
"Kamu yakin nggak apa-apa aku tinggal dulu? Kalau aku batalin meetingnya dulu nggak apa-apa kok. Mau temani kamu aja. Atau kamu ikut nanti tunggu di restoran." Shaka merasa tidak enak hati ingin meninggalkan Hana sendirian di apartemen setelah kejadian tadi.
"Nggak apa-apa. Kak Shaka pergi saja aku nggak apa-apa kok. Lagian aku sedikit capek jadi mau istirahat aja." ujar Hana berbohong.
"Beneran? yaudah ayo aku temani masih ada waktu setengah jam lagi kok." Shaka pun langsung mengangkat tubuh Hana ala bridal dan membawanya ke kamar.
Shaka membaringkan Hana kemudian dia mengambil posisi di sampingnya untuk memeluk Hana. Meski Shaka sering menginap di apartemen yang sama dengan Hana namun dia masih memiliki batasan.
Shaka sangat menghormati Hana sehingga dia tidak mau mengambil kesempatan lebih jauh sebelum mereka halal.
"Maaf ya, aku jadi merasa bersalah banget bawa kamu ke mama." lagi-lagi Shaka kembali membahas permasalahan itu.
"Aku nggak apa-apa kak. Sungguh, sejak awal aku sudah menduga hal ini. Lagian aku sudah sering bertemu dengan macam-macam orang di salon jadi karakter seperti mama kamu juga udah pernah." Hana mengulas senyum manisnya.
"Kamu memang gadis luar biasa Hana. Jadi makin cinta sama kamu." Shaka kembali memeluk Hana sambil mengecupi puncak kepalanya.
Setelah dirasa Hana sudah tertidur kini Shaka beranjak untuk pergi meeting dengan salah satu koleganya. Etos kerja yang tinggi membuat perusahaan semakin maju ditangan Shaka.
Sementara Hana sebenarnya tidak tidur. Dia masih terjaga dan terdiam memikirkan segala perkataan dari Vanya, ibu Shaka. Apa yang dia terima di rumah itu sangatlah buruk.
Bohong kalau Hana baik-baik saja. Meski dia tampak baik-baik saja di depan Shaka namun hatinya terasa begitu sakit.
Memang benar jika dipikirkan mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Tapi apa yang dikatakan Shaka menjadi semakin menyakitkan saat mengetahui fakta bahwa dia adalah anak hasil hubungan gelap ibunya.
Pasti Shaka menanggung beban itu sendirian selama ini. Bahkan Shaka masih bisa bersikap biasa saja dan merawat Hana selama sakit.
Baru saja beranjak dari ranjang tiba-tiba ponsel Hana berbunyi. Dia melihat nama Syifa. Dengan segera Hana langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum Syifa." ucap Hana.
"Waalaikumsallam. Hana kamu apa kabar. Gimana katanya udah sembuh ya." suara ceria juga perhatian Syifa selalu menjadi penyemangat tersendiri untuk Hana.
"Alhamdulillah Fa, aku udah bisa beraktifitas normal. Rencananya kalo masih boleh kerja di salon suamimu pengennya balik kerja lagi. Bosen di rumah nggak ngapa-ngapain." ujar Hana.
"Hust.. Emang dibolehin sama yayang kamu. Kak Shaka agak protect banget loh sama kesehatan. Ijin dulu gih." ujar Syifa.
__ADS_1
"Iya-iya.. Ntar deh aku bilang."
"Itu suara kamu kenapa jadi sendu begitu. Ada masalah ya Han?" Syifa yang paling peka selalu tahu perubahan seseorang walaupun dari suara saja.
"Tau aja sih. Iya nih ada masalah dikit." ujar Hana akhirnya.
"Kenapa lagi. jangan sampe ada masalah sama kak Shaka ya." pasalnya Syifa yakin kalau Shaka dan Hana sama-sama dewasa dan kecil kemungkinan kalau bertengkar.
Akhirnya Hana pun menceritakan tentang kejadian di rumah orang tua Shaka. Dengan air mata yang entah kenapa leleh begitu saja rasanya Hana ingin mencurahkan semua kegundahannya kepada Syifa.
"Yaampun, masak sampai segitunya. Udah-udah jangan sedih. Emang mamanya Kak Shaka agak-agak gitu. Tapi kamu tenang aja. Selama Kak Shaka ada di pihakmu pasti semua akan berjalan dengan baik. Toh keluarga Kak Shaka masih banyak kok. Papa Wira sama Mama Rina jelas akan restui kalian. Apalagi tau kamu baik banget." Syifa mencoba untuk menghibur Hana.
"Iya juga Fa, cuma gue takut nanti kualat. Masak membangkang seorang ibu." ujar Hana.
"Bukan membangkang, tapi mamanya Kak Shaka belum tahu aslinya kamu aja. Kalau tau mah pasti sayang banget. Udah ya jangan mikir macem-macem. Ditunggu nih kapan datang ke rumah. Udah nggak sabar lihat reaksi bahagia papa sama mama disini."
"Thanks ya Fa, lo memang sahabat paling baik." ujar Hana penuh haru.
"Sama-sama Han, kita kan mau jadi saudara ipar jadi harus baik-baik deh," ujar Syifa diselingi gelak tawa.
"santai aja lagi. Udah-udah jangan galau lagi. Mikir yang positif aja biar imun makin meningkat dan lo makin sehat. Udah ya gue mau ada kelas ini baik-baik disana. Bye.." Syifa pun menutup teleponnya setelah mengobrol dengan Hana.
Setelah mengobrol dengan Syifa kini Hana merasa lebih baik. Ada benarnya juga memikirkan hal negatif hanya akan merugikan dirinya sendiri. Selama Shaka selalu ada untuknya itu tak akan jadi masalah.
...****************...
"Yakin ini rumahnya?" tanya Hana sekali lagi.
"Iya katanya benar ini alamatnya. Coba dulu deh, yuk." Shaka pun menggandeng tangan Hana.
Mereka memasuki sebuah rumah sederhana dengan pekarangan begitu luas di setiap sisinya banyak tanaman sayuran dan buah-buahan.
Tampak begitu asri dan sejuk. Tapi hal itu bukan fokus Shaka sekarang. Dia ingin menemui seseorang yang menghuni rumah tersebut.
Dengan tangan sedikit gemetar Shaka mengetuk pintu kayu berwarna cokelat yang sudah sedikit usang itu.
__ADS_1
Tak berselang lama seorang gadis berusia belasan tahun mungkin masih duduk di bangku SMA membukakan pintunya.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Gadis itu dengan sopan.
"Apa benar ini rumah Bapak Herman?" tanya Shaka.
"Benar, ada perlu apa ya?" tanya gadis itu lagi.
"Bisa saya bertemu beliau? Ada yang ingin saya bicarakan. Penting." ujar Shaka.
"Baiklah, silahkan masuk." gadis itu mempersilahkan Shaka dan Hana untuk masuk.
Rumah sederhana yang sebagian dindingnya terbuat dari kayu namun terlihat sangat bersih dan nyaman. Apalagi letaknya yang berada di pedesaan membuat suasana semakin asri.
"Bapak, ada tamu." ucap gadis itu.
"Siapa nak?" seorang pria dan wanita paruh baya itu kompak bertanya. Keduanya sedang sibuk berkebun.
"nggak tau pak, pria dan wanita. Masih muda. Ganteng dan cantik. Sepertinya orang kota Pak."
Pria paruh baya itu langsung berdiri dengan tergopoh-gopoh penasaran dengan sosok yang datang. Entah kenapa jantungnya berdebar hebat saat ini.
Shaka yang duduk menunggu di ruang tamu berkali-kali menghela nafas. Hana mengusap lembut tangannya untuk memberi semangat kekasihnya.
Tak berselang lama seorang pria paruh baya dengan wajah keriput serta uban yang sudah tumbuh di beberapa bagian kepalanya datang menemuinya.
"Selamat siang, maaf ada perlu apa ya." ucap Pria itu.
"Siang, apa anda bapak Herman?" Shaka langsung berdiri menatap pria itu. Ada debaran aneh didalam hatinya.
"Benar, maaf kalian siapa?" tanya pria itu.
"S-saya Shaka, Pak." ucap Shaka dengan suara terbata.
Seketika air mata jatuh meluruh di kedua sudut netra pria paruh baya tersebut. Tak menyangka hari yang telah dia tunggu sejak lama akhirnya tiba.
__ADS_1
...****************...