
Semua wartawan kini telah berkerumun di depan gedung perusahaan. Siapa lagi kalau tidak menunggu konfirmasi langsung soal kasus skandal yang menyeret nama Papa Wira.
Meski Papa Wira sendiri sudah pensiun dari pekerjaannya di kantor namun perusahaan itu masih miliknya. Dan kini yang harus menghadapi kekacauannya adalah Shaka.
Pria itu baru saja sampai di depan kantor namun banyaknya wartawan membuatnya kesulitan untuk masuk. Beruntung petugas pengamanan dan beberapa staf langsung sigap mengamankan dirinya.
"Pak Shaka bisa jelaskan kasus yang menimpa ayah anda?"
"Pak Shaka apa benar berita yang beredar itu benar adanya?"
"Apakah benar Pak Wira akan bercerai dengan istrinya?"
dan masih banyak lagi pertanyaan yang terlontar dari mulut para wartawan itu.
Shaka yang hendak masuk ke dalam gedung tiba-tiba berhenti. Dia berbalik dan menatap banyaknya wartawan yang penuh rasa penasaran.
Berpuluh-puluh kamera saat ini sedang menyoroti dirinya. Shaka harus menghentikan sementara kehebohan pagi ini agar tidak terus mengganggu pekerjaan di kantor.
"Baiklah, selamat pagi semuanya. Saya Shaka Dinata selaku Direktur WD Corporation yang mana perusahaan ini adalah milik Papa saya. Menindaklanjuti berita yang beredar kami mohon kesabaran teman-teman semuanya. Saat ini kasus sedang ditangani oleh pihak yang tepat. Saya tahu betul bagaimana Papa saya dan diharapkan sebelum kasus ini terbukti kebenarannya mohon untuk tidak menyebarkan berita dan asumsi-asumsi yang tidak benar atau HOAX. Saya berjanji akan secepatnya mengungkap kebenaran kasus ini jadi jika ada berita yang mengatakan keburukan tetang kami sekeluarga maka saya tak segan-segan menuntut kalian. Terimakasih." Shaka langsung berbalik dan menuju ke dalam gedung.
Langkah tegapnya dengan tatapan yang serius menandakan dirinya sedang tak baik-baik saja.
Bahkan saking seriusnya dia sampai mengabaikan setiap sapaan dan sambutan dari para karyawan. Mereka pun memaklumi karena memang kasus seperti ini sering menimpa orang-orang yang memiliki nama yang besar. Bahkan Papa Wira sudah beberapa kali mendapatkan kasus seperti ini karena memang kerasnya persaingan bisnis.
Hanya saja yang membuatnya begitu khawatir adalah Mama Rina yang semalam langsung drop. Setelah mengobrol dengan Syifa tiba-tiba Mama Rina jatuh pingsan.
Riwayat penyakit jantung yang diderita dan juga pikiran yang begitu kacau membuat Mama Rina tak kuat. Bahkan hingga sekarang dia tak sadarkan diri.
Meski bukan ibu kandung namun Dion dan Shaka kini teramat menyayangi mama Rina. Bahkan sejak semalaman Dion terus terjaga untuk menunggui mamanya. Sejak kecil dirinya dirawat dan dibesarkan olehnya. Bahkan dengan sikap Dion yang dulu sangat membencinya Mama Rina dengan sabar dan lapang dada menerima Dion.
Memandangi wanita yang usianya tak lagi muda itu dengan berbagai macam alat medis menempel di tubuhnya membuat semua keluarga terasa begitu hancur. Tak disangka sosok Mama yang kehadirannya seperti malaikat di keluarganya harus tersiksa dengan sakitnya.
Papa Wira tak henti-hentinya meneteskan air mata mengutuki dirinya sendiri. Dia begitu menyesal atas keteledorannya hingga membuat wanitanya terbaring sakit.
"Pa, papa yang sabar dan doakan Mama agar cepat sembuh." tak henti-hentinya Dion menguatkan papanya meski dia sendiri begitu terpuruk.
"Andai saja waktu itu menuruti mamamu untuk tidak pergi mungkin semua ini tidak akan terjadi. Papa benar-benar merasa menjadi seorang suami yang tak berguna. Hanya bisa menorehkan luka pada Rina." sesal Wira.
"Semua sudah terjadi dan tak ada gunanya menyesal Pa. Yang mesti kita lakukan adalah menghadapi dan mencari kebenarannya kalau Papa memang tidak melakukannya." ujar Dion.
Papa Wira hanya bisa mengangguk lesu.
Sementara itu tak berselang lama Hana datang menghampiri mereka.
"Dion, sebaiknya kamu ajak Papa untuk pulang dan beristirahat di rumah. Biar aku yang menggantikannya. Kalian kan belum pulang sejak semalam." ujar Hana.
"Tapi Mbak Hana sendirian di sini?" tolak dion.
"Sebentar lagi Kak Shaka akan ke sini setelah menyelesaikan rapatnya. Kamu pulang saja, jangan sampai ikut-ikutan sakit disaat begini." benar juga jika mereka masih memaksakan diri maka yang ada justru sakit dan semakin memperumit keadaan.
Akhirnya Dion dan Papa Wira memutuskan untuk pulang ke rumah mengistirahatkan diri. Sampai di rumah mereka langsung disambut Syifa yang memang memutuskan untuk ijin sementara. Dia menjaga Bella di rumah karena keadaannya yang masih hamil muda dan beberapa kali mengalami mual.
"Sayang bagaimana keadaan Mama?" tanya Syifa khawatir.
"Mama masih belum sadarkan diri.p ucap Dion lirih.
Syifa pun langsung memeluk Dion dengan erat. Begitu juga pria itu menyambut pelukan Syifa. Setidaknya dengan nyaman pelukan istrinya membuat Dion merasa lega dan sedikit mengurangi rasa sesak di hatinya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu sayang? apa tadi pagi masih muntah? maaf ya aku tak bisa menemanimu saat begini." sesal Dion.
"Mas, aku baik-baik aja kok. Mual-mual Nya udah berkurang juga tak separah kemarin." ujar Syifa.
"Sarapan dulu ya, nanti baru istirahat. Aku akan antar sarapan papa ke kamarnya." ujar Syifa.
"Biar aku saja sayang yang antar sarapan Papa. Papa agak sulit makan kalau keadaannya begini." Sejak kejadian ini menimpa Papaya Dion merasa begitu kasihan dan berusaha memperhatikan Papanya.
"Yaudah aku siapin dulu." Syifa pun menyiapkan sarapan untuk mertuanya.
Sarapan hari ini terasa begitu berbeda dengan hari-hari sebelumnya karena biasanya Mama Rina adalah sosok paling heboh soal masakan. Apalagi tingkah manja papanya yang semakin hari semakin bucin.
Kini hanya ada Syifa dan Dion, serta celoteh Bella yang sedikit menghidupkan suasana.
"Mas, bagaimana perkembangan kasusnya? apa sudah ada tanda-tanda siapa yang melakukannya?" tanya Syifa saat sudah menyelesaikan sarapannya.
"Aku dan Kak Shaka sudah melaporkan maslah ini ke polisi, tapi kami juga meminta orang-orang khusus menyelidiki kasus ini. Tadi pagi sih katanya identitas gadis itu sudah di temukan. Hanya tinggal mencari keberadaannya. Semoga saja
cepat selesai." ujar Dion.
"emm, kemarin aku sempat mengobrol dengan Mama, katanya Papa sudah beberapa kali juga tersandung kasus begini, apa benar?" Syifa pun akhirnya mencoba untuk mencari tahu karena penasaran.
"Iya, papa sebagai orang yang berpengaruh tentu saja sering mendapat godaan dan juga fitnah. Tujuan mereka tak lain adalah persaingan bisnis. Demi mencapai keinginannya mereka sampai rela melakukan cara kotor haya untuk menjatuhkan lawannya." ujar Dion.
"Itu pula alasan kenapa aku nggak pernah mau terjun di perusahaan Papa. Selain menyita banyak waktu aku pun tak ingin rumah tanggaku mengalami banyak masalah. Aku sayang kamu dan juga Bella. Aku tak ingin mengalami hal yang sama seperti papa. Dan aku ingin fokus untuk kamu dan anak-anak kita sayang." Dion mengusap lembut kedua pipi Syifa.
Syifa pun mengerti dan paham akan apa yang dirasakan oleh Dion. Dan dengan sikapnya begini Syifa semakin bersyukur memiliki suami yang begitu memprioritaskan keluarga.
"Jadi nggak apa-apa kan jika setelah ini aku akan jadi bapak rumah tangga yang kerjaannya momong anak-anak sementara kamu masih mau kerja nggak apa-apa. Aku yang akan jadi penganggurannya." ujar Dion dengan sedikit kekehannya.
"Hmm.. ya nggak apa-apa sih asal jadi pengangguran sukses." jawab Syifa sembari mencubit pipi Dion dengan gemas.
"Aduhhh Bella.. pipi papa cakitt.." Dion pun langsung mode manja jika mendapat perlakuan dari Bella.
Bella langsung menghampiri Dion dan mengelus lembut pipi Dion.
"Papa cakit?" tanya Bella.
"Iya sayang, sakit banget ini, coba Bella cium deh biar sakitnya hilang." Tanpa ragu Bella langsung menciumi pipi Dion bertubi-tubi hingga Dion merasa kegelian saat Bella sengaja menghembuskan nafasnya di pipi Dion.
"Aduh geli sayang." Bukannya berhenti justru Bella terus menciumi Dion.
"Ini nggak anak nggak Mamanya sama-sama doyan nyosor deh." protes Dion saat Syifa juga menyerang pipi Dion yang satunya dengan ciuman bertubi-tubi.
...****************...
"Pak, kami menemukan gadis itu." ujar salah seorang suruhan Shaka.
"Baiklah bawa dia ke markas dan aku akan menemuinya." ujar Shaka yang saat ini menemani Hana di rumah sakit.
Shaka yang tak ingin masalah ini berlarut-larut segera menghubungi Dion dan Papanya.
Dion yang sedang terlelap sedikit terganggu dengan dering ponselnya. AKhirnya mau tak mau dia harus kembali membuka mata.
Namun saat hendak bangun dia cukup kesulitan karena Syifa tengah tidur pulas berbantalkan lengannya. Kedua tangannya memeluk pinggang Dion erat dan kakinya pun juga. Melintang di atas pahanya sedikit mengenai pusat intinya membuat Dion harus menahan diri.
Sementara yang lebih parah adalah Bella. Dimana bocah kecil itu begitu lelap tidur di atas tubuh Dion, kepalanya berada di dada bidangnya sementara kedua tangan kecil itu melingkar di leher Dion.
__ADS_1
Begitu menggemaskan dua insan ini dan ingin membangunkannya pun rasanya tak tega. Akhirnya dengan hati-hati Dion mencoba meraih ponselnya yang ada di nakas. Beruntung tangannya yang panjang bisa menjangkau ponselnya.
"Halo, Assalamualaikum, Kak Ada apa?" ucap Dion dengan suara begitu lirih.
"Waalaikumsallam, kamu dimana sih Dion, kenapa ngomongnya pelan banget?"Ujar Shaka.
"Ini lagi tidur sama Bella, ada apa kak? ada perkembangan soal Mama?" Dion tahu pasti saat ini Shaka ada di rumah sakit.
"Enggak, tapi gadis itu sudah ketemu."
"Apa? Baiklah aku akan mengajak Papa menemuinya." Syifa yang mendengar suara Dion seketika langsung bangun.
"Kenapa sayang?"
"Aku harus pergi, Kak Shaka bilang mereka berhasil mengamankan gadis itu." Syifa pun akhirnya memindahkan tubuh Bella. Setelah itu Dion menemui Papanya dan bersiap untuk pergi.
.
Di sebuah ruangan yang begitu tertutup dengan tembok bercat abu-abu serta tak ada benda lain selain kursi serta sofa single yang berada di tengah ruangan itu.
Lampu temaram menambah suasana semakin mencekam apalagi setelah tiga orang dengan badan tegap datang dengan wajah penuh intimidasinya.
Gadis itu tampak duduk dengan kedua tangan dan kaki terikat di kursi serta mulut yang tertutup lakban sebab sejak tadi terus memberontak ingin melepaskan diri.
"Maaf tuan, saya terpaksa mengikat dan menutup mulutnya karena dia terus berontak." ucap seorang pria yang sejak tadi menjaganya.
"Baik, aku yang akan mengurusnya sekarang." ujar Shaka.
Gadis itu tampak menatap pasrah ketiga orang itu. Tubuhnya tampak gemetar hebat saat melihat Papa Wira berdiri di antara Dion dan Shaka.
Dengan air mata dan keringat yang membasahi wajahnya gadis itu masih memberanikan diri untuk menatap Dion. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini dia masih terkesima dengan ketampanan Dion.
Namun tatapan itu seketika teralihkan dengan pekikan kala Shaka menarik lakban di mulutnya dengan kasar.
"Kau, kau kan yang telah menjebak papaku." Shaka yang begitu emosi langsung menarik rambut wanita itu dengan kasar hingga wajahnya mendongak ke atas.
"Siapa kau dan mau apa kau lakukan ini. Gara-gara perbuatanmu mamaku harus terbaring lemah di rumah sakit." Dion meraih rahang wanita itu dan mencengkeramnya dengan kuat. Tatapannya yang nyalang seketika mengubaha kekaguman waniita itu berubah menjadi ketakutan.
"JAWAB ! APA KAU TULI." bentak Dion semakin mencengkeram rahang gadis itu.
Gadis itu semakin ketakutan sementara Papa Wira masih diam dan duduk di sofa melihat dua putranya memperingati gadis itu.
"Atau kau mau merasakan hal yang lebih menyakitkan?" Shaka menyeringai buas sementara tangannya merogoh sesuatu di dalam saku jasnya yang ternyata adalah sebuah cutter.
"Kau suka bermain pelan atau kasar hmm? mau ku gores di pipi ini atau langsung merobek mulutmu agar langsung bicara?" Shaka menempelkan ujung cutter itu ke pipi gadis itu.
Dion dan Papa Wira pun tampak terkejut dengan tindakan Shaka apalagi pria itu tampak begitu tenang dan tatapannya tak teralihkan sedikitpun.
"Ba-baiklah.. M-maaf.. A-aku.. aku.. disuruh seseorang, aku.. aku dibayar tolong jangan.. sakiti aku." Dengan suara yang gemetar dan ketakutan yang hebat akhirnya gadis itu mengaku.
Papa Wira yang mendengar hal itu langsung berdiri mendekat.
"Siapa yang menyuruhmu?" bentak Papa Wira.
"T-tuan Antonio."
Papa Wira seketika membelalakkan kedua netranya mendengar nama itu.
__ADS_1
...****************...