Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 79 terhalang restu


__ADS_3

Tak terasa dua bulan berlalu. Kini keadaan Hana mulai membaik. Berkat pengobatan dan terapi yang rutin dia jalani kini Hana bisa pulih lebih cepat dan kembali beraktifitas seperti sedia kala.


Tentu saja semua itu berkat segala dukungan dan cinta dari Shaka. Pria itu benar-benar merawat Hana dengan penuh cinta.


Kini, Hana tampak begitu cantik bersiap untuk mengikuti Shaka. Hari ini Shaka akan mengenalkan Hana secara resmi kepada orang tuanya.


"Kak aku kok deg-deg an ya. Nanti kalau mama kamu nggak nerima aku gimana?" Hana tampak meremas jemarinya.


Dia tahu diri bahwa Shaka memang lahir bukan dari kalangan orang biasa. Keluarga Shaka merupakan keluarga berkelas tinggi sedangkan dia hanyalah gadis yatim piatu yang hidup sederhana.


"Sayang, aku hanya ingin orang tuaku tahu bahwa aku memilih calon istriku. Apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu." Shaka meraih tangan Hana lalu mengecupnya.


Hana pun langsung tersenyum mendapat perlakuan manis dari kekasihnya itu. Tak menyangka bahwa pria yang dia kagumi benar-benar menjadi kekasihnya.


Bahkan dia menunjukkan keseriusannya dengan berniat untuk menikahinya. Tiba-tiba saja bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


"Kenapa? Kok nangis?" Shaka terkejut melihat Hana yang menangis.


"nggak apa-apa. Cuman terharu dan bahagia banget. Makasih ya sayang." Hana mengusap lembut pipi Shaka.


Pria yang terkenal dingin dan cuek itu kini benar-benar berubah menjadi sosok penyayang dan hangat.


"Karena aku mencintaimu sayang. Aku nggak sabar ingin menghalalkan hubungan kita. Aku mau hidup sama kamu selamanya. Karena hari-hariku selalu berwarna saat bersamamu." sebuah kecupan mendarat di kening Hana.


Setelah selesai bersiap mereka pun berangkat menuju kediaman Vanya, ibu kandung Shaka. Sebenarnya ini adalah pertama kalinya Shaka kembali datang menemui ibunya setelah pertengkaran waktu itu. Hingga saat ini pun Shaka masih belum mengetahui siapa ayah kandungnya.


Rumah besar dengan desain minimalis terpampang nyata didepan mata Hana. Berulang kali Hana meneguk salivanya sendiri membayangkan bagaiman isinya. Namun yang paling membuatnya gugup adalah menghadapi ibu Shaka.


Shaka pun meraih tangan Hana dan mengajaknya memasuki rumah itu. Namun yang membuat Hana heran adalah tangan Shaka yang terus menggenggam Hana tanpa terlepas sekalipun.


"Ma.." Shaka memanggil seorang wanita paruh baya yang tengah duduk dengan tablet di tangannya.


Wajahnya cantik dengan bibir merah merona. Meski usianya mungkin sudah setengah abad namun body dan penampilannya masih sangat stylish khas sosialita.


Wanita itu mengangkat wajahnya dan langsung terkejut saat menatap Shaka.


"Shaka, akhirnya kamu datang kesini nak." wanita itu langsung berjalan menghampiri Shaka dengan senyum yang berbinar.

__ADS_1


Namun seketika senyum itu luntur saat melihat Hana disamping Shaka. Gadis yang menurutnya berpenampilan sangat biasa.


"Siapa dia Shaka?" tanya Vanya.


"perkenalkan. Dia Hana Ma, calon istriku." ucap Shaka sambil tersenyum menatap Hana.


Hana pun tersenyum sambil menunduk. Mengulurkan tangannya hendak mengenalkan diri kepada Vanya.


"Apa-apaan kamu Shaka. Lama nggak menjenguk mama sekarang malah bawa gadis ini ke rumah. Emang kamu kenal dimana?" justru jawaban ketus didapatkan dari mulut Vanya.


"Ma, apa tamunya nggak dipersilahkan duduk dulu." ucap Shaka.


Akhirnya Vanya pun mempersilahkan keduanya duduk. Namun tatapan tidak suka terlempar kepada Hana.


"Berasal dari keluarga mana kamu?" pertanyaan menohok langsung didapatkan Hana.


"Ma, bisa nggak sih kita santai dulu." protes Shaka sementara Hana tampak tertunduk.


"Kedua orang tua saya sudah lama meninggal. Saya hidup seorang diri." ujar Hana kemudian.


Vanya menghela nafas kasar. "Lalu apa pekerjaan kamu?"


"Hah, kamu kerja jadi buruh di salon? Lalu kamu mau menikahi anak saya? Jangan mimpi kamu. Kita aja beda level." Vanya langsung mencibir membuat Hana langsung menunduk malu.


"MAMA.." Shaka langsung berdiri tidak terima.


"Kamu berani bentak Mama? Shaka, pikirkan baik-baik mencari pasangan itu jangan sembarangan. Perhatikan bibit bebet dan bobotnya. Mending kamu sama Sofia, anak tante Salma. Dia jelas dan berasal dari keluarga yang selevel daei kamu." ucap Vanya dengan kesal.


"Cukup Ma, aku bisa menentukan pilihanku sendiri. Aku mencintai Hana dan hanya akan menikah dengannya." Shaka menyahut perkataan Vanya dengan tegas.


"Tapi mama nggak suka dan nggak akan pernah merestui kalian. Jangan jadi anak pembangkang kamu Shaka." pertengkaran pun akhirnya kembali terjadi.


"Aku nggak butuh restu Mama kedatanganku kesini hanya untuk memberitahu Mama. Jik Mama tidak merestuinya aku tidak peduli."


"Shaka, tega kamu sama mama ya. Kamu nggak nurut apa kata mama hah? Kamu jadi seenaknya sendiri." Vanya menatap Shaka dengan tatapan murka.


"Mama sendiri yang membuatku begini. Sejak kecil mama mencuci otakku agar selalu membenci Dion. Agar aku tidak menurut dengan Papa Wira. Dan mama memprovokasiku bahwa Dion adalah anak haram. Justru akulah anak haramnya bahkan aku tidak tahu siapa ayah kandungku. Hah, menyedihkan selaku bukan?" Shaka mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


Sementara sejak tadi Hana diam pun kini dibuat terkejut karena ucapan Shaka. Selama ini dia tak menceritakan siapa dirinya.


"Shaka, kenapa kamu bawa-bawa masalah itu? Itu nggak penting." ujar Vanya.


"Nggak penting buat Mama karena ayah kandungku adalah orang biasa. Mama jatuh cinta dengan sopir mama sendiri kan?" kini Shaka yang sudah tak tahan langsung membuka seluruh fakta yang ada.


"Shaka..." Vanya berteriak namun tak jadi meneruskan kata-katanya.


Hana hanya bisa diam mematung melihat pertengkaran ibu dan anak tersebut. Tubuhnya gemetar karena saat ini dia benar-benar takut.


"Gara-gara kamu.. Ya gadis sialan ini aku jadi bertengkar dengan anakku." Vanya menatap nyalang Hana dan hendak menamparnya namun gerakannya langsung terhenti saat Shaka menahan tangannya.


"Cukup ma, aku rasa dugaanku benar. Papa tidak akan sanggup hidup bersama Mama yang sikap ya seperti ini. Makanya dia lebih memilih mama Sarah yang lebih baik." Shaka pun melepas tangan Vanya dan kini mengajak Hana keluar dari rumah itu.


Dengan hati yang begitu sakit lagi-lagi Shaka harus menerima keegoisan ibunya sendiri. Padahal dalam hati dia juga sangat ingin berbakti kepada seorang ibu yang telah melahirkannya. Namun Vanya dengan segala keegoisannya hanya bisa Shaka hindari untuk saat ini.


Keduanya kini sama-sama duduk merenung di mobil. Hana tampak masih syok dengan pertemuan tadi. Bahkan Bisa dibilang Hana tak mendapatkan keramahan sama sekali.


Shaka berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar merasa kacau. Namun sebuah sentuhan di lengannya membuatnya langsung tersadar.


"Maaf ya, harusnya aku tidak mengajakmu bertemu wanita itu." sesal Shaka.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja kok. Aku justru yang minta maaf karena menyebabkan kalian bertengkar." ucap Hana lirih.


"Tidak Hana, hubunganku dengan Mama memang tidaklah baik. Dan apa yang sudah kamu dengar tadi, maafkan aku. Aku tidak jujur padamu tentang siapa diriku. Aku bukan anak kandung papa Wira. Aku hanya anak hasil hubungan terlarang. Sekarang kamu tahu buruknya aku. Dan aku nggak memaksa kamu untuk hubungan ini meski aku masih sangat berharap kita akan tetap berlanjut."


Hana langsung menggeleng keras. "kenapa Kak Shaka ngomong begitu. Memangnya aku peduli hah? Aku cinta kak Shaka dan mau menikah dengan Kamu. Itu artinya aku sudah memilih kamu dengan segala kehidupanmu." Hana membelai lembut pipi Shaka.


"Aku benar-benar menemukan sebuah berlian berharga. Kamu adalah berlianku Hana. Aku sangat mencintaimu." Shaka langsung meraih tubuh Hana dan memeluknya dengan erat.


Begitu bahagianya Shaka memiliki seorang kekasih yang berhati baik dan tangguh. Mungkin perjalanan mereka tak selalu berjalan mulus namun dengan cinta yang besar keduanya pasti mampu melewatinya.


...****************...


Spill visual Shaka dan Hana yaa....


__ADS_1



__ADS_2