Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 97 berbenah diri


__ADS_3

Dion menatap terkejut benda pipih yang diberikan oleh istrinya. Jelas dia tahu benda apa itu sebab beberapa kali Syifa sempat memakainya. Dan indikator yang menunjukan satu garis merah akan membuat istrinya cemberut dan tak bersemangat. Jika sudah begitu Dion akan membujuk dan menghiburnya.


Tapi kali ini sebuah garis merah yang berjejer membuat Dion membeku untuk beberapa saat. Antara percaya dan tidak, tapi melihat senyum haru di wajah iatrinya membuat Dion tersadar seketika. Ya, dia akan menjadi seorang ayah betulan.


Diraihnya tubuh Syifa kemudian dia memeluknya dengan erat. Bahkan keduanya bisa merasakan debaran jantung masing-masing.


"Aku nggak mimpi kan?" Dion kembali menatap istrinya dengan rasa tidak percaya.


"nggak sayang, ini beneran aku hamil." Syifa menegaskan.


Dion pun akkhirnya menunduk dan mengusap perut istrinya yang masih rata. Dikecupnya berkali-kali hingga membuat Syifa sedikit kegelian karena rambut Dion yang mengenai kulitnya.


"Dedek baik-baik di perut Mommy ya, yang pinter jangan dibikin sakit mommy nya, nanti kalau udah waktunya kamu akan ketemu papa dan juga kakak Bella." pinta Dion berbicara dengan perut Syifa.


Mendengar ucapan Dion membuat Syifa begittu terenyuh apalagi saat mengatakan tentang Bella.


"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Syifa hati-hati.


"Boleh, tanya apa?" Dion meraih tuuh Syifa dan memangkunya. Pria itu paling suka memangku istrinya sembari memeluknya dari belakang.


"Kalau anak kita lahir nanti apa kasih sayang kamu ke Bella akan tetap sama?" ragu-ragu Syifa mengatakannya.


"Jelas tetap sama sayang, nggak ada yang berubah. Bella adalah putriku dan akan selalu aku sayangi, kamu jangan khawatir sayang, Bella sudah seperti putri kandungku sendiri jadi jangan peernah berpikir bahwa aku akan berubah." Dion paham akan kekalutan yang dirasakan oleh Syifa.


"Lalu.. kalau aku hamil jelas tubuh aku akan gendutan dan jelek. Apa kamu nggak terganggu nantinya? nggak jijik gitu lihat aku?" untuk pertanyaan satu ini Syifa ingin memastikan kepada Dion, sebab pengalaman terdahulu saat hamil Bella dia pernah di cemooh Rangga bahwa dirinya buruk rupa seperti seekor ba bi.


Hatinya begitu sakit ketika dirinya berjuang mengandung darah dagingnya justru hanya sebuah gunjingan yang di dapat.


"Sayang, kamu akan selalu cantik untukku, karena cantiknya kamu terpancar dari hati." Dion menunjuk dada Syifa.


"Apalagi kamu mengandung buah cinta kita, bagaimana aku tidak semakin cinta dan sayang kamu, hm?" mendengar segala tutur manis dan perlakuan Dion membuat Syifa bahagia sekaligus terharu.


"Tuhan benar-benar mengirimkan laki-laki terbaik untukku, terimakasih banyak sudah memberi warna baru di hidupku setelah semua badai itu." Syifa menangkup kedua piipi suaminya dengan perasaan penuh cinta.


"Apalagi kamu sayang, kamu sudah mengubah sebagian besar hidupku. Aku jadi mengerti apa itu sebuah komitmen dan tanggung jawab. Walaupun terkadang aku masih harus banyak berbenah memantaskan diri untuk kamu." Dion tampak tersenyum malu. Baginya masih banyak kekurangan dirinya sebagai sosok imam.


"Kamu sangat pantas bahkan nyaris sempurna untuk menjadi seorang imam keluarga sayang, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Intinya aku bangga memiliki kamu sebagai suami dan papa bagi anak-anakku."


"Meskipun suami kamu brondong?" goda Dion.

__ADS_1


"Kalau itu termasuk bonus." ujar Syifa cekikikan.


"Aku juga dapet bonus kok." balas Dion.


"Apa?"


"Bonus Bella." Dion terkekeh.


Bagi Dion Bella adalah kado terindah untuknya.


"Bagaimana kalau kita kasih tau Mama dan Papa? pasti mereka seneng banget." ujar Dion antusias.


"hmm.. baiknya kitaperiksa kandungan dokter dulu sayang, kan kita bisa melihat bagaimana perkembangan juga umur janinnya." ujar Syifa.


"Yaudah ayo kita ke rumah sakit sekarang." Dion hendak bergegas ke rumah sakit.


"Mana ada dokter kandungan praktek semalam ini? kita mau periksa kandungan bukan ke IGD." hampir tengah malam jelas tidak mungkin ada dokter kandungan yang masih praktek.


"hmmm yaudah deh, besok pagi ya sayang?"


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk beristirahat. Syifa yang sedikit lelah cepat sekali tertidur sementara Dion masih terjaga. Dia begitu fokus menatap layar ponselnya membaca beberapa artikel tentang kehamilan.


...********...


Seperti biasa menjelang subuh Syifa mulai terbangun. Suara alarm membuatnya terbangun namun sayup-sayup dia mendengar suara seseorang mengaji. Suara yang begitu familiar didengarnya.


Sejenak Syifa mengumpulkan kesadarannya. Dia mengucek kedua netranya dan menangkap sosok Dion yang tengah membaca Al Quran di meja belajarnya.


Dengan memakai baju koko yang menunjukkan rambutnya tampak basah di ubun-ubun pria itu melantunkan bacaan ayat-ayat dengan begitu merdu dan tartil.


Syifa begitu terhanyut dengan suara indah sang suami tanpa sadar menitikkan air matanya. Sementara Dion yang mendengar suara gemerisik seketika menoleh.


"Sayang, maaf kamu terganggu ya?" Namun saat melihat lelehan air mata sang istri Dion pun langsung menghampirinya.


"Kenapa menangis? ada yang sakit?" tampak Dion begitu panik.


Syifa menggeleng lalu langung memeluk suaminya.


"Aku nggak sakit sayang, aku hanya terharu mendengar suara indah mas saat mengaji sampai menitikkan air mata. Ini kan masih belum subuh kenapa udah bangun?"

__ADS_1


"Kebetulan udah nggak bisa tidur sayang. Sambil nunggu adzan terus ngaji dikit-dikit deh, bentar lagi Bella udah mulai besar dan mau punya adek juga. Aku mau jadi sosok papa yang baik mulai sekarang belajar berbenah biar bia ngajarin anak-anak nanti." ucap Dion dengan diiringi senyuman.


"MasyaAllah, suamiku benar-benar luar biasa." Syifa tak pernah menyangka bahwa suaminya begitu dewasa.


Syifa pun mengambil tangan Dion dan menciumnya. "InsyaAllah kamu akan menjadi suami dan papa yang baik dan teladan untuk keluarga." Syifa selalu menyemangati suaminya yang terus belajar berbenah.


Sementara Dion sendiri sudah memiliki tekad dan niat yang besar untuk terus belajar lebih baik lagi meninggalkan kebiasaan yang dulu kurang baik.


.


Seperti biasa pagi ini Syifa kembali di landa morning sickness. Sarapan yang sudah dilahapnya kembali dimuntahkan hingga tak bersisa.


Dion yang panik terus mendampingi dan membantu Syifa. Ada rasa tidak tega ketika istrinya terus-terusan mengalami hal ini.


"Aku makin nggak tega kalau kamu seperti ini terus. Aku makin bersalah udah buat kamu hamil dan kesakitan." ujar Dion frustasi.


"Maass.. nggak boleh ngomong gitu deh, aku nggak apa-apa kok, ya emang wajar bumil begini kan karena perubahan hormon." Syifa mencoba menjelaskan.


"Tapi kalau begini terus mau dapat tenaga dari mana kamu sayang, makan dikit udah dimuntahin lagi. Manaa sampai sembilann bulan begini, kalaupun bisa aku aja deh yang gantiin bunting." celetuk Dion.


Syifa yang masih lemas seketika tertawa. Bisa-bisanya suaminya bepikiran seperti itu.


"orang khawatir malah diketawain." gerutu Dion.


"Mana ada laki-laki hamil Mas, adapada deh kamu ini. Lagian fase mual-muntah begini biasanya cuman tiga bulan pertama kok, dulu waktu hamil Bella juga gitu. Jadi nggak usah khawatir ya, cukup Mas selalu ada di samping aku aja udah seneng kok." Syifa menghampiri suaminya sambil memeluknya agar tak khawatir lagi.


"Aku akan selalu ada bersamamu dan menemani kamu, krena itu memang tugasku." Dion mengecup kening Syifa.


"Yaudah ayo siap-siap ke dokter terus ke kampus, udah nggak sabar nih pengen tau hasilnya." ajak Syifa.


"Ayo sayang, aku juga nggak sabar."


Dion dan Syifa bergegas ke rumah sakit, kebetulan kedua orang tuanya sedang pergi ke taman menemani Bella sehingga mereka bisa leluasa memberi kejutan nanti.


Di rumah sakit, Syifa kini sedang berbaring di atas brankar sementara seorang dokter wanita mengolesi perut Syifa yang masih rata dengan gel. Sebuah alat ditempelkan ke kulit perut tersebut sambil digerak gerakkan.


Sementara itu Dion yang sejak tadi menemani Syifa disampingnya sambil memegang tangannya terus memperhatikan layar monitor yang menunjukkan keadaan di dalam rahim istrinya.


Baik Dion maupun Syifa keduanya sama-sama penasaran dengan hasil pemeriksaannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2