
Setelah drama perdebatan bersama Shaka kini Luna kembali dibawa ke kediaman Wira. Wira sendiri yang memintanya karena bagaimanapun Luna adalah putri dari sahabatnya.
Semua orang tentu menolak namun Wira menegaskan akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu.
"Dia akan disini sampai kedua orang tuanya datang. Dan kemungkinan sore akan sampai karena sekarang dalam perjalanan kemari." ujar Wira.
Awalnya Dion meradang. Dia tak ingin kejadian lalu terulang lagi apalagi Luna sudah dua kali menimbulkan masalah pada rumah tangganya.
Namun Syifa rupanya justru menyetujui Wira. Bukan karena dia merasa tak enak hati dengan papa mertuanya namun dia memiliki rencana tersendiri.
Perdebatan itu akhirnya selesai dan Luna memutuskan untuk mengurung diri di kamar sembari pasrah menunggu kedatangan orang tuanya.
Bayang-bayang kemarahan itu sudah tergambar jelas di benaknya. Bahkan dia pasrah akan apa yang akan dilakukan papanya. Karena Luna tahu betul bahwa Mateo, ayahnya bukanlah orang yang mudah memaafkan.
Tok.. Tok.. Tok...
Suara seseorang mengetuk pintu kamar Luna. Dia tidak langsung membukanya. Dia takut jika kedua orang tuanya sudah datang.
"Luna, bisa buka pintunya? Aku Syifa ingin bicara denganmu." suara Syifa terdengar dari balik pintu.
Setelah banyaknya masalah yang dia timbulkan dan mengetahui fakta tentang Rangga rasanya Luna semakin enggan bertemu Syifa. Dia terlalu malu untuk muncul di hadapannya.
Tapi Syifa kembali mengetuk pintu hingga akhirnya mau tak mau Luna pun membukanya. Dengan wajah tertunduk Luna mempersilahkan Syifa untuk masuk. Dia sudah pasrah jika Syifa memarahinya.
Luna duduk di pinggiran ranjang begitu juga dengan Syifa. Ada keheningan beberapa saat sebelum akhirnya Luna yang lebih dulu berucap.
"maaf.." ucap Luna lirih. Sekuat tenaga dia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kau tau aku paling tidak suka seseorang menyentuh kepemilikan ku. Tapi sialnya kenapa selalu saja orang lain merebutnya dariku. Nggak bisa apa sedikit saja punya hati kalau itu menyakitkan?" Syifa menatap tajam Luna. Sementara Luna hanya bisa menangis terisak.
Syifa bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke dekat jendela dan menatap luar.
"Dulu aku menikah dengan Rangga. Aku dijodohkan dengan harapan kami bisa membina rumah tangga dengan bahagia. Tapi saat aku hamil tuju bulan aku yang bodoh ini menampung sahabatku sendiri ke rumah karena dia baru saja terkena musibah. Awalnya aku tak sadar namun akhirnya aku memergoki mereka yang terang-terangan berselingkuh. Bahkan saat aku melahirkan Bella, Rangga sama sekali tak datang menemuiku. Mereka asyik pergi liburan hingga satu bulan berlalu aku memutuskan untuk menceraikannya. Aku tidak tahan sikap Rangga yang suka main tangan dan juga dengan hubungan mereka. Benar-benar berengsek." Syifa nampak mengepalkan tangannya degan emosi. Namun dia sama sekali tak menangis.
__ADS_1
"Dan yang paling menyebalkan adalah Rangga ingin mengambil Bella hanya karena sebuah syarat untuk mendapatkan warisan. Pria itu benar-benar gila. Padahal aku mati-matian berjuang melahirkan dan membesarkan dia setengah mati."
Luna benar-benar terkejut mendengar cerita dari Syifa. Hatinya ikut merasa sakit bahkan jika berada di posisinya mungkin tak akan sanggup melewatinya.
"Jadi Mona itu sahabat Kak Syifa?"
Syifa mengangguk. Membuat Luna semakin merasa bersalah. Bahkan disaat sahabatnya mengkhianati tapi Syifa masih terlihat tegar.
Luna langsung jatuh bersimpuh di kaki Syifa. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memegangi kaki Syifa.
"Maafkan aku.. Maaf.. Aku sangat jahat kepadamu. Aku dibutakan oleh egoku. Aku minta maaf kak.." Luna benar-benar menyesal sekarang.
"Bangunlah jangan seperti ini." Syifa mengangkat tubuh Luna agar duduk di ranjang.
"Katakan apa saja yang telah bajingan itu lakukan kepadamu." Syifa menatap Luna dengan tajam.
Akhirnya Luna menceritakan semua yang telah Rangga lakukan kepadanya. Geram dan marah, itulah yang Syifa rasakan saat ini. Pria toxic seperti Rangga rasanya harus benar-benar segera dibinasakan. Sudah banyak sekali korban kebusukannya.
Namun dengan adanya penangkapan Rangga serta bukti-bukti yang telah dikantongi pihak kepolisian agaknya Rangga akan mendapatkan balasan setimpal.
"Kak, aku takut kalau aku hamil." Luna akhirnya mengutarakan kekalutannya.
Syifa langsung meraih tubuh Luna dan memeluknya. Luna sempat tersentak namun pelukan hangat Syifa agaknya sedikit memberikan rasa tentram untuknya.
"Kamu yang sabar. Semua yang terjadi sudah ada garis takdirnya. Kamu harus menghadapi apa yang menjadi konsekuensinya karena kamu telah melakukannya. Tapi semua masalah pasti bisa dilewati dan berpikirlah lebih dewasa. Aku yakin kamu bisa." Perkataan Syifa benar-benar mengena di hati Luna. Kini dia bisa berpikir lebih dewasa. Apapun yang akan terjadi nantinya dia akan hadapi.
"Makasih kak, makasih banyak. Nggak nyangka ternyata Kak Syifa sebaik ini. Andai aku terlahir kembali aku ingin jadi adik kak Syifa. Aku sangat mendambakan saudara sebaik kakak." Kini Luna berkata jujur dari dalam hatinya.
"Kau bisa jadi saudaraku kok. Tapi dengan satu syarat." ujar Syifa sembari menyunggingkan senyuman.
"Apa kak?" Luna tampak penasaran.
"Jangan ceroboh lagi. Dan hati-hati setiap bertindak. Apa-apa itu dipikirkan dulu." Syifa mengusap lembut air mata yang tersisa di wajah Luna.
__ADS_1
Luna langsung mengangguk dan kembali berhambur di pelukan Syifa. Rasanya sangat bahagia. Bahkan Syifa pun seolah melupakan begitu saja sosok Luna yang kemarin begitu menjengkelkan.
"Awas kalau bandel lagi ku jewer kamu." bisik Syifa.
Keduanya pun tampak tersenyum. Melepaskan semua beban yang telah menumpuk dan kini meluruh begitu saja.
Tanpa disadari ternyata sejak tadi Dion menyaksikan keduanya. Rasa bangga berkali-kali lipat ditambah cintanya terhadap Syifa. Wanita yang dia nikahi itu benar-benar sangat istimewa.
Syifa yang selalu berpikiran dewasa dan bijak dalam setiap keputusan. Bahkan hatinya begitu lapang menerima segala keadaan.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Luna kini Syifa kembali ke kamarnya. Karena Bella tengah tertidur.
Baru saja dia masuk ke dalam kamar tiba-tiba sebuah pelukan langsung didapatkan.
Dion langsung memeluk Syifa dari belakang dan menghirup tengkuknya merasakan aroma wangi vanilla yang menjadi kesukaannya.
"Istriku hatinya terbuat dari apa sih? Bijak dan dewasa banget. Salut akutuh sama kamu." ujar Dion sambil mengusal di ceruk leher Syifa.
Syifa yang merasa kegelian pun langsung berbalik dan memegangi kedua pipi Dion agar berhenti bermain-main.
"Kamu nguping ya tadi?" telisik Syifa.
"hehe nggak sengaja. Aku cuma khawatir aja kalau ada pertempuran di dalam." Dion takut jika Syifa bertengkar dan saling menyerang dengan Luna.
Bahkan didalam pikirannya sempat membayangkan bagaimana baku hantam keduanya yang saling serang dengan adegan jambak menjambak sekaligus cakar cakaran. Berlebihan sih tapi itu sebuah antisipasi saja.
"Kamu pikir aku kucing garong apa pakai acara pertempuran." Syifa memicingkan netranya.
"Kamu bukan kucing garong sayang. Tapi kucing oyen kalau kata Bella." Dion tersenyum geli.
"Kucing oyen? Emangnya es?" Syifa tampak berpikir.
"Kucing oren maksudnya. Lucu, suka digemas-gemas tapi meresahkan dan begitu liar apalagi kalau di atas ranjang." Dion langsung menyengir sambil menjauh dari istrinya. Tau kalau Syifa pasti akan mencubitnya.
__ADS_1
"Ishh.. Ada aja emang dasar kucing garong." omel Syifa.
...****************...