
Flashback:
Mobil sedan mewah berwarna hitam itu akhirnya sampai juga didepan gedung perusahaan WW Corp. Dua orang pria beda generasi itu keluar dari dalam mobil tersebut.
Dion dan papa Wira langsung disambut semua orang yang ada di loby. Sementara tak jauh dari mereka Shaka pun juga datang dengan aura yang penuh wibawa mengenakan setelan formal yang begitu rapi.
"Kalian sudah siap? Apapun keputusannya Papa mohon jangan sampai ada yang berselisih. Kalian ini saudara dan Papa ingin kalian selalu rukun." ujar Papa Wira sembari mengusap bahu kedua putranya.
"Dion bisa kita bicara sebentar?" tanya Shaka.
Dion sedikit terkejut saat tiba-tiba Shaka mengajaknya berbicara secara personal. Padahal biasanya pria itu selalu acuh bahkan tak jarang menganggap Dion seolah tidak ada.
"Iya Kak. Ayo." Dion dan Shaka pun berjalan menuju pantry yang letaknya tak jauh dari loby. Kebetulan tempat itu sedang sepi. Atau memang karyawan lain merasa sungkan karena adanya kedua putra sang CEO.
"Dion, sepertinya Papa sangat ingin kau yang menjadi presdir. Jika memang kamu berminat maka aku akan mundur jabatan itu sepertinya juga cocok untukmu." Ucapan Shaka tentu membuat Dion terkejut. Tak menyangka sang kakak menyerahkan jabatan ini sebegitu mudahnya.
"Tapi kak, kenapa tiba-tiba Kak Shaka menginginkan jabatan ini sejak lama?"
"Tidak, Papa benar kamu cocok menjadi presdir. Kamu memang anak kebanggaan Papa." entah kenapa Dion melihat gurat kesedihan dibenak Shaka.
"Apa ini semua ada hubungannya dengan Syifa?" Dion hanya ingin memastikan.
"Tidak sama sekali. Aku bahkan sudah merelakan Syifa untukmu. Aku sadar bahwa Syifa lenih bahagia saat bersamamu dan rasanya aku sangat bersalah jika sampai mengganggu hubungan kalian lagi. Maafkan aku." Shaka tampak melunak. Entah kenapa hal ini justru membuat Dion semakin curiga.
"Ada apa denganmu kak? Biasanya tidak begini?" Dua hari Shaka menginap di rumah ibunya membuat perubahan besar pada Shaka. Hal itu membuat Dion curiga.
"Dion aku minta maaf atas segala sikapku selama ini. Aku sadar sudah banyak menyakitimu. Aku harap kamu memaafkan aku." ujar Shaka.
"Tanpa Kak Shaka minta maaf aku sudah memaafkannya. Karena aku sangat menyayangi kak Shaka. Kakak satu-satunya saudaraku." Dion akhirnya bisa mengungkapkan rasa sayang ini kepada Shaka.
Sementara Shaka semakin merasa terenyuh dengan pengakuan Dion. Tak disangka adik yang selama ini dia benci justru teramat menyayanginya. Kedua netranya bahkan sudah berembun.
Diraihnya Bahu Dion dan Shaka langsung memeluk Dion dengan erat.
__ADS_1
"Dion, aku ingin memulai semuanya dengan benar. Aku tak ingin menjadi pria angkuh seperti dulu." ujar Shaka. Dion oun mengangguk.
"Tapi Kak ku mohon jangan mundur dari kandidat ini. Sebenarnya aku tidak ingin menjadi presdir. Pekerjaan ini sangat tidak cocok untukku. Terlalu banyak aturan dan tekanan. Apalagi pakaian formal seperti ini membuatku engap dan mual." rengek Dion.
"Dasar pemalas. Lalu apa yang kau inginkan? Apa kamu tidak membuat Syifa kecewa nantinya?" Shaka sedikit terkekeh mendengar keluhan Dion.
"Aku sudah membicarakan ini dengannya. Dia sih fleksibel tidak pernah mempermasalahkan aku mau jadi apa." ujar Dion. Akhirnya Shaka pun menyanggupinya.
Hingga rapat besar dimulai dan benar saja semua anggota petinggi perusahaan banyak yang memilih Shaka sebagai presdir. Karena riwayat pendidikan serta skillnya yang mumpuni.
Dion pun dengan senang hati menerima hal itu. Namun ada hal yang membuat Shaka nampak berbeda. Pria itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Apalagi saat berhadapan dengan Papa Wira.
Dion yang sebenarnya penasaran ingin sekali bertanya namun sebuah pesan yang mengejutkan dirinya langsung membuat fokusnya teralihkan.
...****************...
Syifa baru saja pulang dari kampus. Sebenarnya dia sangat penasaran dengan hasil rapat di perusahaan. Namun Dion sama sekali tak menghubunginya. Mungkin pria itu ingin memberikan kejutan.
Dan benar saja, Dion sedang duduk di tepi ranjang sambil mengusap lembut punggung Bella yang tengah tertidur. Syifa selalu senang melihat suaminya yang begitu perhatian.
Syifa pun semakin yakin bahwa dia siap untuk mengandung lagi. Apalagi suaminya tersebut juga sepertinya sudah siap memiliki seorang anak.
Syifa mendekati Dion dan memeluknya dari belakang. Sementara Dion yang sedang melamun sedikit terkejut dengan perlakuan Syifa itu.
"Sayang, bagaimana hasil rapatnya tadi?" Syifa sedikit berbisik di telinga Dion dengan manja.
"Kak Shaka yang terpilih jadi presdir." jawab Dion datar.
"Hmm.. Yaudah nggak apa-apa. Kamu tetap jadi presdirnya di hati aku. Oh ya Sayang ada yang ingin aku bicarakan sama kamu" ucap Syifa manja.
"Aku juga. Ayo ke kamar kita." ujar Dion langsung berdiri dan tak menatap wajah Syifa sama sekali.
Syifa sedikit merasa aneh namun dia tak ingin berprasangka macam-macam.
__ADS_1
Sampai di kamar Dion langsung menutup pintu. Syifa tang hendak memeluk Dion kembali kini langsung dihempas oleh Dion ke ranjang hingga dia terduduk di tepi ranjang.
"Sayang, kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Syifa merasa bingung dengan tingkah suaminya.
"Kenapa kamu membohongiku Syifa?" Dion menatap Syifa dengan tajam.
"Bohong? Apa?" Syifa semakin bingung.
Tiba-tiba Dion mengeluarkan sebuah kertas dan melemparkannya kepada Syifa.
"Kau memasang alat kontrasepsi tanpa sepengetahuanku. Aku pikir kamu selalu jujur dan terbuka kepadaku tapi nyatanya tidak. Kenapa kamu tak mau hamil anakku?" kini tatapan Dion menjadi semakin nyalang Syifa tahu bahwa suaminya sedang terpancing emosi.
"Mas, mas jangan salah paham dulu aku bisa jelasin." Baru saja Syifa ingin menjelaskan kepada Dion namun keadaan sudah seperti ini.
"Kenapa baru dijelaskan sekarang? Bahkan aku harus tahu tentang hal ini dari orang lain. Apa gunanya aku sebagai suami? Oh aku paham sekarang. Kamu memang selalu mandiri dan serba bisa. Kamu bebas lakukan semuanya tanpa persetujuan dariku. Bahkan sebegitu ragunya kamu tak ingin punya anak dari aku?" Syifa hanya bisa terdiam menatap Dion. Untuk pertama kalinya Dion semarah ini kepada Syifa.
"Mas.. A-aku.." entah kenapa melihat kemarahan Dion membuat otak Syifa menjadi blank. Bahkan mengucapkan sepatah kata pun rasanya sangat sulit.
"Apa? Katanya mau jelaskan. Ayo jelaskan.." Semakin Dion membentak Syifa semakin dia terisak tak mampu bicara. Jika dulu bentakan dari Rangga adalah makanan sehari-hari untuknya rasanya sudah kebal.
Tapi untuk pertama kalinya Dion melakukan ini kepada Syifa rasanya sakit sekali. Tapi Syifa yakin bahwa seseorang telah memprovokasi suaminya hingga semarah itu.
Tak mau menunggu jawaban Syifa tiba-tiba Dion beranjak dan mengambil jaket serta kunci motornya. Dia berjalan keluar kamar sambil membanting pintu dengan keras.
"Mas.. Mas Dion mau kemana?" Syifa langsung berlari menyusul Dion.
Bahkan saking paniknya Dia hampir terjatuh saat menuruni tangga. Panggilan Syifa pun rasanya tak lagi didengarkan.
"Mas Dion... Mas.." dengan terisak Syifa hanya bisa menatap nanar suaminya yang pergi dengan motornya
"Padahal aku ingin menjelaskan. Kenapa kamu semarah itu? Hiks.."
...****************...
__ADS_1