Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 40 kembali bekerja


__ADS_3

Masa skorsing Syifa kini telah usai. Dirinya kembali dihadapkan dengan tugas-tugas di kampus.


"Sayang, mama kerja dulu ya. Nggak boleh nakal di rumah sama papa." ujar Syifa sembari mengecupi pipi gembul Bella.


"Yuk, aku antar." ucap Dion yang sudah siap untuk mengantar Syifa.


Beruntung saat ini Bella tak banyak drama sehingga Syifa bisa meninggalkannya dengan mudah. Hanya saja justru Dion yang seolah ingin menciptakan drama.


"Sayang, apa nggak bisa diundur lagi biar kita sama-sama seminggu di rumah." rengek Dion.


"nggak bisa dong, udah ketentuannya gitu. Lagian udah ditemani empat hari masih kurang?" Syifa pun mulai memutar bola matanya gemas sendiri dengan kelakuan suaminya.


"Ya nambah tiga hari lagi biar sama. Terus kita liburan berdua. Honeymoon tipis-tipis." Dion melirik Syifa dengan wajah tengilnya.


"hmm.. Emang kamu mau kita honeymoon pas aku datang bulan. Aku sih nggak masalah kalau Mas Dion ya tergantung sih." Syifa balas melirik Dion dengan tatapan menggoda.


"ah, iya ya. Bener juga kan kalau kamu lagi dapet aku nggak bisa ngandangin burungku dong." ucapan Dion yang selalu vulgar tentu membuat Syifa langsung mencubitnya.


"kumat deh, punya suami mesum gini pikirannya gak jauh-jauh dari sana." gerutu Syifa.


"haha mau gimana lagi sayang kan lagi ngejar kenikmatan dunia. Lagian juga sama istri sendiri." goda Dion.


Perdebatan kecil itu rupanya tak sadar mengantarkan mereka sampai di depan kampus. Syifa pun langsung bersiap turun sebelum itu menyalami tangan Dion dan menciumnya.


"Mas, aku kerja dulu ya. Tolong jagain Bella nanti kalau ada apa-apa bilang ya." ucap Syifa.


"iya cintaku semangat ya. Nanti mau dijemput jam berapa?" tanya Dion.


"sorean mas, soalnya ada bimbingan skripsi dulu sama mahasiswa." Dion pun langsung mengecup kening, pipi dan bibir Syifa bergantian sebelum istri tercintanya itu keluar mobil.


Semenjak pernikahannya dengan Dion diketahui semua orang di kampus kini agaknya cukup berpengaruh bagi Syifa.


Tak jarang diantara mereka sengaja membicarakan dirinya di belakang. Baik bicara tentang hal baik maupun tidak. Namun Syifa tak mau ambil pusing dengan hal itu. Yang terpenting adalah bagaimana dirinya menjaga profesional kerja serta perannya sebagai istri untuk keluarganya.


"Eh Bi, nggak nyangka ya ternyata saingan lo Bu Syifa. Makanya Dion sama sekali nggak ngelirik lo." ujar Molly.


Sementara Bianca yang sedang berjalan menuju kelas mencoba untuk pura-pura tidak mendengarnya. Dia tahu hatinya masih sakit atas penolakan dari Dion. Bianca pun tak ingin semakin terpuruk dengan omongan orang lain.


"lo budeg ya Bi, atau jangan-jangan lo sengaja pura-pura nggak denger. Dih kasian banget deh yang cintanya bertepuk sebelah tangan melulu." ujar Molly lagi.


Bianca yang awalnya diam kini pun mulai tak tahan dan ingin sekali membalas ucapan Molly.

__ADS_1


"Lo nggak ada kerjaan ya ngurusi hidup orang mulu. Lagian urusan gue mau ngapain." ucap Bianca yang berusaha menahan emosinya.


"Hah, setidaknya gue pernah deket dan rasain cintanya Dion. Daripada lo, ngemis-ngemis tapi nggak pernah dianggep." ejek Molly.


Bianca yang sudah kepalang emosi hendak melayangkan pukulan kepada Molly namun secepatnya Nico menangkap tangan Bianca.


"udah Bi, nggak usah peduliin nenek lampir kayak dia. Nggak ada gunanya mending kita ke kelas biar nggak telat yuk." Nico yang kebetulan berada di dekat Bianca.


"tunggu gue mesti bikin perhitungan sama si mulut lemes ini. Gedeg gue sama dia." Tanpa diduga Bianca langsung menarik rambut Molly.


Molly yang kesakitan pun berusaha membalas Bianca. Sementara Syifa yang hendak masuk ke dalam kelas melihat keributan itu.


"Ada apa ini? Eh, kalian kenapa bertengkar?" tanya Syifa yang terkejut.


"Kakak ipar, eh Bu Syifa. Mereka berantem tuh." Nico berusaha melerai keduanya.


"Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar. Ayo masuk kel.."


PLAAKKK...


Syifa yang hendak melerai keduanya langsung terhuyung ketika tangan Molly tak sengaja memukul Syifa.


"Awwh.." pekik Syifa.


"Bu Syifa, maaf bu nggak sengaja." ucap Molly ketakutan.


"Mampus lo sampai ketahuan Dion bisa jadi bulan-bulanan lo." bisik Bianca. Hal itu semakin membuat Molly bergidik. Siapa yang tak tahu temperamen Dion.


"Sudah-sudah. Ayo masuk jangan bikin ribut disini." ujar Syifa dengan tatapan tajamnya.


...****************...


Sementara di kediaman Dion tampak ramai dengan celoteh Bella. Bocah kecil itu sedang belajar berjalan.


Semangat sekali Dion saat melihat langkah pertama Bella. Tak lupa dia langsung mengabadikan momen tersebut ke dalam video.


"Sayangnya Papa pinter banget. Ayo semangat habis ini ulang tahun udah bisa jalan." Dion begitu gemas dengan Bella.


"Dion, bisa bicara dengan ayah sebentar?" ucap Papa Wira.


"Iya Pa." mereka pun beranjak menuju ruang kerja Papa Wira.

__ADS_1


Hubungan Dion dan Papanya memang berangsur mulai membaik. Dengan komunikasi yang baik serta saling menahan ego akhirnya keduanya kini bisa kompak.


"Ada apa pa?" Tanya Dion.


"Dion, bagaimana perkembangan cafe kamu?" tanya Papa Wira.


"Sejauh ini baik-baik aja pa. Ya meskipun kenaikannya belum terlalu signifikan tapi Dion yakin semua akan berjalan lancar." ujar Dion.


"Dion, sebenarnya papa ingin sekali kamu bergabung di perusahaan dan meneruskan kinerja Papa." ujar Papa Wira yang langsung pada intinya.


Ada jeda untuk Dion. Dia tak langsung menjawab dan hal itu dirasakan oleh Papa Wira.


"Kenapa Dion? Apa kamu masih ragu?." tanya Papa Wira sekali lagi.


"Pa, aku hanya tak ingin terlibat masalah dengan Kak Shaka. Papa tahu sendiri dia sangat benci jika aku ikut terjun di perusahaan Papa." ujar Dion dengan wajah yang tampak tertekuk.


"Dion, kamu juga anak Papa. Jadi kamu berhak atas perusahaan itu. Kamu jangan takut Dion. Papa akan bicara dengan Shaka nanti." ujar Papa Wira.


"Mau ya Dion? Papa sangat berharap kamu mau bergabung, apalagi melihat perubahan kamu yang cukup baik akhir-akhir ini." ujar Papa Wira.


"Soal itu, Dion ingin berdiskusi dengan Syifa dulu Pa. Biar bagaimanapun Syifa istri Dion dan dia berhak tahu." ucap Dion.


"Baiklah, tapi Papa ingin jawaban secepatnya."


...****************...


"Tuan silahkan mobil sudah siap." ucap seorang pengawal.


"Baiklah, antar aku ke rumah papaku dulu." ujar pria itu.


Langkah kakinya yang tampak tegap dengan sorot mata tajamnya yang tertutup kaca mata hitam kini meninggalkan bandara.


Di dalam mobil pria itu tampak mengamati jalanan sekitar dari balik kaca mobil.


"Sudah lama sekali tuan tidak pulang ke negara ini. Sepertinya anda sangat sibuk tuan." ucap pengawal itu lagi.


"Ya, aku memang sangat sibuk. Tapi kepulanganku ini ada tujuannya." ujar pria itu.


Pria itu mengeluarkan sebuah lembaran foto yang menunjukkan potret dirinya dengan seorang gadis. Tampak sedikit usang namun wajah gadis itu masih tampak sangat cantik.


"Tujuanku adalah dirimu. Akan mencarimu dan kembali merajut cinta kita, Syifa."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2