
Syifa mengerang kuat sambil mencengkeram sprei yang sudah tak berbentuk rupanya. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya.
Bahkan langit pun sudah berubah warna menjadi lebih terang. Namun Syifa masih merasakan goncangan yang entah kapan hal itu akan berakhir.
Tubuhnya pun sudah sangat lemas dan pasrah apapun yang dilakukan oleh Dion. Entah tenaga super pria itu rasanya tak ada habisnya.
Semalaman digempur dan baru beristirahat selama empat jam kini Syifa kembali merasakan sesuatu menggelitik bagian sensitif tubuhnya. Dia menggeliat dan melihat Dion sudah bermain-main di bawah sana.
"S-sayang.. Nggak capek?" disisa-sisa tenaganya Syifa masih sempat menanyai Dion.
"Sebentar lagi ya." sungguh mereka sudah berkali-kali melakukannya tapi kali ini Dion benar-benar seperti hewan buas yang baru keluar dari kandangnya.
'Aku akan membuat malam ini tak terlupakan.' Agaknya kata-kata itu benar-benar diwujudkan oleh Dion.
Hingga akhirnya pelepasan entah ke berapa Syifa benar-benar terkulai lemas. Tubuhnya tak mampu lagi untuk digerakkan. Hanya bibirnya saja yang bergumam lirih.
Dion akhirnya mengakhiri kegiatannya. Mengambil waslap dan menyeka tubuh Syifa kemudian menyelimutinya dengan nyaman.
Sebuah kecupan lama mendarat di kening istrinya sebagai ungkapan terimakasih tak terhingga. Hidupnya kini telah benar-benar berubah semenjak menikah.
Dion pun akhirnya ikut meringkuk memeluk Syifa. Setelah berhenti begini barulah Dion merasakan lelah dan kantuk. Hingga tak berselang lama dirinya pun ikut terbawa ke lautan mimpi.
...****************...
Terik Matahari sudah diujung kepala. Langit yang semula gelap berubah terang dan kini semakin terang hingga menyilaukan.
Syifa yang sebenarnya masih malas mau tak mau harus bangun. Dia sempat melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul sebelas siang.
Yaampun, kelewat sarapan pantes laper banget. Mana belum ketemu Bella lagi." gumam Syifa lirih.
Dia pun akhirnya bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Untung saja saat menatap cermin dia melihat bekas tanda cinta dari Dion yang berada di dada dan perutnya.
Meski banyak namun Syifa masih bersyukur setidaknya tak ada tanda yang terlihat di leher sehingga aman untuk dirinya berpakaian tanpa harus bingung menutupi.
Sebelumnya Syifa memang sudah membuat perjanjian dengan Dion untuk tidak membuat tanda kepemilikan tersebut di area yang tak tertutup pakaian.
Selesai membersihkan diri Syifa hendak mencari keberadaan Dion namun dia melihat makanan sudah lengkap tersedia di atas meja.
'sarapan dulu sayang buat isi tenaga. Have a nice day.. I love you."
Syifa tersenyum sendiri melihat memo yang tertulis di samping piring tersebut. Akhirnya dengan semangat Syifa menghabiskan sarapan tersebut karena sudah begitu kelaparan.
Selesai sarapan Syifa bersiap untuk menemui Dion. Dia merias diri sedikit memoleskan make up tipis di wajahnya. Dengan memakai hot pants dan tank top crop yang dilapisi kemeja putih milik Dion membuat penampilannya bak gadis remaja.
Postur tubuh mungil Syifa serta wajahnya yang selalu terlihat baby face memang sering kali mengecoh banyak orang. Siapa sangka jika wanita itu kini usianya hampir kepala tiga.
__ADS_1
Syifa terus berjalan menyusuri area luar resort tersebut. Rupanya tempatnya menginap hanya bersebelahan dengan resort utama tempat keluarganya menginap bahkan masih satu kawasan.
"Hmm.. ternyata dekat, gitu aja kemarin pake naik mobil segala. Padahal jalan kaki juga udah nyampe." gumam Syifa sembari menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan suaminya.
Hingga akhirnya Syifa pun menemukan sosok pria kesayangannya. dia tampak mengobrol dengan Papa Wira juga seorang pria paruh baya berwajah bule sementara tak berselang lama seorang gadis yang juga berwajah bule menghampiri Dion sambil memeluk tangan kiri Dion.
Syifa pun langsung mengernyit saat melihat suaminya didekati wanita lain. Tak ingin langsung berspekulasi Syifa pun berusaha tenang dan mencari tahu jawabannya. Siapa tahu mereka adalah kerabat Dion.
Dia berjalan menghampiri Dion. Saat sudah berada di dekatnya tiba-tiba Dion langsung memeluk tubuh mungil Syifa sambil mengecup keningnya dengan posesif.
"Sayang sudah bangun? Masih capek nggak?" ucap Dion sambil tersenyum manis di depan Syifa.
Sementara gadis bule tersebut tampak melempar tatapan kecut ke arah Dion dan Syifa.
"Ini istri kamu Dion?" tiba-tiba pria bule tersebut bertanya kepada Dion.
Syifa sempat terkejut saat pria itu fasih menggunakan bahasa Indonesia.
"Iya Om, ini Syifa istriku." Dengan bangga Dion memperkenalkan Syifa kepada Pria itu.
"Ini om David, sahabat ayah dan juga pemilik sebagian resort ini. Termasuk yang kita buat menginap semalam." Dion menjelaskan bahwa David bekerja sama membangun resort tersebut bersama Wira.
"Cantik sekali istrimu. Om jadi paham kenapa kamu menolak putri saya." ucap David diiringi candaan.
"Syifa." ucapnya dengan anggun dan ramah.
"Shea." jawab gadis itu singkat.
"Nama yang bagus." jawab Syifa kemudian.
"terimakasih." jawab She datar. Namun kedua netranya tampak berembun.
Tak berselang lama gadis itu berpamitan kepada semua untuk kembali ke dalam. Syifa tampak tertegun melihat wajah sedih gadis itu namun rangkulan tangan Dion di pinggangnya membuat Syifa tersadar.
"it's ok." bisik Dion sambil mengecup lembut puncak kepala Syifa.
Dion pun akhirnya juga berpamitan meninggalkan kedua pria tersebut. Dia melangkahkan kakinya sambil terus memeluk pinggang Syifa.
"Nyari Bella yuk, kangen." ujar Syifa.
"Hmm.. Bella lagi keluar diajakin jalan-jalan sama mama Vera." ujar Dion.
"ih, kok enak banget sih aku ditinggalin." protes Syifa.
"Mau jalan-jalan juga?" tanya Dion.
__ADS_1
"Mau lah, emang disini tujuan kita kan liburan." ujar Syifa.
"Oh, kirain kalau disini mau honeymoon." goda Dion.
"Ya honeymoon kan juga sama jalan-jalan sayang. Nggak melulu harus di ranjang terus." protes Syifa.
"Ehm.. Emang bisanya di ranjang doang? Kan bisa berbagai tempat sayang. Aku belum nyobain di kolam renang nih. Apalagi kalau kamu pakai bikini." lagi-lagi Dion terus berusaha menggoda Syifa.
Pletak..!
"Aduh, kok dijitak sih." protes Dion mengusap keningnya.
"Biar jin mesum yang ada di otak kamu itu minggir dulu. Lagian aku capek ya semaleman digempur nggak ada jeda." dengan wajah mungilnya Syifa melotot dan menunjukkan ekspresi garangnya. Namun bukannya garang justru malah terlihat semakin imut dan menggemaskan hingga membuat Dion langsung melahap bibir mungil tersebut tak peduli saat ini mereka berada di luar ruangan.
Sementara itu Shea yang kembali ke kamarnya langsung menghambur ke atas ranjang sambil menangis. Dia masih tertampar oleh ucapan Dion.
Beberapa saat lalu ketika masih pagi Dion baru saja membuka pintu kamarnya. Namun dia dikejutkan oleh keberadaan Shea.
"Dion, bisa kita bicara?" ucap Shea dengan wajah serius.
"Ada apa?" sebenarnya Dion begitu malas menemui Shea. Tapi gadis itu terus bersikeras.
"Kamu beneran menikah dengan seorang janda beranak satu?" ucap She dengan nada tak terimanya.
"Kenapa memangnya?" Dion masih cuek.
"Kamu lebih memilih bekas orang daripada aku. nggak nyangka selera kamu seperti itu." Shea tampak mendesis remeh.
Dion yang enggan membahas ini mau tak mau harus menjelaskan.
"Shea, kau sangat tahu tentang istriku, sampai-sampai kau mencari informasinya bukan? Apa yang kau dapatkan? Istriku janda beranak satu, usianya lebih tua dariku. Dia seorang dosen juga berpendidikan tinggi. Apa lagi?" ucap Dion sarkas.
"Asal kamu tahu, istriku memang seorang janda. Dia single mom dengan satu anak. Tapi meskipun dia bekas orang lain setidaknya bekas yang terhormat. Mereka melalui hubungan pernikahan yang sah, putriku juga anak yang sah secara hukum dan agama. Lalu apa bedanya dengan wanita yang juga sama-sama bekas orang lain. Apalagi bekas yang tanpa hubungan pernikahan. Tidak jelas hanya semalam dua malam lalu ganti pria lain?" Sebagai seorang suami tentu Dion merasa tak terima jika istrinya direndahkan. Dan kali ini Dion sudah begitu muak menghadapi gadis semacam Shea.
"Tapi bisa saja diluaran sana istrimu juga pemain. Kan nggak tahu." She membela diri.
"Apa kau lupa aku adalah orang yang begitu kritis sebelum mengambil keputusan. Aku telah mengetahui bagaiman istriku sejak jaluh-jauh hari." tegas Dion.
Dion tahu betul kebiasaan Shea yang hidup bebas dan bergonta ganti pria tanpa hubungan yang jelas. Kebiasaannya tinggal di liar negeri maupun di Bali membuat Dion paham akan gadis yang doyan party tersebut.
Tentu saja perkataan Dion membuat Shea kalah telak. Pria yang dicintainya justru begitu muak padanya.
"Satu lagi. Jika kau ingin dihargai orang lain maka hargailah orang lain pula. Kalian sesama wanita tidak sepatutnya berbicara seperti itu."
...****************...
__ADS_1