Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 112 penyelamat keluarga


__ADS_3

Syifa tak henti-hentinya membelai wajah Dion yang tengah terlelap di atas pangkuannya. Rasanya sudah sangat lama dia tak melihat suaminya bermanja seperti ini.


Setelah melepas rindu dengan keluarganya tadi Dion diminta untuk beristirahat. Sampai di kamar Dion ingin tidur di pangkuan istrinya. Menghadap ke perut bulat istrinya dengan kedua tangannya memeluk pinggang Syifa seolah tak ingin jauh darinya.


Efek obat yang diberikan dokter membuat Dion cepat mengantuk padahal dia masih bercengkrama dengan istrinya. Banyak sekali hal yang ingin ditanyakan kepadanya. Tapi rasa kantuk itu mengalahkan segalanya.


Dengan gemas syifa menatapi wajah tampan suaminya. Memang jauh lebih kurus dibanding dia yang empat bulan lalu masih sehat. Hanya mengandalkan asupan nutrisi dari infus serta tak adanya aktivitas pergerakan sama sekali membuat otot-otot kekarnya mulai melemah.


Satu jam sudah Syifa dalam keadaan duduk membuat pahanya mulai kesemutan sebenarnya. Tapi dia terlalu sayang melewatkan momen ini. Hingga tiba-tiba pikiran buruk kembali menghantuinya. Syifa merasa panik sendiri melihat Dion yang tertidur pulas. Dia takut jika Dion kembali tak sadarkan diri.


"Sayang.. sayang.. kamu-kamu masih sadar kan?" Syifa menepuk-nepuk pipi Dion dengan panik.


"hmmm..." Dion mulai merespon dengan menggeliatkan tubuhnya. Dia tak segera membuka matanya namun tangannya semakin memeluk erat Syifa sambil mengecupi perutnya.


"Maaf, aku hanya panik. Aku takut kamu seperti kemarin lagi." suara Syifa tercekat.


Perlahan Dion membuka matanya lalu bangkit dan menatap wajah istrinya dengan lekat.


"Maaf pasti kamu khawatir ya? aku hanya terlalu nyaman tidur di pangkuanmu." Dion mengecup bibir Syifa sejenak.


Sementara Syifa langsung memeluk Dion. Menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. "Jangan begitu lagi ya, aku nggak sanggup harus melihatmu terbaring sakit lagi." ujar Syifa kemudian.


"Tidak sayang, aku tidak akan seperti itu lagi. Aku akan berhati-hati dan minta kepada Tuhan agar selalu sehat dan bisa menemanimu seumur hidupmu." Dion paham bagaimana kekalutan yang dihadapi istrinya selama ini. Dia juga merasa begitu bangga memiliki istri yang begitu kuat dan sabar seperti Syifa.


"Bagaimana keadaanmu sayang? apa kamu masih suka mual?" Dion teringat terakhir kali dia selalu dibuat khawatir dengan keadaan Syifa yang begitu lemah.


"Aku baik-baik saja sayang. Setelah kamu jatuh sakit entah kenapa rasa mual itu hilang dengan sendirinya. Mungkin dedek mengerti tak ingin menyusahkan mommy nya. Justru dengan adanya dia di perutku membuatku semangat untuk terus mendoakan mu sayang, aku percaya suatu saat nanti kita akan bersama-sama dengan keluarga kecil kita." ujar Syifa.


"Syukurlah sayang, harusnya aku selalu ada dan merawat mu. Tapi justru aku yang harus jadi beban untukmu. Pasti sulit menjalani hari-hari itu kan?" sesal Dion.


"Buat kamu nggak ada yang menjadikanku sulit sayang, kamu adalah semangat hidupku jadi tak pernah aku merasakan beban itu.Meskipun aku harus menunggu seumur hidupku akan tetap aku lakukan setidaknya aku masih bisa melihatmu. Daripada aku harus kehilangan kamu." tanpa sadar air mata menetes membasahi wajah cantiknya.


"Terimakasih.. terimakasih sudah bertahan selama ini. Aku benar-benar bangga menjadi bagian hidupmu." Dion mengusap air mata Syifa kemudian mengecup kedua matanya yang masih basah.


"Lalu, bagaimana perkembangan bayi kita sayang?" Dion mencoba mengalihkan pembicaraannya agar tak membuat Syifa bersedih lagi.


Syifa beranjak dari ranjang lalu mengambil buku periksa kehamilannya yang ada di laci.


"Sejak kamu sakit aku pindah periksa ke rumah sakit yang sama. Ini adalah foto USG anak kita setiap bulannya." Syifa menunjukkan tiga foto hasil USG kandungannya.


"Sebenarnya di bulan ke dua ini dokter menyatakan bahwa kandunganku kembar. Terdapat dua kantong janin namun masih terlihat begitu kecil." ujar Syifa menunjukkan foto pertama.


"Lalu, bulan selanjutnya aku periksa lagi. Ternyata salah satu kantong tersebut tidak berkembang alias kosong. Sehingga hanya bertahan satu janin. Sedih sih, tapi mau bagaimana lagi. Mungkin kehendak Tuhan seperti itu." Syifa menunjukkan foto kedua. Memang tampak salah satu kantong saja yang lebih besar.


"Dan ini yang terakhir, biarpun sendirian dia anak yang hebat. Tumbuh dengan sangat baik dan sehat." Syifa menunjukkan foto USG terakhirnya.


Dion menatap dengan lekat foto-foto tersebut. Dia jadi teringat akan sosok dua bocah laki-laki yang ada dalam mimpinya. Salah satu dari mereka memilih pergi menemani Bunda Sarah, Apa itu artinya salah  satu janin yang tak berkembang itu putranya yang sekarang berada di surga.

__ADS_1


"Sayang.. sebenarnya sebelum aku bangun dari koma aku mendapat mimpi tentang anak-anak kita." ujar Dion.


"Maksud kamu?" Syifa tampak ak mengerti.


Lalu Dion menceritakan semua kejadian di dalam mimpinya. Dia mengatakan semuanya tanpa terkecuali.


"Awalnya aku sempat tak mengenali Bella, karena dia tumbuh lebih besar dan sangat cantik. Matanya bulat dan memiliki bibir mungil persis sepertimu. Lalu anak laki-laki itu sangat mirip denganku." ujar Dion di akhir ceritanya.


"Jadi.. maksud kamu anak kita yang tak berkembang itu telah berada di surga menemani bunda?" tanya Syifa.


Dion pun mengangguk. "Dia juga yang membantu menyadarkan aku, jika saja aku memilih menemani Bunda mungkin sekarang aku tidak akan berada di sini bersama kalian, anak kita sangat hebat sayang dia rela berkorban demi papanya."


Seketika Syifa menangis dengan tersedu-sedu. Tak menyangka takdir memberikan kejutan seperti ini. Namun seseorang hanya bisa menjalaninya tanpa bisa memilih. Itulah rahasia yang telah digariskan oleh Tuhan.


"Sayang.." Dion langsung memeluk Syifa, rasanya tak tega melihat wanita yang dicintainya menangis seperti ini.


Syifa tak mampu berkata-kata lagi. Entah apa yang harus dia lakukan, di sisi lain dia sangat senang akhirnya suaminya kembali sehat namun mendengar ucapan Dion membuatnya begitu miris. Baktinya seorang anak saja sudah dia lakukan meski belum lahir ke dunia.


"Dia begitu menyayangi kita dan akan jadi penolong orang tua serta saudara-saudaranya di surga nanti. Berbahagia bersama malaikat-malaikat Allah, yang terpenting selalu doakan saja sayang." ujar Dion.


Syifa pun tetap menangis, tapi kini rasa itu berubah menjadi syukur yang luar biasa, jika ada kata yang lebih mewakili kata bersyukur, mungkin Syifa akan mengatakannya.


"Apa dia tampan sayang?" tanya Syifa setelah tangisnya mereda.


"Iya, senyumnya sepertimu, tapi wajahnya sangat tampan sepertiku. apalagi sifatnya ya jelas seperti papanya dong." ucap Dion dengan bangganya.


"Iya-iya sayang, hatinya jelas seperti mommy nya, sabar seluas samudra." Dion mengecup kening syifa.


"Hmm, sayang aku lihat kamu semakin sexy aja deh. Ini makin berisi. Tangan Dion mulai mera ba dua gundukan kenyal di dada Syifa.


"Ya kan efek hamil jadi bengkak, lagian tubuhku kayak kecebong gini mana ada sexy-sexy nya." Sejujurnya Syifa sedikit kurang percaya diri.


"Kata siapa mirip kecebong, justru wanita akan terlihat semakin sexy di mata laki-laki saat hamil." entah itu benar pujian atau hanya menghiburnya saja Syifa tak tahu.


Namun tangan nakal suaminya rupanya tak berhenti. Perlahan dia mulai melepaskan kancing baju yang dipakai Syifa. Membelai lembut benda itu yang masih terbungkus rapi oleh bra hitam.


"Sayang, boleh ya. Aku rindu." gumam Dion dengan tatapan laparnya.


"hmm.. ini baru suamiku sudah kembali ke mode lama, mesumnya gak ketulungan." gerutu Syifa.


Dion hanya terkekeh sambil tangannya mengeluarkan salah satu milik Syifa. Tentu saja netranya langsung berbinar. Dia bahkan sudah memajukan bibirnya bersiap untuk melahap bulatan kecil berwarna pink itu.


Namun tiba-tiba..


TOK..TOK..TOK...


Suara ketukan di pintu membuyarkan rencananya.

__ADS_1


"Ganggu banget sih." gerutu Dion dan memilih mengabaikannya.


Namun suara ketukan itu semakin keras hingga berubah menjadi gedoran.


"Aisshhh.. dasar gak sopan banget." Mau tak mau akhirnya dion harus bangkit dari tempatnya. Sementara Syifa cepat-cepat merapikan kembali pakaiannya.


Dion sangat malas membuka pintunya namun dia juga penasaran siapa yang mencarinya. Hingga saat pintu terbuka Dion langsung dibuat terkejut.


"Dion.. kamu benar-benar adikku Dion kan?" Shaka langsung berhambur memeluk Dion sambil menangis tergugu.


Dion hanya bisa mematung melihat kakaknya itu menangis di depannya. Rupanya manusia balok es telah mencair.


"Iya kak, ini aku. Kak Shaka apa kabar?" Dion sejatinya sedikit kikuk menghadapi Shaka yang seperti ini.


"Kabarku tidak pernah lebih baik sebelum bertemu denganmu. Dion aku benar-benar seperti mimpi sekarang." Shaka mengusap kedua pipi Dion.


"Maaf Dion, kakakmu sangat tidak sabar dia ingin bertemu denganmu, harusnya kami tidak mengganggu waktu istirahatmu." ucap Hana yang berada di belakang Shaka.


Dion pun hanya tersenyum, dia maklum karena sudah lama sekali mereka tak saling berjumpa.


Keduanya kini mengobrol di di ruang keluarga karena Shaka yang sebenarnya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Singapura langsung pulang setelah mendapat kabar tentang Dion.


"Kak, terimakasih ya sudah menjaga Papa dan mama, bahkan kalian juga sudah menjaga Bella." Tak ada kata selain terimakasih yang dapat Dion utarakan, dia tahu bahwa Shaka selama ini sudah menjalankan banyak sekali pekerjaannya.


"Itu sudah tugasku Dion, tapi rumah ini sangat sepi tanpa kamu. Empat bulan ini terasa begitu berat. Papa langsung jatuh sakit setelah dokter memberi kabar bahwa kamu mengalami koma. Sehingga aku dan Hana memutuskan untuk tinggal di sini. Untung saja putrimu Bella sangat pengertian walaupun aku tahu dia sangat merindukanmu. Dan satu lagi, istrimu luar biasa tegar." Shaka berbicara panjang lebar seolah ingin meluapkan semua keluh kesahnya.


Dion pun hanya bisa tersenyum melihat hal yang tak biasa pada kakaknya. Pria dingin itu bahkan bisa di hitung berapa kata yang dia ucapkan dalam sehari.


"Kak, kenapa kau jadi cerewet?" ucap Dion akhirnya.


Shaka pun hanya bisa mendelik dibuatnya. Ternyata sikap tengil adiknya tetap tak hilang.


"Bercanda kali kak, tapi aku senang kita bisa mengobrol lagi seperti ini." ujar Dion.


Shaka berkali-kali menghela nafas. Sepertinya ada hal penting yang sedang dia pikirkan.


"Kak, apa ada sesuatu yang penting?" Dion penasaran.


"Hmm.. ini tentang orang yang sudah berencana mencelakai mu, dia adalah rival papa, Antonio. Kau ingat kan?"


"A-antonio? Bagaimana bisa?" Dion sangat terkejut mendengar hal itu.


"Ya, dia sengaja menyuruh orang untuk mencari masalah dan mencelakai mu. Tapi tenang saja, dia tak akan bisa lagi mengganggu kita karena dia sudah tewas."


"Apa? tewas? jangan bilang.. Kak Shaka yang..."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2