
"Jangan bilang kak Shaka yang..." Dion tak mampu meneruskan ucapannya.
"Apa? kamu kira aku yang bikin tewas dia? nggak kok tapi secara tidak sengaja, eh nggak tau deh bingung ini." jawaban ambigu Shaka semakin membuat Dion khawatir. Pasalnya dia ingat saat kakaknya itu menghadapi si wanita suruhan Antonio. Shaka dengan begitu santai berlakon seperti seorang psikopat. Dia dan Papa Wira saja sampai merinding sendiri.
"Apa bener kakak itu seorang psycho?" batin Dion gelisah.
"Dek, jangan mikir aneh-aneh. Gini deh kakak ceritain kejadiannya." ujar Shaka akhirnya.
FLASHBACK ON:
Shaka benar-benar terpukul atas kejadian yang menimpa Dion apalagi setelah dokter memvonis bahwa adiknya itu mengalami koma. Tentu saja semua orang terutama keluarga merasa hancur. Ditambah Papa Wira yang langsung sakit dan tak mau makan. Dunianya seolah runtuh meski dirinya bukan keluarga kandung tapi sejak kecil dia sudah tumbuh bersama.
Sementara dua minggu setelahnya polisi berhasil menangkap pelakunya. Namun Shaka seolah tak percaya dengan si pelaku itu akhirnya diam-diam dia mengawasi Antonio dengan mengirimkan mata-mata untuk mengawasi Antonio.
Dan benar saja sesuai dugaannya pria itu memang telah merencanakan semua ini. Jika rencananya yang awal dia berhasil lolos dari jerat hukum sebab dengan kekuatan uang dia bisa saja membayar apapun asal dirinya tak sampai dipenjara.
Kini Shaka benar-benar geram, dia pun mencari tahu alasan pria itu sampai membenci Papa Wira. Dan semua itu berkaitan dengan kematian adiknya, Karina.
Lantas Shaka pun juga menggali informasi tentang kematian Karina. Dan sungguh mencengangkan bahwa ternyata hasil visum menunjukkan bahwa Karina meninggal dalam keadaan hamil dua bulan.
Jika memang Karina tak pernah mendapatkan cinta dari Wira maka bisa jadi penyebab Karina mengakhiri hidupnya adalah karena kehamilan tersebut. Mengingat bagaimana keluarga Antonio yang selalu menjunjung tinggi kesempurnaan.
Setelah semua bukti terkumpul Shaka pun langsung berniat menemui Antonio. Dia membeberkan semua bukti yang dia miliki termasuk fakta tentang meninggalnya Karina.
"Tuan Antonio yang terhormat jadi anda tahu sendiri kan bahwa adikmu meninggal dalam keadaan hamil padahal dia belum menikah. Dan alasan dia mengakhiri hidup karena Papa ku jelas tak bersalah. Alasan balas dendammu terhadap keluargaku jelas tak masuk akal tapi kau sudah menyebabkan adikku terbaring koma. Aku akan membongkar sendiri kebusukanmu agar semua orang tahu iblis sepertimu tak layak dikasihani." ujar Shaka sinis.
"Omong kosong semua ini."
Antonio yang tak terima jelas murka. Dia masih kekeuh dengan pendapatnya dan justru hendak mencelakai Shaka karena ingin menghilangkan bukti-bukti tersebut.
Akhirnya aksi kejar kejaran pun tak teralihkan. Shaka sempat kalang kabut karen mobil Antonio terus berusaha mencelakai mobilnya. Beruntung Shaka cukup ahli dalam menyetir mobil dan menguasai jalur.
Dia menggunakan taktiknya saat mobil Antonio melaju dengan kecepatan tinggi. Setelah dirasa aman Shaka langsung banting stir dan mengurangi kecepatannya.
Kecelakaan pun tak terhindarkan. Mobil Antonio menabrak pembatas jalan dan terbalik. Sementara dari lawan arah terdapat truk tangki berisi bahan bakar minyak. Akhirnya mobil tersebut langsung meledak seketika.
Berakhirlah kisah Antonio dengan segala permasalahan hidupnya. Mungkin itulah balasan dari Tuhan atas segala perbuatannya. Terbayar lunas.
FLASHBACK OFF.
"Tolong jangan bilang Papa jika aku terlibat dalam kejadian itu. Aku hanya tidak ingin Papa kepikiran sementara ini sudah terlalu banyak beban yang dia pikirkan." Shaka menghela nafasnya.
Tiba-tiba saja Dion langsung memeluk Shaka. Rasanya banyak sekali yang sudah kakaknya itu perbuat untuknya. ika ada kata melebihi terimakasih sudah tentu Dion lakukan.
"Kak, terimakasih.. terimakasih sudah begitu peduli. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa." Dion menangis tergugu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu membalasnya. Justru aku melakukan ini utuk menebus semua sikap burukku selama ini. Aku janji akan menjadi kakak yang baik untukmu." Shaka mengacak rambut Dion seolah adiknya itu masih kecil.
"Tubuhmu begitu kurus, makanlah yang enak-enak. Kalau ingin makan apapun tinggal bilang aku carikan tapi jangan aneh-aneh." ujar Shaka dingin. Meski begitu dia sebenarnya sangat perhatian.
"Kak, bolehlah aku minta aneh-aneh kan lagi mengidam." Dion menyengir jahil.
"Baru juga disayang-sayang sudah menjengkelkan." gerutu Shaka.
****
"Papa mau uciing.."
"Papa mau meong.." rengek Bella ketika sepasang ayah dan anak itu sedang menikmati tontonan di televisi.
"Bella mau melihara kucing?" seketika Bella mengangguk.
"Tapi Bella kan masih kecil, belum ngerti merawat hewan." tolak Dion.
Seketika kedua netra yang berbinar itu berubah sendu dan berkaca-kaca. Bibirnya nampak melengkung ke bawah dan tetesan air matanya hampir terjatuh.
"Sayang, papa nggak marahin Bella. Yaudah nanti papa carikan kucing buat Bella ya." Dion sejujurnya masih bimbang jika menyerahkan hewan hidup kepada Bella. Dia belum tahu betul cara menyayangi dan merawat binatang. Yang ada justru akan menyiksanya. Dion harus putar otak untuk ini.
"Yeeyy.. ucing kayak punya kak Cean ya Pa." ujar Bella lagi.
Dion pun langsung mengernyit pasalnya dia tak tahu siapa itu Sean.
"Kak Cean ganteng Pa." jawab Bella .
Terbelalak Lah mata Dion. Bagaimana anak usia dua tahun sudah tau kata ganteng. Hah, rasanya dia bukan memiliki anak balita namun anak gadis.
"Sean itu cucunya tante Sheila loh Mas, dia kan satu kelas sama Bella. Dan lagi Hana selalu panggil Sean ganteng jadinya Bella ikutan." Syifa yang kebetulan mendengar obrolan mereka langsung menjelaskan.
"Loh, memang Bella sudah sekolah?" Banyak hal yang Dion lewatkan.
"Preschool sayang, lebih ke kelompok bermain. Tujuannya untuk mengasah ketrampilan fisik,kreativitas, kepribadian dan tumbuh kembangnya sayang. Dia juga isa belajar mengenal banyak teman. Sebenarnya Hana sih yang berinisiatif. Dia lebih banyak merawat Bella sementara aku fokus sama kamu dan bisnis-bisnis kamu." ujar Syifa tak enak. Ada rasa bersalah ketika dia harus terpaksa menitipkan putrinya kepada orang lain.
"Maaf ya. Semua jadi kacau ketika aku sakit. Banyak ngerepotin kamu." Dion lagi-lagi merasa bersalah.
"Nggak apa-apa kok sayang. Justru dengan kejadian ini membuatku banyak belajar tentang arti kesabaran. Dan lagian Hana merawat Bella dengan baik bahkan dengan inisiatifnya menyekolahkan Bella ini membuatnya cepat sekali tumbuh kembangnya. Termasuk cerewetnya. Banyak sekali kosa kata yang dia pelajari." Syifa mengecupi gemas putri kecilnya.
"Benar sayang. Aku sampai kaget saat kemarin ketemu Bella yang fasih banget ngomongnya. Sepertinya turunan gen cerdas dari Mommy nya ini." ucap Dion bangga.
"Amin, semoga sayang." balas Syifa.
"Papaaa.. uciinggg..." Lagi-lagi Bella mengingatkan tentang kucing permintaannya.
__ADS_1
"Iya-iya sayang. Nanti Papa belikan kucingnya ya."
****
Dion sedang memilih boneka kucing yang tertata rapi di sebuah rak display dengan berbagai model dan warna. Begitu lucu dan sebagian besar mirip kucing sungguhan.
"Jadi kucing milik Sean warna apa sayang?" tanya Dion kepada Syifa.
"Kata Hana sih warna oren sayang. Eh ini aja kali ya. Ada talinya, isi baterai bisa gerak sama bersuara." Syifa menunjuk sebuah boneka kucing yang dimaksud.
"Boleh, yaudah mbak ambil yang ini. Sekalian sama mainan ikan karet tadi ya." Dion tahu pasti anaknya itu akan memprotes dan menanyakan perihal makanan kucingnya.
Kebetulan hari ini adalah waktunya Dion kontrol ke rumah sakit sekaligus Syifa memeriksakan kandungannya. Beruntung keadaan Dion maupun Syifa semua baik dan tak ada kendala apapun. Namun dion harus tetap rutin kontrol untuk melihat perkembangan kesehatannya. Sekalian saja mampir membelikan mainan untuk Bella.
"Meeeooonngg.. meeoongg...
meeoonngg Papa..
Meeoongg Mommy...
Meeoonggg om Aka...
Meeoongg onty...
Meeoongg omaaa..
Meoonngg opaa..." dan masih banyak lagi semua orang dia temui termasuk bibi, mbak dan pak sopir yang sedang berada di rumah itu.
Dengan penampilan ala princess gaun mengembang serta hiasan di kepalanya Bella tak lelah mengitari rumah sambil menarik mainan kucing barunya. Akhir-akhir ini dia memang sangat gemar berdandan seperti seorang putri.
"Sayang itu kucingnya miring." Papa Wira mencoba membetulkan posisi kaki kucingnya namun langsung dihentikan Bella.
"Awas Opa diigit ucing cakittt...aaw..aaww.." Bella menyodorkan jari tangannya sendiri ke mulut boneka kucingnya seolah dia yang digigit kucing. Papa Wira yang sudah sebulan ini murung akhirnya kembali ceria seperti sedia kala. Apalagi melihat tingkah Bella yang semakin hari semakin menggemaskan membuatnya cepat bergas kembali.
"Dasar anaknya Dion, kelakuan sebelas dua belas deh." ujar Shaka sambil terkekeh.
Meskipun bukan anak kandung namun sifat Bella benar-benar mirip dengan Dion mulai dari usil dan kerandomannya.
Namun yang membuat Bella semakin menjadi-jadi adalah sikap posesifnya terhadap Dion yang semakin tinggi. Kemanapun papanya pergi pasti dia akan mengekor dibelakangnya.
Bahkan saat Dion ke kamar mandi saja Bella sampai menungguinya di depan pintu kamar mandi. Dan Bella akan marah dan ngambek ketika orang lain berdekatan atau memeluk Dion. Syifa saja sampai harus diam-diam jika ingin bermesraan dengan Dion.
...****************...
Princess Bella dengan boneka kucingnya
__ADS_1