Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 64 Saling mencinta, saling menjaga


__ADS_3

Wajah Luna langsung pucat pasi setelah mendapat bentakan dari Wira. Tak pernah dia bayangkan jika akhirnya akan seperti ini.


"O-om.. Maaf.. Maafin Luna. Tapi-tapi tolong.. Jangan usir Luna." Luna sampai tergagap saat berbicara namun dia masih berusaha merayu Wira.


"Om sangat kecewa kepadamu Luna. Selama ini kau ku anggap seperti putriku sendiri tapi kenyataannya kamu malah mengkhianati kepercayaan Om." Wira tampak menahan amarah.


Semarah apapun dirinya namun rasa sayangnya kepada Luna masih membatasi. Sejak kecil Luna tumbuh bersama Dion dan bertemu setiap hari membuat rasa sayang Wira menjadi bertambah. Apalagi dia sejak dulu sangat ingin memiliki seorang putri.


"Maaf Om, aku sudah egois. Aku hanya ingin bersama Kak Dion." Luna masih saja bersikeras mendapatkan Dion. Kedua matanya sudah sembab dan basah oleh air mata.


Dion tampak menghela nafas kasar. Sementara Syifa yang ikut emosi hanya bisa menahan dengan tatapan tajamnya.


Ingin sekali Syifa menghampiri Luna dan memberinya peringatan agar kapok dan tak melulu mengejar suaminya. Namun dia tetap menahan diri. Biar mertuanya yang menasehatinya.


Namun genggaman hangat di jemari tangannya perlahan membuat tumpukan emosi itu perlahan meluruh. Ya, siapa lagi kalau bukan genggaman tangan dari Dion. Hanya pria itu yang bisa membuat Syifa terasa nyaman.


"Luna, kau tau sendiri bahwa Dion audah menikah. Harusnya kau sadar sebagai sesama perempuan apakah pantas kau berlaku seperti itu? Coba kau jadi Syifa apa mau suamimu diganggu wanita lain?" Shaka yang sejak tadi diam pun kini ikut menasehati Luna.


"Kemasi barang-barang kamu. Om akan memberitahu orang tuamu dan membelikan tiket untukmu pulang." ujar Wira akhirnya.


"T-tidak om. Tolong jangan beritahu Papi dan Mami dulu. Aku akan memberitahunya sendiri." setelah itu Luna bergegas pergi mengemasi barang-barangnya.


Dengan berat hati Luna akhirnya pergi meninggalkan rumah itu. Tak pernah disangka bahwa akhirnya Wira harus mengusir Luna. Tapi ini adalah konsekuensi jika seorang membuat kesalahan.


Mama Rina sadar bahwa suaminya kini sedang dilanda dilema. Ada rasa kecewa dan tak enak hati mengingat Luna adalah putri dari sahabatnya sendiri.


"Pa, bisa bantu mama membetulkan laci kotak makeupku di kamar?" pinta Rina.


"Kenapa memangnya? Macet? Perasaan baik-baik saja." Ujar Wira.


"Ada sedikit masalah Pa, ayo papa lihat dulu." Rina pun menarik tangan Wira untuk ke kamar.


Sesampainya di dalam kamar Wira langsung memeriksa laci.


"Tak ada yang rusak Ma, memangnya kenapa?" Wira tampak bingung mencari kerusakan pada laci tersebut.


Tiba-tiba saja Rina memeluk suaminya dari belakang. Mengusap lembut dadanya yang tentu saja membuat perasaan Wira perlahan mulai tenang.


"Bukan lacinya yang bermasalah. Tapi mood kamu yang mesti diperbaiki sayang." ucap Rina lembut.

__ADS_1


Wira langsung membalik tubuhnya dan mengecup bibir istrinya. Meski istrinya sudah berumur namun tak mengurangi kecantikan dan pesonanya.


"Kau selalu bisa membuatku nyaman dan bahagia sayang." Wira mengusap lembut wajah cantik istrinya. Sementara Rina hanya bisa tersenyum mendengar pujian suaminya.


"Karena itu memang tugas seorang istri mas." balas Rina.


"Aku terlalu bodoh baru menyadari bahwa istriku begitu cantik. Tapi aku bersyukur setidaknya sekarang aku sudah sadar. Dan aku bersyukur Tuhan menakdirkan kita bersama. Setidaknya temani aku sampai waktuku habis di dunia ini. Karena aku tak yakin bisa bertahan tanpamu." pria paruh baya itu menatap wajah istrinya dengan penuh rasa bangga.


Mendengar pengakuan cinta dari Wira tentu saja membuat hati Rina jadi terenyuh. Tak disangka diusia senjanya dia akhirnya mendapatkan cinta yang begitu dia damba selama ini. Bahkan tanpa sadar kedua netranya mulai berembun.


"Mas, selama ini aku selalu mendambakan cinta yang seperti ini. Aku pun bersyukur akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Dan aku ingin kita berjanji untuk saling menjaga. Di usia senja kita ini tak ada yang ku butuhkan selain kerja samamu. Kamu mau kan jika kita sudah sama-sama renta saling membantu memakaikan pispot. Memijat kaki yang mulai pegal linu. Dan mengoles balsem ke punggung?"


Pernyataan Rina tentu saja mengundang gelak tawa untuk Wira. Istrinya itu sungguh detail dalam segala hal.


"Kok ketawa sih?" cemberut Rina.


"Habisnya kamu ada-ada saja. Ku pikir minta dinner romantis dan seikat bunga atau liburan keliling dunia gitu?" ujar Wira.


"Semua itu kan sudah pernah Mas, kalau sudah tua yang kita butuhkan juga itu."


"Iya-iya. Aku akan melakukan semua itu untukmu. Tapi aku juga minta satu hal yang harus kamu lakukan setiap hari."


Cupp.. Wira mengecup bibir Rina.


"Cium aku setiap hari. Dan jangan pernah terlewat seharipun." bisik Wira dengan genit.


"Dasar, tua-tua mesum." gerutu Rina.


Keduanya pun sama-sama tertawa bahagia. Rasa kesal yang semula mengusik pikiran Wira pun hilang begitu saja.


Tak ada kata terlambat untuk saling mencinta. Itulah yang kini dirasakan sepasang manusia tersebut. Dengan hal-hal kecil rasanya dunia seperti hanya milik berdua.


...****************...


"Kita mau kemana? Kok bawa tas segala?" Syifa tampak heran ketika Dion menyiapkan pakaian dirinya dan juga Bella.


"Kita refreshing. Lama nggak melipir sekalian ajak Bella biar seneng." ucap Dion sambil menata segala persiapan.


"Kemana sayang?" Syifa masih penasaran.

__ADS_1


"Ke pantai mau?"


"Maauuu..." Syifa langsung bersorak seperti anak kecil. Tentu saja hal itu membuat Dion tersenyum gemas.


"Rencananya nginep tapi lihat kondisi nanti. Makanya aku bawa pakaian lebih untuk jaga-jaga saja." Dion mempersiapkan semuanya dengan begitu detail.


Setelah semua persiapan selesai Dion pun melajukan mobilnya dan berangkat bersama anak dan istrinya.


Baik Bella maupun Syifa keduanya begitu antusias. Perjalanan dihiasi canda tawa serta beberapa kali menyanyikan lagu. Bella yang berusaha mengikuti nyanyian namun sayangnya justru malah menjadi celotehan aneh.


Baik Syifa maupun Dion hanya bisa terkekeh dengan tingkah konyol putrinya.


"Kalau Bella seperti itu sudah jelas kalau dia adalah putrimu." goda Dion.


Setelah menempuh hampir satu jam perjalanan mereka akhirnya sampai di tempat tujuan.


Sebuah pantai dengan hamparan pasir pantai serta deburan ombak yang begitu memanjakan mata.


Tapi karena siang hari masih panas sehingga Dion memilih menyewa sebuah cottage di pinggir pantai tersebut.


"Main airnya nanti sore saja ya. Sekarang main sama Papa di sini " Bella tampak menurut. Bersyukur sekali memiliki anak pintar seperti Bella yang jarang rewel dan gampang beradaptasi di berbagai tempat.


Mereka bertiga menikmati makan siang di sebuah restoran yang berada di pinggir pantai. Sungguh tak ada yang lebih indah dari apapun selain keharmonisan sebuah keluarga.


...****************...


Halo teman-teman pembaca setiaku. Terimakasih sudah mengikuti ceritaku sampai detik ini. Aku mau ngenalin karya baruku yang berjudul


"JODOH PILIHAN ABAH"


Mengisahkan tentang seorang bernama Nizma Aida Mahfud, gadis cantik putri sulung dari Ustad Yusuf Mahfud, pemimpin pondok pesantren Al Mumtaz. Berparas cantik dan lulusan Al-Azhar Kairo membuat dirinya begitu didamba oleh semua orang.


Namun dia harus menerima kenyataan ketika sang Abah menjodohkannya dengan seorang pria bernama Bagas Abimana. Pria menyeramkan penuh tatto di sekujur tubuhnya dan merupakan ketua geng preman penuh masalah dan jauh dari Tuhan.


Sebagai seorang putri yang berbakti akhirnya Nizma menerima perjodohan itu meski banyak pihak yang menentang.


Akankah Nizma mampu menaklukkan hati seorang Bagas yang sekeras batu? mungkinkah Bagas akan berubah menjadi sosok imam yang baik bagi Nizma? ikuti terus kisah rumah tangga dengan bumbu cinta didalamnya.


__ADS_1


__ADS_2