
"Ada apa Shaka?" suara bariton Papa Wira saat melihat Shaka tiba-tiba berdiri.
"Tidak apa-apa Pa, aku sudah selesai makan dan ingin beristirahat di kamar. Kalian lanjutkan saja mengobrol." ujar Shaka.
"Kak Shaka.." tiba-tiba Dion memanggil.
Shaka tak menjawab hanya menatap pria di seberang meja itu yang tengah memangku seorang batita.
"Apa aku boleh bergabung di perusahaan Papa?" tanya Dion memastikan.
"Terserah." jawab Shaka dengan cuek.
Kemudian Shaka menatap Bella yang juga menatap dirinya dengan penasaran. Karena ini untuk kali pertama Bella melihat Shaka.
"Kau menggemaskan, Bella." ucap Shaka dengan senyum simpulnya lalu berjalan meninggalkan meja makan.
Untung saja Shaka cukup bisa mengendalikan diri dan kata-kata makian yang sudah tertata dalam pikirannya hampir dia ucapkan kepada Dion tak sampai keluar.
Shaka harus bisa mengendalikan diri dan bersikap sebaik mungkin di hadapan Syifa. Karena dia yakin bahwa harapannya memiliki Syifa masih ada.
...****************...
"Maassss.. Udah malem lo. Masih belum selesai ya?" suara manja Syifa mulai memanggil-manggil Dion.
"iya sayang, sebentar ini kurang dikit." Dion masih sibuk mempelajari beberapa berkas perusahaan yang dikirim oleh papanya.
Pria itu kini sungguh bersemangat karena ketakutannya akan penolakan dan caci maki Shaka ternyata tak terjadi. Senang sekali rasanya saat tadi Shaka tak terlihat murka padanya.
Jujur saja selama ini Dion sangat menyayangi Shaka. Dia adalah saudara satu-satunya yang dimilikinya. namun sayang Shaka tak pernah menganggap Dion sebaliknya. Meski begitu Dion tetap berharap suatu saat nanti sang kakak akan membuka hati untuknya.
Sementara Syifa tampak memutar bola matanya. Akhirnya dia turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Dion.
Stifa langsung membelai tangan Dion kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan Dion.
"hmm jadi kamu lebih mentingin laptop itu ketimbang istrimu." Syifa tampak merajuk dengan jemarinya masih jahil membentuk pola abstrak di dada bidang Dion.
Bagaimana tidak tergoda, penampilan Syifa yang terlihat sangat sexy dengan piyama pendek tali spaghetti. Menampilkan bahunya yang putih mulus tanpa cela. Bahkan kaki jenjangnya sangat menggoda.
"kamu benar-benar meresahkan Syifa." gerutu Dion yang susah payah menahan air liurnya.
"kenapa?" tangannya masih tak mau berhenti bermain di dada bidang Dion.
"kalau begini terus mana bisa aku tahan sayang, sedangkan kamu belum selesai tamu bulanan. Kan yang dibawah sana jadi meronta-ronta." gumam Dion.
"pantes ngeganjel." jawab Syifa sambil terkekeh. Namun sialnya wanita itu malah semakin menggoda Dion dengan sengaja menggoyangkan pinggulnya.
__ADS_1
"Oh, God. Kenapa kau lakukan itu sayang? Sengaja ya menyiksaku?" sungguh kini Dion dibuat semakin pening dengan ulah istrinya.
Syifa tak menghiraukan ucapan Dion. Justru dia malah mengusal leher Dion. Mengecup serta menghirup aroma tubuh bercampur parfum Dion yang selalu jadi candu untuknya.
"Ahh.. Sayang. Geli.." Dion semakin mendongakkan kepalanya dengan resah.
Suara leng uhan dari mulut Dion tak dapat dia tahan. Hingga suara itu terdengar sampai luar kamarnya karena pintu yang tak tertutup rapat.
Dan kebetulan saat itu Shaka sedang melintas depan kamar Dion. Shaka semakin dibuat resah dengan suara itu. Cepat-cepat dia pergi sebelum rasa cemburu itu semakin menyerangnya.
Tiba-tiba.
"STOP sayang. Jangan diteruskan." Dion langsung menjauhkan kepala Syifa.
"kenapa? Kan belum selesai gemas-gemasnya." tampak bibir Syifa yang manyun membuat Dion menahan tawa.
Sejak bersama Dion kini dia mulai ketularan manja. Memang definisi jodoh adalah cerminan diri. Jika biasanya Dion yang sangat manja kepada Syifa kini gantian wanita itu jadi super manja kepada Dion.
Bahkan jika sudah mode manja begini Dion sampai bingung membedakan antara Bella dan Syifa. Tapi nyatanya dia sangat suka dengan tingkah istrinya itu.
"yaudah gemas-gemas lagi nggak apa-apa sayangku." kini Dion pun pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sang istri.
"hmmm.. Sabun oh sabun setelah ini aku sangat butuh pertolonganmu." gumam Dion lirih. Mati-matian dia menahan hasrat yang bergejolak sementara yang dibawah sana sudah memberontak akut ingin segera diloloskan dari penjara.
Decapan demi decapan suara bibir Syifa yang kadang mengecup, kadang menghisap dan tak jarang menggigit leher Dion sampai terasa basah.
Cukup lama bermain di leher Dion hingga akhirnya tak ada suara maupun pergerakan. Dion pun pelan-pelan memeriksa keadaan istrinya.
"Hah, bisa-bisanya ketiduran?" Dion pun akhirnya membetulkan posisi Syifa dan menggendongnya menuju ranjang.
"Cantiknya gini bikin pengen gemas-gemas juga. Tapi kasihan pasti dia capek." akhirnya Dion mengusap lembut bibir Syifa yang basah oleh liurnya sendiri kemudian mengecup keningnya.
"Sekarang waktunya kamu bobok juga ya." Dion berjalan ke kamar mandi untuk menyalurkan hasratnya yang tak tersampaikan.
...****************...
Pagi hari datang dan kini hari baru telah dimulai. Tampak Shaka yang sudah tampil casual dengan tatanan rambut rapi. Sengaja berpenampilan semenarik mungkin dengan tujuan ingin membuat daya tarik untuk Syifa.
Dia sangat yakin jika Syifa masih memiliki perasaan terpendam untuknya apalagi Shaka merupakan cinta pertama Syifa.
Sementara di lain tempat tampak Dion yang uring-uringan sendiri melihat begitu banyaknya tanda merah tercetak di lehernya. Mau marah tapi dia juga menikmati jadi serba salah kan?
Syifa dengan tak berdosanya sangat santai melakukan aktivitasnya. Mandi dan bersiap menuju kampus.
"Mana nanti mau ke perusahaan papa lagi." gerutu Dion yang sedikit didengar Syifa.
__ADS_1
"kenapa sayang?" tanya Syifa.
"eh, enggak kok sayang. Aku nanti mau ke kantor Papa. Cuma bingung mau pakai baju yang mana. Leher aku nggak ketutup soalnya." ujar Dion.
Syifa pun menghampiri Dion dan memeriksa leher suaminya sambil tersenyum.
"enggak usah ditutupi. Gini aja biar kelihatan. Maha karya istri tercinta nggak pernah gagal memang." celetuk Syifa dengan bangganya.
"ya tapi malu sayang. Dilihatin orang-orang kantor." protes Dion.
"Biarin, biar mereka tahu apalagi karyawan perempuan yang suka genit-genit itu. Biar nggak deketin kamu. Apa perlu ditambahin lagi? Ini yang kanan masih kosong." ujar Syifa sambil meraba leher Dion sebelah kanan.
" enggak-enggak. Bisa-bisa dikira aku habis jadi tumbal vampir ntar." gerutu Dion.
Jadi Dion mengerti sekarang rupanya Syifa cemburu ketika Dion akan ke kantor. Sebab Syifa pernah ke kantor Papanya saat itu dengan Dion dan banyak karyawati yang melirik bahkan genit kepada Dion.
"udah ah, ayo sarapan. Bisa bahaya lama-lama di kamar ini." Dion ngeri sendiri.
Kedua orang tua Dion sudah menunggu di ruang makan untuk sarapan. Sementara Bella masih tertidur jadi Syifa tak mengajak Bella.
Kali ini fokus semua orang adalah leher Dion. Meski pria itu mengancingkan kemeja sampai leher nyatanya tak bisa menutupi sepenuhnya mahakarya yang dibuat Syifa.
"Habis dikeroyok semut leher kamu Dion?" celetuk Papa Wira sengaja menggoda Dion.
"Bukan Pa. Jadi tumbal Vampir." gerutu Dion.
Sementara Mama Rina sejak tadi hanya bisa menahan tawa melihat putranya itu. "Oh, jadi ada vampir ya di rumah ini. Kok mama jadi ngeri ya."
"iya ma, untung vampirnya cantik jadi Dion betah dilama-lamain." celetuk Dion.
Tentu saja Syifa yang sudah sangat malu hanya bisa tertunduk dengan wajah semerah tomat.
Hal baik semenjak adanya Syifa di rumah itu adalah kehangatan keluarga yang begitu terasa. Papa Wira sudah sadar dan kini menurunkan egonya demi ketentraman keluarga.
Sementara itu Shaka baru saja bergabung di meja makan sedikit heran karena semua orang tampak riang.
Dan acara sarapan pagi dimulai. Dion yang merasa tak nyaman akhirnya melepas kancing kemeja teratasnya hingga lehernya terekspos.
"uhhukk..." Shaka yang tak sengaja memperhatikan leher Dion sangat terkejut sampai tersedak.
"Shaka, hati-hati makannya." ujar Mama Rina.
Pagi-pagi sudah disuguhkan dengan pemandangan menyakitkan seperti itu tentu membuat Shaka semakin meradang dalam hati.
Sialnya Syifa pun tampak cuek tak memperhatikan dirinya sama sekali. Justru sibuk saling pandang dengan Dion. 'Poor Shaka.'
__ADS_1
...****************...