
"Bapak apa kabar?" akhirnya Shaka memberanikan diri untuk bertanya.
Keduanya kini sedang duduk berdampingan di teras depan rumah. Menatap hijaunya sayur mayur yang ada di pekarangan tersebut.
"Alhamdulillah, bapak baik hanya kadang ya begini, encok sering kumat nak." Herman tampak tersenyum meski netranya masih berembun.
Rasa haru yang luar biasa memang dirasakan oleh Herman. Tiga puluh tahun sudah penantiannya akhirnya hari ini terkabul.
"Maaf ya Pak, baru bisa berkunjung sekarang. Sebenarnya aku baru tahu tentang Bapak belum lama ini." Shaka tampak menundukkan kepalanya. Setelah berpuluh tahun baru kali ini dia tahu sosok ayah kandungnya.
Herman menepuk pelan bahu Shaka. Dia begitu bangga putranya tumbuh dengan baik dan tampan. Karena selama ini Herman hanya mengamati daei berita saja.
"Tidak apa, bapak sudah sangat senang. Walaupun harus menunggu hingga di ujung usia Bapak siap. Yang penting bisa melihatmu secara langsung." ujar Herman.
"Tapi kenapa Bapak tidak pernah mencariku?" kini Shaka balik bertanya kepada Herman.
Ada helaan nafas terdengar berat.
"Bukannya bapak tidak mencarimu. Bapak selalu mencari kabar tentangmu. Bapak hanya takut kamu tidak mau menerima bapak yang seperti ini. Oh ya, bapak mau ucapkan selamat atas jabatan direktur kamu ya nak. Bapak percaya kamu bisa mengemban tugas ini dengan baik."
Benar juga jika dipikir-pikir Shaka tidak akan percaya dengan Herman jika dia tidak menemukan surat hasil DNA itu. Selama ini dia terus menduga bahwa ayah kandungnya adalah Wira. Tapi siapapun itu kini Shaka hanya berharap semua orang tuanya bisa hidup dengan baik.
"Bapak, mulai sekarang aku akan selalu ada untuk bapak. Bapak harus jaga kesehatan ya. Apalagi aku akan menikah." Shaka mengulas senyumnya.
"Alhamdulillah, jadi perempuan cantik yang bersama kamu itu calon istri kamu?" Herman tampak antusias.
"Iya pa, tapi mama tidak merestui karena kurang cocok untuk kriterianya. Karena Hana seorang anak yatim piatu." Air muka Shaka berubah sendu.
"Tetap saja Vanya, masih tidak berubah." Herman menghela nafas kasar.
"Shaka kalau kamu memang serius dengan pilihanmu maka perjuangkan. Jadikan satu wanita untuk seumur hidupmu. Bapak hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu." ucap Herman bersungguh-sungguh.
"iya Pak, terimakasih pencerahannya." Sebenarnya Shaka masih penasaran bagaimana kisah tentang kedua orang tuanya ini dulu.
Seorang Vanya yang dia tau betul karakternya adalah sosok yang perfeksionis dan juga sangat menjunjung tinggi sebuah kasta. Tapi Shaka masih menahannya. Ada lain waktu untuk membicarakan hal ini.
Namun jika diperhatikan Herman memang memiliki wajah yang tampan hanya saja pekerjaan keras membuatnya terlihat lebih tua. Beda dengan Wira yang memiliki segalanya dia bisa melakukan perawatan dan sebagainya sehingga tampak lebih muda. Lagi-lagi uang begitu berpengaruh untuk kehidupan seseorang.
"Ayo masuk nak, bapak mau kenalin kamu sama ibumu dan adik kamu." Herman dan Shaka pun kini masuk ke dalam rumah.
Sementara itu Hana tampak mengobrol dengan istri dan juga anak Herman. Mereka terlihat begitu akrab.
"Assalamualaikum, ibu." Shaka menyalami wanita paruh baya tersebut.
"Waalaikumsallam, Nak Shaka. Saya Ibu Wati, bisa panggil ibu saja. Ini Diana, anak putri ibu." ujar Wati, istri Herman.
"Diana, kak." Gadis manis itu mengulurkan tangannya kepada Shaka. lalu mencium punggung tangan Shaka dengan sopan.
"Nak Shaka dan Nak Hana menginap disini saja ya, jauh-jauh lo nanti capek di perjalanan." ujar Ibu Wati.
Awalnya Shaka hendak menolak. Namun setelah dilihat jadwal keesokan harinya sepertinya tak ada jadwal penting. Akhirnya Shaka bertanya kepada Hana.
"Sayang, gimana? Mau menginap sini?" tanya Shaka yang sebenarnya dia masih begitu betah tinggal disini. Apalagi dengan keluarga dan suasana pedesaan yang sangat memanjakan dirinya. Dia ingin mendekatkan diri dengan keluarga Herman.
"Terserah kamu aja, kan aku fleksibel alias masih pengangguran." ujar Hana.
Akhirnya Shaka pun mengiyakan. Jarang-jarang dia memiliki kesempatan dekat dengan ayah kandungnya begini.
"Yaudah, nanti biar Nak Hana tidur sama Ibu dan Diana, nak Shaka tidur sama bapak ya. Maklum kamarnya cuma dua." ujar Ibu Wati.
__ADS_1
"Terimakasih ibu," ucap Hana. Dia pun merasa begitu senang. Sejak kecil tak pernah mendapatkan perhatian dari orang tuanya dan kini melihat Wati dan Herman membuat Hana semakin senang.
Mereka semua begitu menikmati kebersamaan. Hana sibuk membantu Ibu Wati dan Diana memasak di dapur. Meski sebenarnya mereka melarang. Tapi Hana yang begitu antusias dengan cara memasak tradisional di tungku akhirnya mereka mengijinkan.
"Ibu, kalau masak di tungku begini rasanya jadi lebih sedap ya." ujar Hana.
"Iya, sedapnya agak sangit bau asap. Hehehe" mereka saling bercanda tawa.
Sementara Shaka kini sedang berkeliling ladang ingin melihat tanaman Herman. Ini merupakan pengalaman pertama Shaka pergi ke ladang melihat tanaman sayur. Biasanya dia akan berkutat di kursi kerja serta layar laptopnya.
"Lumayan ya pak, tanamannya subur. Ini kalau kualitasnya bagus bisa didistribusikan ke supermarket. Harganya akan lebih tinggi." ujar Shaka.
"Iya tapi bapak nggak tau caranya nak. Sejauh ini mentok juga dijual ke pasar tradisional. Atau tukang sayur keliling." ujar Herman.
"Nanti deh, aku coba obrolin sama teman aku Pak, kebetulan dia pemilik supermarket. " ujar Shaka.
Herman hanya bisa tersenyum senang melihat antusias sang putra. Ternyata Shaka tak seburuk dugaannya. Pria itu sangat menghargai orang lain.
Sampai di rumah Shaka dan Herman membawa hasil kebun. Dia menyerahkannya kepada ibu Wati. Namun pandangan Shaka langsung tertuju pada Hana.
"Sayang, kamu pakai daster?" Shaka melirik Hana yang memang memakai daster milik ibu wati.
"Iya Kak, habisnya sih dadakan nginep jadinya kan nggak bawa baju ganti." berbeda dengan Shaka yang selalu siap pakaian ganti di mobil.
"Nggak apa-apa. Kamu tetap cantik kok. Kelihatan keibuan. Jadi pengen cepet-cepet halalin kamu. Terus aku beliin daster yang banyak." goda Shaka.
"Terus aku disuruh pakai daster terus gitu?" Hana mengernyitkan keningnya.
"Nggak apa-apa kalau gemesin gini."
Sementara Herman, Wati, dan Diana hanya bisa menahan senyum melihat kebucinan pasangan itu.
...****************...
Semua menikmati makanannya dengan tangan secara langsung. Hanya Shaka yang memakai sendok karena belum pernah melakukan itu. Berkali-kali mencoba nyatanya malah jadi belepotan.
Namun hal itu tak mengurangi suasana bahagia untuk semuanya.
"Diana masih sekolah?" tanya Shaka.
"Masih Kak, tahun ini lulus SMA." ucap Diana masih sedikit malu-malu.
"Rencananya mau lanjut kuliah dimana?" Saat Shaka mengajukan pertanyaan ini semua orang tampak terdiam dan menundukkan kepala.
"Maaf Kak, Diana mau kerja dulu. Nanti kalau uangnya sudah terkumpul baru kuliah." ujar Diana sendu.
"Maaf Nak, Bapak belum mampu membiayai pendidikan Diana sampai kuliah." Herman tampak merasa bersalah.
"Diana mau kuliah? Kalau kakak kuliahkan kamu mau?" tanya Shaka akhirnya.
"K-kakak sungguhan?" Diana tampak tak percaya. Begitupun dengan Herman dan Wati.
"Iya, aku dengar nilai kamu juga cukup bagus. Nanti kakak carikan kampus terbaik buat kamu. Yang penting kamu sungguh-sungguh mau belajar." Shaka mengulas senyumnya.
"Tapi Nak, bapak nggak mau repotin kamu." tolak Herman yang merasa tak enak hati.
"Diana kan juga adikku Pak, apa salahnya kalau aku ingin membantunya." Perkataan Shaka sontak saja membuat semua orang terkejut namun senang.
Baru beberapa jam saja mereka bertemu namun atmosfernya terasa begitu berbeda.
__ADS_1
Herman dan keluarganya menyambut Shaka dengan begitu baik. Begitupun Shaka yang cepat menerima keadaan Herman.
Hanya saja Shaka merasa prihatin dengan kehidupan sederhana yang dijalani Herman. Bisa dibilang semua serba pas-pasan. Namun Shaka sudah bertekad untuk membantu mereka.
Keesokan harinya Shaka dan Hana pun berpamitan untuk pulang. Meski rasanya berat meninggalkan mereka namun Shaka masih memiliki banyak pekerjaan.
"Bapak, ibu. Kami pamit dulu ya. Kalau ada waktu senggang kami akan kesini lagi." Shaka berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Iya nak, bapak sangat senang kalian berkunjung kesini. Semoga kalian selalu diberi kelancaran ya." Sebagai orang tua Herman hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anaknya.
"ini ada sedikit oleh-oleh dari ibu. Semoga kalian suka ya." Ibu Wati memberikan sekantong penuh sayur dan buah-buahan.
"ibu ini banyak banget, terimakasih banyak ya Bu." Hana menerimanya dengan begitu senang.
"kan Nak Hana suka masak. Semoga bermanfaat ya." ujar bu Wati.
"Alhamdulillah nanti pasti Hana masak."
Sementara Shaka kini mendekati adik perempuan yang baru dia kenal. Mengusap lembut puncak kepalanya.
"Kak, apa boleh Diana peluk kakak?" ucap Diana dengan netra yang berkaca-kaca.
Shaka langsung merentangkan kedua tangannya. Dengan senang hati menerima pelukan dari sang adik.
"Dari dulu aku pengen banget punya seorang kakak laki-laki. Sekarang Tuhan mengabulkan keinginanku." Diana tak kuasa menahan air matanya. Bahkan Shaka pun sampai ikut terbawa perasaan.
"Kakak juga senang sekali punya adik sebaik dan secantik kamu. Jaga bapak dan ibu selagi kakak nggak disini ya. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan buat hubungi kakak." ujar Shaka menahan air matanya.
Shaka mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan memberikannya kepada Diana.
"Buat jajan kamu. Nanti kalau kurang kakak kasih lagi." ujar Shaka.
"Kak ini kebanyakan." Diana hendak menolak tapi Shaka tetap bersikeras memberikannya.
"Dan ini untuk bapak dan ibu. Semoga sedikit rejeki ini bisa bermanfaat ya." Shaka memberikan sebuah amplop tebal berwarna cokelat. Yang tentu saja berisi uang tunai.
Herman hanya bisa mengusap air matanya dan berterima kasih banyak untuk Shaka.
"Aku sayang kalian." itu adalah kata-kata terakhir Shaka sebelum pergi meninggalkan kediaman Herman.
Sampai di mobil Hana langsung mengecup pipi Shaka. Tentu saja hal itu adalah pertama kali dilakukannya karena Hana selama ini selalu malu-malu jika memulai duluan.
"Kamu hebat sayang, aku senang melihatmu bahagia bersama keluarga bapak." Hana mengusap lembut pipi Shaka. Rasa cintanya menjadi semakin besar melihat kelapangan hati Shaka menerima semua ini.
"Dan aku sangat berterima kasih banyak sama kamu Hana. Karena semangatmu aku jadi bisa bertemu keluargaku begini. Aku mencintaimu sayang." Shaka mengecup lembut bibir Hana.
"Sekarang kamu nggak minder lagi kan. Aku juga berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja." ujar Shaka.
Hana pun hanya bisa tersenyum. Tak ada hal yang paling membahagiakan selain melihat senyum dari sang pujaan hati.
...****************...
"Mas, aku pengen hamil. Hamilin aku ya." Tiba-tiba Syifa jadi berucap kepada Dion.
"Kan katanya nunggu Bella agak gedean dikit sayang?"
"udah nggak tahan, pokoknya pengen hamil."
...****************...
__ADS_1