Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 84 persiapan pernikahan


__ADS_3

"Apa? Dua minggu lagi? Katanya masih satu bulan lagi?" Wira terkejut dengan penuturan Shaka yang ingin memajukan tanggal pernikahannya.


"Tapi aku sudah mengurus semuanya pa. Kebetulan vendornya juga sanggup kok." ujar Shaka.


"Hmm.. Baiklah kalau itu memang kemauan kamu. Papa akan berusaha membantu semua yang kamu butuhkan. Tapi kamu sudah memberi tahu orang tua kamu?"


"Bapak Herman sudah Pa, tapi mama.." Shaka menjeda ucapannya.


"Kenapa mamamu bikin ulah lagi?" Wira langsung bisa menebak.


"Iya, Mama malahan mau menjodohkan aku dengan anak temannya. Maka dari itu aku ingin segera mempercepat pernikahanku. Aku sudah mantab memilih Hana jadi aku tidak ingin yang lain." ujar Shaka.


Wira pun akhirnya tersenyum sambil menepuk bahu Shaka. "Kamu benar, perjuangkan wanita yang kamu cintai Shaka. InsyaAllah kamu akan bahagia menjalani rumah tanggamu." ujar Wira.


Sementara yang lainnya kini sedang menikmati berbagai macam hidangan yang dimasak bersama-sama. Hana yang awalnya canggung kini mulai berbaur. Apalagi sikap semua orang di rumah itu sangat menyenangkan.


Setelah obrolan seriusnya bersama Papa Wira kini Shaka ikut bergabung bersama yang lainnya.


"Jadi gimana?" Dion langsung paham akan apa yang mereka bicarakan.


"Papa setuju Shaka memajukan tanggal pernikahannya jadi dua minggu lagi." ucap Papa Wira.


"Lah? Secepat itu?" celetuk Dion.


"Bukannya lo yang justru kecepetan. Baru sehari langsung nikah." ujar Shaka.


"Ya kan emang beda momennya. Gue digrebek kalo nggak cepet-cepet bisa dihajar warga." ucap Dion dengan santainya.


Sementara Hana yang baru mengetahui fakta itu langsung mendelik terkejut. Dia seketika menatap Dion dan Syifa bergantian. Tapi justru mereka tampak santai.


Syifa sudah hafal dengan kebiasaan keluarga Dion yang selalu ceplas ceplos dan berbicara apa adanya. Jadi dia tak ambil pusing dengan apa yang mereka bicarakan.


"D-digrebek? Maksudnya?" Hana tampak kebingungan.


"Iya, mereka kan nikah karena digrebek warga." ucap Shaka.


"Fa? Beneran?" Hana menatap horor sahabatnya. Tidak menyangka saja seorang Syifa yang begitu terpandang bisa menciptakan skandal seperti itu.


Syifa hanya nyengir sambil melanjutkan makannya.


"Tapi nggak apa-apa sih kalau nggak digrebek kita nggak mungkin bisa nikah secepat ini. Iya kan sayang?" ucap Dion.


"Betul, aku juga bersyukur karena kejadian itu." Syifa tersenyum manis menatap Dion. Bak dua remaja dimabuk asmara.


Hana pun hanya bisa geleng kepala melihat sepasang suami istri itu. Tapi dia pun senang melihat sahabatnya tampak bahagia sekarang.


"Mama hanya berpesan kepada kalian. Baik Shaka maupun Dion. Kalian sudah dewasa dan menjadi seorang pemimpin. Jadikan pernikahan kalian itu ladang pahala. Komunikasi itu yang terpenting. Kalian harus saling jujur dan terbuka dengan pasangan. Itu penting." Mama Rina memberi beberapa wejangan untuk kedua putranya.


Meski bukan putra kandung tapi Mama Rina begitu menyayangi mereka.

__ADS_1


"Siap ma, terimakasih ya ma. Sudah baik sekali kepada kami." ujar Shaka.


"Itu sudah tugas mama. Melihat kalian tumbuh dewasa dengan begitu baik saja mama sangat bangga." melihat bijaknya sang istri kini justru Wira yang mulai beraksi.


"Mama makin cantik kalau begini." Wira dengan santainya mencium pipi Rina.


Hana tentu saja tersentak dengan perlakuan mesra tersebut. Tapi genggaman tangan Shaka membuatnya langsung menoleh.


"Udah biasa. Papa sama mama memang begitu. Justru aku maunya kita juga seperti itu nanti " ujar shaka.


Hana hanya bisa tersenyum malu-malu.


...****************...


Hari-hari begitu disibukkan dengan persiapan Pernikahan Shaka dan Hana. Mereka memilih salah satu Resort di Uluwatu Bali.


Kebetulan Resort tersebut milik Wira sendiri sehingga lebih mudah untuk mengatur semuanya.


Sementara Mama Rina sibuk mengurus segala perlengkapan gaun yang akan dikenakan para keluarganya. Untung saja dia memiliki kenalan butik yang dapat diandalkan.


Seminggu sebelum pernikahan mereka sudah terbang ke Bali guna mempersiapkan semuanya. Termasuk keluarga Herman juga. Shaka ingin melibatkan semua keluarganya kecuali Vanya.


Sebenarnya Shaka sudah memberitahu Vanya namun dia juga tak berharap banyak mamanya itu mau datang melihat bagaimana kerasnya sifat sang Mama.


"Bagus banget kak tempatnya. Baru kali ini aku lihat tempat sebagus ini." Diana tak berhenti kagum melihat bangunan resort beserta indahnya hamparan laut biru yang ada di hadapannya.


"Selama disini kakak mau kamu dan bapak ibu menikmatinya sambil liburan. Apapun yang kalian mau bilang saja ya." ucap Shaka kepada Herman dan keduanya.


"Oke, nanti setelah acara pernikahan kakak kita keliling bersama." Shaka mengusap puncak kepala adik perempuannya.


"Makasih Kak Shaka." Diana sudah tak sungkan lagi bermanja kepada Shaka. Baginya memiliki seorang kakak sangatlah menyenangkan.


Semantara itu Syifa dan Dion datang menemui mereka.


"Dion, kenalkan ini orang tuaku. Ini adikku." ujar Shaka.


"Perkenalkan saya Dion adiknya kak Shaka, ini istri dan anak saya." Dion mengenalkan dirinya juga Syifa dan Bella.


"Wah, ganteng dan cantik. Kalian sangat serasi. Ini si kecil juga cantik sekali." Bu Wati begitu terpukau melihat pasangan rupawan itu.


"Adek namanya siapa? Cantik sekali." ucap Diana kepada Bella.


"Ella.." ucap Bella dengan cadelnya.


"Namanya Bella, kakak cantik." ucap Syifa.


"Oh ya Diana, Kak Syifa ini dosen di kampus yang kakak bicarakan tempo hari. Kamu bisa tanya-tanya langsung sama dia." ujar Shaka.


"Benarkah? Wah keren sekali Kak Syifa ternyata seorang dosen." puji Diana.

__ADS_1


Mereka cepat akrab sementara Bella langsung menempel kepada Diana karena dasarnya dia memang sangat suka dengan anak kecil.


"Bro, gue dari tadi nyariin ternyata disini." Nico baru saja sampai di resort tersebut.


Keluarga Dion dan Keluarga Nico memang sangat akrab dan sudah seperti saudara sehingga mereka juga terlibat dalam hal ini.


"Wih.. Cantik banget siapa itu? Babbysitternya Bella yang baru Bro?" Nico seketika melongo menatap Diana.


"Ngawur lo. Itu adiknya Kak Shaka. Masih SMA dia." ujar Dion.


"Boleh tuh Dion. Sumpah baru pertama lihat udah kesengsem gini. Apa efek jomblo yang udah melumut gini ya?" cengir Nico.


"Ya lo bilang aja sama Kak Shaka boleh nggak deketin adeknya?"


"Wah horor itu. Belum apa-apa bisa ditelen wutuh sama Kak Shaka gue. Apalagi speknya bidadari gitu adeknya." Nico memang mengakui kecantikan Diana yang begitu natural.


"Makanya kalo lo emang punya niatan harusnya berani dong. Hadapi semua rintangannya." ujar Dion.


"Ngomong sih enak. Lo aja akur sama Kak Shaka juga baru-baru ini kan?" gerutu Nico.


Dion hanya nyengir melihat kejombloan sahabatnya.


"Pokoknya besok dia harus jadi pasangan Bridesmaids gue." kekeuh Nico.


Tiba-tiba Diana berjalan kearah mereka sambil menggendong Bella yang tampak tertidur. Bocah kecil itu memang sangat hobi molor apalagi jika digendong.


"Bro.. Bro.. Dia kesini Bro.. Kenalin dong." Nico tampak heboh sendiri.


"Kak Dion, maaf ini adek Bella sudah ketiduran." Dengan suara lembut Diana memberikan Bella kepasa Dion.


"Makasih ya Diana sudah jagain Bella. Maaf kakak jadi ngrepoti kamu." ujar Dion.


"Nggak kok Kak, aku senang adek Bella lucu dan cantik sekali."


Sementara Nico yang sudah tak sabaran terus mengucek lengan Dion.


"Emm.. Diana. Ini kenalin teman kakak. Namanya Nico." ucap Dion akhirnya.


Nico tampak tersenyum manis kepada Diana. Sementara Diana yang masih malu-malu pun hanya menundukkan kepalanya.


Dia sadar diri melihat penampilan Nico saja sudah dipastikan bukan dari kalangan sembarangan. Jadi Diana hanya menimpali seadanya yang sejujurnya dia begitu minder berada di lingkungan seperti ini.


"Nico." Nico mengulurkan tangannya kepada Diana.


"Diana, kak." Ucap Diana lirih sambil menjabat tangan Nico.


Setelah itu Diana langsung berpamitan pergi.


"Keknya gue bakalan bungkus tangan gue ini biar bekas tangan Diana gak ilang." ujar Nico sambil menciumi sendiri tangannya.

__ADS_1


"Dih, lebay lo. Sekalian tu tangan dilaminating aja biar makin awet." maki Dion.


...****************...


__ADS_2