
Sejuknya hembusan angin malam dengan lalu lalang kendaraan menghiasi salah satu sudut kota tersebut.
Meski hanya beralaskan tikar yang di gelar di atas trotoar nyatanya Dion dan Syifa begitu menikmati suasana serta jagung bakar pesanannya.
Saling bercengkrama juga menceritakan hal-hal kecil dan tak jarang Dion sesekali menjahilinya sudah menjadi kebiasaan alami untuknya.
Sikap posesif Dion yang meminta Syifa tetap dekat dan menempel padanya rupanya sudah menjadi hal biasa untuknya. Karena begitulah sifat suaminya itu.
Namun ketenangan mereka tiba-tiba terusik saat dua orang gadis menghampirinya.
"Dion.. Jadi ini istri lo yang katanya tante-tante itu." celetuk salah seorang gadis yang berbicara cukup keras kepadanya.
Baik Dion dan Syifa pun langsung menoleh. Namun agaknya bukan hanya mereka. Bahkan beberapa orang yang ada di sekitar mereka pun ikut terusik.
"Lo.. ngomong apa?" tanya Dion dengan tatapan tajamnya.
"Eh, Dion sorry. Nita asal nyeplos aja kok. Udah yuk Nit, jangan ganggu orang." ujar gadis yang satunya lagi.
Syifa menatap dua gadis itu. Sepertinya usia mereka sepantaran dengan Dion. Satu gadis berambut pirang dengan perawakan kurus yang tadi pertama kali menyebut dirinya tante-tante. Sedang satunya tampak lebih kalem dengan postur tubuh yang lebih tinggi dan agak berisi.
"Nita, Elin. Lo ada urusan apa sama gue?" tanya Dion.
"Nggak, gue cuma pengen tahu aja apa bener omongan orang-orang kalo lo nikah sama tante-tante." ujar Nita dengan tatapan sinis kepada Syifa.
"Apa lo bilang? ngatain istri gue lo?" Mendengar ucapan Nita tentu saja membuat Dion langsung memicingkan matanya. Jemarinya pun kini sudah mulai mengepal seolah siap bertindak lebih.
Tahu perubahan suasana hati Dion cepat-cepat Syifa menggenggam tangan Dion yang mengepal.
"Mbak temannya Dion ya? Kenalin aku Syifa istrinya Dion." Syifa mengulurkan tangannya. Elin lebih dulu menjabat tangan Syifa diikuti Nita dengan tatapan sinisnya.
"Mbak sini deh duduk dulu kita ngobrol biar lebih santai." ucap Syifa.
"Nggak perlu. Gue cuman pengen tahu aja. Jadi bener lo tante-tantenya."
Mendengar ucapan Nita bukannya membuat Syifa gentar namun dia justru tersenyum dengan manis.
"Ya, dibilang tante-tante sih usia saya memang selisih lima tahun dengan Dion, udah punya anak satu sama suami terdahulu. Daripada tante-tante sih mending lebih cocok seorang ibu ya. Tapi hubungan saya dengan Dion itu sah secara hukum dan agama. Kami juga menikah tanpa adanya paksaan. Memang sama-sama mau. Dion menerima saya apa adanya dan yang penting kita sama-sama saling mencintai. Benar kan sayang?" Syifa menoleh ke arah Dion. Tentu saja Dion langsung bereaksi dengan senyuman serta mencium tangan Syifa.
"Benar sekali, cuma kamu yang bikin aku jatuh cinta." tatapan berbeda Dion yang hanya bisa dilakukan kepada Syifa sudah mewakili segara perasaannya.
Tentu saja dengan jawaban berkelas Syifa langsung membuat telak kedua wanita itu.
Nita yang dibuat malu langsung ngacir begitu saja. Sementara Elin yang masih memiliki rasa sungkan hanya tersenyum kikuk sambil pamit pergi.
__ADS_1
"Wah, mbak jawabannya keren banget. Maaf dari tadi nggak sengaja nguping. Emang orang kek gitu harus diberi pengertian biar punya tata krama." celetuk seseorang yang memang duduk tak jauh dari Syifa. Sementara Syifa hanya membalasnya dengan senyuman santai.
"Wow, kamu kok bisa setenang itu sih ngadepin dua curut tadi. Aku aja udah hampir emosi loh." ujar Dion.
"Karena orang kayak mereka itu cukup dikasih pengertian. Kalau harus emosi malah buang-buang tenaga." ujar Syifa dengan senyum indahnya.
"Bu dosen emang nggak ada lawan. Jadi makin cinta sama kamu." Dion berbisik kepada Syifa dan hendak menciumnya. Namun seketika Syifa menghentikannya.
"eits, ingat ini tempat umum." ujar Syifa.
...****************...
Puas dengan kencan sederhananya kini Dion dan Syifa kembali ke rumah. Suasana tampak sepi karena memang sudah pukul sebelas malam.
Hal utama yang Syifa lakukan adalah memeriksa keadaan Bella. Tampak bocah kecil itu sedang tidur terlelap di ranjangnya sementara babysitter yang menemaninya juga sedang terlelap.
Pelan-pelan Syifa menghampiri Bella dan mengecup lembut keningnya.
Diikuti Dion yang menyusul Syifa pun melakukan hal yang sama.
"Cantiknya Papa tidur nyenyak ya." bisik Dion kemudian mengecup pipi Syifa.
"kalau ini cantiknya Mas Dion." mendapat bisikan mesra dari Dion tentu saja membuat pipi Syifa jadi bersemu merah.
"mbak Asih kenapa bangun? Tidur aja lagi nggak apa-apa. Mumpung Bella lagi tidur mbak ikutan istirahat aja. Soalnya nanti jam satu biasanya Bella minta susu. Maaf ya mbak ganggu istirahatnya." ujar Syifa.
"nggak apa-apa bu. Justru saya yang merasa nggak enak sama bapak dan ibu." ucap mbak Asih.
"nggak perlu gitu mbak. Kami ngerti kok kerjaan mbak Asih lumayan melelahkan. Tadi kami cuma pengen jenguk Bella aja kebetulan baru pulang." ujar Dion.
"iya Pak." mbak Asih pun akhirnya kembali tidur di ranjang yang disediakan khusus untuknya di kamar Bella.
Dion dan Syifa pun kini kembali ke kamarnya. Mereka mengganti pakaian dengan piyama. Setelah itu merebahkan diri di ranjang.
Dion menarik tubuh Syifa ke dalam pelukannya.
"Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Syifa.
"Boleh, tanya apa?" Jawab Dion sembari menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
"Dua cewek tadi siapa? Teman kamu?" tanya Syifa.
"oh, Nita sama Elin? Iya dia temen SMA aku. Maaf ya sikapnya nggak sopan, dari dulu emang nyebelin gitu." ujar Dion.
__ADS_1
"Emm iya, tapi omongan dia ada benernya juga. Apa nggak malu kamu nikah sama tante-tante?" tanya Syifa sedikit menyembunyikan wajahnya.
"Kok gitu sih? Ya nggak lah sayang aku malah bahagia banget nikah sama kamu." ujar Dion sambil mengecup kening Syifa.
"Tapi di luaran sana kan banyak cewek-cewek cantik dan pastinya masih perawan yang ngejar kamu. Apa kamu nggak kepincut sama mereka?." Suara Syifa tampak sendu.
Dion yang semula menghadap lurus ke atas sedikit memiringkan tubuhnya dan menatap Syifa dengan lekat.
"Buat aku nggak ada perempuan lain yang lebih menarik dan bikin jatuh cinta selain kamu sayang. Kamu adalah wanita terbaik untukku." Dion mengecup singkat bibir Syifa.
"Cuma kamu yang bisa membuat jantungku berdebar. Rasakan kalau tidak percaya." Dion menuntun tangan Syifa untuk menyentuh dadanya. Dan benar saja jantung Dion tampak berdetak lebih cepat.
Ada keheningan sesaat. Syifa pun sedang menyelami perasaan Dion. Memang perasaan was-was dan takut sering kali menghantui Syifa namun pernyataan Dion barusan membuat Syifa mulai percaya.
"Tadi kamu bisikin apa sayang waktu di kamar Bella?" tanya Syifa.
"Tadi? Cantiknya Mas Dion." ujar Dion.
"emm.. Kamu mau dipanggil Mas?" tanya Syifa malu-malu.
"hehe nggak juga sayang. Kan cuma buat perumpamaan. Manis-manisnya aja." ujar Dion sedikit malu.
"Tapi kalau aku panggil mas Dion gitu boleh?" Syifa kini mendongakkan wajahnya kepada Dion.
"emang nggak apa-apa? Aku lebih muda dari kamu." ujar Dion.
"nggak apa-apa lah. Usia bukan jadi patokan. Yang penting itu kamu adalah seorang kepala keluarga. Pemimpin keluarga ini dan sudah sepatutnya aku sebagai istri kamu harus menghormati seorang suami." ujar Syifa.
Dion tampak mengulas senyum. Berkali-kali Syifa selalu menuturkan kata-kata yang selalu membuat hatinya senang.
"Gitu ya? Yaudah boleh deh, aku seneng kalau dipanggil gitu. Biar vibesnya berasa suami sungguhan." ujar Dion dengan senyum lebarnya.
"Iya Mas Dion sayang. Kan Mas Dion itu suami sungguhan aku. Sejak kapan bohongan." goda Syifa sambil jemarinya memainkan dada bidang Dion.
"emm.. Kalau gini rasa-rasanya pengen ngelakuin tugas suami yang sesungguhnya deh. Menafkahi batin sang istri." cengir Dion.
"elahh.. Bisa aja alasannya. Dasar suamiku satu ini doyan banget 'begituan'." Syifa pun mencubit pelan hidung Dion.
"Gaskan yukk sampai pagi sayang. Mumpung Mas Dionmu ini masih di skorsing jadi aman gak perlu bangun pagi buat kuliah." dengan nakalnya Dion langsung melakukan aksinya.
"Di skorsing kok bangga." Syifa hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan sang suami yang gampang sekali terpancing nafsunya.
Untung saja Bella memiliki kamar sendiri sebab kedua orang tuanya kini sedang gencar menciptakan gempa lokal di atas ranjangnya.
__ADS_1
...****************...