Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 55 Menyadarkan Shaka


__ADS_3

"Papa kenapa bolehin Luna tinggal disini? Papa nggak mikirin perasaan Syifa apa?" Dion langsung memprotes Wira yang kini sedang berada di ruang kerjanya.


"Maafkan Papa Dion, papa bingung harus bagaimana. Luna yang ngotot ingin tinggal sementara di sini sedangkan Papa tidak enak jika menolak. Bagaimanapun Darius adalah sahabat lama Papa." Wira tampak menghela nafasnya dengan kasar. Dia tahu Dion pasti tidak terima dengan keputusannya.


"Tapi harusnya Papa bicara dulu denganku Pa. Kalau begini kan jadi makin nggak enak sama Syifa." Dion mengusap kasar rambutnya dengan frustasi.


"Sudah-sudah, kamu tenang dulu Dion. Kita juga nggak bisa memutuskan begitu saja. Bagaimanapun Luna tak memiliki siapa-siapa disini. Yang penting kamu yakinkan Syifa bahwa kalian akan selalu baik-baik saja. Dan Luna biar Mama yang memberi pengertian." Mama Rina kembali menengahi keduanya agar tidak bersitegang karena Dion dan Wira sama-sama berwatak keras.


"Lagian perjodohan ini hanya celetukan kami saja. Baik Papa maupun Darius tak ada yang menganggapnya serius. Semua tergantung pilihan kalian. Dan satu lagi tolong jangan tinggalkan rumah ini ya Dion. Papa nggak bisa kalau jauh dari Bella." Sejak adanya Bella di rumah ini memang membuat Wira begitu terhibur. Bahkan orang pertama yang dicari pertama kali setelah pulang ke rumah adalah Bella.


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan berusaha meyakinkan Syifa." Dion pun keluar dari ruangan Wira dan berjalan mencari keberadaan sang istri.


Dion mendengar suara celotehan Bella dan Syifa. Namun sepertinya mereka sedang adu argumen.


"Ada apa ini kok rame banget?" Dion menghampiri Bella yang baru saja menangis.


"Ini Mas, Bella minta nen tapi ASI ku lagi nggak lancar. Terus dia rewel." ujar Syifa dengan wajah masamnya.


Memang benar seorang ibu yang sedang menyusui jika merasa stres maka ASI nya tak bisa lancar. Dan hal itu juga membuat sang anak juga rewel. Ibarat apa yang dirasakan sang ibu juga dirasakan pula oleh anak.


"Sayang mau ikut Papa? Mau minum dot saja?" Dion segera meraih Bella dan menggendongnya. Jika sudah rewel begini Bella pun hanya mau minta gendong dengan baby wrap.


"Sayangnya Papa jangan rewel ya." Dengan telaten Dion memakai baby wrap dan menimang Bella. Mengusap lembut puncak kepala putri kecilnya.


"Aku buatin susu dulu." Syifa pun beranjak menuju dapur.


Saat sibuk membuat susu tiba-tiba seseorang mengejutkan Syifa.


"Syifa, apa aku mengganggumu?" Shaka rupanya sudah berdiri di sampingnya.


Syifa sempat terperanjat namun segera menjaga jarak dengan pria itu.


"T-tidak Kak. Aku sedang membuat susu untuk Bella." ucap Syifa sedikit canggung.

__ADS_1


Sementara Luna yang hendak mencari minum di dapur pun langsung terhenti ketika melihat Shaka dan Syifa sedang berduaan. Diam-diam dia mencoba untuk menguping pembicaraan mereka.


"Syifa, apa masih tidak ada kesempatan untukku? Sungguh aku masih berharap kita bisa menjalani hubungan seperti dulu." ujar Shaka masih dengan keukeuhnya.


"Kak, aku tetap tidak bisa. Tolong mengertilah. Hubungan kita sudah lama berakhir dan sekarang aku adalah istri dari adikmu. Aku adik iparmu kak." Meski dalam suasana hati yang buruk tapi Syifa tetap berusaha tenang. Dia harus segera menyadarkan Shaka.


'Jadi Kak Shaka dan Syifa benar-benar pernah memiliki hubungan. Wah ini bisa jadi semakin seru. Aku akan memanfaatkan keadaan untuk membuat masalah diantara mereka.' gumam Luna dalam hati.


Dengan hati yang membuncah Luna pun bergegas kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin ketahuan menguping.


Namun rupanya pembicaraan Shaka dan Syifa belum selesai.


"Tapi hatiku masih menginginkanmu Syifa. Aku masih sangat mencintaimu. Sungguh kenyataan ini begitu menyakitkan untukku. Aku hanya mau kamu Syifa." ucap Shaka dengan penuh permohonan.


Syifa pun akhirnya bereaksi. Dia menatap Shaka dengan pandangan lurus. Bahkan kedua netra itu saling beradu dengan lekat.


"Kak Shaka, apa yang kakak katakan itu sepertinya bukan cinta. Namun sebuah obsesi. Jika Kak Shaka benar mencintaiku maka harusnya kak Shaka bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia meski tak harus dimiliki. Tapi jika kakak terus berambisi untuk mendapatkan ku maka itu hanyalah obsesi dan nafsu belaka. Aku tahu itu sulit tapi jangan biarkan hati kak Shaka tertutupi oleh ego semata." dengan berani Syifa mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Dan aku tahu Kak Shaka orang yang baik. Maka jangan biarkan hati kak Shaka ternodai oleh obsesi semata yang hanya akan menghancurkan hidupmu kak. Jalani hidup Kak Shaka dengan baik. Suatu saat kakak akan menemukan sosok yang akan membuat kakak bahagia." dengan lembut Syifa berusaha menyadarkan Shaka.


"Apa aku seburuk itu Syifa? Aku terlalu egois sampai hatiku dipenuhi dendam dan amarah. Bahkan aku tak pernah menganggap Dion sebagai saudaraku. Hatiku terlalu sakit." Shaka tampak menunduk. Merenungkan segala tindakannya selama ini.


"Semua belum terlambat kak. Aku yakin kakak bisa berubah lebih baik. Kak Shaka hanya perlu peka terhadap orang sekitar. aku yakin pasti bisa." Syifa kembali meyakinkan Shaka.


"Hidup itu terus berjalan. Jangan biarkan dendam dan amarah menguasai hati Kak Shaka. Lepaskan semua beban itu dan cobalah memulai semuanya dengan ikhlas. Meski berat memulainya tapi akan ringan setelah dijalani. Perlahan Kak Shaka akan menemukan arti kebahagiaan itu."


Tak peduli panjang lebar Syifa mencoba menjelaskan kepada Shaka. Dia tahu sekeras apapun sifatnya Shaka mudah tersentuh hatinya jika dengan perlakuan lembut. Dan dengan ini Syifa berharap hubungannya dengan Shaka akan berlangsung normal layaknya keluarga.


"Baiklah Syifa. Terimakasih sudah mengingatkanku. Aku akan memikirkan hal ini. Maaf sudah mengganggu waktumu." Shaka pun beranjak pergi meninggalkan Syifa.


"Kak Shaka.." Syifa kembali memanggil Shaka. Seketika pria itu menoleh.


"Aku yakin Kak Shaka pasti bisa. Semangat ya." Syifa mengangkat tangannya seolah memberi tanda semangat untuk Shaka dibarengi dengan senyumnannya.

__ADS_1


Shaka pun hanya membalas ucapan Syifa dengan senyuman.


Syifa bergegas menuju kamar Bella dimana Dion sedang menggendong putri kecilnya sambil menyanyikan lagu anak.


Pemandangan yang sungguh indah untuk Syifa. Dimana kedua insan beda generasi itu sedang memancarkan senyum ceria mereka.


"Mommy..." teriak Bella saat melihat Syifa.


"Kok tumben panggil Mama jadi Mommy?" Dion pun mengernyitkan keningnya.


"Iya Mas, udah beberapa hari ini dia manggil Mommy. Sepertinya ikut-ikutan Shanum deh, cucunya tante Desi teman arisan Mama. Dia kan manggil orang tuanya Mommy sama Daddy." ujar Syifa sembari memberikan botol susu kepada Bella.


"Ah makin gemesin aja ini anak. Manggil Mommy terus manggil papa jadi Daddy juga?" Dion menatap Bella yang sibuk meminum susu di dotnya.


"Papa.." tiba-tiba Bella melepas dotnya dan membenarkan panggilannya kepada Dion.


"Anak kita makin besar makin pintar sayang. Aku bangga sama kamu." Dion meraih pinggang Syifa dan mengecup keningnya.


"Makasih sayang sudah hadir di hidupku. Dan memberikan putri cantik ini menghiasi hari-hariku." Dion menatap manik mata Syifa yang sudah mulai berembun.


Syifa pun hanya bisa mengangguk. Begitu bahagianya dia menemukan sosok laki-laki yang sangat mencintainya juga menyayangi putrinya.


"Apapun yang sedang terjadi dalam hubungan kita. Sebesar apapun masalahnya aku hanya ingin kita menghadapi bersama. Dan ingatlah bahwa kita ada untuk bersama." ujar Dion penuh perhatian.


"Aku suka bagaimana kita kacau tapi romantis. Apapun masalah datang dan pergi tapi kita tetap stabil." Syifa membalas kecupan Dion di pipinya.


"Mommy no... Papa cu.." dengan posesifnya tangan kecil Bella langsung memeluk leher Dion. Seolah tidak terima jika Syifa mendekati bahkan mencium Dion.


"Dasar posesif. Dia kan suamiku Bella." protes Syifa dengan bibir manyunnya.


Dion hanya bisa terkekeh melihat tingkah keduanya. Berasa paling tampan jika diperebutkan begini.


...****************...

__ADS_1


Dear, reader kesayangan terimakasih sudah mengikuti ceritaku yang alakadarnya ini. Maaf ya kalau masih banyak typo dan kekurangan lain. Maklum masih author amatiran😁✌️.


Jangan lupa like dan komen sebanyak-banyaknya ya biar author makin semangat buat update. Terimakasih. ♥️♥️


__ADS_2