Sementara Mama Rina tampaknya masih tak menunjukkan banyak ekspresi.


"Atau begini saja jeng. Kan aku punya anak gadis kenalin aja sama Dion. Siapa tau mereka cocok. Biar Dion nikah lagi sama anakku dan memberi keturunan untuknya. Kalau Syifa nggak mau hamil kan nggak masalah." ucapan salah satu ibu itu langsung membuat Syifa membulatkan matanya.


"Oh begitu ya. Coba deh nanti aku omongin sama Dion. Kan dulu papanya Dion juga istrinya dua, Vanya dan Sarah." ujar Mama Rina.


Baru saja Syifa ingin berbicara tiba-tiba Dion sudah datang. Langsung saja ibu-ibu itu meminta Dion untuk duduk bersama mereka.


"Dion, ada yang ingin mama bicarakan dengan kamu." Mama Rina berucap.


"Ada apa ma?" Dion pun menurut.


"Begini Dion, sebenarnya Mama dan Ibu Yana sedang ada rencana mengenalkan kamu dengan anaknya. Siapa tau kamu cocok dengannya." ucap Mama Rina.

__ADS_1


"Tapi ma, aku kan udah menikah." Dion pun terkejut.


"Sayang, dengerin mama dulu." Akhirnya Mama Rina dan bu Yana mengutarakan maksudnya.


"Oh, anak Bu Yana Yang namanya Stefanie itu? Anaknya cantik. Tapi memangnya mau sama aku yang udah menikah begini?" ujar Dion dengan mengulas senyumnya.


"Mau lah, dia sebenarnya suka kamu dari dulu. apalagi agama juga tidak melarang kan laki-laki menikah lebih dari satu." ujar Bu Yana.


"Iya deh nanti kapan-kapan Dion coba ya Ma." Dion tampak bersemangat.


Sementara Syifa yang sejak tadi mengetahui obrolan mereka merasa begitu hancur. Bagaimana bisa suaminya punya niatan memadu dirinya.


"M-mas Dion?" Syifa tercekat.


Tapi sepertinya Dion begitu hanyut dengan obrolan para ibu-ibu itu. Syifa yang semakin hancur memilih untuk pergi kedalam kamar.


Dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sambil menangis terisak. Tak menyangka akan jadi seperti ini. Sungguh wanita mana yang mau diduakan. Dulu dia sudah begitu hancur saat Rangga menduakannya dengan Mona. Dan kini, apakah Dion akan kembali menorehkan luka itu lagi?


Syifa yang masih menangis kini mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Saat menoleh dia melihat Dion masuk ke dalam kamar.


Syifa langsung menghampiri Dion dengan berlinang air mata.


"Sayang aku mau hamil. Pokoknya kamu hamilin aku." pinta Syifa.


"Tapi kan Bella masih kecil." ujar Dion.


"Kita bisa omongin ini nanti ya." tolak Dion.


"NNGGAAKKK.. POKOKNYA AKU MAU HAMIL ANAK KAMU. AKU NGGAK MAU KAMU MENIKAH LAGI AKU NGGAK MAU DIDUAKAN." tangis Syifa langsung pecah kala itu.


Tubuhnya terasa kaku. Namun goncangan demi goncangan terasa di lengannya.


"Syifa... Syifaa... bangun sayang."


"Syifa.. Kamu mengigau sayang."


Suara itu terasa semakin nyata hingga akhirnya Syifa pun membuka matanya.


Syifa terperanjat saat mendapati dirinya tengah berbaring di atas ranjang dengan masih memakai pakaian kerja. Bahkan sepatunya pun masih dia pakai.


"Sayang sudah sore. Bangun dulu yuk. Kelihatan capek banget kamu." Dion tampak duduk disampingnya dengan pakaian santai.


Syifa yang mengumpulkan kesadarannya pun Dibuat semakin bingung. Apakah semua kejadian itu hanya mimpi? Tapi saat dia mengusap wajahnya merasakan pipinya basah. Dia benar-benar menangis.


Kemudian Syifa menatap Dion dengan lekat. Tak ada tanda-tanda suaminya akan menikah lagi.


"Sayang, apa aku ketiduran?" akhirnya Syifa menanyakan hal ini untuk memperjelas.

__ADS_1


"Iya, bahkan kamu mengigau. Pasti capek banget ya hari ini?" Dion mengusap lembut wajah istrinya.


Syifa langsung bangun dan berhambur ke pelukan Dion. Dia menangis terisak.


"Sayang, jangan poligami dan duakan aku ya. Aku sayang kamu aku cinta kamu dan siap memberikan keturunan untuk kamu. Pokoknya kamu cuma milikku. hiks.." rentetan kalimat itu langsung keluar dari mulut Syifa.


"Apa kamu mimpi buruk Sayang?" jawab Dion akhirnya.


Syifa pun mengangguk. Dia benar-benar kesal dengan mimpinya barusan.


"Mana mungkin aku menduakan kamu sementara cintaku sudah mentok di kamu." Kini Dion mengangkat wajah Syifa dan mengecup bibirnya lembut.


"Mandi yuk udah aku siapin air hangat biar kamu rileks." setelah mendapat anggukan dari Syifa kini Dion langsung mengangkat tubuh Syifa menuju kamar mandi.


Melucuti pakaian mereka dan merendamkan tubuh ke dalam bathub untuk merilekskan tubuh Syifa. Tak lupa Dion memberi pijatan-pijatan yang membuat tubuh Syifa terasa meringan.


"I love you always and forever." Bisik Dion kepada Syifa.


...****************...


"Kamu masak sayur dari ibu semuanya sayang?" Shaka tampak melongo melihat berbagai macam olaham sayuran terpampang di atas meja makan.


"Nggak semua sayang cuma sebagian. Ibu bawain banyak banget. Ini aja aku bagi sama tetangga unit sebelah." ujar Hana.


Shaka pun mendekati Hana dan mengecup keningnya. Memang tempat favorit Shaka sepulang kerja adalah mengunjungi Hana dan melakukan makan malam bersama.


"Calon istriku sangat pandai memasak dan mengerjakan segalanya. Sudah siap ketemu Papa Wira? Aku nggak sabar kenalkan kamu ke semua keluargaku dan kita cepat menikah." ujar Shaka sembari menggenggam jemari lentik Hana.


Ada keterdiaman beberapa saat karen Hana masih ragu dan trauma jika reaksi keluarga Wira akan seperti Vanya.


"Tenang. Papa orangnya baik kok. Apalagi disana ada Syifa dan Dion. Kamu pasti nyaman." Shaka seolah mengerti kerisauan Hana.


Hana pun mengulas senyumnya. "Semoga kali ini kita diberi kelancaran ya Kak." ucap Hana penuh harap.


"Pasti sayang. Aku akan perjuangkan kamu. Cuma kamu yang bisa membuat aku merasa begitu bahagia saat ini." Dengan segala keromantisannya wanita mana yang tak semakin jatuh hati kepada Shaka.


Hana pun berjinjit dan hendak mengecup bibir Shaka. Namun Shaka justru menahan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya.


Ciuman yang begitu intens dan lembut membuat Hana mulai terbuai. Dengan sekali gerakan Shaka mengangkat tubuh Hana seperti koala tanpa melepas ciumannya.


Shaka pun berjalan menuju kamar dan menidurkan Hana dia tas ranjang. Pria itu mengungkung tubuh Hana dan kembali menciumnya setelah beberapa detik mengambil nafas.


Sementara Han mulai dibuat kelabakan saat Shaka mulai menciumi ceruk lehernya.


"K-kak.. Kita makan dulu ya." Hana tampak panik dengan perlakuan Shaka yang semakin intim.


"Aku mau makan kamu dulu." Shaka kembali menjalankan aksinya sementara Hana pun semakin meremas sprei dengan kuat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2