
"Sayang.. Bangun.." suara itu terus terdengar di telinga Dion. Tapi yang benar saja malahan Dion semakin merapatkan kedua netranya.
"Sayang, kita harus kembali. Bella pasti nyariin. Kaka Shaka juga pasti sibuk." Syifa menggoyang-goyangkan lengan Dion.
"Hmm.. Aman sayang. Bella sama mbak kok. Mama juga udah balik." ujar dion yang masih memejamkan kedua netranya.
"loh, katanya mama balik sore."
Dion pun meraih ponselnya dan memberikannya kepada Syifa. Dia melihat pesan yang dikirim Shaka.
"Kak Shaka sudah menceritakan semuanya. Mama dan Papa langsung kembali." ujar Dion dengan suara yang masih serak.
"Tapi tetap saja nggak enak kalau kita nggak cepet balik sayang."
"Bentar lagi ya. Aku mau tidur sepuluh menit aja." Dion kembali memejamkan matanya. Rasa kantuk yang luar biasa langsung mengantarkannya ke alam mimpi.
Sedangkan Syifa yang juga masih mengantuk pun akhirnya ikut terpejam.
Semalaman mereka sama sekali tak tidur. Keduanya sudah seperti dua pasang singa liar yang kelaparan.
Buktinya kamar itu sudah sangat acak-acakan tak berbentuk. Sungguh baik Dion maupun Syifa rasanya kapok mencoba obat laknat itu.
Setengah jam berlalu kini Syifa kembali bangun dan hendak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Namun saat baru saja berdiri dia merasakan nyeri di pusat intinya.
"Awwhh.." Syifa meringis tertahan sambil berjalan tertatih.
Dion yang mendengar suara Syifa segera bangun dan mengangkat tubuh istrinya. Dia membawanya menuju kamar mandi.
"Sakit banget ya?" Dion merebahkan tubuh Syifa pelan-pelan ke bathub.
"Iya, lumayan." Baru kali ini Syifa merasakan permainan Dion yang sangat kasar. Bahkan tak hanya miliknya, segala persendian serta kulit kepalanya rasanya masih nyut-nyutan karena Dion berkali-kali menjambaknya.
"Maafkan aku." Dion tertunduk sambil menyabuni tubuh Syifa dengan begitu lembut. Bahkan melihat bekas kemerahan dan juga cakaran di kulit istrinya membuat Dion berkali-kali merasa bersalah.
Sadar akan apa yang dirasakan Dion Syifa pun meraih rahang suaminya dan mengecup bibirnya dengan lembut.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu selamat dari jebakan mereka. Aku nggak bisa membayangkan milikku disentuh orang lain. Aku akan melakukan apapun demi mempertahankan keluargaku." Syifa mengusap lembut pipi Dion. Bahkan netra itu tampak sudah berembun.
Dion langsung meraih tubuh Syifa dan memeluknya. Rasanya dia menjadi manusia yang begitu beruntung karena memiliki wanita sehebat Syifa dalam hidupnya.
"Tau nggak apa yang bikin aku merasa jadi laki-laki paling beruntung di dunia ini? Karena aku memilikimu sayang. Terimakasih banyak atas semua yang telah kamu lakukan untukku. Dan tetaplah bertahan bersamaku apapun yang terjadi. Mau kan?"
Syifa langsung mengangguk dengan senyum bahagia yang terpancar. Meski kedua netranya sudah mengalirkan air mata.
...****************...
Di sebuah ruangan yang gelap dan lembab tak ada suatu barang apapun selain single sofa berwarna abu-abu di tengah tempat itu.
Kaki Shaka menyilang pun dengan tangan yang bersidekap tenang. Duduk menatap lurus sosok pria yang wajahnya sudah babak belur serta gadis manis yang kini keadaannya cukup menyedihkan.
Dengan kedua tangan dan kaki terikat Rangga dan Luna duduk bersimpuh di lantai tanpa alas. Semalaman mereka benar-benar mendapat hukuman dari anak buah Shaka.
"Kak Shaka.. Ku mohon maafkan aku. Bebaskan aku kak.." Luna terus merengek dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya.
Sementara Rangga yang baru tahu siapa Shaka pun masih saja menatapnya dengan congkak. Semalam Luna menceritakan siapa sosok Shaka termasuk hubungan yang pernah dijalaninya dengan Syifa.
Shaka tak menjawab ucapan Luna. Dia hanya menatap lurus tanpa ekspresi. Justru hal begini yang membuat aura intimidasi pria itu semakin terasa.
"Diam kau. Jangan cari gara-gara lagi." bentak Luna.
Sementara Shaka hanya tersenyum smirk melihat dua orang tersebut. Tak tau saja jika Shaka kini telah memiliki berbagai macam bukti kebusukan Rangga.
"Kak Shaka ku mohon bebaskan aku. Lagian kenapa sih kakak bantu orang yang sudah merebut cinta kak Shaka. Kalau saja rencanaku berhasil maka kak Shaka bisa kembali dengan Syifa." ujar Luna mencoba untuk membujuk Shaka.
"Justru aku melakukan hal yang benar. Kau tau orang yang licik akan mendapatkan balasan sangat kejam. Kau mau tau itu?" Kini Shaka bangkit dari sofa dan berjongkok menatap luna.
Tatapan tajam serta seringaiannya mampu membuat nyali Luna mulai menciut.
"Kau salah besar Luna. Masa mudamu kau habiskan dengan sesuatu yang benar-benar tak berguna. Apa kau pikir dengan sikapmu yang seperti ini akan membuat seorang pria jatuh hati?"
"Maaf.. Maafkan aku kak.. Aku telah dijebak Rangga. Dia memanfaatkan aku untuk melakukan ini semua. kalau tidak.." Luna menjeda ucapannya.
"Kalau tidak apa?" Shaka semakin penasaran. Apalagi Rangga tampak melarang Luna mengatakannya.
__ADS_1
"Luna jangan katakan atau kau akan tahu akibatnya." gertak Rangga.
"DIAM.." Shaka meneriaki Rangga.
"Katakan Luna apa yang terjadi?" ujar Shaka kini menatap lurus Luna.
"A-aku.. Aku dijebak agar melakukan hubungan badan dengannya. Dia mengancam ku akan menyebarkan video perbuatan itu jika aku tak menurut." tangis Luna pecah saat itu juga.
Tanpa diduga ternyata Syifa dan Dion sudah berada di tempat itu. Meski masih marah namun Syifa pun ikut sedih dengan kejadian ini.
"Maafkan aku Kak Dion, Syifa. Aku sudah sangat salah dan berdosa pada kalian. Aku terpaksa melakukannya maafkan aku." Luna menangis dihadapan Dion dan Syifa.
PLLAAKKK....
Sebuah tamparan keras langsung mendarat di wajah Rangga.
"Kenapa kau terus mencari ulah? Sudah berapa banyak wanita yang kau rusak masa depannya hah? Sebenarnya kau ini iblis yang menjelma sebagai manusia bukan? Dasar Setan!"
Amarah Syifa benar-benar memuncak. Sebagai sesama wanita dia tentu paham akan sakit yang diderita Luna. Apalagi dulu dia pun merasakannya. Hidup dengan Rangga bagaikan di neraka.
Dion mencoba untuk melerai Syifa. Dia tak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya. Cepat-cepat Dion memeluknya dengan erat untuk meredam amarahnya.
"Akan ku pastikan kau mendapat balasan yang setimpal Rangga. Kau harus membusuk di penjara." Syifa masih mencoba menyahut.
Akhirnya Dion terpaksa membawa Syifa keluar dari ruangan itu.
"Aku sudah menemukan semua bukti kejahatanmu. Jadi pertanggung jawabkan semua perbuatanmu." ujar Shaka kepada Rangga.
"Luna, kau juga akan tetap mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Tapi bukan aku yang menghukumnya. Melainkan kedua orang tuamu." Saat Shaka menyebut nama orang tuanya seketika Luna menjadi pucat pasi.
"Tidak.. Tidak kak jangan katakan pada orang tuaku. Aku bisa habis oleh mereka." Luna terus memohon.
"Terlambat. Papa sudah mengatakan semuanya dan sekarang kau harus menerimanya." ujar Shaka.
Tak lama kemudian Rangga pun diserahkan kepada pihak berwajib. Banyak bukti kejahatan Rangga yang ternyata disimpan oleh Mona.
Mona membeberkan semuanya lengkap dengan beberapa video bukti. Bahkan di kediaman Rangga ditemukan obat terlarang dalam jumlah yang cukup besar.
__ADS_1
Rupanya selam ini Rangga juga menjadi pelaku pengedar barang haram tersebut. Dan mengenai warisan yang akan diterima tampaknya Rangga harus gigit jari sebab semua harta itu disumbangkan kepada seluruh masyarakat kurang mampu.
...****************...