
Mobil terus melaju membelah jalanan ibu kota. Sementara Dion tak berhenti memeluk dan mendekap Syifa dengan erat. Hingga suara isakan dan gemetar di tubuhnya perlahan menghilang.
"Sudah sedikit lebih tenang." Dion menatap wajah sendu istrinya yang kini telah terlelap di pelukannya.
Entah karena kelelahan atau karena takut yang menyerangnya membuat Syifa cepat tertidur pulas.
Nico yang sejak tadi menyetir pun tampak tenang. Pembawaan pria itu memang selalu tenang dalam segala hal. Itulah yang membuat Dion selalu betah bersahabat dengannya.
"Nico, ini bukan jalan ke arah rumah gue deh." Dion menyadari bahwa Nico membawanya ke tempat lain.
"emang, kita ke apartemen gue aja." ucap Nico.
"Kan gue bilang anterin pulang kenapa lo mau ke apartemen lo. Jangan bilang lo kagak mau nyetirin gue." gerutu Dion.
"Buset, lo ngerti nggak sih. Lihat keadaan istri lo kacau begitu. Kalau lo pergi ke rumah dengan keadaan Bu Syifa Yang seperti itu emang nggak kasian sama Bella dan kedua orang tua lo apa? Kalau mereka kepikiran gimana?" perkataan Nico agaknya ada benarnya juga.
Akhirnya Dion menuruti ucapan sahabatnya itu. Setelah sampai di basemen Dion langsung menggendong Syifa ke dalam unit apartemen Nico.
"Kamar tamu lo pake aja. Selesaikan masalah lo disini. Gue ada urusan bentar. kalo lo butuh apa-apa telepon aja." ucap Nico.
"Lo mau kemana?" Nico hendak melangkah pergi namun Dion menghentikannya.
"Gue mau ambil motor ke kampus. Sama ada urusan doang." ujar Nico.
Dion pun kembali ke dalam kamar menemani Syifa. Dia begitu prihatin dengan kejadian yang menimpanya.
Padahal Dion sudah berjanji untuk tidak akan membuat istrinya menangis. Tapi lagi-lagi Syifa harus menangis karena dirinya.
"maafkan aku.." ucap Dion lirih sembari menyembunyikan wajahnya diceruk leher Syifa.
Dion merasakan bagaimana peran besar Syifa di hidupnya. Selama ini dirinya seolah terombang ambing tanpa arah tujuan. Belum lagi tekanan keras dari Papa Wira yang membuatnya semakin terpuruk.
Semenjak kehadiran Syifa kini Dion lebih tenang bahkan gangguan emosionalnya bisa sembuh cepat.
Tapi setelah apa yang dialami Syifa membuat Dion kembali berang. Dia merasa gagal menjaga wanita terpenting di hidupnya.
Tanpa sadar air mata Dion pun jatuh membasahi pipinya. Rasa sedih dan bersalah itu semakin memuncak dan membuatnya menjadi rapuh. Dion terus memeluk tubuh Syifa dan menumpahkan segala penyesalannya.
Syifa yang merasakan hembusan nafas di lehernya dan suara isak tangis yang tampak berat perlahan membuatnya mulai membuka mata.
__ADS_1
Dia melihat sang suami tengah menangis sambil memeluknya. Sungguh ini benar-benar pertama kalinya Syifa melihat Dion menangis didekatnya.
Terang-terangan pria itu menunjukkan sisi rapuh dirinya. Pria yang selama ini selalu ceria dan tangguh melindunginya. Seolah dimatanya tak ada sama sekali kesedihan dan kesakitan saat berhadapan dengan dirinya.
Tapi kali ini Dion benar-benar berbeda. Terdengar suara pilu itu menunjukkan bahwa Dion memiliki sisi manusiawi. Wajar bukan seseorang menangis untuk menumpahkan segala kegundahannya.
Perlahan Syifa mengusap kepala Dion. Sapuan lembut jemarinya terasa begitu hangat dan nyaman.
"Maafkan aku.." suara Dion sedikit tidak jelas karena dirinya masih menyembunyikan wajahnya.
"it's ok." kata-kata itu biasanya selalu diucapkan oleh Dion. Kata andalan dirinya untuk memastikan semua akan baik-baik saja.
Syifa pun mulai merasakan betul arti kata tersebut. Sederhana memang, tapi dahsyat maknanya.
Perlahan Syifa sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Dion. Namun agaknya pria itu tampak malu dan menolak untuk menatap Syifa.
"Jangan melihatku. Aku sangat buruk." ucap Dion sambil menutupi wajahnya dengan lengannya.
"nggak apa-apa sayang. Aku sudah tahu." Syifa mengusap lembut lengan Dion dan menyingkirkannya dari wajahnya.
Mata sembab dan hidung yang juga memerah. Serta lelehan basah di kedua pipinya benar-benar menunjukkan sosok Dion yang begitu lain.
"Kamu nggak gagal jadi suami. Kamu adalah suami serta Papa yang terbaik. Bahkan saking baiknya justru aku merasa kurang pantas bersanding denganmu. Kamu terlalu sempurna untukku Mas Dion." ucap Syifa lirih.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Dion menatap Syifa dengan tajam. Namun sayangnya Syifa justru mengalihkan pandangannya.
"Benar yang dikatakan mereka, kamu adalah pria sempurna. Harusnya kamu memilih perempuan yang juga seimbang denganmu. Aku terlalu jauh denganmu bahkan aku memberi beban anak dan beban cibiran. Aku.. Aku maafkan aku." Ucap Syifa tertahan. Akhirnya memberanikan diri mengutarakan perasaannya.
"Jangan pernah kamu mengatakan itu sayang. Kamu justru yang menyempurnakan aku. Aku tidak akan jadi seperti ini tanpa kamu. Aku hilang arah jika tidak bersamamu." Dion benci mendengar ucapan Syifa yang seolah merendahkan dirinya.
"Dan satu lagi, Bella bukanlah beban untukku. Justru dengan adanya Bella keluargaku menjadi lebih dekat dan saling menyayangi. Dia putriku dan kebanggaanku."
Tangis Syifa kembali pecah saat itu juga. Entah jika menyangkut tentang Bella hatinya terasa seperti diremas-remas. Bocah kecil itu adalah kekuatan dalam hidupnya.
"Please, bertahanlah bersamaku. Hubungan kita memang terkadang tak berjalan mulus dan kadang kacau tapi dengan cinta kita bisa melewati bersama. Ibarat laut terkadang pasang dan surut tapi rasa airnya tetap sama kan? Dan itulah yang aku rasakan padamu. Cintaku selamanya akan tetap sama Syifa.
Jika sudah begini Syifa tak mampu lagi berkata-kata. Dion begitu dewasa dan bijaksana untuknya. Anugerah Tuhan telah memberikan dirinya sosok suami yang begitu sayang dan tanggung jawab, Syifa sangat mencintainya dan tak ingin kehilangan dirinya.
...****************...
__ADS_1
Sementara Nico kini sedang berjalan dari parkiran kampus. Setelah mengambil motornya dia melaju ke tempat dimana dia sudah janjian dengan seseorang.
Nico memencet bel pintu apartemen yang sudah beberapa bulan tak dia kunjungi. Dengan raut frustasi Nico berusaha menguatkan hatinya.
Tak berselang lama seorang gadis membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Nico masuk.
"mau minum apa?"
"Air putih saja." ucap Nico singkat.
Tak berselang lama gadis itu membawakan Nico segelas air putih. Dia kini duduk bersebalahan.
"Tumben kesini?."
"Gue cuma pengen tanya satu hal. Kenapa lo sebarin berita tentang Dion? Lo sengaja kan lakuin ini?" ucap Nico tanpa basa basi.
"K-kok lo nuduh gue?"
"Ya, karena gue tahu. Lo pasti pelakunya. Lo ngaku aja Bianca." Nico menatap tajam Bianca.
"Ya, gue emang yang nyebarin berita itu. Gue sengaja emang biar Dion dan Bu Syifa mendapat masalah." Bianca tertawa getir.
"Dan lo puas karena ulah lo Bu Syifa di benci sama semua mahasiswa. Lo datang seolah menjadi pahlawan untuknya dan mengambil kesempatan itu. Bianca please, kenapa lo tega?" Nico tak menyangka bahwa Bianca akan menjadi senekat ini.
"Karena gue capek Nico, gue cinta Bu Syifa, gue mau dia. Tapi Dion menghalangi langkah gue. Udah berulang kali gue coba lupain Bu Syifa tapi nggak bisa." Akhirnya tangis Bianca pecah saat itu.
Rasanya begitu sesak mengakui cinta yang tak seharusnya dia miliki. Tapi melawan rasa cinta yang sudah mendarah daging seperti ini begitu sulit.
"Gue tahu lo suka Bu Syifa. Tapi gue rasa itu bukan Cinta. Tapi itu obsesi Bianca. Lo terlalu terobsesi dengan bu Syifa." Dengan netranya yang memerah Nico mencoba menahan gejolak emosi di dalam dadanya.
"Hahaha.. Lo berkata begitu memangnya lo ngerasain? Dimana-mana namanya cinta itu untuk dikejar Nico. Gue cinta Bu Syifa dan gue akan kejar cinta gue." kekeuh Bianca.
Nico yang mulai hilang kesabaran pun kini mendekati Bianca dan meremas kedua pundaknya. Dengan sorot tajam ya mencoba untuk membuat Bianca paham.
"Gue mengatakannya yang sebenarnya Bianca. Jika lo emang bener-bener cinta harusnya lo ikhlas. Lo rela meski tak harus bersama. Setidaknya lo bisa ikut bahagia melihat orang yang dicintai bahagia. Itulah cinta Bi. Seperti rasa cinta gue ke lo. Meski tak mungkin gue gapai tapi setidaknya gue bahagia jika suatu saat nanti lo dapat kebahagiaan dengan cara yang benar."
"Perasaan gue gak main-main. Gue jatuh cinta sama lo tapi gue sadar diri kita gak akan bisa bersama."
...****************...
__ADS_1