
"Duuhh.. Ganteng banget sih suami siapa ini?" Syifa sedang memakaikan dasi ke leher Dion.
"Baru juga pakai setelan formal istriku sudah amnesia." Dion memutar bola matanya malas.
"Eh, maksudnya aku mau muji sayang. Beneran kamu ganteng banget kalau pakai setelan formal gini."
"Iya tapi gak enak sayang gerah, sesek. Enakan pakai kaos oblong, pakai hoodie lebih efisien dan nggak berlapis-lapis." Dion paling malas jika disuruh memakai pakaian formal.
"Ya tapi ini kan momen penting sayang. Kamu akan bertemu para petinggi perusahaan. Terus ini kenapa lagi rambutnya disuruh potong bukannya dipendekin malah di cat?" Syifa merapikan rambut Dion agar terlihat lebih rapi.
"Kemarin niatnya mau potong tapi mbak Hana lihat video klip Kpop katanya ada yang mirip aku. Yaudah biar makin mirip aku cat aja. Masih coklat juga padahal rambut idol kpopnya di cat pink." dengan santainya Dion menjelaskan kepada Syifa.
"Sejak kapan kamu jadi suka kpop. Biasanya aja selalu protes kalau aku nonton drakor." cibir Syifa.
"Ya habisnya kamu selalu memuji aktornya. Kan aku nggak mau kalah kalau bisa puji saja aku. Nggak boleh muji pria lainnya."
"Iya-iya tuan posesif. Eh kok malah dilepas lagi dasinya. Yaampun." Syifa jadi sebal sendiri saat Dion malah melepas dasi yang terpasang rapi di lehernya.
"Nggak enak mual sayang rasanya. Lagian aku yakin nggak mungkin dipilih jadi direktur. Semoga saja nggak kepilih."
"Hmm yaudah deh. Terserah kamu aja." Syifa memutar bola matanya malas.
Jika orang lain menginginkan sebuah jabatan tinggi maka berbeda dengan Dion. Pria itu sangat anti bekerja dibawah aturan.
Prinsip Dion adalah melakukan sesuatu berdasarkan keinginannya secara bebas tanpa tekanan dari orang lain. Karena sejak kecil hidupnya sudah banyak tertekan oleh segala aturan yang dibuat ayahnya.
"Doakan yang terbaik ya sayang. Kalaupun aku tidak jadi direktur tidak apa kan?" Dion kembali meyakinkan Syifa.
"Jadi apapun kamu adalah suamiku. Mau kerja mau pengangguran juga tetap aku mencintaimu." Syifa mengecup lembut bibir Dion sebagai penyemangat.
"Terimakasih cintaku. Maaf ya hari ini nggak bisa antar kamu ke kampus dulu." Dion membalas kecupan Syifa.
"Iya tidak apa-apa. Aku masuk siang lagian pagi bisa temani Bella dulu." Syifa pun mengantar suaminya ke luar.
Tampak Mama Rina juga sedang mengantarkan Papa Wira. Mereka akan berangkat dalam satu mobil.
"Kamu sudah siap Dion? Semoga kamu terpilih menjadi direktur seperti harapan Papa." Dion hanya menanggapi dengan senyuman.
Sebenarnya ada kekhawatiran Wira terhadap Dion. Dia ingin putra kebanggaannya itu meneruskan perusahaannya. Apalagi sekarang Dion sudah memiliki tanggung jawab kepala sebagai keluarga. Padahal Dion sendiri sudah memiliki jalan sendiri yang dipilihnya.
"Wah kalau Kak Dion sampai beneran jadi direktur makin kaya dong." gumam Luna yang tak sengaja mendengar percakapan antara Dion dan papanya. Semakin gencarlah niatan Luna untuk merebut Dion.
__ADS_1
"Sayang kamu ke kampus jam berapa?" tanya Mama Rina saat Syifa kembali masuk ke dalam rumah.
"Nanti siang Ma jam dua belas tapi jam sebelas mau ke rumah sakit dulu janjian sama dokter." ujar Syifa.
"Loh, kamu kenapa sayang? Sakit?" mama Rina tampak panik.
Syifa benar-benar keceplosan kali ini. Padahal niatnya dia tak ingin memberitahu ibu mertuanya. Sebab dia akan memeriksakan alat kontrasepsi yang dipasangnya.
"Oh, nggak kok Ma, cuma pemeriksaan kesehatan rutin aja." Syifa berusaha menutupinya.
Namun Luna yang masih menguping pembicaraan mereka pun menjadi penasaran. Dia merasa Syifa menyembunyikan sesuatu.
Akhirnya saat Syifa hendak ke rumah sakit diam-diam Luna membuntutinya. Dia cukup terkejut saat Syifa menuju poli kandungan.
"Apa jangan-jangan Syifa hamil ya?" Luna menjadi penasaran.
Tiba-tiba tak sengaja seseorang menabraknya hingga Luna terhuyung. Beruntung orang itu segera menangkap tubuh Luna hingga tak jadi terjatuh.
"Luna?" pria itu menatap wajah Luna.
"Arya?" rupanya Luna mengenali pria itu. Fia adalah Arya, teman Luna sewaktu SMP. Dan pria itu pula pernah menaruh hati kepadanya.
"Tidak ku sangka aku bertemu denganmu lagi. Kamu semakin cantik Luna." ujar Arya dengan mata berbinar.
"Ah, kamu bisa aja. Aku ya begini saja kok nggak berubah. Ngomong-ngomong kamu bekerja di sini?" Luna melihat pakaian perawat yang Arya kenakan.
Sebenarnya Luna malas bertemu dengan Arya apalagi pria itu hanya berprofesi sebagai perawat. Tapi setelah dipikir-pikir ada untungnya dia memanfaatkan Arya.
"Begini Arya, sebenarnya aku sedang mengikuti kakakku. Dia sepertinya menyembunyikan sesuatu dari keluargaku dan aku khawatir terjadi sesuatu dengannya." ujar Luna dengan sendu.
"Memangnya kakakmu kenapa?" Arya mulai iba kepada Luna.
"Entahlah, dia masuk ke poli kandungan. Arya aku takut kakakku kenapa-napa."
"Siapa nama Kakakmu?"
"Syifa. Namanya Syifa. Apa kamu bisa membantuku? Apa yang sedang dia lakukan di poli kandungan. Kalau bisa aku minta laporan tentang riwayatnya supaya mamaku lega jika tidak ada sesuatu yang terjadi." Luna pura-pura memasang wajah khawatirnya.
"Sebenarnya membocorkan data pasien itu dilarang Luna. Tapi melihat kamu aku jadi tidak tega. Baiklah aku akan mencoba membantumu." ujar Arya.
"Terimakasih Arya. Kalau begitu ini nomor teleponku. Aku sangat berharap bantuan kamu kalau bisa secepatnya ya supaya mamaku tidak kepikiran terus." Luna begitu kegirangan dalam hatinya. Tak susah membujuk seorang Arya untuk membantu melancarkan aksinya.
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya Arya menghubungi Luna. Dia mengajak Luna bertemu di cafe dekat rumah sakit untuk memberikan laporan pemeriksaan Syifa.
__ADS_1
"Bagaimana Arya? Apa kau dapat laporannya?" Luna tampak antusias.
Kemudian Arya mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih.
"Ini laporan hasil pemeriksaan kakak kamu. Tidak ada yang terjadi sesuatu. Dia hanya mengecek kontrasepsi IUD yang dia pakai." ujar Arya.
"Dia pakai kontrasepsi? KB maksud kamu?" Luna mencoba mencari penjelasan.
"iya. Sepertinya kakakmu ingin menunda kehamilannya." ujar Arya.
Luna pun mengangguk-angguk paham. Didalam pikirannya sudah tergambar apa yang akan dilakukan setelah ini. Senyum licik pun mulai terbersit di wajahnya.
"Huru-hara akan segera dimulai nona cantik. Aku akan pastikan bahwa Kak Dion mengetahui hal ini. Dia pasti sangat kecewa melihat istrinya tak ingin memiliki anak darinya." batin Luna.
Sementara kejadian sebenarnya yang ada di dalam ruangan dokter kandungan tersebut Syifa memang sedang berkonsultasi mengenai alat kontrasepsi IUD yang dia pakai.
Untuk pertama kalinya dia memilih metode tersebut karena saran dari beberapa rekannya yang menganggap hal itu aman.
"Dokter, sebenarnya saya ingin melepas IUD yang saya pakai. Tapi saya masih ragu karena anak saya masih berusia satu tahun. Apakah jika saya hamil lagi tidak akan mengganggu tumbuh kembang janin yang saya kandung jika jaraknya terlalu dekat?" ujar Syifa.
"Sebenarnya tidak apa-apa bu jika anda ingin melakukan program kehamilan lagi. Selama ibu sehat juga menjaga kehamilan dengan baik saya rasa tak ada salahnya. Dan yang penting konsultasikan dengan suami saja supaya lebih enak Bu." ujar Dokter Sinta selaku dokter kandungan di rumah sakit itu.
"Baiklah dokter, terimakasih atas sarannya. Sepertinya suami saya juga sedang ingin memiliki anak. Saya hanya ragu saja." Syifa pun mencoba untuk mengikuti saran dokter.
Memang selama ini dia belum berani jujur kepada Dion karena ketakutannya akan kasih sayang Bella yang akan terbagi. Namun setelah dia pikirkan akhirnya Syifa sadar bahwa Dion akan selalu menyayangi Bella.
Sementara Luna yang sudah mengantongi bukti pemeriksaan Syifa mulai melancarkan aksinya.
Dion baru saja selesai melaksanakan rapat besar pemilihan direktur di perusahaan WW Corp. Dan hasilnya memang benar Shaka yang terpilih. Hal itu membuat Dion merasa lega karena tak terpilih jadi direktur. Wajahnya sumringah sejak tadi membuat Wira geleng-geleng kepala.
Baru saja dia ingin menghubungi Syifa mengabari kabar bahagia ini namun ponselnya mendapatkan sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Sebuah Foto Syifa yang sedang memasuki ruangan poli kandungan serta sebuah surat laporan riwayat pemeriksaan yang tertera nama Syifa sebagai akseptor KB.
"Dion, sungguh disayangkan ternyata istrimu diam-diam memasang alat kontrasepsi. Apakah kamu tahu tentang hal ini? Atau mungkin istrimu sengaja menyembunyikan hal ini karena dia tak ingin mengandung anak dari benihmu?"
Baru saja Dion membaca pesan tersebut tiba-tiba seorang cleaning service di kantor tersebut menghampiri Dion dan memberikan sebuah amplop putih.
Dion membuka amplop tersebut dan membaca isi laporan tersebut yang persis sama dengan foto yang dia terima di pesannya.
******Degg******..
Dion langsung terkejut membaca pesan tersebut. Dia sampai mengamati foto tersebut secara berulang kali. Rasanya tak percaya bahwa istrinya telah membohonginya.
__ADS_1
"A-apa dia benar-benar tak ingin memiliki anak dariku?" seketika rasa kecewa menyelimuti hati Dion.
...****************...