
"Papa... No.. Mau Papa.." Drama pagi ini diwarnai dengan Bella yang terus meraung tak ingin ditinggalkan oleh Dion.
Sejak kejadian lalu Bella seolah begitu takut berpisah dengan Dion. Bocah kecil itu masih trauma. Bahkan sehari setelah bertemu Dion kembali Bella tak mau pisah dari Dion. Sampai ke kamar mandi pun harus pakai drama bujuk rayu. Alhasil Dion harus bernyanyi didalam kamar mandi sementara Bella menungguinya didepan pintu sambil digendong Syifa.
Hati seorang anak kecil begitu murni. Dia tahu siapa saja yang tulus dengannya dan tidak. Kehadiran Dion sebagai 'papa' untuk Bella sangat berarti untuknya.
Apalagi melihat tangis pilu putri kecilnya itu membuat Dion tak kuasa menahan haru. Alhasil hari ini Dion memutuskan untuk mengajak Bella ke kampus.
"Yakin kamu mau bawa Bella ke kampus?" Mama Rina kembali menanyakannya kepada Dion.
"Iya ma, lagian mana tega ninggalin Bella dalam keadaan begini. Yang ada bisa senewen sendiri nggak fokus di kampus." ujar Dion.
"Yaudah biar embak ikut ya, takutnya kamu kerepotan nanti. Tapi Syifa tau kalau Bella kamu ajak?" Syifa sendiri sudah berangkat ke kampus sejak pagi karena ada kelas.
"Nggak Ma, biar jadi surprise aja." Dion tampak tersenyum senang.
Mama Rina hanya bisa geleng kepala melihat putranya itu. Namun dia bangga melihat Dion yang begitu bertanggung jawab dan sayang keluarga.
Setelah mempersiapkan segala kebutuhan Bella kini Dion berangkat ke kampus. Dia turut mengajak pengasuh Bella karena permintaan Mama Rina.
Sampai di kampus tentu saja Dion langsung menjadi pusat perhatian. Pria itu dengan santainya menggendong anak kecil yang tampak begitu cantik dan imut. Sementara pengasuh Bella mengikuti dari belakang sambil membawa tas keperluan Bella.
"Mbak tunggu di kantin aja. Jajan sepuasnya nanti kalau aku butuh baru mbak samperin." Dion mengambil tas keperluan Bella lalu memberikan dua lembar uang seratus ribu sebagai uang jajan. Dion tak pernah pelit soal uang.
"Tapi Mas, nanti apa nggak kerepotan?" tanya pengasuh Bella merasa tak enak hati.
"Insyaallah aman mbak." Dion memang selalu menjaga Bella setiap hari jadi dia paham apa yang dibutuhkan oleh putrinya.
Untung saja mata kuliah Dion hari ini tak banyak sehingga dia banyak waktu luang dengan Bella.
"Waduh ponakan gue ikut nih. Hai cantik primadona baru nih di kampus." Nico langsung menghampiri Bella.
"Liat Bella jadi gemes pengen punya sendiri." Nico memainkan telinga beruang pada hoodie Bella.
"Makanya bikin sendiri. Eh nikah dulu deh. Bianca noh nikahin gas bikin anak lucu gini." ujar Dion.
"Boro-boro nikah. Belum apa-apa udah kandas." ucap Nico murung.
"loh kenapa lagi? Bukannya kalian jadian?" belum sempat Dion mendengarkan kisah cinta mereka kini sudah kandas.
"Panjang ceritanya. Lebih panjang dari dugaan gue." ucap Nico.
"Yaudah deh yang terbaik buat lo. Sabar aja jodoh nggak kemana kok." Dion menepuk bahu Nico.
Karena cuaca memang agak dingin dengan angin sedikit kencang sehingga Dion memberinya pakaian hangat untuk antisipasi.
__ADS_1
Bella tampak begitu menggemaskan memakai sweater bulu berwarna putih dengan telinga panda serta sepatu boat warna senada.
Dan benar saja dalam sekejap Bella menjadi pusat perhatian apalagi para mahasiswi yang melihatnya begitu gemas. Banyak yang memotret Bella.
"Yaampun Bella mirip banget sama Bu Syifa ya. Benar-benar cantik." puji salah satu mahasiswi.
"Dion lo keren banget masih muda tapi pinter momong. Ayo gasslah bikin lagi." celetuk salah satu teman Dion.
"Santai Bro. Biar Bella gedean dikit. Masak tega sih berbagi kasih sayang nanti malah kehilangan momen sama Bella bisa rugi gue." Dion memang tak mau egois memaksakan diri untuk segera memiliki momongan lagi. Baginya masih ada waktu panjang sebelum Bella lebih besar.
Rasa sayangnya terhadap Bella membuat Dion enggan membaginya sebelum Bella benar-benar lebih mandiri.
"Oke deh, gue lihat hubungan lo sama Bu Syifa juga harmonis banget. Paket komplit deh lo. Udah dapet istri cantik juga anak lucu pula." ujar Doni, salah satu teman sekelas Dion.
Jika dulu mereka gencar menghujat hubungan Dion maka sekarang banyak yang mendukungnya. Nyatanya baik Syifa dan Dion sangat profesional dan menjaga nama baik kampus maupun keluarga.
Sementara Bella bermain dengan para mahasiswa Dion dengan cekatannya meracik susu dan membuatkannya untuk Bella. Bahkan dia hafal dengan takaran juga tingkat kehangatan yang disukai Bella.
"Aduh, bener-bener Daddyable banget lo. Selihai itu bikin susu. Mentang-mentang mantan barista." celetuk Nico.
"iya nih, kalau dulu meracik cocktail sekarang ngeracik susu." jawab Dion diiringi dengan cengiran.
"Bella sayang waktunya minum susu." Dion memanggil Bella dan bocah kecil itu langsung menghampirinya.
Dion memangku Bella sedang tangannya memegangi dot. Benar-benar potret yang luar biasa berbeda dengan Dion dulu yang dikenal bad boy.
Lama kelamaan Bella mulai mengantuk dan kini telah tertidur. Akhirnya Dion meletakkan tubuh Bella tengkurap di dadanya. Membiarkan putri kecilnya lelap.
Sementara itu kelas Dion baru dimulai. Dia sengaja membawa Bella yang sebelumnya sudah ijin kepada dosennya.
Bella yang tertidur memudahkan Dion untuk menghandle nya. Bahkan selama pelajaran Dion dengan tenang menggendong Bella dengan babby wrapnya.
Sementara Syifa yang baru saja selesai mengajar pun menuju kantin untuk membeli minuman. Tapi pandangannya langsung tertuju pada pengasuh Bella yang sibuk makan bakso.
"Loh, mbak ngapain kesini?" tegur Syifa.
"Eh, mbak Syifa. Maaf saya disuruh Mas Dion disini. Soalnya non Bella ikut ke kampus sama Mas Dion." ujar pengasuh Bella.
"Ha? Bella ikut ke kampus?" Syifa pun terkejut sebab Dion sejak tadi tak mengatakan apapun.
"Iya Mbak, tadi Non Bella menangis terus nggak mau pisah sama papanya. Jadi Mas Dion mengajak non Bella kesini." pengasuh Bella Pun menjelaskan kejadian tadi pagi.
"Terus ngapain mbak malah disini?"
__ADS_1
"Justru itu Mas Dion nggak bolehin saya ikut kesana."
"Aduh, ada-ada aja deh suamiku ini." Syifa pun bergegas mencari Dion di kelasnya karena dia tahu saat ini sedang ada pembelajaran.
Saat sampai di kelas Dion dia melihat Bella sedang tidur dalam gendongan suaminya. Syifa pun ijin kepada Pak Bandi, dosen yang mengisi kelas untuk membawa Bella.
"Mas, sini biar Bella sama aku. Maaf ya jadi ngrepotin gini." ucap Syifa lirih namun masih bisa didengar mahasiswa lain di sebelah Dion.
"Nggak apa lagian Bella juga pinter kok." Dion mengulas senyum mencoba untuk melepaskan gendongan Bella.
Namun tanpa diduga justru Bella langsung mendekap erat leher Dion dan tak mau pisah. Seolah dia tahu bahwa Syifa akan mengajaknya.
"Papa.. " rengek Bella lirih.
Syifa pun akhirnya mau tak mau membiarkan Bella bersama Dion. Berasa ibu tiri kalau begini padahal orang tua kandungnya adalah Syifa. Tapi Syifa jadi nomor dua.
...****************...
Di taman kampus..
"udah dong, Bella juga mau sama kamu kok. Cuma dia masih kebawa efek kemarin aja. Lama-lama biasa lagi dia." Dion merapikan rambut Syifa yang sejak tadi cemberut karena Bella benar-benar hanya ingin menempel kepada Dion.
"Tapi Mommy kan juga kangen. Apalagi sekarang mumpung dikampus. Pengen ngajaki Bella keliling." Syifa yang merajuk gara-gara Bella selalu menolaknya.
"uluh-uluh kalau cemberut gini bikin gemas pengen gigit bibir kamu aja." Dion menyentil bibir Syifa.
"Sebelum kamu gigit aku yang bakal gigit duluan."
"jangan dong, daripada digigit mending dibelai sama bibir manis dan lidah kamu." Dion sengaja menggoda Syifa.
"Dasar mesum mulu ih" Syifa pun langsung mencubit Dion hingga mengaduh. Sementara Bella yang menyaksikan langsung tertawa.
"Papa dicubit Mommy kok malah ketawa sih Bell bukannya bantuin."
"haha syukurin. Bella seneng ya kalau Mommy cubit Papa." Syifa pun dengan gemas langsung mencubiti Dion berkali-kali. Semakin Dion mengaduh semakin Bella tertawa senang.
Keluarga itu tampak begitu bahagia dengan canda tawanya. Sementara itu ponsel Syifa berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Syifa, bisa kita bertemu? Sekali ini saja untuk yang terakhir."
...****************...
Visual Bella waktu ikut papa ke kampus...
__ADS_1