
Langkah Dion terasa begitu lega saat dirinya pulang ke rumah. Tak sabar dirinya membagikan Kabar baik yang akan diberitahukan kepada orang tuanya. Tak disangka kini dirinya memang benar-benar lulus tepat waktu.
"Papa pasti senang akhirnya putranya bisa lulus tepat waktu." gumam Dion penuh rasa bangga.
Namun saat memasuki rumah keadaannya tampak begitu sepi. Hanya ada beberapa asisten yang bekerja di rumah itu.
"Bi, kok sepi. Papa sama mama kemana?" tanya Dion.
Sementara Bella tampak digendong oleh susternya dan langsung diambil alih oleh Syifa.
"emm.. itu mas, Tuan dan Nyonya ada di atas." ucap asisten itu ragu-ragu.
Ada gelagat aneh yang Dion rasakan. Namun tak berselang lama mereka mendengar suara pintu yang dibanting keras.
Karena penasaran Dion pun hendak mmeriksanya ke atas.
"Sayang kamu bawa Bella ke kamar saja ya." pinta Dion yang langsung diangguki oleh Syifa.
Sampai di atas Dion tterkejut saat melihat Papa Wira tertunduk lesu memegangi pintu kamar yang tertutup.
"Ma.. dengarkan aku dulu. Aku bisa menjelaskannya." ucap Papa Wira dengan wajah sedihnya.
Dion mendekati Papanya dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Pa, Ada apa?" Dion menepuk bahu Papanya. Wira yang sejak tadi tak memperhatikan datangnya Dion pun langsung terkejut.
"Eh, Dion. Maaf papa nggak lihat." ucap Papa Wira.
"Papa bertengkar dengan Mama?" Melihat wajah papanya yang tampak kalut tentu saja dia langsung menyimpulkan bahwa kedua orang tuanya sedaang ada masalah.
"Ini.. Ini semua salah paham Dion." ucap Papa Wira lesu.
Karena melihat masalah mereka yang tampak serius maka Dion meminta Papanya berbicara di tempat lain.
"Pa, kita mengobrol di bawah saja ya." ujar Dion.
Papa Wira pun akhirya menuruti Dion. Mereka menuju ruang kerjanya untuk berbicara.
Sampai di ruang kerjanya Papa Wira tampak duduk dengan gelisah. Dion mengambil duduk bersebelahan dengan papanya.
__ADS_1
"Pa, ada apa sebenarnya?" Dion kini memulai pembicaraan.
Papa Wira menatap Dion dengan nanar sebelum akhirnya dia merogoh ponselnya dan memberitahukan sesuatu.
"A-Apa ini Pa? yang bener Pa?" Dion sangat terkejut saat melihat berita yang beredar di media sosial.
"Wira Dinata konglomerat kaya raya pemilik WD CORPORATION terlibat skandal dengan waita ABG. Kepergok berpelukan dan berciuman di hotel."
Tentu siapa saja langsung syok saat melihat berita itu. Terutama Mama Rina. Apalagi didalam berita itu tampak berbagai foto Papa Wira yang begitu intim dengan gadis berpakaian sexy itu.
Dion langsung mengusap kasar wajahnya. Niat hati ingin menyampaikan kabar bahagia justru dirinya mendapat berita musibah ini.
"Apa Papa benar-benar melakukannya." Dion menatap tajam papanya.
"Jangan gila kamu, biar tua begini Papa masih waras. Bagi papa wanita yang papa cintai hanya dua. Bunda dan mamamu." Wira menegaskan, bahwa wanita yang benar-benar yang dia cintai adalah Sarah dan Rina. Meski cintanya kepada Rina baru dia sadari namun Wira dengan tegas tak akan berselingkuh darinya.
"Maksudku apa Papa benar pernah ke hotel tersebut? kalau memang iya tolong ceritakan yang sebenarnya." ujar Dion.
"Papa memang ke hotel itu beberapa waktu lalu karena memang ada acara reuni dengan teman-teman SMA Papa dulu. Saat baru selesai dan papa hendak pulang tiba-tiba ada seorang gadis menangis meminta tolong. Tanpa pikir panjang papa membantunya karena kasian. Tapi saat berada di lorong hotel tiba-tiba gadis itu memeluk dan mencium papa. Papa bersumpah tidak kenal dia siapa dan papa langsung mendorongnya karena terkejut." ujar Papa Wira menceritakan segalanya.
Dion pun mencoba mencerna segala ucapan papanya. Kemudian dia kembali melihat beberapa foto papanya yang beredar.
"Pa, tapi lihat deh, kalau diperhatiin foto-foto ini seperti sudah di rencanakan. Memang ini hasil cuplikan CCTV tapi posisi papa dan gadis ini terlihat begitu pas dari segi pandangannya." ujar Dion.
"Papa tenang ya, aku dan kakak pasti akan membantu, jika ini semua disengaja maka aku tidak akan membiarkan pelakunya lolos." Dion pun berusaha menenangkan Papanya.
"Terimakasih ya Dion, Maaf Papa harus merepotkanmu." Papa Wira langsung memeluk putranya.
"Nggak merasa direpotkan kok pa, ini sudah jadi tugasku sebagai anak." Sungguh mendapat pelukan sehangat ini dari Papanya terasa begitu berharga.
"Sebenarnya Papa terus memikirkan mamamu, sejak tadi mengurung diri tak mau keluar kamar. Dia bahkan belum makan sama sekali. Papa khawatir padanya." Ujar Papa Wira dengan kalutnyya.
"Papa tenang aja, soal mama biar nanti Dion minta tolong pada Syifa. Mungkin jika sesama perempuan bisa lebih terbuka." ujar Dion. Dan Papa Wira pun menyetujuinya.
Setelah berbicara dengan papanya kini Dion menghampiri Syifa dan menceritakan semuanya.
"Sayang kamu mau kan bujuk mama biar mau makan. Aku khawatir jika mama terus mengurung diri." ujar Dion.
"Iya sayang, aku akan mencoba berbicara dengan mama."
__ADS_1
Syifa pun bergegas menuju kamar Mama Rina.
TOK.. TOK.. TOK...
"Ma, ini Syifa, boleh Syifa bicara sama mama?" ucap Syifa.
Cukup lama Syifa tak mendapat respon dari ibu mertuanya. Saat hendak mengetuk kembali tiba-tiba Syifa mendengar suara gagang pintu yang bergerak.
CEKLEK..
"Syifa.." suara lirih mama rina dibarengi dengan wajahnya yang sembab membuat Syifa sedikit tak tega.
"Ma, boleh Syifa bicara sama mama?" ucap Syifa pelan. Mama Rina pun mengangguk dan mempersilahkan Syifa masuk ke dalam kamarnya.
Mama Rina mengambil duduk di pinggiran ranjang diikuti oleh Syifa.
"Ma... " Entah kenapa melihat Mama Rina yang kacau begini membuat hati Syifa terasa begitu pedih.
"Mama capek Fa.. berkali-kali papamu selalu mendapat skandal seperti ini. Jika dulu-dulu mama memaklumi tapi kali ini mama begitu sakit, mama kecewa." ujar Mama Rina akhirnya.
"Ma, tapi belum tentu kan papa sengaja melakukannya." Syifa mencoba untuk menenangkan Mama Rina.
"Mama udah tua, mama nggak setegar dulu lagi saat diterpa badai begini. Rasanya mama mau menyerah saja. Keberadaan mama nggak pernah dihargai juga kan." Sambil berlinang air mata Mama Rina mengungkap segala kekecewaannya.
"Tapi ma.. jangan menyerah dulu, Syifa yakin Papa pasti tidak sengaja melakukannya." bujuk Syifa.
"Sengaja atau tidak rasanya Mama terlalu sakit Syifa, terlalu banyak kekurangan yang ada dalam diri mama. Dan benar nyatanya Mama tak pantas bersama Papamu." ujar Mama Rina frustasi.
"Ma, Syifa tau Mama pasti kesal dan kecewa, tapi selama ini belum terbukti benar tolong mama jangan mengambil keputusan dulu ya, Syifa paham apa yang sedang mama rasakan. Syifa jga pernah merasakannya, tapi bedanya dulu mantan suami Syifa secara terang-terangan membawa wanita itu ke dalam rumah dan mereka secara sengaja memperlihatkannya di depan Syifa. Sementara Papa itu hanya berita, gosip dan asumsi saja yang belum tentu benar.". ujar Syifa.
Sejenak Mama Rina menatap menantunya dengan wajah sedihnya. Kemudian dia langsung memeluk Syifa menyalurkan segala kegundahan hatinya dalam bentuk tangisan.
Syifa yang dasarnya cengeng pun jadi ikut menangis sambil mengusap lembut bahu ibu mertuanya.
"Ma, setiap orang pasti punya masalah, entah dari luar ataupun dari dalam rumah itu sendiri. Tapi Syifa yakin Mama bisa melewatinya. Apa mama tega meninggalkan Syifa sementara ada calon cucu mama di dalam sini?" Syifa menempelkan tangan Mama Rina ke perutnya yang masih rata.
Mama Rina pun tampak tersenyum meski masih berlinang air mata.
"Tidak sayang, mama tidak akan meninggalkan kamu." ucap Mama akhirnya.
__ADS_1
Syifa pun kembali memeluk mamanya. "Ma, aku sayang mama. Jangan pernah tinggalin aku ya. Syifa yakin Mama pasti bisa melewati semua ini."
...****************...