Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 46 ciuman memabukkan


__ADS_3

Sejak kejadian yang hampir mencelakai Syifa di depan kampus kini Dion merasa tidak tenang. Dia yakin orang itu sengaja ingin mencelakai Syifa.


Untung saja saat itu Dion sudah mengantisipasi dengan mengaktifkan CCTV di mobilnya. Bahkan lokasi dia memarkirkan mobilnya sudah dia perhitungkan.


Jadi orang yang sengaja hampir menabrak Syifa bisa terekam jelas meski wajahnya tampak tertutup.


Dion terus mengamati rekaman video itu dan mencoba untuk mencari petunjuk.


"Aku harus waspada. Sepertinya dia benar-benar mengincar istriku." gumam Dion dengan geram.


Tak lama terdengar pintu kamar terbuka. Tampak Syifa yang masuk ke dalam kamar tersebut.


"Sayang kamu tahu nggak, Bella saking senengnya punya sepatu baru sampai tidur pun nggak mau di lepas. Dia langsung nangis waktu aku lepas sepatunya. Nggak nyangka putri kecil kita sudah sangat pintar dan mengerti." tampak wajah Syifa yang begitu berseri saat bercerita. Rasanya Dion tak tega memberi tahu tentang masalah ini.


"Benarkah? Dia benar-benar mirip kamu sayang. Kamu ingat saat heels kamu yang baru beli. Kan ketiduran masih kamu pakai. Bahkan aku sempat memotretnya." balas Dion dengan menunjukkan foto Syifa yang tengah ketiduran memakai heels baru.


"iihh.. Kok difoto sih. Kan malu sayang. Dasar jahil ya." Syifa langsung merajuk dan ingin merebut ponsel Dion.


"Kan lucu aja sayang, bu dosen cantikku ternyata pernah melakukan hal konyol. Dan sekarang pun ditiru Bella." goda Dion dengan menjauhkan ponselnya.


"Mas Dion ih, awas ya sampai diceritain orang lain. Malu-maluin banget tahu." Syifa mengejar dan meraih lengan Dion untuk merebut ponselnya.


"Aawwhh.." tiba-tiba Dion memekik kesakitan.


"Sayang kenapa? Kamu terluka?" Syifa berubah panik.


"Nggak, nggak apa-apa kok sayang." elak Dion.


"nggak, pasti terjadi sesuatu. Buka baju kamu." ujar Syifa.


"Eh, ngapain. Mau nyiksa aku pakai tanda merah-merah lagi? Nggak, yang kemarin aja baru ilang." tolak Dion.


"Mas Dion ih mesum mulu. Aku nggak mau itu kok, cuma mau lihat tangan kamu. Jangan-jangan terluka gara-gara jatuh tadi." Syifa pun kini memaksa Dion untuk membuka Hoodie nya.

__ADS_1


Dan benar saja, saat membuka hoodienya saja Dion tampak sedikit kesakitan. Ternyata Bahu dan siku Dion tampak lebam keunguan.


"Yaampun sayang sampai kayak gini kok nggak bilang-bilang sih. Pasti sakit kan." pekik Syifa.


"nggak apa-apa sayang. Diolesi salep nanti juga sembuh." ujar Dion.


Syifa segera mengoles salep untuk mengobati memar. Berharap luka Dion segera sembuh.


"Maaf" ucap Syifa lirih. Bahkan kedua netranya kini mulai berembun.


"Hey, kok malah sedih. Sayang justru aku sangat lega kamu baik-baik saja. Coba tadi sampai kamu tertabrak motor aku malah akan sangat sedih dan tentunya merasa semakin bersalah." Dion menarik Syifa agat duduk di pangkuannya.


Mengusap lembut air mata yang sudah meleleh di kedua pipinya. Dengan bibir mungilnya yang tampak cemberut serta hidungnya yang merah membuat Dion merasa gemas sendiri.


"Baiklah, jangan bersedih. Cukup beri aku ciuman saja." ujar Dion


Syifa pun mendekatkan bibirnya dan mulai mengecup singkat bibir Dion.


Tak tahan Dion langsung mengecup lembut bibir Syifa. Kecupan yang begitu pelan pada benda kenyal itu akhirnya berubah menjadi lum atan. Menyapu lembut bibir mungil yang berwarna pink alami tanpa polesan lipstick terasa sangat manis hingga Dion tak ingin menghentikannya. Sementara Syifa yang sudah begitu terbuai pun juga menikmati ciuman itu.


Permainan lidah Dion begitu lihai dengan sapuan lembut ke seluruh bibirnya hingga mengabsen setiap ruangan dalam mulut Syifa.


Hingga akhirnya lidah itu saling bertemu dengan milik Syifa. Dion semakin memperdalam ciumannya. Saling membelit lidah juga diiringi hisapan-hisapan sedikit kuat sampai bibir bawah Syifa terasa tertarik oleh mulut Dion.


Dion tak melakukannya dengan pelan namun sangat dalam. Dia ingin menikmati setiap decapan dengan lembut dan tak menggebu. Justru hal itu membuat Syifa semakin terbuai dan membuatnya makin kewalahan.


Cukup lama ciuman Dion membuat Syifa hampir kehabisan nafas.


"Enngghhh..." Syifa mengerang saat tidak kuat lagi. Dia sampai memukul pelan dada suaminya. Dion baru melepaskan tautannya hingga Syifa nampak tersengal. Bibirnya sudah memerah dan sedikit bervolume.


Baginya tak ada ciuman sememabukkan ini. Hanya Dion lah yang mampu membuat Syifa kewalahan. Segala sentuhannya seolah menjadi candu tersendiri untuk Syifa. Rasanya ingin terus dan terus melakukannya.


Baru saja Syifa menetralkan nafasnya tau-tau Dion sudah menciumnya kembali. Kali ini ciumannya menjadi sedikit menggebu. Lum atan dan hisapannya menjadi semakin kuat dan dalam. Syifa yang hendak melepaskan diri menjadi tak berkutik saat Dion mengunci tengkuknya dengan tangan.

__ADS_1


Mau tak mau Syifa harus menerima ciuman liar suaminya. Rasanya bibir Syifa semakin tersedot ke dalam namun sialnya hal itu sangat dia sukai. Setiap belaian lidah Dion dalam mulutnya membuatnya merasakan gelenyar aneh di tubuhnya.


Des ahan dan pekikan kecil pun terimbangi oleh kecipak dua benda kenyal itu. Begini saja rasanya Syifa sudah panas dingin.


Suhu udara rasanya berubah menjadi panas apalagi saat tangan Dion yang menganggur mulai masuk kedalam piyama Syifa.


Merayap mencari benda kenyal kesukaannya yang ternyata wanita itu tak memakai bra. Sungguh semakin membuat Dion senang. Dia segera meremas lebut serta memilin ujungnya.


Ciuman Dion kini merambat ke rahang Syifa dan mulai menjalar ke leher. Menyapu seluruh kulit putih mulus itu. Menghisapnya kuat hingga menimbulkan tanda merah di leher jenjang itu.


Sementara Syifa yang sudah terbuai dengan permainan suaminya pun tak sadar bahwa kini piyama yang dia pakai sidah terlepas semua kancingnya. Hingga menampakkan dua buah sintal yang tampak bulat seempurna.


Ujungnya yang berwarna pink pucat tampak mengacung hingga membuat Dion yang gemas langsung melahapnya dengan rakus.


Gigitan kecil serta sedotan membuat Syifa meracau gelisah serta tubuhnya rasanya mendapat sengatan listrik. Sungguh permainan lidah Dion dalam tubuhnya terasa begitu nikmat dan ingin terbang ke awang-awang.


Syifa pun merasakan belalai Dion yang sudah mengeras di bawah sana terasa mengganjal diantara pahanya. Tanpa sadar membuat Syifa ingin menggerakkan tubuhnya menciptakan atensi yang sungguh Syifa rindukan selama enam hari ini.


Ya, tak terasa enam hari Syifa datang bulan. Dan kini tepat saatnya dirinya selesai.


"Aahhh sayang.. Aku nggak tahan. Aku ingin milikmu, sayang." racau Syifa dengan nafas terengah.


"Tapi kamu kan masih..."


"Sudah bersih sayang. Aku mau kamu." ujar Syifa dengan suara manjanya.


Mendapatkan lampu hijau tentu saja langsung membuat Dion tersenyum lebar. Akhirnya siksaannya kali ini dapat terobati.


Tanpa menunggu lama Dion langsung merebahkan tubuh Syifa. Melepaskan pakaiannya yang tersisa.


Dion Membuka lebar paha Syifa hingga menampakkan pemandangan indah yang begitu Dion rindukan. Dengan tatapan lapar Dion siap menuntaskan semua hasratnya yang telah tertunda selama seminggu ini.


"Persiapkan dirimu sayang, aku akan membuatmu menjerit sampai pagi."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2