Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 65 bukan anak kandung


__ADS_3

Langkah kecil itu terus berlarian ke sembarang arah. Kadang saking antusiasnya sampai sulit mengendalikan keseimbangan dan terjatuh beberapa kali.


Untung saja pasir pantai yang lembut tak menimbulkan rasa sakit. Yang ada justru gelak tawa karena rasa girangnya.


Suara pekikan yang menggemaskan dengan diiringi kedua tangannya bergerak-gerak seolah hendak terbang ketika sapuan air laut mengenai kaki mungilnya.


"Dingin ya, tapi suka kan?" Dion yang memegangi Bella ikut terkekeh gemas melihat tingkah bocah kecil itu.


"Papa.. Ngiinnn..." Bella menirukan ucapan Dion seolah ingin mengekspresikan apa yang dia rasakan.


Sementara Syifa yang tak jauh dari merek sibuk memotret keduanya. Mengabadikan momen indah ini agar tak terlupakan.


"Mommy... Ngiinn.." teriak Bella kepada Syifa.


"Iya airnya dingin sayang. Bella mau udahan.?" Syifa menghampiri Bella hendak menggendongnya.


"Noo.. Mauuu ini..." telapak tangan kecilnya langsung menyetop pergerakan Syifa diiringi dengan ekspresi cemberut yang sungguh, sangat menggemaskan.


"Yaudah iya kalau mau main dulu. Puas-puasin deh nanti di rumah juga mentok main di bathub sama kolam renang."


Hamparan air laut yang tampak tenang di sore hari ditambah semburat jingga yang mulai mewarnai langit membuat suasana semakin syahdu.


Sudah lama sekali Syifa tak merasakan suasana seperti ini. Terakhir kali saat dia masih duduk di bangku SD. Kedua orang tuanya yang kebetulan cuti selalu mengajak Syifa berlibur. Setelah itu kembali ditinggal kerja dan hanya tinggal bersama mendiang neneknya.


Membicarakan orang tua, Syifa sebenarnya sangat rindu. Meski hampir setiap hari Mama Vera selalu menghubunginya namun rasanya tetap tak seperti saat bertemu langsung dengannya.


Meski bukan orang tua kandung namun Syifa bersyukur. Dia masih mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya.


Kedua orang tua kandung Syifa yang merupakan kakak kandung Vera mengalami kecelakaan pesawat saat Syifa masih berumur satu tahun.


Itu saja baru diketahui Syifa setelah dia melahirkan Bella. Terkejut, tapi itulah kenyataannya.


"Sayang ayo balik ke penginapan. Sudah mau magrib." Dion sudah menggendong Bella. Namun Syifa terkejut ketika keduanya tampak berlumuran pasir sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Loh, kalian ngapain kok sampai berlumuran pasir begitu?" Syifa sampai menyibak rambut Dion dan Bella. Pasir menempel di kulit kepalanya.


"Tadi aku nggak sengaja terjatuh. Terus Bella malahan ketawa. Ya aku guling-guling di pasir dia makin seneng. Terus ngikut guling-guling di pasir juga."


Syifa hanya bisa geleng kepala melihat kerandoman Dion saat bermain dengan Bella. Ada saja yang dilakukan meski ujung-ujungnya ada saja yang berantakan.


"Yaudah, ayo kita balik ke penginapan terus cepet mandi. Udah kayak manusia pasir gitu."


Mereka pun kembali ke penginapan. Syifa memandikan Bella kini Dion pun segera mandi. Setelah selesai mereka menikmati makan malam yang disediakan di luar penginapan. Tetap dengan pemandangan pantai yang indah membuat mereka begitu senang.


Namun Tak lama kemudian Bella mengantuk akhirnya mereka kembali ke penginapan.


Syifa segera menidurkan Bella. Bocah kecil itu begitu menikmati saat menyusu kepada Syifa. Sementara Dion berbaring di samping anak dan istrinya.


"Mas aku sudah memutuskan untuk melepas KB." ucap Syifa.


"Loh.. Jangan." Tolak Dion.


"Kenapa? Bukannya itu mau kamu aku sudah untuk hamil lagi."


Syifa tertegun sekaligus terharu melihat Dion yang begitu menyayangi Bella dan Syifa sangat bersyukur bawa suaminya begitu pengertian.


"Terima kasih banyak Mas Aku bangga sama kamu tapi jika kamu ingin memiliki anak lagi Aku siap."


"akan aku pikirkan tapi mungkin setahun atau dua tahun lagi setidaknya setelah Bella tidak lagi menyusu padamu."


"Sungguh? Tapi bagaimana dengan Papa dan Mama? Apakah mereka tidak ingin segera memiliki cucu darimu?"Syifa mencoba untuk memastikan.


"Papa dan Mama tidak akan mempermasalahkan tentang cucu. Karena mereka sudah memiliki Bella dan papa tidak akan memprotes lagi." Syifa begitu senang dan lega. Memang dia ingin sekali fokus dulu membesarkan Bella dan mencurahkan segala kasih sayang untuknya.


"Tapi kalau bikinnya aja kita sering-sering dan nggak usah dijadiin." Dion nyengir menggoda Syifa.


"Yee.. Itu sih mau kamu." Syifa menyentil ujung hidung Dion.

__ADS_1


"wajar sayang itu kebutuhan pokok laki-laki. Apalagi kalau lihat body kamu yang aduhai begini mama tahan?" Tatapan Dion tak lepas dari gundukan kenyal yang sedang dik enyot oleh Bella.


"nanti setelah Bella selesai gantian aku ya" Dion kembali menggoda Syifa.


"Dasar.." Syifa memutar bola matanya.


...****************...


Shaka sedang merenung memikirkan jabatan yang kini dia pegang di perusahaan . Sebenarnya dia senang tapi juga sedih setelah mengetahui fakta tentang Siapa dirinya.


Beberapa saat lalu saat dirinya menginap di kediaman Vanya ibunya, dia tak sengaja menemukan sebuah kertas yang isinya hasil sebuah tes medis.


Shaka tidak mengetahui secara langsung Apa isi dari Surat Keterangan tersebut namun saat melihat nama dirinya dan juga Wira dia pun jadi penasaran .


Akhirnya dia mencari tahu melalui temannya yang berprofesi sebagai dokter dan Tak lama kemudian dia diberitahu bahwa itu adalah hasil tes DNA antara dirinya dan wira yang dilakukan sejak Shaka masih berumur tujuh tahun.


Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa DNA antara dia dan wira tidaklah cocok . Itu artinya Shaka bukanlah anak kandung Wira .


Tak cukup sampai di situ Wira pun menghitung jarak antara kelahiran dirinya dan juga tanggal pernikahan Wira dan Vanya. Saat diketahui selisih pernikahan dan kelahiran Shaka hanyalah 6 bulan itu artinya Vanya sudah hamil Shaka saat menikah dengan Wira.


Lalu siapa ayah kandung Saka sampai sekarang dia tidak tahu. Saat Shaka mencoba untuk mencari tahu kepada Vanya justru Mamanya marah besar.


Padahal selama ini Shaka selalu mengolok-olok Dion Bahwa dia adalah anak haram. Tak disangka justru dialah anak haram tersebut.


Itu pun adalah hasil doktrin dari Vanya . Karena Vanya merasa sakit hati saat Wira lebih memilih Sarah ketimbang dirinya.


Namun begitu Wira tidak pernah menganggap Shaka seperti orang lain. Wira tetap mengakui Shaka sebagai anak kandungnya dan sampai sekarang Wira tidak pernah membedakan antara kedua anaknya.


Justru terkadang Wira malah membela Shaka ketimbang Dion . Karena Shaka lebih rajin dan lebih pintar daripada Dion yang sedikit pemalas jika disuruh belajar di sekolah.


Tapi bagaimanapun Shaka sudah terlanjur malu dan kecewa. Dia sudah besar kepala menganggap Dion anak yang tak berguna .


"mungkin ini adalah Karma untukku karena selama ini aku selalu jahat kepada Dion . Padahal Dion lah yang berhak atas semuanya."

__ADS_1


Akhirnya saat malam tiba Shaka memutuskan untuk berbicara kepada Wira nantinya perihal jabatan direktur yang dia terima.


...****************...


__ADS_2