Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 45 mencoba mencelakai


__ADS_3

Setelah pulang dari kantor kini Dion langsung bersiap untuk menjemput Syifa. Sebelumnya dia menghampiri Bella yang sedang bermain dengan Mama Rina.


Ingin sekali mengajak Bella sekalian menjemput Syifa namun rupanya Bella sedikit pilek sehingga dia mengurungkannya.


"Sayang Papa jemput mama dulu ya. Nanti Papa belikan sepatu buat Bella." ujar Dion sembari mengecupi pipi gembul Bella.


"Dion ulang tahun Bella kapan?" tanya Mama Rina.


"Lusa Ma, seminggu lagi." jawab Dion.


"Dion, sebenarnya mama pengen banget merayakan ulang tahun Bella. Ini kan pertama kali untuk dia dan kalian kan. Kalau boleh mama mau siapin vendornya sekalian." ujar Mama Rina sambil menyuapi Bella makanan.


"Boleh banget ma. Dion juga pengennya begitu. Nanti biar aku bilang sama Syifa ya ma. Yaudah aku nitip Bella dulu mau jemput Syifa. Daa Bella sayang" Dion kembali mengecupi pipi gembul Bella dengan begitu gemas.


...****************...


Karena Dion masih dalam masa skorsing jadi dia menjemput Syifa di gerbang luar kampus. Dia sengaja berangkat lebih awal agar istrinya tak terlalu lama menunggu.


Namun saat di perjalanan Dion merasa seperti diikuti seseorang. Dia pun terus waspada. Namun Dion juga tetap harus tenang seolah dia tak merasa di ikuti.


Tiba waktunya Syifa pulang. Wanita itu tampak melambaikan tangannya dengan senyum cantiknya. Senyum yang selalu menjadi semangat tersendiri untuk Dion.


Setelah dirasa jalanan sepi Syifa pun mulai menyebrang. Dan tiba-tiba sebuah motor yang sejak tadi berdiam diri di aisi jalan agak jauh langsung melaju kencang.


Dion yang sejak tadi waspada langsung bergegas menarik Syifa.


BBUUGGHHH


Dion yang kehilangan keseimbangan langsung terjatuh di sisi jalan. Beruntung Syifa berada dalam dekapan Dion sehingga tubuhnya tak mengenai langsung kerasnya aspal


BBBRAAKK


Motor itu sempat menyerempet salah satu mobil yang terparkir di belakang mobil Dion. Tampak Dion menatap pria berpakaian seba hitam serta helm yang sangat tertutup langsung bergegas pergi.


"Bu Syifa. Anda baik-baik saja?" tanya salah satu mahasiswa. Kebetulan saat kejadian itu beberapa orang yang ada di sekitarnya langsung berhambur menghampiri Syifa dan Dion.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Syifa yang panik langsung bangkit dan memeriksa keadaan Dion.


"Nggak apa-apa sayang, aman kok." Dion pun juga ikut bangkit.

__ADS_1


Keduanya pun mengatakan kepada orang-orang bahwa dirinya baik-baik saja. Setelah itu mereka kembali masuk ke dalam mobil.


Syifa yang masih tampak syok segera Dion peluk. "Sayang beneran kamu nggak apa-apa?" Dion memeriksa tubuh Syifa dan memang benar tak ada luka.


"Aku baik-baik saja sayang, aku hanya sangat terkejut tadi. Padahal aku pikir jalanan sudah sepi." ujar Syifa.


"udah nggak apa-apa. Nggak usah dipikirkan ya. Yang penting kamu baik-baik saja." ujar Dion sembari mengecup kening Syifa.


"Gimana mau langsung pulang apa?" tanya Dion.


"Katanya mau belikan sepatu buat Bella, aku nggak apa-apa sayang." ujar Syifa.


"Baiklah, ayo kita berangkat." Dion pun langsung menghidupkan mobilnya kemudian melaju menuju Mall.


Hingga akhirnya mereka pun sampai di salah satu mall. Dion dan Syifa langsung menuju baby shop langganannya dan membeli beberapa sepatu, pakaian serta kebutuhan Bella lainnya.


"Sayang, apa ini tak terlalu banyak untuk Bella?" ujar Syifa.


"nggak sayang. O iya tadi mama bilang ingin merayakan ulang tahun Bella. Dia sudah menyiapkan vendor kenalannya. Tapi itu tunggu persetujuan kamu gimana?"


"Aku sih terserah saja. Tapi apa tidak terlalu berlebihan? Aku nggak enak kalau merepotkan sayang."


"yasudah nanti kita ibrolin lagi sama Mama ya." Dion pun mengajak Syifa melanjutkan belanja. Meski sebenarnya Dion merasa bahu dan sikunya sedikit perih dan nyeri.


"Atu.. Mauu.." dengan antusias Bella mengatakan bahwa dirinya mau memakai sepatu barunya.


"Nah.. Gini kan makin cantik anak papa. Biar nanti jalannya nggak sakit." Dion dengan telaten memasangkan sepatu ke kaki Bella.


Syifa yang melihat perhatian Dion sebesar itu tak kuasa menahan haru. Kedua netranya bahkan tanpa terasa sudah berembun.


"Loh, sayang kenapa nangis?" Dion mengetahui air mata yang jatuh di kedua pipi Syifa langsung mengusapnya.


"Sayang, terimakasih banyak sudah perhatian kepada Bella. Aku nggak nyangka putriku mendapatkan kasih sayang seorang ayah dari kamu. Sejak dalam kandungan Bella bahkan tak pernah merasakan kasih sayang ayahnya." Syifa masih berlinang air mata.


Dion yang paham akan perasaan Syifa pun langsung memeluknya. Dia tahu bagaimana perjuangan Syifa seorang diri merawat Bella sementara laki-laki yang seharusnya menjaganya justru malah menorehkan luka untuknya.


"Sayang, udah jangan nangis. Aku pasti akan menyayangi Bella dan kamu. Karena kalian sumber kebahagiaanku." Dion mengecup kening Syifa berharap istri cantik ya itu tak lagi menangis.


"iya sayang, aku nggak nyangka. Pernikahan yang awalnya tak pernah aku duga ini ternyata malah menjadikan hubungan kita semakin baik. Rasanya aku telah melakukan pilihan yang tepat untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu." ujar Syifa.

__ADS_1


Sementara tak jauh dari mereka tampak Shaka diam-diam memperhatikan keduanya. Menangkap ucapan Syifa yang dia tebak itu tentang mantan suaminya dan tentang pernikahannya.


...****************...


"Mommy seneng banget akhirnya kamu pulang juga Shaka." ujar Vanya dengan raut wajah bahagianya.


"Ya Mom, aku akan disini sedikit lebih lama. Karena ada urusan yang akan aku selesaikan." ujar Shaka.


"Yaudah, kamu tinggal disini ya. Mommy akan menyiapkan apapun yang kamu butuhkan." ujar Vanya.


"Tidak usah Mom. Aku akan tinggal di rumah Papa. Ada yang harus aku lakukan di sana. Oh iya, apa Mommy tahu tentang pernikahan Dion?" kini Shaka berusaha mencari tahu tentang pernikahan adiknya.


"Oh, Mommy dengar sih pernikahan mereka karena scandal. Dion menjalin hubungan dengan dosennya yang janda. Ih amit-amit jaman sekarang anak makin banyak tingkah." Ucap Vanya dengan nada sinisnya.


"maksud mama scandal gimana?" Shaka pun semakin penasaran.


"Mereka itu ketangkep basah mau berbuat mesum di rumah dosennya. Alasannya aja mau bimbingan. Eh tay-tau digrebek warga terus disuruh menikah paksa. Kok bisa juga itu dosen kegatelan padahal udah profesor pendidikan tinggi tapi akhlaknya nol." ujar Vanya.


Shaka pun tak menyangka bahwa ternyata awal pernikahan mereka seperti itu. Namun jika dipikirkan kembali rasanya Syifa tak mungkin melakukan hal itu. Apa mungkin Dion yang telah menghasut Syifa?


Shaka pun dibuat semakin geram dengan asumsinya. Dia yakin semua ini ulah Dion dan Shaka semakin membulatkan niatnya untuk merebut Syifa.


...****************...


"Dasar Go blok.. Gitu aja nggak becus." umpat Rangga dengan segala kemarahannya.


"Maaf bos, tadi sebenarnya hampir tepat sasaran tapi sayang banget pria itu menyelamatkannya dengan cepat."


"Hahhh... Gagal lagi. Wanita itu harus celaka setidaknya aku bisa beralasan untuk mendapatkan anakku." Rangga terus marah-marah.


"Tapi kenapa harus menyakiti mantan istri anda sendiri bos? Apa nggak kasian?"


"Diam lo. Nggak tau apa-apa nggak usah protes. Mending lo pergi dari sini sebelum gue tendang." ujar Rangga dengan penuh emosi.


"Gue harus cari cara buat hancurin Syifa. Tapi gue nggak akan melakukannya langsung. Gue harus cari cara paling aman." sebenarnya Rangga sedikit takut berurusan dengan Dion. Meski masih muda nyalinya sangat tinggi. Bahkan setelah Dion menghajarnya Rangga sempat dirawat di rumah sakit karena tulang hidungnya yang retak.


Seolah tak ingin mengulangi hal itu kini Rangga harus mencari cara untuk membalaskan dendamnya kepada Syifa.


Diam-diam Mona yang memperhatikannya dari jauh melihat Rangga tampak takut. Dia takut pria itu akan semakin nekat.

__ADS_1


"Aku harus menghentikannya. Aku sudah berbuat jahat kepada Syifa dan aku menyesal. Kali ini aku harus menggagalkan rencana busuk Rangga." gumam mona.


...****************...


__ADS_2